
Nia membelikan makanan dan obat untuk Laila.
"La, kamu makan dulu ya. Terus minum obat biar panasnya cepat turun." Kata Nia yang membujuk Laila.
"Nanti saja. Aku belum lapar." Jawab Laila tak bergeming.
"Ayolah. Sedikit saja, Nanti sakitnya tambah parah." Nia terus membujuk.
Karena Nia terus memaksa Laila pun duduk dari pembaringannya.
"Mau aku suapi?" Nia senang akhirnya Laila mau mendengarkannya.
"Tidak usah, Aku makan sendiri saja." Jawab Laila.
Laila pun meraih piring makanan dari Nia.
"Kamu makan dulu. Aku mau menelpon Bang Nata, Untuk memberitahu kalau aku tidak bisa datang kerumahnya." Ujar Nia dan keluar meninggalkan Laila yang hendak makan.
Laila menyendok makanannya. Tapi tiba-tiba Air matanya mengalir tak tertahankan.
Sejak tadi Laila berusaha untuk tidak menangis di hadapan Nia.
Untuk masalah ini Laila tidak ingin membaginya dengan Nia, Karena ia merasa malu.
"Kamu habiskan ya mak --," Nia tidak meneruskan ucapannya kare memergoki Laila yang sedang menangis.
"Kamu kenapa? Ada masalah?" Ujar Nia yang duduk di dekat Laila.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Laila segera menghapus air matanya.
"Kamu serius tidak apa-apa?" Tanya Nia tidak yakin kalau Laila baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja. Aku cuma sedang rindu dengan ibu bapak." Jawab Laila berkilah.
"Kalau kamu rindu sama mereka, Akhir Minggu nanti kamu pulang saja. Lagi pula sudah lama kamu tidak pulang, Ayah, ibu kamu juga pasti rindu sama kamu." Ucap Nia memberi saran.
___________
__ADS_1
Hari Senin
"Kamu seriusan mau masuk kerja?" Tanya Nia pada Laila yang masih terlihat murung.
"Iya." Jawab Laila yang sedang mengenakan sepatu.
Sebenarnya Nata menawarinya untuk di jemput.
Tapi Nia menolak, karena tidak enak pada Laila kalau harus berangkat sendiri.
Berbeda dari sebelumnya, Yang biasanya mereka mengobrol saat Sepanjang perjalanan menuju pabrik. Tapi kali ini Laila hanya diam saja.
'Mungkin karena Laila sedang tidak enak badan.' Pikir Nia.
Sesampainya di depan pabrik Laila Langsung di hampiri oleh Irfan.
"Aku pinjam Laila Sebentar." Ujar Irfan pada Nia.
"Ok" Jawab Nia
Tentu saja Nata yang melihat kedatangan Nia langsung menghampiri.
"Kok kamu sendirian, Laila kemana?" Tanya Nata.
"Laila sedang bersama Irfan." Jawab Nia.
"Neng, Abang kangen sama kamu. Seharian kemarin Abang Inget terus sama kamu." Ujar Nata menggombal.
Nia Hanya diam, karena masih merasa kikuk kalau Nata Sedang menggombal seperti ini.
"Kita gabung kesana yuk!" Ajak Nata menunjuk teman-temannya yang sedang berada di warung untuk sekedar sarapan.
"Malu, Bang"
"Nggak usah malu Neng" Nata meraih tangan Nia dan mengajaknya untuk bergabung dengan teman-temannya.
"Beuhh, Yang lagi kasmaran Nempel terus kaya perangko." Ujar Ucok Yang melihat Nata datang bersama Nia.
__ADS_1
"Apaan sih lu,Cok. Sirik ya." Jawab Nata
"Mana Ada sirik, Gue juga punya pacar kali. Emangnya si Andi, Ganteng-ganteng tapi jomblo." Kata Ucok yang malah meledek Andi
"Kenapa lu jadi bawa-bawa gue." Jawab Andi yang merasa namanya di sebut-sebut.
Nia pun hanya menyimak bercandaan pala kaum lelaki ini.
"Oh, Iya. Nisa titip salam buat kamu." Kata Ucok pada Nia.
"Iya, Salam kembali." Jawab Nia.
"Kamu di suruh main ke tempat kostnya." Ujar Ucok lagi.
Nia pun mengiyakan.
Di tempat lain....
Laila dan Irfan memilih sebuah warung yang ada di luar pabrik untuk mengobrol.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Irfan yang menyelipkan anak rambut di telinga Laila.
Laila pun mengangguk pelan.
"Mas, Aku mau kamu segera menikahi aku" Ucap Laila.
Irfan tidak menjawab.
"Kamu sudah sarapan?" Ujar Irfan yang malah mengalihkan pembicaraan.
"Mas, Aku mohon segera Nikahi aku. Aku sudah memberikan segalanya untuk kamu." Laila kembali mendesak.
"Baiklah. Tapi beri aku waktu." Akhirnya Irfan mau membahas tentang hubungan mereka.
"Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku." Ujar Laila dengan suara lirih.
Irfan hanya tersenyum sambil mengusap air yang mengalir di ujung mata Laila.
__ADS_1