Macaroon

Macaroon
27. Putus asa


__ADS_3

"La Aku mau ke minimarket, kamu mau nitip cemilan nggak?" Tanya Nia.


"Ngga Nia, Aku sedang tidak ingin apa-apa." Jawab Laila yang masih bergelut di tempat tidur.


"Ok, Kalau begitu aku pergi dulu ya." Pamit Nia yang sudah siap untuk pergi.


"Iya" Jawab Laila.


Nia pun meninggalkan Laila dan segera berjalan menuju minimarket.


Selain beberapa kebutuhannya sudah habis Nia pun hendak membeli cemilan untuk dia dan Laila nanti.


Nia berjalan santai menuju minimarket yang tidak terlalu jauh dari tempat kost.


Ia pun segera mengambil keranjang dan memasukan barang-barang yang ia butuhkan.


Setelah membayar Nia pun meninggalkan minimarket dengan satu kantong penuh di tangannya.


Nia pun kembali berjalan untuk pulang.


Tapi langkahnya terhenti saat mendapati tukang rujak buah.


Ada sekitar tiga orang sedang mengantri disana.


"Bang, Saya mau dua bungkus." Ucap Nia memesan.


"Iya, Mbak. Silahkan duduk dulu." Pak penjual rujak pun mempersilahkan Nia untuk duduk di kursi miliknya.


Sambil menunggu pesanannya siap, Nia saling bertukar pesan dengan Nata.


Sekitar hampir sepuluh menit menunggu Rujak buah pesanan Nia pun sudah selesai di buat.


Nia pun mengambil bungkusan rujak sembari menyodorkan uang dua puluh ribuan.


"Terima Bang." Ujar Nia lalu pergi.


Karena cuaca Lumayan terik Nia pun berjalan lebih cepat.


Ia ingin segera menyantap rujak buah segar yang baru di belinya bersama Laila.


Nia meletakan barang belanjaannya di ruang tengah, dan berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air.


"La, Kita makan rujak yuk! Aku juga beli buat kamu." Ucap Nia


"Laila pasti tidur lagi. Baru juga di tinggal sebentar udah tidur aja." Nia


Nia pun menghampiri Laila ke Kamar.


"La, Laila. Laila kamu kenapa?" Nia seketika panik saat mendapati Laila tak sadarkan diri dengan darah mengucur di tangannya.


Nia mendapati sebuah pisau cater di tangan Laila.


"La, Bangun La." Nia pun semakin panik dan melihat darah semakin banyak.


Nia segera pergi keluar dan berteriak meminta pertolongan sambil menangis.


Karena ini hari Minggu Dan kebetulan para tetangga kost yang lain pun keluar menghampiri Nia yang terus berteriak meminta tolong.


"Ada apa neng?" Ucap Pak Mahmud dan Bu Siti sang pemilik tempat kost.


Orang yang ada di sekitar kostan pun memenuhi tempat kost Nia.

__ADS_1


"Pak, buk, Tolong teman saya." Ucap Nia sambil menangis dan sangat panik.


"Teman kamu kenapa?" Tanya Penghuni kost yang lainnya.


Nia pun segera masuk ke kamarnya dan di ikuti para tetangganya.


"Astaghfirullah..." Laila kenapa?


"Saya tidak tau bu." Jawab Nia dengan derai air mata.


"Cepat bawa dia ke rumah sakit." Ucap seorang.


Seorang Pria pun membantu mengangkat tubuh Laila dan segera membawanya keluar untuk di bawa ke mobil dan pergi ke rumah sakit.


Angkutan umum pun menjadi pilihan saat ini karena takut terlalu lama kalau harus menghubungi ambulance


"Pak Kita ke rumah sakit yang dekat pabrik saja." Ujar Nia saat hendak masuk kedalam angkutan umum yang kebetulan sedang tidak ada penumpangnya.


Pak Mahmud dan buk Siti pun ikut mengantar ke rumah sakit.


Sopir angkutan segera melajukan mobilnya dan tidak lagi memperdulikan penumpang yang memberhentikannya.


Nia menangis di sepanjang jalan dengan pakaian yang terkena darah dari tangan Laila


Setelah sampai, Mereka bergegas membawa Laila memasuki rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.


Beberapa suster pun segera menghampiri dan membawa Laila untuk segera di tangani.


Nia Buk Siti dan Pak Mahmud pun menunggu di luar ruangan.


"Pak, Bu. Terimakasih karena sudah menolong." Ucap Nia.


"Iya, Neng. Sama-sama" Jawab Ibu Siti


"Saya tidak tau Pak. Saya tadi pergi ke minimarket, dan pas pulang Laila sudah seperti itu." Jawab Nia.


"Semoga neng Laila tidak apa-apa ya." Bu Siti mencoba menenangkan


"Iya, Bu. Semoga saja."


Nia sangat cemas dan takut sampai-sampai ia baru ingat untuk menghubungi Nata.


Nia mengambil ponsel di sakunya dan segera menghubungi Nata.


"Bang, Abang cepat ke rumah sakit yang ada di dekat pabrik." Ucap Nia dengan nada panik dan cemas.


"Kenapa Neng? Ada apa? Kamu sakit" Nata pun ikut panik.


"Bukan aku, Bang tapi Laila." Nia


"Laila Kenapa Neng?" Nata


"Pokoknya Abang cepat kesini, Sepertinya Laila mencoba untuk bunuh diri karena dia menggores pergelangan tangannya dengan pisau." Nia


"Baiklah, Abang kesana secepatnya." Nata


Nia pun menaruh kembali ponselnya kedalam saku.


"Bapak dan ibu Kalau mau pulang, pulang saja.


Saya sudah menghubungi teman untuk menemani saya." Ucap Nia pada pasangan suami istri tersebut.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, Kami pulang dulu. Jangan lupa untuk mengabari keluarga Neng Laila juga" Ujar pak Mahmud.


"Iya pak, Sekali lagi saya ucapkan terimakasih." Ucap Nia sebelum sepasang suami istri tersebut pergi.


Nia pun duduk seorang diri dengan air mata yang sesekali jatuh, Nia ingin sekali mengabari keluarga Laila, Tapi ia tidak tau nomor telepon mereka.


"Neng, Ada apa sebenarnya?" Ucap Nata yang baru sampai dan panik karena melihat pakaian Nia bersimbah darah.


Ternyata Nata tidak datang seorang diri.


Ia mengajak Andi dan Akbar.


"Bang. Aku tidak tau, Tadi aku ke minimarket dan pas aku pulang Laila sudah seperti itu." Tangis Nia kembali di hadapan Nata.


"Sudah, jangan menangis lagi. Laila sedang di obati dan pasti akan baik baik saja." Nata mengusap air mata Nia dengan kedua tangannya.


"Tapi Aku takut Bang. Aku takut Laila kenapa-kenapa."


"Jangan bicara seperti itu, Laila pasti akan baik-baik saja." Nata terus menenangkan Nia.


Setelah cukup lama dokter yang menangani Laila pun keluar dari ruangan ICU.


"Bagaimana Pak?" Tanya Nata pada dokter tersebut.


"Apa kalian keluarga pasien?" Dokter


"Kami semua teman-temannya pak, Bagaimana keadaan teman saya." Nia masih sangat cemas.


"Beruntung luka sayatannya tidak mengenai urat nadi, sehingga kami hanya perlu memberikan jahitan dan yang beruntung lagi stok Darah yang di butuhkan teman kalian sedang tersedia. Kalau tidak, Ia Ia tidak akan selamat karena kehilangan banyak darah.


Nia dan yang lainnya pun bisa sedikit bernafas lega setelah mendengar penjelasan dokter.


"Dimana keluarga pasien?" Tanya Dokter


"Kami Akan segera menghubunginya." Jawab Nia.


"Apa kami sudah bisa menjenguk teman kami?" Nata.


"Ya, Tapi satu dua orang saja yang masuk kesana." Dokter


"Baik Pak."


Dokter pun meninggalkan Nata dan kawan-kawannya.


"Kalian tunggu disini, Gue sama Nia mau masuk dulu." Ucap Nata pada Andi dan Akbar.


"Ok." Jawab Andi dan Akbar


Nata dan Nia pun menghampiri Laila.


Laila sedang berbaring dengan lelehan air mata dan tatapan kosong.


Seorang suster masih berada di ruangan Laila, Ia sedang membereskan kapas bekas membersihkan luka dan beberapa alat lainnya.


"Saya tinggal dulu." Pamit sang suster.


"Iya, suster." Jawab Nia yang baru menghampiri Laila.


"La." Nia duduk di sisi Laila.


Tangis Laila pun seketika pecah dalam pelukan Nia.

__ADS_1


"Ada apa La?" Tanya Nia yang melihat Laila menangis tersedu tanpa menjelaskan apapun.


Sejenak Nia membiarkan Laila Menangis sambil mengusap punggungnya untuk menenangkan.


__ADS_2