Macaroon

Macaroon
8. Kenangan pahit


__ADS_3

Sore hari Nia duduk di sebuah kursi yang terbuat dari bambu yang ada di halaman rumahnya.


Nia memandang jauh ke depan.


Bayangkan masa lalu pun seolah kembali melintas.


Bayangan dimana dirinya menangis tersedu-sedu, meminta ayahnya untuk tidak pergi meninggalkan Ibu dan adik-adiknya.


Bayangan pahit dimana Bu Salma yang sedang menggendong Fitri yang masih bayi, harus bertekuk lutut meminta agar ayahnya tidak pergi meninggalkan mereka.


Tapi sang ayah tetap tidak perduli.


Ia tetap memilih menalak Bu Salma, untuk menikah lagi dengan wanita yang baru beberapa bulan di kenalnya.


Hati Nia selalu terasaa nyeri, kalau mengingat itu.


Karena kejadian itulah Nia menjadi takut untuk menjalin sebuah ikatan dengan pria, karena dia takut di duakan dan di tinggal seperti sang Ibu.


Nia yang saat itu sudah beranjak remaja di buat patah hati sepatah patahnya oleh cinta pertamanya. Yaitu Ayahnya yang tidak pernah kembali sejak saat itu.


Seorang ayah adalah cinta pertama untuk anak perempuannya.


"Kamu lagi ngapain Neng." Ucap Bu Salma yang mengagetkan Nia.


"Ibu, Nia cuma sedang menikmati semilir angin Bu." Jawab Nia menoleh ke arah Bu Salma.


"Baju itu terlihat cantik di badan ibu." Puji Nia saat melihat Bu Salma memakai baju yang di belikan Nia.

__ADS_1


"Iya, bajunya bagus. Terimakasih ya Neng." jawab Bu Salma.


"Sama-sama, Bu. Nanti bulan depan kalau Nia gajian Nia belikan lagi ya"


"Tidak usah Neng, Ini udah cukup. Sebaiknya uangnya kamu tabung, buat masa depan kamu."


"Tenang aja Bu, di pabrik Nia Sekarang bekerja, gajinya lumayan tinggi, jadi bisa buat ngasih ibu dan sedikit menabung." Jawab Nia.


"Neng, Memangnya kamu belum kepikiran buat nikah? Teman-teman sekolah kamu sudah pada menikah dan punya anak." Ucap Bu Salma dengan sangat berhati-hati.


Nia hanya diam tidak tau harus menjawab apa.


"Tidak semua pernikahan itu berakhir dengan buruk. Yang ibu alami, itu hanya perjalanan hidup Ibu." Sambung Bu Salma lagi.


"Bu, Nia masih ingin bekerja, Nia masih ingin membahagiakan ibu dan adik-adik." Jawab Nia dengan tatapan jauh kedepankan.


"Iya, Bu"


"Oh, iya Bu. Johan kemana kok sudah sore begini belum pulang?" Tanya Nia untuk mengalihkan pembicaraan.


"Kalau Sabtu Minggu begini, Johan biasanya bantu-bantu di bengkel temannya. Katanya lumayan bisa dapat uang buat jajan." Jawab Bu Salma.


Obrolan antara ibu dan anak itupun terhenti karena Bu Salma kembali kedalam rumah.


"Kaka Kapan pulang?" Terdengar suara Johan Adik pertama Nia yang baru datang.


Johan pun duduk di sebelah Nia.

__ADS_1


"Tadi pagi. Sana kamu mandi, terus makan." Suruh Nia.


Johan pun menurut dan hendak pergi.


"Oh iya, Jo. Tadi Kaka ke pasar, terus belikan kemeja buat kamu, Kamu cobain sana. Mudah-mudahan sih ukurannya pas." Ucap Nia sebelum Johan memasuki rumah.


Nia pun ikut masuk kedalam rumah, karena hari sudah mulai gelap.


"Bajunya bagus Kak, pas lagi ukurannya." Ucap Johan yang mencoba baju yang di belikan Nia.


Nia pun tersenyum senang, karena Johan suka dengan pemberiannya.


Malam hari Nia menghabiskan waktu bersama keluarganya dengan menonton televisi bersama.


"Jo, Besok Kaka berangkat lagi. Titip Ibu dan Adik-adik, kabari Kaka kalau ada apa-apa." Ucap Nia pada Johan yang duduk di dekatnya.


"Iya, Kak. Beberapa bulan lagi Johan Lulus sekolah, Johan mau cepat mencari kerja supaya bisa membantu Kak Nia cari uang." Ucap Johan


"Kamu jangan dulu mikirin soal kerja. Kamu fokus dulu dengan pelajaran di sekolah." Jawab Nia.


Sebagai adik laki-laki Johan terbilang penurut.


Johan tau benar bagaimana Nia berusaha keras untuk membantu ibunya membiayai dia dan kedua adiknya.


Bahkan sejak sebelum Nia bekerja. Nia sudah membantu Bu Salma bekerja setelah pulang sekolah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2