
Satu bulan kemudian....
"Neng, Kapan Abang mau di kenalin sama Ibu kamu?" Tanya Nata saat mereka sedang makan di kios nasi goreng.
"Nanti Bang." Jawab Nia, Di sela makannya.
"Abang pengen secepatnya meresmikan hubungan kita." Ujar Nata yang menghentikan makannya.
Nia menaruh sendoknya Dan menatap Nata.
"Tapi, Aku masih takut." Jawab Nia lalu tertunduk.
Menaklukkan sebuah trauma memanglah tidak mudah.
Percayalah, jika Taruma itu sudah melekat di hati dan pikiran. Butuh waktu dan perjuangan lebih untuk menghilangkannya.
Sebelumnya Nia sudah menceritakan tentang bagaimana Ayahnya pergi. Hingga menimbulkan sebuah rasa takut untuk menjalin sebuah komitmen.
Tapi Nata mengerti, dan bersedia membantu Nia untuk keluar dari trauma tersebut.
"Yasudah, Tidak apa-apa. Kalau kamu belum siap." Ujar Nata sembari mengusap-usap punggung tangan Nia.
"Tapi, Kalau Abang mau cepat-cepat nikah. Aku tidak apa-apa kalau Abang mau nikah sama orang lain." Ucap Nia walaupun dengan ragu-ragu.
"Nggak gitu, Neng. Abang cuma mau secepatnya memiliki kamu seutuhnya." Nata pun menolak ucapan Nia.
"Aku minta waktu beberapa bulan lagi." Nia.
"Iya, Abang bakal nunggu kamu sampai benar-benar siap." Jawab Nata Yakin.
Nia pun tersenyum, kare Nata sangat memahaminya.
"Gimana renovasinya? Sudah selesai?" Nata mengganti topik pembicaraan.
"Sudah Bang, Alhamdulillah."
"Syukur kalau begitu. Aku ikut senang."
Mereka pun melanjutkan makannya lalu mengantarkan Nia ke Kostan.
"Hati-hati. Salam buat Ibu." Ucap Nia saat Nata Pamit pulang setelah mengantarkannya.
"Iya, Kamu juga hati-hati ya!" Ucap Nata Sebelum menutup kaca helm dan melajukan motornya.
Nia pun segera memasuki kamar kost, dan ternyata Laila sudah ada di sana.
"La, Tumben kamu sudah pulang?" Tanya Nia yang duduk di dekat Laila.
"Iya. Tadi aku cuma nganter Mas Irfan ke terminal." Jawab Laila Sambil terus mengganti Chanel Televisi.
"Memangnya mau kemana?" Nia kembali bertanya
"Biasa mau pulang ke Surabaya." Jawab Laila.
Nia pun Hanya mengangguk.
"Kamu dari rumahnya Bang Nata?" Kini Laila yang bertanya.
"Nggak, Kita cuma makan doang." Jawab Nia yang bangkit dari duduknya.
Nia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan berganti pakaian.
Nia dan Laila kini sudah berbaring di tempat tidur.
Mereka pun mengobrol. Satu bulan terakhir ini Laila tidak lagi pecicilan, Ia kini lebih sedikit bicara di bandingkan sebelumnya.
Satu Minggu kemudian......
"Mas, Kapan kamu balik ke Jakarta?" Tanya Laila Saat sedang menelepon Irfan.
"Nanti, Sayang. Mas masih ada urusan." Jawab Irfan di seberang sana.
"Jangan lama-lama, Aku sudah rindu berat." Ujar Laila dengan gaya khasnya yang manja.
"Iya, sayang." Jawab Irfan.
Mereka mengobrol sebentar dan mengakhiri obrolannya.
Hari Minggu ini Nia dan Laila memutuskan untuk tidak kemana-mana dan hanya rebahan di kostan.
__ADS_1
"Memangnya Irfan belum balik ke Jakarta?" Tanya Nia Setelah mendengar rengekan Laila yang meminta Irfan untuk secepatnya kembali ke Jakarta.
"Belum, Katanya masih ada urusan." Jawab Laila.
"La, Kita main ke kostnya Nisa Yuk!" Ajak Nia.
"Nisa siapa? Apa dia karyawan pabrik kita juga?" Tanya Laila
"Bukan, Nisa itu pacarnya Bang Ucok. Dia sering banget nyuruh aku buat main ke kosannya." Jelas Nia
"Kamu sama Nata kesananya?" Tanya Laila.
"Nggak, Kita Berdua aja. Deket kok, cuma tinggal Naik angkot." Nia pun membujuk.
"Ayo, Bolehlah. Lagian dari pagi kita rebahan terus." Laila pun akhirnya setuju.
Nia dan Laila pun berangkat setelah selesai bersiap lalu mengabari Nisa kalau mereka akan datang.
Hanya butuh waktu Dua puluh menit untuk sampai di kostan Nisa.
"Masih jauh tempatnya?" Tanya Laila saat mereka berjalan setelah turun dari angkot.
"Sudah dekat. Kostan Nisa di belakang rumah itu." Jawab Nia sembari menunjuk sebuah rumah besar.
Mereka pun sampai di tempat kost Nisa.
Mereka bertiga pun berbincang akrab ala perempuan kalau sudah berkumpul.
Setelah beberapa jam berada di tempat Nisa, Nia pun di kejutkan dengan kedatangan Nata, Ucok dan Akbar.
Ternyata Nisa memberi tahu Ucok kalau Nia sedang ada di kosannya.
Dan Ucok pun mengabari Nata kalau Nia sedang bersama pacarnya.
Sehingga membuat Nata bersemangat untuk datang ke sana.
"Kamu udah lama di sini?" Tanya Nata yang menghampiri Nia.
"Dari tadi siang, Bang." Jawab Nia.
"Kita jalan yuk!" Ajak Ucok.
"Ya, Kemana aja." Timpal Ucok lagi.
"Neng kamu mau jalan-jalan?" Nata meminta pendapat Nia.
"La, kamu ikut ya!" Nia meminta Laila untuk ikut.
"Nggak usah Nia, Aku pulang saja ya." Laila menolak.
"Ayolah, La. Kamu bisa ikut sama Akbar. Kita sama-sama aja." Bujuk Nia dengan wajah memelas.
Laila pun menarik nafas dan menerima ajakan Nia.
Mereka pun berangkat saat menjelang sore.
Ucok bersama Nisa, Laila berboncengan dengan Akbar dan tentu saja Nia bersama Nata.
"Bang, Kita kesana" Ujar Nia menunjuk Sebuah pasar malam.
Nata pun menghentikan Motornya, Di ikuti Ucok Dan Akbar.
"Kalian Mau kesini?" Nata bertanya pada yang lainnya.
"Boleh, Aku mau naik itu!" Sambar Laila yang menunjuk permainan kora-kora.
"Yasudah, kita kesana." Akbar pun setuju.
Mereka pun memarkirkan kendaraan Setelah sepakat untuk masuk ke sebuah pasar malam yang sedang ramai-ramainya.
Mereka berjalan beriringan.
Nata menggenggam tangan Nia agar tidak terpisah di tengah keramaian.
Begitu pun Ucok, Dia setia menggandeng tangan Nisa.
Sementara Laila hanya berjalan sejajar dengan Laila.
"Kalian mau beli ini?" Ujar Nisa yang memegang sebuah permen kapas.
__ADS_1
"Aku mau!" Nia yang pencinta ngemil pun langsung antusias.
Ketiga perempuan itupun berjalan sejajar dengan permen kapas di tangan masing-masing.
"Ayo kita naik itu!" Laila bersemangat ingin menaiki permainan kora-kora.
Mereka pun menaiki permainan tersebut bersama-sama.
Laila, Nia dan Nisa tertawa senang menikmati semua permainan yang ada di sana. Membuat suasana semakin seru.
Sementara ketiga laki-laki seperti di anggap tidak ada, mereka hanya terus mengekor di belakang para gadis.
"Neng, Kita beli makanan dulu yuk! Soalnya Abang laper." Ajak Nata.
"Iya, Kita makan dulu." Ucap Ucok setuju.
Mereka pun berjalan beriringan menuju sebuah outlet makanan cepat saji.
"Seru juga ternyata naik permainan kaya gitu" Ucap Laila senang sembari berjalan menuju Outlet.
Tapi tawa mereka terhenti seketika saat mereka di buat terkejut ketika berhadapan dengan Laki-laki yang menggandeng seorang wanita dan balita di pangkuannya.
"M-Mas Irfan." Ujar Laila dengan suara bergetar.
Nata, Akbar dan Ucok pun segera menghampiri mereka.
Irfan hanya diam.
Sementara wanita di sampingnya terlihat sedikit bingung.
"Mas Irfan--" Laila berusaha untuk bicara walaupun lidahnya seketika menjadi kelu.
"Hai, Fan. Kamu lagi jalan-jalan juga?" Nata memotong ucapan Laila.
"I--iya." Jawab Irfan seperti panik.
Laila ingin bicara pada Irfan, tapi Nia melarangnya dengan menggenggam tangan Laila.
"Ngomong-ngomong itu istri kamu?" Ucok mencoba memancing pertanyaan, karena ingin tau siapa wanita di sebelahnya.
"Eumm.. I--iya, Ini istri saya." Jawab Irfan terbata-bata.
Seketika Tubuh Laila menjadi lemas, Jantungnya seolah berhenti memompa aliran darahnya.
"Kenalkan, Saya Ayu." Istri Irfan pun mengulurkan tangan.
Dengan perasaan yang masih syok Laila dan Nia menjabat tangan istri Irfan.
Nia dan Nisa berusaha menopang tubuh Laila agar tidak tumbang.
Sementara Ucok sudah mengepalkan tangan karena emosi, Tapi Nata menahan Ucok dengan menepuk pundaknya.
"Kalau begitu kami pergi dulu." Pamit Nata.
Nata sengaja segera pamit karena melihat Laila sudah sangat syok.
Nia dan Nisa membantu Laila untuk berjalan menuju sebuah bangku.
Nia mendudukkan Tubuh Laila yang benar-benar lemas tak berdaya.
Tangis Laila pun pecah seketika.
Laila menangis dalam dekapan Nia.
"Nia, Irfan, Irfan sudah punya .." Laila tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Sabar, La." Ujar Nia menenangkan Laila dan mengusap punggungnya
Nisa pun ikut mengusap punggung Laila saat sudah di beri tahu oleh Ucok.
"Ayo kita pulang." Ajak Nia, Setelah cukup lama Laila menangis.
Laila pun mengangguk sambil terus menangis.
Nia dan Nisa masih setia memapah Laila untuk berjalan ke parkiran.
"Kamu masih kuat buat duduk di motor? kalau tidak kuat kalian naik taksi saja" Kata Akbar saat Laila hendak menaiki motornya.
"Tidak apa-apa. Naik motor saja" Jawab Laila dengan sedikit isakan.
__ADS_1