
"Kenapa kamu tidak jadi memberi tahu istri Irfan?" Tanya Akbar saat mereka dalam perjalanan pulang.
Akbar mengendarai motornya dengan santai, Mereka pun masih dalam lingkungan komplek.
"Aku tidak tega." Jawab Laila.
Sebenarnya Laila sedikit kecewa, karena ia tidak bisa memberi pelajaran pada Irfan.
Tapi hati kecilnya lebih merasa iba kepada anak istri Irfan kalau ia memberi tahu semuanya.
"Lalu bagaimana?" Akbar kembali bertanya.
"Bagaimana apanya?" Laila
"Bagaimana dengan lamaranku, apa kamu bersedia?" Akbar memperjelas ucapannya
Laila hanya diam, ia belum tau harus menjawab apa.
Akbar pun menghentikan laju motornya yang kebetulan sedang melewati taman komplek, yang lumayan ramai.
"Aku serius ingin menikah i kamu, La." Ucap Akbar, yang kini berdiri di samping motornya.
"Kalau aku menikah denganmu itu sama saja aku sedang menghukum-mu. Dan itu tidak adil." Jawab Laila.
"Kenapa tidak adil?" Akbar meminta penjelasan tentang ucapan Laila.
"Kamu laki-laki baik, tidak selayaknya kamu mendapatkan perempuan sepertiku." Laila.
"Di dunia ini tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Aku akan menyayangi anak ini dengan setulus hatiku." Akbar menggenggam tangan Laila.
"Tapi Bang.!" Laila
"Kalau kamu menerima lamaranku, kita secepatnya mempertemukan keluarga kita dan menikah sesegera mungkin." Akbar
"Bagaimana dengan keluarga Bang Akbar ketika mengetahui kalau aku sedang mengandung, terlebih ini anak orang lain." Ucap Laila pedih.
"Mereka tidak perlu tahu, dan tidak akan tahu kalau kita tidak memberitahu. Anak ini akan menjadi Anak kita. Anakku dan anakmu, bukan anak orang lain." Akbar kembali meyakinkan.
Air mata terjun dari ujung mata Laila.
Ia begitu terharu dengan ucapan Akbar, Disaat Ayah biologisnya menolak Akbar malah dengan senang hati menerima anak ini.
"Kenapa? Kenapa kamu menangis?" Akbar
"Aku terharu sekaligus malu." Laila menjawab sambil terisak.
"Di saat Ayah biologisnya menolak anak ini, Bang Akbar malah mau menerima Anak ini." Sambung Laila.
"Sudah jangan pikirkan tentang itu lagi. Sebaiknya kita pulang, karena hari semakin larut." Akbar
__ADS_1
"Oh, iya. Simpan nomor ponselku. Kalau kamu sudah mendapatkan jawaban segera hubungi aku" Akbar menyodorkan ponsel agar Laila mencatat nomor ponselnya.
"Nanti aku telepon kamu, supaya kamu bisa simpan nomor ku juga." Akbar.
Setelah selesai bertukar nomor ponsel mereka pun melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Di kostan....
Nia sedikit cemas karena Laila Belum pulang.
Padahal ini sudah pukul sepuluh malam.
"Laila kemana ya?" Batin Nia.
Nia sangat khawatir karena saat ini Laila sedang hamil muda, Dokter menyarankan agar ia tidak boleh terlalu lelah, karena usia kandungan di bawah usia empat bulan masih rentan terhadap keguguran.
Tapi tidak berapa lama terdengar suara motor berhenti di depan teras kostnya.
Nia pun melihat dari jendela, dan benar saja itu Akbar dan Laila.
Nia langsung membuka pintu.
"Kalian dari mana? kenapa pulangnya malam sekali?" Nia
"Maaf ya, tadi kami makan dan berjalan-jalan sebentar. Tapi jalanan agak macet, jadi agak terlambat pulang." Jelas Akbar.
Akbar dan Laila sudah sepakat untuk tidak memberi tahu Nia dan kawan-kawan, kalau mereka mendatangi rumah Irfan lagi.
"Iya, Terimakasih bang buat semuanya." Jawab Laila.
"Iya, sama-sama." Jawab Akbar dan pergi.
"Kamu berterima kasih untuk apa?" Nia sedikit Kepo
"Ya..-- Untuk traktiran makannya." Jawab Laila sembari memasuki kamar.
Laila pun langsung membersihkan diri, karena ingin segera istirahat dan berbaring di tempat tidur.
"Tidur La, ini sudah jam sebelas." Ucap Nia sembari menyelimuti tubuhnya.
"Iya." Jawab Laila.
Laila pun menyelimuti tubuhnya dan bersiap untuk tidur.
Tapi ponselnya terdengar berdenting beberapa kali.
Maaf kalau mengganggu....
Ini Aku Akbar...
__ADS_1
Simpan nomorku, dan segera berikan jawaban untukku....
Selamat malam.....
Begitulah isi pesan yang ternyata dari Akbar.
Laila langsung menyimpan nomor Akbar di ponselnya.
Rasa kantuk yang semula datang kini seperti hilang entah kemana.
Laila kembali teringat dengan ucapan Akbar.
Tentang bagaimana ia akan menerima dirinya dan sang bayi.
Laila berdoa dalam hatinya, agar sang pencipta memberikan jalan terbaik untuk hidupnya.
Di pabrik.....
"Dimana yang lain?" Tanya Akbar pada Laila saat jam istirahat.
Akhir-akhir ini Akbar sedang gencar-gencarnya mendekati Laila.
Kalau dulu ia hanya bisa mengagumi Laila dari kejauhan, kini ia selangkah lebih berani untuk mendekati Laila saat tau kalau Laila sudah putus dari Irfan.
"Yang lain masih di mushola." Jawab Laila.
"Kita tunggu mereka di sana?" Akbar menunjuk tempat lebih nyaman agar Laila bisa duduk.
"Bang Akbar." Laila menahan tangan Akbar Agar tidak berlalu.
"Ada apa?" Akbar.
"Laila terima lamaran Bang Akbar." Ucap Laila dengan suara pelan.
Akbar terpaku sejenak.
"Ka-Kamu serius? Kamu mau nikah sama aku.?" Akbar kembali bertanya.
Laila pun mengangguk.
"Iya, Bang"
"Terimakasih, ya La." Akbar
"Seharusnya Laila yang bilang terimakasih sama bang Akbar." Laila
"Kalau begitu Abang akan segera memberi tahu keluarga Abang kalau Abang akan segera menikah." Akbar antusias.
"Iya, Bang." Jawab Laila.
__ADS_1
"Ingat ya, keluarga kita jangan sampai tau tentang semua yang terjadi. Biar saja ini menjadi rahasia kita saja." Akbar
Laila kembali mengangguk tanda setuju.