Macaroon

Macaroon
25. Patah hati


__ADS_3

Nia memapah Laila untuk berjalan memasuki rumah kontrakan Mereka.


Nia mengerti bahwa sahabatnya itu sedang terluka.


Nata, Akbar Ucok dan Nisa pun ikut masuk.


"Biarkan Laila menenangkan diri terlebih dahulu. Dia pasti sangat sedih." Ucap Nata saat Nia keluar dari kamar.


Nia pun hanya mengangguk.


"Kalau begitu kami pamit dulu." Nisa, Ucok dan Akbar berpamitan untuk pulang.


Sementara Nata masih ingin menemani Nia.


Mereka pun duduk bersebelahan.


"Sialan tuh si Irfan. Bisa-bisanya dia macarin anak orang sementara dia sudah punya Istri." Gerutu Nata dengan emosi.


"Padahal Laila sudah sangat tulus mencintai Irfan." Timpal Nia.


"Kamu temenin Laila, Yakinin dia kalau di luar sana masih banyak laki-laki baik." Ujar Nata lagi.


"Iya." Jawab Nia pelan.


"Ini sudah malam. Abang pamit dulu."


"Iya, Bang. Salam buat Ibu." jawab Nia


"Kamu baik-baik ya, Langsung hubungi Abang kalau ada apa-apa." Ucap Nata mengusap kerudung Nia.

__ADS_1


Nia pun mengiyakan dengan senyuman.


"Hati-hati." Nia melambaikan tangan saat Nata Hendak pergi.


Nia pun kembali menghampiri Laila ke kamar.


Nia mendapati Laila yang masih menangis, dan duduk di dekatnya.


" Sabar ya! Kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Irfan." Nia mengusap rambut Laila.


Laila hanya diam memeluk lututnya.


Mungkin semuanya tidak akan menjadi sangat buruk, kalau saja Laila tidak menyerahkan semuanya kepada Irfan.


Tapi semuanya sudah terjadi.


Hanya penyesalan yang kini menyesakkan dada Laila.


"Kamu yakin mau masuk kerja?" Tanya Nia saat mereka sudah bersiap untuk berangkat ke pabrik.


"Iya." Jawab Laila singkat.


"Bagus kalau begitu. Jangan habiskan waktu untuk memikirkan lelaki seperti Irfan." Ujar Nia penuh emosi.


Laila hanya bisa tersenyum perih di hadapan Nia.


 


Di Jam istirahat Nia mengajak Laila untuk bergabung dengan Nata dan teman-temannya.

__ADS_1


"Tenang, La. Jangan terlalu mikirin si Irfan. Masih banyak Cowok lain." Celetuk Ucok Saat mereka sedang makan siang.


Laila kini seperti menjelma menjadi orang yang berbeda. Ia yang biasanya ceria dan banyak bicara kini menjadi sangat pendiam.


"Makanannya di makan La, Jangan cuma di lihat." Suruh Nia saat mendapati Laila tak kunjung menyentuh makanannya.


"Aku nggak laper." Jawab Laila sendu.


Nata, Nia, Akbar dan yang lainnya hanya menatap melas pada Laila.


Mereka sangat mengerti dengan perasaan Laila saat ini.


Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak mungkin merusak pernikahan Irfan untuk Laila yang hanya sebatas pacar saja.


DITEMPAT LAIN....


Setelah sekian lama Irfan Dan istrinya melakukan hubungan jarak jauh, Kini Irfan mengajak sang istri untuk tinggal bersama di sebuah perumahan di Jakarta.


"Mas yang waktu itu ketemu di pasar malam teman-teman kamu semua?" Tanya istri Irfan.


"Iya, mereka teman satu pabrik." Jawab Irfan


"Karyawan Perempuannya pasti cantik-cantik ya! Memangnya tidak ada salah satu dari mereka yang suka sama kamu, atau kamu sukai?" Entah ada angin apa istri Irfan bertanya seperti itu.


"Seandainya ada yang tertarik pun Mas tidak akan tergoda." Jawab Irfan yang membuat istrinya tersenyum lebar dan langsung memeluk Irfan.


"Terimakasih ya Mas, karena kamu sudah menjadi suami terbaik buat aku." Ujar Istri Irfan.


"Iya." jawab Irfan singkat

__ADS_1


Irfan pun membalas dekapan sang istri seolah tidak terjadi apa-apa, Padahal di luar sana ada seorang gadis yang tengah terluka karena tertimpa reruntuhan istana cinta yang ia bangun dengan sepenuh jiwa raga.


__ADS_2