Macaroon

Macaroon
9. Pemaksaan


__ADS_3

Tiga bulan sudah Nia bekerja di pabrik ini.


Ia senang karena dia bisa memberikan uang dengan jumlah yang cukup besar pada ibunya.


"Kamu mau pulang kampung?" Tanya Laila karena dua bulan terakhir Nia selalu pulang kampung saat setelah gajian.


"Nggak, La. Aku kirim aja uangnya." Jawab Nia Sambil rebahan di kasur kontrakan Mereka.


Sementara Laila sedang sibuk bersiap untuk pergi bersama Irfan yang kini sudah resmi menjadi pacarnya.


Ya, Beberapa waktu yang lalu Irfan mengungkapkan perasaannya pada Laila.


Dan tentu saja Laila menerimanya dengan senang hati.


Nia bangun dari rebahnya saat melihat pakaian yang di pakai Laila.


"La, Baju kamu terlalu terbuka deh, Nanti kamu masuk angin loh!" Ucap Nia sedikit berkomentar dengan pakaian yang di pakai Laila Saat itu.


Laila menggenakan atasan tanpa lengan dengan belahan dada yang cukup rendah.


"Nggak apa-apa, Nanti kan aku juga pakai ini!" Jawab Laila yang mengambil jaket denim miliknya.


"Aku pergi dulu ya!" Dengan wajah bahagia Laila pun berpamitan.


"Iya, La. hati-hati ya!" Jawab Nia.


Setelah Laila pergi Nia pun kembali merebahkan tubuhnya di kasur.


Tapi suara dering ponselnya memaksanya untuk kembali bangun karena harus mengambil ponselnya yang tergeletak di meja.


Sebuah nomor tanpa nama tertera di sana.


Walaupun ragu-ragu Nia tetap menerima panggilan tersebut.


"Halo." Ucap Nia


"Nia ini aku, Nata. Aku ada di gang depan kontrakan kamu, kesini sekarang!."


Belum sempat Nia menjawab Nata sudah memutuskan sambungan teleponnya.


Dan beberapa detik kemudian Nata pun mengirimkan pesan.


'Jangan lama-lama' Ucap Isi pesan tersebut.


Nia pun menghela nafas dan sedikit merapikan jilbabnya lalu pergi menemui Nata.


Dari kejauhan Nia melihat Nata yang duduk di atas motornya.


Nata pun tersenyum saat melihat Nia berjalan ke arahnya.


"Ada apa pak?" Tanya Nia saat sudah di dekat Nata.


"Ayo, Naik. Temani aku makan." Ucap Nata


"Tapi Pak!" Nia melirik pakaiannya yang hanya mengenakan piyama dan jilbab instan.


"Tidak apa-apa. Kita cuma mau makan" Jawab Nata.


"Ayo cepat naik." Sambung nata lagi.


Nia pun tak dapat menolaknya dan menaiki motor Nata.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Nata Sambil terus melajukan motornya.


"Terserah Bapak, Saya kan cuma menemani" Jawab Nia.


Nata pun melajukan motornya menuju suatu tempat.


Setelah beberapa saat Nata pun memarkirkan motornya di sebuah rumah makan sederhana.

__ADS_1


Setelah turun dari motor, Nata meraih tangan Nia dan mengajaknya untuk memasuki rumah makan tersebut.


Nia sangat terkejut dengan perlakuan Nata, Dan berusaha untuk melepaskannya.


"Ini tempat makan favorit aku sama ibuku." ujar Nata saat mereka hendak duduk.


Nata memilih Tempat duduk dengan nuansa lesehan.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Nata.


"Terserah Bapak saja" Jawab Nia.


Sejak tadi Nia hanya diam karena bingung dengan kelakuan atasannya tersebut.


Beberapa menu makanan pun sudah ada di meja.


"Ayo cepat makan!" ucap Nata yang menyendokan nasi ke piring Nia.


"Besok kamu mau kemana?" Tanya Nata di sela makan mereka.


"Saya jemput kamu ya!. Ibuku mau ketemu." Ucap Nata dengan santainya.


Mendengar ucapan Nata, Nia langsung berhenti mengunyah dan menyesap minumannya.


"Maksud bapak apa? kenapa saya harus bertemu ibunya Bapak?" Ucap Nia


"Nggak tau tuh sih Emak tiap hari nanyain kamu." Jawab Nata.


Nia semakin bingung dengan jawaban Nata.


Bagaimana bisa ibunya Nata menanyakan tentang dirinya, Sementara ia tidak pernah tau menahu tentang ibunya Nata.


Melihat Nia yang seperti kebingungan Nata pun mengeluarkan ponselnya.


Ia melakukan panggilan video Dengan Emaknya.


"Mak, ini orang yang Emak cari kan? Besok Nata bawa dia ke rumah" Ucap Nata Sambil mengarahkan ponselnya ke arah Nia.


"Neng, besok Emak tunggu ya di rumah. Emak udah belanja banyak buat di masak besok." Ucap Emak pada Nia.


Karena gugup dan mendapatkan tekanan dari nata yang menyuruhnya untuk mengatakan iya, Akhirnya Nia pun mengiyakan ucapan Mak Leha.


"I--iya Bu." Jawab Nia gugup.


Nata pun tersenyum Lega.


"Ini maksudnya apa Pak?" Tanya Nia saat Nata sudah memutuskan sambungan telepon dengan ibunya.


"Kita lihat saja besok. Aku juga tidak tau kenapa Ibuku mau ketemu kamu." Jawab Nata


"Tapi kenapa saya harus bertemu dengan ibunya Bapak? Bahkan saya saja tidak kenal sama ibunya Bapak." Ucap Nia yang tidak puas dengan jawaban Nata.


"Ya, makanya besok kamu kenalan terus tanyain kenapa Emak mau ketemu kamu." Jawab Nata yang membuat Nia semakin tidak faham.


"Ayo lanjutkan makannya." Suruh Nata yang melihat Nia hanya diam.


Nia pun kembali memakan makanannya Sambil terdiam dan bingung.


Bagaimana bisa ia tiba-tiba berkenalan dengan seorang ibu dari laki-laki yang bahkan tidak terlalu ia kenal.


FLASH BACK ON.


"Kapan kamu mau ngenalin pacar kamu sama Emak? Beberapa bulan yang lalu kamu janji kan mau ngenalin calon istri kamu sama Emak. Kamu tau tidak, setiap hari Emak menunggu hari itu." Ucap Emak pada Nata yang sedang makan.


"Emak kenapa sih ngebet banget nata punya calon istri?" Jawab Nata Sambil mengunyah makanan.


"Emak ini kan udah tua. Emak mau melihat kamu menikah dan punya keluarga. Jadi Kalau tiba-tiba emak meninggal emak tidak sedih melihat kamu hidup sebatang kara."


"Emak jangan bicara seperti itu. Emak harus sehat sampai Cucu-cucu emak dewasa." Jawab Nata

__ADS_1


"Iya, emak berharap juga seperti itu. Tapi kan kita tidak tau apa emak akan sampai di saat itu"


Emak pun langsung meninggalkan Nata dan kembali ke kamarnya.


Setelah selesai makan, Nata segera mencuci piring bekas tadi ia makan.


Di rumah ini Nata hanya berdua dengan Emak.


Jadi ia sering membantu pekerjaan rumah agar tidak terlalu memberatkan Emaknya.


Perkataan emak semalam benar-benar membekas di hati Nata, sampai ketika di pabrik pun ucapan itu seolah terngiang-ngiang terusan.


Nata duduk termenung di meja kerjanya.


Ia terus berfikir apa yang harus dilakukan.


Mendapatkan seorang perempuan untuk menjadi pacar bukanlah hal sulit untuk Nata.


Tapi ini berbeda, Ia akan mengenalkan seorang perempuan sebagai calon istrinya pada sang ibu.


"Tapi siapa??" Batin Nata seolah berteriak.


Nia. Nia adalah orang yang tepat menurut Nata.


Nata memiliki ketertarikan pada Nia.


Tapi sudah berkali-kali nata mengajak Nia untuk sekedar pergi makan atau jalan-jalan, Tapi Nia selalu menolak.


Akhirnya Nata pun memiliki sebuah Ide.


Di jam istirahat Nata menemui Laila dan memintanya untuk memberikan nomor telepon milik Nia.


Laila sempat menolak, tapi Nata memaksanya.


Saat pulang dari pabrik Nata mendapati Emaknya sedan termenung sendiri.


"Emak, tenang saja. Besok aku akan membawa calon menantu buat emak." Ucap Nata menghampiri sang Ibu dan mencium punggung tangannya.


"Kamu tidak bohong kan?" Jawab Emak Tersenyum senang.


"Nggak, besok Nata bawa dia kesini." jawab Nata lalu masuk ke kamarnya.


Saat di kamar, Nata semakin frustasi. Ia harus bagaimana?


Tadi siang ia sempat memiliki ide untuk meminta nomor telepon dan mendekati Nia perlahan-lahan, dan tidak secepat ini.


Bahkan dia berjanji besok akan membawa calon menantu untuk Emaknya.


pukul tujuh malam, Nata sudah rapi dan bersiap untuk pergi.


"Nata pergi dulu Mak." ucap Nata sebelum pergi.


Nata pun memacu motornya menuju suatu tempat.


"Ya Tuhan, mudahkan jalanku untuk membahagiakan ibuku." sebuah doa tulus terucap dari lubuk hati Nata.


Sambil memacu motornya Nata terus berharap Tuhan memudahkan jalannya.


Nata pun menghentikan motornya di depan sebuah gang, dimana ia pernah mengantarkan Nia.


Ia menghela nafas panjang dan mengambil ponselnya dari saku.


Ia segera menghubungi nomor telepon Nia yang ia dapatkan secara paksa dari Laila.


"Aku ada di depan gang kontrakan kamu, kesini sekarang" Ucap Nata dan mematikan panggilannya.


Setelah menutup telepon, Nata mendongakkan kepalanya dan kembali berdoa dalam hati, agar Nia mau menemuinya.


Senyuman pun merekah di wajah Nata saat melihat Nia berjalan ke arahnya.

__ADS_1


FLASH BACK OFF


__ADS_2