
"Aku sudah di depan gang." Tulis Nata dalam pesan singkatnya.
Nia menghela nafas untuk menetralisir debaran dalam dadanya dan menghampiri Nata.
"Kamu cantik Nia." Ucap Nata saat Nia sudah di dekatnya.
Nia mengalihkan pandangannya agar Nata tidak melihat wajahnya yang tersipu.
"Ayo, kita pergi sekarang." Ajak Nata.
Nia pun hanya menurut.
Jantung Nia semakin berdebar saat Nata mengurangi kecepatan laju motornya saat sudah memasuki sebuah perkampungan yang cukup padat penduduknya.
Nata semakin mengurangi kecepatan motornya karena beberapa kali ada orang menyapanya.
"Siapa tu? Calon bini lu ye?" Ucap seorang pria paruh baya yang sedang memandikan burung peliharaannya.
"Iye,Ncang. Doain aje." Jawab Nata pada pria paruh baya tersebut.
"Cepetan nikah, jangan lama-lama pacarannya." Ucap pria itu lagi.
"Iye Cang, lagi proses." jawab Nata Sambil tertawa geli.
Nia sedikit mendelik mendengar Jawaban Nata.
Sementara Nata hanya tersenyum saat pandangannya dan Nia bertemu di kaca spion.
Nata di lahirkan dan besar di tempat tersebut jadi tidak heran kalau banyak orang yang mengenalnya.
Nata memarkirkan motornya di halaman rumah yang di cat warna biru muda tersebut.
"Ayo turun, kita udah sampe di rumahku." Kata Nata.
"Ayo!" Nata kembali mengajak Nia yang tak kunjung melangkah.
"Tapi buat apa aku ketemu Sama Ibu kamu?" Ucap Nia yang ragu untuk memasuki halaman rumah Nata
"Ya, buat berkenalan aja." Jawab Nata.
"Tapi Aku malu." Jawab Nia Pelan.
"Nggak usah malu. Ibuku orangnya asik, Baik lagi" Jawab Nata lagi
__ADS_1
"Ayo." Ajak Nata sekali lagi.
Dan akhirnya Nia pun berjalan di belakang Nata.
"Assalamualaikum. Mak," Panggil Nata saat sudah di dalam rumah tak mendapati Ibunya di sana.
"Kamu duduk dulu di sini ya! Biar aku panggil Emak ku dulu." Ucap Nata yang berlalu menuju dapur.
Nia duduk di kursi ruang tamu, ia mengedarkan pandangannya dan mengamati sekitar ruang tamu yang cukup bagus, Dan terus berpikir atas alasan apa ia berada di rumah ini.
"Eh, Neng. Maaf ya, Tadi emak lagi di dapur jadi nggak denger kalau kalian datang." Ucap Mak Leha yang datang bersama Nata.
Nia langsung berdiri dan mencium tangan Mak Leha dengan sopan.
Nia dan Mak Leha duduk bersebelahan.
Nia sangat gugup, dan tidak tau harus bersikap bagaimana.
"Neng asli mana?" Tanya Mak Leha membuka obrolan. sementara Nata kembali ke dapur untuk mengambil minuman untuk Nia.
"Saya dari Bogor Bu." Jawab Nia.
"Oh, Neng ketemu di mana sama Nata." Tanya Mak Leha lagi.
"Eeum, Kita satu pabrik Bu." Jawab Nia sedikit gugup
Nata menginginkan Nia dan Ibunya untuk mengobrol.
Senyuman Nata tak berhenti mengembang saat ia mengaduk es Teh manis buatannya.
Entah kenapa hatinya begitu senang saat bisa mengenalkan Nia pada ibunya.
Nata membawa Dua gelas es teh manis yang di buatnya.
"Lama Amat Tong, buat teh manis doang juga." Ucap Mak Leha pada Nata yang baru datang.
"Iya, Mak. Nata tadi lama nyari gulanya" Ucap Nata berbohong.
"Neng emak mau lanjut masak dulu ya! Kamu di sini dulu sama Nata ya." Ucap Emak
"Iya Bu" Jawab Nia sambil mengangguk
Kini hanya ada Nia dan Nata di ruang tamu tersebut.
__ADS_1
Nia hanya diam dan sesekali mengalihkan pandangan pada ponsel di tangannya.
Nia merasa canggung dan kikuk berdua dalam satu ruangan dengan Nata, Apalagi Nia beberapa kali menangkap basah Nata Sedang menatapnya.
"Apa saya boleh menumpang ke toilet?" Ucap Nia yang memecah keheningan.
"Boleh, Ayo aku antar." Jawab Nata.
Nata pun mengantar Nia untuk ke toilet, dan kembali ke ruang tamu.
Toilet rumah Nata berdekatan dengan dapur, sehingga Nia bisa melihat Ibunya Nata sedang memasak saat hendak ke toilet.
Setelah selesai dari toilet, Nia berinisiatif untuk menghampiri Ibunya Nata ke dapur, dari pada harus canggung-canggungan dengan nata di ruang tamu.
"Ibu sedang masak apa?" Ucap Nia yang menghampiri Mak Leha.
"Eh, Neng. Ngapain kesini?" Jawab Mak Leha.
"Tadi dari toilet Bu." Jawab Nia yang sudah berdiri bersebelahan dengan Mak Leha.
"Emak lagi masak rendang Neng. Neng harus cobain, Nanti pasti ketagihan." Jawab Mak Leha.
"Aku boleh bantuin nggak Bu?" Nia.
"Sebaiknya Neng tunggu aja di depan, masa tamu di suruh bantuin masak."
"Nggak apa-apa Bu. Biar sekalian belajar bikin rendang." jawab Nia.
"Yasudah kalau Neng mau belajar."
Nia pun membantu Mak Leha di dapur.
Suasana pun mulai mencair, Nia dan Mak Leha terus mengobrol sambil memasak.
Sementara Nata duduk kebosanan di ruang tamu karena Nia tak kunjung kembali.
"Ketoilet lama amat. jangan-jangan dia pingsan lagi di dalam sana"Batin Nata
Nata pun menghampiri Nia ke toilet.
Belum sempat Nata memanggil Nia di toilet, Nata melihat Nia sedang mengobrol seru Sambil sesekali tertawa bersama ibunya.
Nata berdiri sambil bersandar di dinding dengan tangan yang menyilang di dada.
__ADS_1
Nata menikmati pemandangan manis di hadapannya.
"Ternyata selama ini filling ku tidak salah. Nia adalah wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku. Tapi bagaimana caraku untuk terus mendekatinya " Batin Nata.