Love Of Passion

Love Of Passion
canggung


__ADS_3

Diaz memperhatikan penampilan Ikbal. bajunya basah, rambutnya acak-acakan sedikit klimis karena air hujan, celananya kotor seperti habis jatuh di suatu tempat, sepatunya pun kotor (sebenarnya selalu kotor), wajahnya kuyu seperti habis menelan batu bulat-bulat. atau apa begini penampilan Ikbal sehari-hari, tapi setahu Diaz meski Ikbal orang yang serampangan namun soal penampilan dia tidak kalah stylis di banding Daru.


"kamu baik-baik saja?" tanyanya


"ya? te-tentu aku baik-baik saja" jawab Ikbal kaget karena Diaz tiba-tiba bertanya tentang keadaannya.


Diaz menatap wajah Ikbal yang panik.


"aku rasa kamu tidak baik-baik saja. coba ceritakan apa yang terjadi, kamu sudah menjadi pendengar yang baik untukku. aku juga bisa menjadi pendengar yang baik untukmu" ucap Diaz, Ikbal melongo sesaat lalu tersenyum tipis


"tapi ini cerita yang cukup panjang" balas Ikbal


"aku siap mendengarkan"


Ikbal menceritakan semuanya, dari satu tahun lalu dia bertemu kekasihnya hingga hari ini dia di khianati kekasihnya. dengan wajah serius Diaz mendengarkan cerita Ikbal.


"kamu gak coba tanyain pacar kamu itu siapa lelaki yang dia peluk?"


"sudah jelas Diaz kalau itu pasti selingkuhannya, mana ada temen yang peluk mesra gitu" jawab Ikbal merana


"eumm.. coba deh telpon dia, tanya tadi siapa. mungkin itu saudaranya"


Ikbal menghela napas pasrah. meski tahu jawabnya tapi dia menurut. di keluarkan nya ponsel miliknya, lalu menelpon kekasihnya.


Tut.. Tut.. Tut..


cukup lama telpon di angkat, setelah bunyi Tut untuk ke sekian kalinya telpon pun di angkat.


"kamu ngapain nelpon?"


Ikbal dan Diaz cukup terkejut dengan reaksi dari sebrang panggilan. mereka saling menatap, Ikbal ingin segera mengakhiri panggilan namun Diaz menyuruhnya berbicara.


"lagi dimana?" tanya Ikbal


"aku tanya ngapain kamu telpon di jam segini? aku kan udah ngasih tahu kamu kalau mau nelpon nanti aja saat ak chat kamu duluan"


"ah.. maaf, aku hanya.. rindu"


"jadi ada apa? aku tutup kalau gak penting!"


"ini penting, demi kita"


"ya udah cepet!"


"aku tadi ke sekolah kamu"


"..lalu?"


"siapa lelaki itu?"


hening sesaat, di sebrang telpon tengah berbisik dengan seseorang seolah berdiskusi hal yang serius


"ohh.. kamu liat? dia pacar aku, lebih tepatnya pacar baru aku"


"kenapa? apa salahku? selama ini ak selalu nurut apa yang kamu mau" tanya Ikbal dengan nada bergetar, meski dia tahu apa jawabannya tapi hatinya terasa seperti di tusuk besi panas

__ADS_1


"bukan salah, tapi kurang. aku akui kamu pacar yang baik, pengertian, penyayang tapi itu semua itu kurang, aku malu setiap jalan sama kamu. temen-temen aku semua pacarnya pake motor bagus bahkan ada yang bawa mobil. tapi kamu? aku gak bisa naik motor jelek itu"


Ikbal dan Diaz diam, Ikbal tidak bisa berkata-kata lagi. meski dia sadar apa kekurangannya, ternyata sangat menyakitkan semua itu menjadi alasan seseorang untuk meninggalkan nya.


"aku-"


"kita putus saja! aku udah cape sama kamu!"


teleponpun di tutup sebelum Ikbal membereskan ucapannya.


Diaz diam mematung melihat ikbal lebih lesu dari sebelumnya, wajahnya kelam entah mungkin karena langit sangat gelap.


Ikbal menghela napas panjang, dia memasukan ponselnya ke dalam saku lalu melihat ke arah Diaz dengan tatapan nanar


"ketua puas?" tanyanya


"a-aku tidak bermaksud untuk memberikan luka. aku pikir kamu harus menanyakan ke dia alasannya agar pasti"


"aku sudah bilang tidak perlu di perjelas karena sudah jelas" balas Ikbal dengan nada kesal.


Diaz merasa sangat bersalah, harusnya dia menghargai keputusan Ikbal untuk tidak menelpon kekasihnya tapi dia malah memaksa ikbal.


"maafkan aku" ucap Diaz


Ikbal menatap Diaz lekat, dia memejamkan mata. tidak seharusnya dia meninggikan suaranya kepada Diaz. meski dia kesal dengan keadaan tapi tidak baik dia melampiaskannya ke seseorang.


"ya tidak apa-apa, lagipula ini sudah biasa kok. Dengan begini aku lega. terimakasih sudah mau mendengarkan ceritaku ketua" jawab Ikbal sembari nyengir.


meski hatinya perih tapi dia tetap harus tersenyum konyol, itulah cara untuk menghibur hatinya.


"balas dendam gimana?"


"entar aku pikirin, kita akan balas rasa sakit mu berjuta kali lipat" ucap Diaz penuh semangat


mereka berbincang dengan ringan, sesekali mereka tertawa bersama. hujan mulai mereda, suasana sangat dingin, angin berhembus kencang. Diaz merasa merinding di sekujur tubuhnya, dia merasa familiar dengan rasa merinding ini


DUAR!!!!!


benar fealling Diaz, petir menyambar kesana kesini saling bersautan. apalagi petir tadi, suaranya sangat menggelegar hingga ruangan tempat dia duduk bergetar.


Diaz menyadari sesuatu, dia mendongak ke atas dan melihat wajah Ikbal yang terkejut bukan main.


Diaz baru sadar bahwa dia tengah memeluk Ikbal, gara-gara petir tadi dengan refleks Diaz memeluk Ikbal.


"huwaa!! maaf!" teriak Diaz dengan panik, jantungnya berdetak kencang karena malu


Ikbal mengusap dadanya, tempat kepala Diaz bersandar tadi.


"tidak apa-apa ketua. ah sepertinya hujan sudah berhenti. ayo ketua kita kembali ke bawah" ucap Ikbal dengan senyum canggung


...****************...


meski hujan sudah reda, petir tidak berhenti menyambar, kilat menyinari sebuah ruangan yang sengaja di buat gelap. seorang pria tengah duduk dengan serius di mejanya seraya melihat ke arah pintu kaca buram berukuran besar.


Rizal merasa sangat bersalah kepada Nurul. Rizal ingat saat dia berjalan menghampiri Nurul yang kesulitan mengambil gelas di atas wastafel, namun setelah melihat wajah Nurul dari dekat dia malah tidak mampu menahan diri. padahal biasanya dia pandai menahan hasrat namun entah kenapa setiap berhadapan dengan Nurul tubuhnya menjadi lepas kontrol.

__ADS_1


setelah bibir mereka menyatu, Nurul sempat memberontak namun Rizal mendekap Nurul dan itu adalah tindakan bodoh, jika Nurul ingin melaporkan dirinya atas tuduhan pelecehan, Rizal akan pasrah.


Rizal melepaskan Nurul setelah Nurul melayangkan bogem mentah ke tulang rusuknya.


Rizal menyentuh bagian yang di pukul Nurul, tidak terasa sakit tapi masih ada sensasi ngilu disana.


Rizal juga ingat wajah Nurul yang kecewa, marah, kaget serta malu. bahkan di pesawat saat mereka pulang ke Indonesia, Nurul tidak melihat ke arah Rizal saat mereka berbicara.


Rizal menutup wajahnya, rasa malu, menyesal dan ketagihan muncul di benaknya.


Brak!! dia mengebrak meja saat pikiran ketagihan muncul di kepalanya.


"argghh!!! sadarkan dirimu Rizal!!" geramnya kepada diri sendiri.


tok.. tok..


mendengar ketokan pintu, Rizal langsung memasang wajah serius. dia bisa menebak siapa yang masuk.


"masuk" ucapnya


Nurul memasuki ruangan seraya membawa banyak map untuk di tanda tangani.


sebenarnya Nurul enggan masuk ke ruangan Rizal, karena berkas yang semakin lama semakin menumpuk, mau tidak mau dia harus bertemu dengan Rizal. saat memasuki ruangan, Nurul heran kenapa ruangan Rizal hanya di cahayai lampu temaram.


kilat kembali menyambar dan dia terkejut bahkan hampir memekik saat melihat Rizal duduk sambil menatap dirinya dengan serius.


Nurul mengatur jantung nya, dia berjalan menuju saklar lampu dan menyalakan lampu besar, ruangan pun kembali terang bak disinari cahaya ilahi.


"ini berkas yang harus bapak tanda tangani" ucap Nurul seraya menyerahkan berkas namun pandangannya terarah ke lukisan yang ada di samping kiri Rizal. Rizal merasa ada prasaan canggung di antara mereka berdua.


Rizal diam sejenak menatap Nurul beberapa detik dan langsung menanda tangani satu persatu berkas tanpa di baca terlebih dahulu. itu bukan kebiasaan Rizal, biasanya Rizal akan membaca berkas itu dengan seksama.


hanya beberapa menit sekitar 20 map berkas selesai di tanda tangani. Nurul langsung mengambil berkas tersebut dan berbalik menuju pintu.


"maaf" ucap Rizal, seketika Nurul menghentikan langkahnya


"aku minta maaf" Rizal kembali berkata, sebuah ucapan yang tidak pernah dia ucapkan sebelumnya kepada siapapun


Nurul berbalik menghadap Rizal


"saya tidak mengerti maksud bapak" ucapnya


Rizal melongo. apa dia sudah lupa kejadian waktu itu? ucapnya dalam hati, padahal dia terus mengingat kejadian itu setiap menit bahkan detik.


"tentang yang di villa-"


"pak! saya tidak mengerti apa yang bapak katakan, dan saya harap saat di kantor kita cukup membahas tentang pekerjaan saja!" ucap Nurul tegas memotong ucapan Rizal bahkan dia meninggikan kata "pak" dalam ucapannya


"kalau begitu, saya permisi" lanjut Nurul dan pergi meninggalkan ruangan.


Rizal duduk dengan gontai, dia yakin bahwa Nurul marah kepadanya bahkan Nurul sampai tidak ingin berbicara dengannya.


Rizal menempelkan kepalanya ke meja. kini dia merasakan karma, beginikah prasaan para wanita yang dia tidak pedulikan?


"aku harus bagaimana?" gumamnya nelangsa

__ADS_1


__ADS_2