Macaroon

Macaroon
56. Ketika semesta mendukung


__ADS_3

"Lu mau nginep di tempat gue lagi nggak?" Tanya Ucok saat mereka hendak pergi dari pabrik setelah seharian bekerja.


"Nggak! Gue mau pulang aja." Jawab Andi yang sudah menaiki motornya.


"Yasudah. Kalau begitu Gue duluan." Kata Ucok Lalu pergi.


Sebenarnya Andi sedang tidak bersemangat, karena Yunita selalu menghindar saat ia mencoba mendekatinya.


Andi pun mengendarai motornya dengan santai sekalian menikmati suasana sore.


"Itu kan Yunita." Ucap Andi saat melihat Yunita di pinggir jalan.


"Motor kamu kenapa lagi?" Tanya Andi setelah menghampiri.


"Mogok lagi." Jawab Yunita.


"Sebaiknya motor kamu di perbaiki Secara total. Supaya tidak sering mogok begini." Jawab Andi yang sudah turun dari motornya.


"Mungkin sebaiknya di ganti sekalian." Yunita pun memilih duduk di trotoar untuk sekedar menenangkan hatinya yang kesal.


Sebenarnya Yunita merasa sedikit kesal, di saat dia terburu-buru ingin cepat pulang, karena harus segera membawa anaknya yang sedang demam ke dokter.


Sejak semalam Anaknya demam, Dan Ia sudah berusaha memberikan obat penurun panas. Tapi pengasuh Anaknya bilang kalau anaknya masih panas.


"Kalau kamu mau, Aku bisa membawa motor kamu ke bengkel milik temanku. Disana motor kamu bisa di perbaiki secara total." Kata Andi.


"Bengkelnya juga tidak terlalu jauh dari sini. Kalau kamu mau aku bisa menelponnya untuk mengambil motor kamu." Sambung Andi.


"Memang seharusnya motor ini di perbaiki total. Tapi perbaikan total akan memakan waktu yang lama, sementara aku hanya punya motor ini untuk pulang pergi bekerja." Ucap Yunita sembari mengusap motornya.


"Itu masalah gampang. Aku bisa mengantar dan menjemputmu bekerja selama motor kamu di bengkel." Andi kembali memberikan penawaran.


"Yasudah. Kamu hubungi saja temanmu, Dan perbaiki motorku. Untuk masalah berangkat kerja Nanti aku pikirkan lagi." Yunita setuju kalau motornya di perbaiki.


Andi pun segera menghubungi temannya untuk mengambil motor Yunita.


Tak berapa lama dua teman Andi pun sampai.


Dan membawa motor Yunita ke bengkel.


"Urusan motor sudah selesai, Sekarang aku antar kamu pulang ya!." Kata Andi


"Baiklah." Jawab Yunita pasrah.


Andi merasa sangat senang karena Yunita Kini berada di belakangnya.


Bahkan posisi mereka sangat dekat.

__ADS_1


Andi mengendarai motornya dengan santai, karena ingin berlama-lama dengan Yunita.


"Apa bisa lebih cepat sedikit? Aku harus segera sampai karena haru membawa anakku ke dokter, dia demam sejak semalam." Ucap Yunita meminta Andi lebih cepat.


"Benarkah! Kalau begitu Aku akan lebih cepat. Tapi kamu pegangan ya, Supaya lebih Aman." Suruh Andi.


Yunita pun menurut, Ia melingkarkan tangannya di pinggang Andi.


Jangan tanya bagaimana perasaan Andi saat ini.


Hatinya sangat senang melebihi orang yang mendapatkan undian.


Andi memacu motornya menuju rumah Yunita tentu saja dengan panduan dari Yunita.


Yunita segera turun dari motor, Saat sudah sampai di rumahnya.


"Ini rumahmu?" Tanya Andi


"Iya. Terimakasih sudah mengantar. Maaf aku harus buru-buru masuk, karena Harus cepat pergi ke dokter." Ujar Yunita


"Bagaimana kalau Aku antar saja kalian pergi ke dokter."


"Memangnya tidak merepotkan?" Tanya Yunita


"Tidak, Tenang saja." jawab Andi


Andi pun ikut memasuki rumah Yunita, Andi melihat kesana kemari untuk menemukan keluarga Yunita yang lainnya.


"Kamu mencari apa?" Tanya Yunita yang sudah selesai ganti baju dan melihat Andi celingukan.


"Apa kalian hanya tinggal berdua?" Tanya Andi yang tidak mendapati siapapun lagi.


"Iya, Aku hanya tinggal berdua dengan Yuno Anakku. Karena Bibi akan pulang setelah aku pulang bekerja." Jawab Yunita.


Andi pun mengangguk mengerti.


"Kalau begitu Aku akan ke kamar Yuno sebentar." Yunita.


Yunita pun menghampiri Yuno di kamarnya.


"Bi Apa panasnya masih tinggi?" Tanya Yunita pada Bibi pengasuh Yuno.


"Iya, Neng. Sebaiknya Uno di bawa ke dokter saja." Kata Bibi pengasuh.


"Iya, Bi. Aku Akan bawa Uno ke klinik." Yunita mengambil Yuno dari gendongan Bibi.


"Bibi boleh pulang, Biar Aku saja yang bawa Uno berobat."

__ADS_1


"Iya, Neng. Kalau begitu bibi pamit."


Yunita pun segera menghampiri Andi yang masih menunggu di ruang tamu.


"Mama kepala Uno sakit!" Rengek Yuno saat dalam gendongan Yunita.


"Iya, Sayang. Kita ke dokter sekarang ya!" Jawab Yunita sembari mengusap kepala Yuno.


"Kita berangkat sekarang?" Tanya Andi pada Yunita yang menggendong anaknya.


"Iya." Jawab Yunita


Setelah mengunci pintu, Mereka pun segera pergi ke klinik.


Andi merasa iba melihat kondisi Yunita, Setelah pulang bekerja ia harus kembali sibuk mengurus anaknya yang masih berusia Tiga tahunan itu.


Andi memilih ikut saat Yunita memasuki ruang pemeriksaan.


"Anak saya kenapa dokter? sejak kemarin malam demamnya tidak turun. Padahal biasanya demamnya akan turun setelah saya berikan obat penurun panas." Tanya Yunita khawatir.


"Anak Ibu tidak apa-apa. Ini saya berikan resep obat dan ibu bisa mengambilnya di bagian obat. Kalau sampai dua hari kedepan panasnya belum reda ibu bisa datang lagi kesini untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Jawab dokter.


"Baiklah kalau begitu. Semoga Anak saya tidak apa-apa." Ujar Yunita


"Iya, Semoga Lekas sembuh ya anak ganteng." jawab dokter laki-laki tersebut.


Yunita dan Andi keluar dari ruangan dokter dan pergi menuju ruangan pengambilan obat.


"Biar aku saja yang mengambil obatnya." Kata Andi saat mereka berjalan menuju tempat obat.


"Tidak apa-apa, Biar aku saja." Jawab Yunita.


"Kalau begitu, Biar aku gendong Yuno supaya kamu bisa lebih leluasa." Andi pun mengambil Yuno dari gendongan Yunita.


Andi mendekap Yuno di pangkuannya dan merasakan kalau suhu badan Yuno sedang panas.


Andi merasa kagum dengan anak kecil ini, karena ia tidak menangis dan hanya diam dalam gendongan seolah dia sedang merasakan sakitnya sendiri.


"Anak ganteng, Anak pintar. Cepat sehat ya! Kasihan Mama kamu khawatir begitu" Ucap Andi pada Yuno.


"Iya, Om. Uno sebentar lagi juga sembuh." Jawab Yuno.


Yunita pun sudah kembali dengan satu kantong obat di tangannya.


"Ayo kita pulang!" Ajak Yunita.


Andi menggendong Yuno sampai di depan klinik dan memberikannya kembali pada Yunita saat dia harus mengemudikan motornya.

__ADS_1


__ADS_2