
Setelah selesai makan dan mengobrol Nata pun mengantarkan Nia, karena hari pun sudah malam.
Nia segera mandi dan berganti pakaian, karena Masih mengenakan seragam pabrik.
Nia merebahkan tubuhnya sambil menunggu Laila pulang.
Tapi sampai jam dua belas malam Laila tak kunjung pulang.
Nia yang merasa khawatir pun mencoba menghubungi Laila.
Tapi ponsel Laila tidak bisa di hubungi, Membuat Nia semakin Cemas pada sahabatnya itu.
Hingga pukul tiga pagi Laila tak kunjung datang, Dan Nia pun sampai tertidur saat menunggu Laila.
Sementara di tempat lain, Sepasang kekasih sedang berada di bawah selimut dengan tubuh sama-sama polos dan peluh yang bercucuran di sebuah hotel.
Ya, Malam ini Laila tidak pulang ke kostan, Karena menghabiskan malam dengan Irfan.
Dengan Air mata yang sesekali menetes, Laila Berbaring membelakangi Irfan yang setia memeluknya dari belakang.
Malam ini, Laila benar-benar sudah menyerahkan segalanya untuk Irfan.
"Maafkan aku, Aku melakukan ini karena aku benar-benar mencintaimu." Bisik Irfan di telinga Laila.
Laila hanya diam.
Ini tidak sepenuhnya salah Irfan.
Karena Ia pun tidak menolak saat Irfan mengajaknya ke tempat ini.
"Aku mau mandi dulu." Ucap Laila yang melepaskan tangan Irfan dari perutnya.
"Besok pagi saja mandinya, Nanti kamu sakit." Cegah Irfan.
Laila tak menghiraukan larangan Irfan.
__ADS_1
Dengan tubuh polos Laila berjalan menuju kamar mandi.
Laila menyalakan shower dan membiarkan air menyapu seluruh tubuhnya.
Laila seketika menangis di tengah guyuran shower.
Rasa perih yang ia rasakan di bawah perutnya tidak sebanding dengan perih di hatinya.
Ya, Laila menyesal karena sudah berbuat sejauh ini.
Tapi semuanya percuma, karena penyesalan tidak akan mengembalikan apa yang sudah di ambil Irfan.
Cukup lama Laila berada dalam guyuran air.
Walaupun ia tau air yang membasahi tubuhnya tidak akan mampu menghapus nodanya.
Hampir satu jam Laila berada di kamar mandi,
Membuat Irfan cukup khawatir.
Saat di kamar mandi, Irfan melihat Laila sedang menangis di bawah guyuran air shower.
Irfan pun mendekati Laila, dan memeluknya.
Kini mereka berpelukan di bawah guyuran shower.
Laila pun balas memeluk Irfan Sambil terisak.
"Aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku" Kata Laila di sela Isak tangisnya.
Irfan tidak menjawab apapun, Ia hanya memeluk Sambil mengusap rambut basah Laila.
" Sebaiknya kamu sudahi mandinya, Karena Tubuh kamu sudah menggigil." ucap Irfan Sambil mematikan shower.
__ADS_1
Irfan membawakan handuk, dan membungkus tubuh polos Laila.
Bibir Laila sudah membiru karena kedinginan.
Irfan memangku Laila, dan di dudukan di tepi ranjang.
"Cepat pakai kembali pakaiannya, Nanti kamu sakit." Suruh Irfan pada Laila yang masih terdiam.
Pukul sembilan pagi mereka pun meninggalkan hotel.
Irfan mengantarkan Laila sampai di depan kostnya.
Dengan wajah pucat Laila mengetuk pintu Kost.
"Laila. Kamu dari mana? Semalaman aku nunggu kamu" Ucap Nia Setelah menutup kembali pintu yang ia buka barusan.
"Aku menginap di rumah temanku." Jawab Laila Sambil menaruh tasnya dan duduk di tepi ranjang.
"Tapi kenapa wajah kamu sangat pucat?" Nia memperhatikan wajah Laila yang memang terlihat sangat pucat.
Laila berbaring dan tidak menjawab Nia yang terus menanyainya.
"Kamu sakit?" Nia menyentuh dahi Laila yang memang sedang panas.
"La, Badan kamu panas. Ayo aku antar ke dokter." Ucap Nia yang jadi panik.
"Tidak apa-apa. Nanti siang juga baikan."
"Kalau begitu aku belikan obat ke apotek ya." Kata Nia.
Laila tidak menolak, karena ia memang benar-benar sedang demam.
Mungkin karena tadi pagi mandi terlalu lama.
Nia pun segera pergi keluar, membeli Obat untuk Laila.
__ADS_1