
"Bu, Sebaiknya Ibu istirahat. Biar Nia yang menjaga Bang Nata." Ucap Nia kembali menghampiri Mak Leha.
Sejak siang Mak Leha tidak beranjak dari sisi Nata.
"Nggak apa-apa Neng. Biar Emak di sini saja." Jawab Mak Leha.
"Nanti Ibu sakit. Bang Nata pasti sedih kalau melihat ibu sakit" Nia terus membujuk Mak Leha agar beristirahat.
Nia membantu Mak Leha berjalan menuju kursi panjang untuk beristirahat.
"Ibu makan ya! Biar Nia belikan" Nia duduk di samping Mak Leha
"Nggak usah Neng. Emak nggak lapar."
"Tapi Ibu belum makan dari tadi siang."
"Nggak, Neng. Emak benar-benar tidak lapar." Mak Leha menolak.
Nia mengirimkan pesan pada Laila. agar dia membawakan selimut, pakaian dan makanan untuk Mak Leha.
Mak Leha Duduk sambil terus menatap Nata yang belum sadarkan diri.
Air matanya tak berhenti menetes.
Sore hari Ucok dan Andi datang ke rumah Sakit.
Tapi sayang, Mereka belum di perkenankan untuk memasuki ruangan Nata.
Untuk itu Nia lah yang menemui mereka di luar.
Mereka duduk di depan ruangan ICU, dimana Nata di rawat.
"Gimana keadaan Bang Nata?" Tanya Ucok.
"Bang Nata belum sadar." Jawab Nia sambil tertunduk sedih.
"Kasihan Mak Leha. Dia pasti terpukul dengan kejadian ini." Sambung Andi.
__ADS_1
"Iya, Ibu sangat bersedih melihat keadaan Bang Nata." Jawab Nia
Mereka pun saling diam. Tidak tahu lagi mau membahas apa.
Pukul tujuh, Laila dan Akbar baru sampai.
Sesuai permintaan Nia, Laila membawa pakaian ganti dan selimut.
"Maaf ya, lama. Tadi pas beli makanan ngantri." Ucap Laila menyerahkan Bungkusan Makanan yang di belinya.
Akbar pun menyerahkan tas berisi pakaian dan selimut.
"Makasih ya, La." Ucap Nia meraih makanan dan selimut yang mereka bawa.
"Gimana keadaan Bang Nata?" Tanya Laila.
"Bang Nata belum sadar La." Jawab Nia dan kembali duduk.
"Nia, sebaiknya kamu sama Ibu makan dulu. kalau terlalu lama nanti makanannya keburu dingin." Suruh Laila.
Nia meninggalkan Laila dan yang lainnya, dia kembali menghampiri Mak Leha yang terus setia di samping Nata.
"Bu, Ibu makan dulu ya! Ini Nia bawa makanan. Kalau ibu mau Nia suapi ibu ya!." Nia membujuk dengan suara lembut.
"Nggak Neng. Sebaiknya kamu saja yang makan." Lagi-lagi Mak Leha menolak.
Nia pun menyerah, dan kembali bergabung dengan teman-temannya.
"Gimana? Ibunya bang Nata mau?" Tanya Laila.
Nia pun menggelengkan kepalanya.
Pukul sepuluh malam Teman-teman Nia dan Nata pamit untuk pulang.
Nia pun kembali menemani Mak Leha untuk menjaga Nata.
"Bu, Ini sudah malam, Ibu istirahat ya. Ibu tidur dulu. Biar malam ini Nia yang jaga Bang Nata." Nia benar-benar khawatir dengan kondisi Mak Leha.
__ADS_1
"Bang Nata pasti sedih, kalau ia sadar dan melihat ibu sakit." Ucap Nia memberikan pengertian.
Setelah di beri pengertian, Akhirnya Mak Leha menuruti perkataan Nia untuk beristirahat.
Mak Leha berbaring di Kursi, Nia pun menyelimuti Mak Leha dengan selimutnya.
"Terimakasih ya Neng. Kamu sudah menemani Emak di sini." Ucap Mak Leha.
"Iya, Bu. Ibu tidur ya. Nia janji akan jagain Bang Nata."
"Iya, Neng."
Nia duduk di dekat Nata, Ia menatap lelaki yang biasanya selalu gembira tanpa beban. Kini terbaring tak berdaya.
Hanya suara nafasnya yang terdengar, Tapi tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
Nia menggenggam tangan Nata dan mengusapnya pelan.
Nia menyenderkan kepalanya di ranjang Nata.
Nia mendekatkan wajahnya di kepala Nata sambil terus berbisik.
"Bang, Kamu capek ya! Sampai tidur se-nyenyak ini. Bang Nata cepat bangun! Kasihan ibu, sedih melihat kamu seperti ini. Aku juga sedih karena sejak kemarin kamu mendiamkan Aku. Aku sedih melihat Abang terluka seperti ini." Bisik Nia yang bicara pada Nata.
"Bang, kamu tahu tidak? semalam Aku nungguin telepon dari kamu. Kamu marah ya sama Aku? Sampai pesanku saja tidak di balas. Aku kangen sama tawa canda Abang, kangen sama gombalan Abang. Aku kangen sama semua hayalan konyol yang biasa kamu ceritakan." Nia terus berbisik walaupun tidak mendapat jawaban dari Nata.
"Abang bangun! Nanti kita wujudkan semua khayalan Abang. Khayalan Abang yang mau kita menikah, dan menghabiskan malam pertama tanpa istirahat.
Dan seperti yang Abang bilang. Kita akan memiliki anak-anak yang gemoy dan lucu." Air mata Nia pun mengucur deras.
Ia merasa sedih dan tidak sanggup kalau sampai Nata tidak kembali.
Nia selalu menganggap semua khayalan Nata sebagai bercandaan.
Padahal semua itu sudah seperti impian untuk Nata.
Nia menahan tangisnya agar tidak menggangu tidur Mak Leha.
__ADS_1