
Nata kembali bergabung dengan teman-temannya, Tapi hatinya sedang di selimuti rasa kecewa.
Keluarga pak Surya dan Bu Arum keluar dari rumah Nia.
Selain berpamitan pada Bu Salma dan Nia, Mereka pun berpamitan pada Nata Dan yang lainnya.
Nia kembali bergabung dengan teman-temannya di teras.
" Kita berangkat jam berapa? Jangan terlalu sore takutnya nanti hujan." Ucap Nia
"Iya, Sebaiknya selepas Dzuhur kita langsung berangkat." Jawab Nisa
"Yasudah kalau begitu. Kita berangkat selepas Dzuhur." Semuanya setuju.
"Gimana Bang? Apa Mau agak sore? Takutnya Bang Nata masih betah." Ucok meminta pendapat Nata.
"Terserah kalian, Aku ngikut aja!." Jawab Nata.
Pukul dua belas siang, Nata dan teman-temannya yang laki-laki pergi ke masjid bersama Johan adiknya Nia.
Sementara Nisa tetap di rumah bersama Nia.
Johan, Nata, dan yang lainnya berjalan beriringan.
"Kakak semua teman satu kerjaan, sama Kak Nia?" Tanya Johan.
"Iya, Kami semua satu pabrik." Jawab Andi yang jaraknya lebih dekat dengan Johan.
"Dua bulan lagi aku lulus, Kalau boleh saya mau ikut kerja di sana." Ucap Johan lagi.
"Kalau urusan memasukkan orang, Bang Nata lebih berwenang. Iya kan Bang?" Ujar Andi sembari menepuk pundak Nata.
"Eh, Kenapa?" Jawab Nata yang ternyata tidak menyimak obrolan.
"Ini Johan, Katanya setelah lulus nanti mau ikut kerja sama kita." Andi menjelaskan.
"Oh, Soal itu. Kamu bawa saja surat lamaran dan data lainnya ke pabrik." Jawab Nata dan diakhiri sedikit senyuman.
Kalau seandainya keadaannya tidak seperti ini, Nata akan dengan sangat bangganya memperkenalkan diri pada Johan sebagai pacar kakaknya, Tapi saat ini Nata merasa tidak se-berharga itu.
Di Rumah, Nia dan Nisa sudah selesai melaksanakan shalat Dzuhur. Mereka mengobrol sembari berdandan.
"Setelah Laila dan Bang Akbar Nikah. Tinggal Kamu sama Bang Nata yang nyusul ke pelaminan." Kata Nisa.
Nia pun mengamini ucapan Nisa.
__ADS_1
Tak lama Johan dan yang lainnya sudah kembali dari masjid.
"Kita pulang sekarang?" Ucok
"Hayu, boleh." Jawab Andi.
Andi dan Ucok merasa heran melihat Nata menjadi lebih banyak diam.
"Bang. Lu kenapa?" Tanya Ucok.
"Kenapa? Gue nggak apa-apa." Jawab Nata
"Perasaan tadi pagi Lu yang paling semangat. Kenapa sekarang jadi pendiem gini?" Tanya Ucok lagi.
"Nggak, Gue nggak apa-apa." Nata
Tidak lama Nia dan Nisa keluar dari kamar.
Nia sudah rapi, dan siap untuk segera kembali ke Jakarta.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Nia.
"Kalau kalian sudah siap, Kita berangkat!" Jawab Ucok.
"Kalau begitu Aku pamit dulu sama Ibu." Nia pun memanggil ibunya yang sedang di dapur.
"Kalian mau berangkat sekarang?" Bu Salma mengikuti Nia berjalan ke teras.
"Bu, Kami pamit. maaf kalau sudah merepotkan." Ucap Nata yang mencium tangan Bu Salma.
Ucok dan yang lainnya pun ikut berpamitan.
"Kalian baik-baik ya. Belajarnya yang rajin!" Ucap Nia pada kedua adiknya.
"Jo, Titip Ibu sama Adik-adik ya!" Ucap Nia saat hendak pergi.
"Jo, kami pergi dulu." Ucap Nata sebelum melajukan motornya.
Nata, Nia dan yang lainnya mampir kembali ke rumah Laila.
Ternyata Akbar dan Laila pun sudah siap.
Setelah selesai berpamitan pada keluarga Laila, mereka pun langsung tancap gas menuju Jakarta.
Sepanjang perjalanan, Nata yang biasanya tidak berhenti menggombal, Kini hanya diam.
__ADS_1
Nia merasa sedikit heran. Tapi Nia menepis perasaannya, mungkin saja Nata sedang fokus mengemudi pikirnya.
Setelah satu jam perjalanan, Akbar tiba-tiba menghentikan motornya.
Dan yang lainpun ikut berhenti.
"Ada apa?" Tanya Nia.
"Kita makan bakso dulu yuk!" Ajak Laila.
Dan tidak ada yang bisa menolak keinginan wanita hamil tersebut.
Mereka memarkirkan motor di sebuah warung bakso yang cukup besar.
Tujuh mangkuk bakso Kini sudah di hadapan mereka.
Mereka segera menyantapnya sambil sesekali mengobrol.
Tapi Nata benar-benar diam, bahkan dia tidak menimpali saat mereka bercanda.
Ucok yang sedari tadi menyadari kalau Ada sesuatu dengan Nata memberikan isyarat pada Andi.
Andi pun mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
Lalu Ucok melempar isyarat pada Nia. Nia pun menggeleng karena dia pun tidak tahu apa yang terjadi pada Nata.
Setelah selesai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan sampai di Jakarta.
"Bang Aku duluan ya!" Ucok dan Andi berpamitan karena mereka berbeda arah.
Sementara Nata dan Akbar menuju kontrakan Nia dan Laila untuk mengantarkan mereka.
Nata dan Akbar mengantar Nia dan Laila sampai di depan kostnya.
"Aku pulang dulu!" Ucap Nata saat Nia sudah turun dari motornya.
" Bang Nata nggak mampir dulu?" Tanya Laila.
"Nggak La. Bar, Gue duluan." Ucap Nata dan pergi.
"Bang Nata kenapa?" Tanya Laila pada Nia.
Nia menggeleng dengan wajah sedih.
"Jangan terlalu di pikirkan. Sebaiknya besok kamu tanya langsung sama Bang Nata." Ucap Akbar pada Nia.
__ADS_1
"Iya." Jawab Nia.