
Satu bulan menjelang hari pernikahan. Nata kembali datang ke kampung halaman Nia, Untuk fitting baju pengantin, Karena mereka akan melangsungkan pernikahan di kampung halaman Nia.
Selain untuk fitting baju, Nata pun menyerahkan berkas untuk pendaftaran pernikahannya.
Persiapan pernikahan sudah mencapai delapan puluh persen. Mereka hanya tinggal mendaftar di KUA dan membeli barang untuk hantaran nanti.
Tapi ada sedikit masalah, Yaitu tentang perwalian untuk Nia.
Pihak KUA meminta Nia untuk mencari keberadaan sang Ayah agar bisa menjadi wali nikahnya.
Sebenarnya Bu Salma sudah meminta agar Nia di nikahkan oleh wali hakim saja.
Tapi pihak KUA tetap meminta agar Nia mencari sang Ayah untuk sebuah pernikahan yang sakral.
Sementara Johan adik laki-lakinya Belum bisa untuk di jadikan wali karena usianya masih di bawah Tujuh belas tahun.
Perkara ini benar-benar membuat Nia galau.
Bagaimana tidak. Luka yang sejak lama ia kubur dalam-dalam, Kini harus ia bongkar lagi.
Hari ini Nia memutuskan untuk tidak langsung pulang ke Jakarta bersama Nata, Ia meminta cuti beberapa hari untuk menyelesaikan masalah ini.
Nia berdiri di balik jendela kaca kamarnya.
Ia memandangi rintikan hujan yang membasahi tanah sejak sore tadi.
Hatinya benar-benar gamang.
Ia memikirkan kemana ia akan mencari sang Ayah, Dan sikap seperti apa yang akan dia lakukan saat bertemu dengan laki-laki yang membuat hatinya patah dan terluka sejak lama.
Di tengah rintikan hujan, sebuah bulir bening pun terjatuh dari pelupuk matanya.
Nia pun memejamkan mata dan bergumam dalam hatinya.
...Ayah, Dimana Ayah sekarang? Bagaimana kabar Ayah? Apakah hidup Ayah bahagia setelah pergi dari kami? Dan Pernahkah Ayah mengingat Anak perempuan Ayah ini?...
__ADS_1
...Pernahkah Ayah memikirkan bagaimana keadaanku, Dan adik-adik....
...Apa Ayah pernah mencari tau tentang kabar kami? Atau mungkin Ayah benar-benar lupa kalau Ayah pernah memiliki kami....
...Ayah, Seandainya ayah tahu, Hidupku limbung dan seperti hilang arah....
...Aku mengalami banyak sekali rasa takut, rasa sakit. karena Ayah yang seharusnya menjadi tameng untukku Malah pergi meninggalkan luka menganga di dalam hati....
...Sebagai Anak perempuan pertama, Mental-ku benar-benar di uji....
...Aku di paksa kuat, Dan tersenyum karena tidak ingin menampakkan luka pada Ibu dan adik-adik....
...Punggungku di paksa kuat, padahal aku sendiri butuh pundak untuk bersandar....
...Aku tidak pernah membenci Ayah. Tapi Sepanjang hidup aku selalu mencoba melupakan tentang Ayah....
Nia membuka matanya, Tapi buliran bening semakin banyak mengalir di pipinya.
Hatinya selalu rapuh kalau sedang mengingat Ayahnya.
Nia segera menghentikan tangisnya, Ia mengusap pipinya yang terlanjur di basahi air mata. Nia menghapus semua jejak kesedihannya saat sang Ibu mengetuk pintu kamar dan memanggilnya.
Setelah berhasil menguasai kesedihannya, Nia pun membukakan pintu untuk ibunya.
"Neng kamu lagi apa? Kok dari tadi di kamar terus?" Ujar Bu Salma saat Nia sudah membukakan pintu.
"Tidak sedang apa-apa Bu. Nia cuma sedang berkirim pesan Sama Bang Nata." Jawab Nia menunjukkan ponsel di tangannya sambil berusaha tersenyum.
"Oh, Baru juga tadi siang kalian bertemu, Masa sudah rindu saja" Ucap Bu Salma sambil mengusap pundak Nia.
Nia hanya tersenyum menanggapi guyonan ibunya.
"Ayo kita makan! Adik-adik kamu sudah menunggu" Ucap Bu Salma
"Iya, Bu." Nia pun menuruti ajakan ibunya.
__ADS_1
"Nia ke kamar mandi dulu sebentar!" Nia pergi ke kamar mandi untuk sekedar membasuh muka, Ia ingin menghapus jejak tangisan di wajahnya.
Nia menyantap makanan malam bersama ibu dan ketiga adiknya.
Walaupun Nia berusaha menutupi kesedihannya, Dengan tertawa dan bercanda dengan Adik-adiknya. Tapi Bu Salma tetap tau kalau Nia sedang menyimpan lara di hatinya.
Setelah makan malam dan berbincang sebentar, Nia pun kembali ke kamarnya.
Ibu Salma pun mengikuti Nia ke kamarnya.
"Neng, Kamu lagi ada masalah?" Ucap Bu Salma.
"Tidak Bu. Tidak ada apa-apa." Jawab Nia
"Kamu bisa bohong Sama siapapun, Tapi kamu nggak bisa bohong Sama Ibu." Kata Bu Salma.
Nia pun terdiam, Dan seketika kembali bersedih.
"Nia tidak tahu Bu, kenapa hati Nia sesakit ini saat membahas lagi tentang Ayah." Ucap Nia.
Bu Salma menghela nafasnya, Sebenarnya hatinya lah yang lebih sakit saat ini.
Tapi Ia tidak boleh menampakkan semuanya pada anak-anaknya.
"Kamu tidak boleh begitu Neng, Seburuk apapun dia tetap ayahmu. Lupakan semua rasa sakit yang pernah kita lalui. Karena yang terpenting saat ini adalah kita sudah hidup bahagia." Ujar Bu Salma, Menenangkan Amarah putri sulungnya.
"Nanti Ibu akan datang ke rumah kerabat ayah kamu, Dan Mencari tahu dimana Ayah kamu. Agar kita bisa menyampaikan maksud baik kita." Sambung Bu Salma
" Iya, Bu. Nia akan temani Ibu." Jawab Nia
🍂🍂🍂🍂
Guysss.. Sedihnya sampe ke sana nggak?
Soalnya aku ngetik ini sambil mewek. huhuhu
__ADS_1