Macaroon

Macaroon
43. Penjelasan


__ADS_3

Nia tak sanggup lagi untuk bicara.


Ia hanya bisa menatap Nata dengan wajah yang sudah sembab karena terlalu lama menangis.


"Bang Nata, Cepat bangun. Jangan diam begini." Nia Kembali Bicara.


Karena lelah dan mengantuk Nia pun akhirnya terlelap dengan kepala di samping tubuh Nata.


Belum lelap tertidur, Nia merasa ada yang menyentuh kerudungnya.


"Abang sudah -- " Belum selesai Nia berbicara Nata meletakkan telunjuknya di bibir Nia.


Nia sangat terkejut, Melihat tangan Nata mengelus kepala Nia.


"Jangan berisik, Nanti Emak bangun." Ucap Nata dengan suara lemah.


"Abang sudah bangun?" Nia mengulang ucapannya tapi dengan suara seperti berbisik.


"Iya, Abang sudah bangun dari tadi." Jawab Nata.


"Maksudnya?" Nia.


"Iya. Abang Juga dengar semua pengakuan kamu" Jawab Nata sambil berusaha tersenyum.


"Abang!" Nia Dengan refleks mencubit lengan Nata.


"Aduh, Sakit. Orang lagi sakit malah di cubit." Nata


"Iya, Maaf. Habisnya Abang ngeselin. Lagi sakit masih sempat-sempatnya bercanda." Nia


"Tapi Abang Suka Neng, Abang suka mendengarkan semua gombalan kamu tadi." Jawab Nata dan sedikit mentertawakan Nia.


"Terserah Abang saja! Yang penting Abang sudah bangun. Aku kasihan sama Ibu, Dari tadi siang ibu tidak berhenti menangis. Bahkan tidak mau makan dan minum, Karena sangat khawatir." kata Nia.


"Terimakasih ya, sudah menjaga Emak." Nata.


Nia pun mengangguk, sambil mengusap wajahnya yang penuh air mata.


"Sudah, jangan menangis lagi." Nata mengusap wajah Nia


"Neng, Abang boleh minta tolong ambilkan Air minum?"


"Iya,Bang. Aku Ambilkan." Nia segera mengambil Sebotol air mineral, dan memberikannya pada Nata.


Nia pun membantu Nata untuk Minum.


"Kamu tidur saja! Kamu pasti mengantuk." Suruh Nata.

__ADS_1


"Nggak Bang, Aku sudah tidak mengantuk. Lagi pula ini sudah hampir pagi." jawab Nia.


"Maaf ya, Sudah merepotkan." Ucap Nata.


"Kenapa Abang sampai seperti ini?" Tanya Nia.


"kemarin Abang kesiangan. Jadi berangkat terburu-buru." Jawab Nata


"Sebaiknya Abang istirahat, jangan banyak bicara dulu." Nia pun diam, tak lagi banyak bertanya..


"Apa kamu sayang sama Abang?" Tanya Nata.


"Iya." Jawab Nia


"Kamu yakin?" Nata kembali bertanya.


"Tentu saja. Bahkan Aku sangat sedih Waktu mendengar kabar, kalau Abang Kecelakaan." Jawab Nia.


"Bagaimana dengan Rio?" Tanya Nata


"Rio? Rio siapa?" Nia sedikit bingung


"Laki-laki yang akan di jodohkan dengan kamu." Nata


"Rio Anaknya pak Surya? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia." jawab Nia


"Tapi keluarga kalian seperti senang dengan perjodohan itu."


"Lalu! Apa kamu akan menerima lamaran itu?" Nata kembali bertanya, Nata ingin mengungkapkan segalanya. Ia tidak ingin lagi terbebani pikiran-pikiran yang akan mengganggunya.


"Tentu saja tidak. Tapi dari mana Abang tahu soal perjodohan itu?" Nia balik bertanya


"Abang tidak sengaja mendengarnya, Waktu Abang hendak menumpang ke toilet." Jelas Nata.


"Berarti itu alasan Abang mendiamkan Aku seharian kemarin?"


"Bukan hanya itu!" Jawab Nata.


"Lalu Apa?" Nia


"Abang sedih, kecewa dan kesal karena kamu tidak memperkenalkan Abang sebagai pacar kamu. Kamu hanya memperkenalkan Abang sebagai teman kerja seperti yang lainnya." Nata


Nia diam, Dia tidak tau bagaimana cara menjelaskan alasannya.


"Apa Kamu tidak serius dengan hubungan kita?" Nata kembali bertanya.


"Tidak Bang, Bukan begitu." Jawab Nia

__ADS_1


"Lalu Kenapa? Apa kamu menyukai laki-laki lain?" Nata


"Tidak Bang. Tidak ada laki-laki yang spesial di hatiku selain Abang" Nia


"Lalu kenapa?" Nata benar-benar ingin mendengar penjelasan Nia.


"Aku selalu dihantui rasa takut saat memikirkan sebuah pernikahan. Aku takut mengalami Apa yang Ibu alami, Alasanku Aku belum mengatakan apapun tentang hubungan kita pada ibu, Itu karena ibu akan sangat berharap kita untuk segera menikah."


"Sementara Aku masih harus berperang dengan trauma di masa lalu. Aku Masih dihantui rasa takut." Jawab Nia


Nata menyimak segala penjelasan yang di ucapkan Nia.


Nata seorang laki-laki yang memiliki pemikiran terbuka.


Ia memahami keadaan Nia dan tidak ingin memaksakan kehendaknya.


"Nanti Kalau Abang sudah sehat, Abang antar kamu ke psikolog. Biar kita konsultasikan semuanya." Jawab Nata.


"Abang tidak Marah?" Nia


"Tidak, Kenapa Abang harus marah. Abang tidak pernah tahu seberapa berat beban mental yang harus kamu alami selama ini. Abang juga belum tentu bisa tegar seperti kamu." Jawab Nata.


"Terimakasih ya, karena Abang sudah memahami keadaanku." Ucap Nia.


"Jangan cuma terimakasih dong!" Jawab Nata


"Maksudnya?" Nia


"Kasih Abang ciuman atau pelukan gitu!" Nata masih sempat-sempatnya menjahili Nia.


"Apaan sih! kenapa jadi menjurus kesitu." Ujar Nia sambil menepuk bahu Nata.


"Ayolah Neng. Selama kita pacaran, kamu belum pernah memberikan Abang ciuman." Rayu Nata.


"Nggak ah!" Nia menolak.


"Satu kali saja. Biar Aku cepat sembuh." Nata


"Baiklah," Jawab Nia


Nata pun tersenyum senang, dan memejamkan matanya.


Sementara Nia meraih tangan Nata dan mencium punggung tangannya.


"Sudah!" Jawab Nia


"Kenapa di tangan! Memangnya Abang guru ngaji kamu. Di pipi dong Neng." Nata

__ADS_1


"Nggak mau, Aku malu." Jawab Nia salah tingkah.


Nata pun terkekeh melihat Nia Malu-malu seperti itu.


__ADS_2