
POV Laila....
Duniaku terasa runtuh saat mengetahui kalau Irfan ternyata pria beristri.
Tapi seiring berjalannya waktu, Aku mencoba untuk mengikhlaskan segalanya, dan menjalani hidupku kembali.
Tapi Satu bulan setelah aku bertemu dengannya di pasar malam waktu itu.
Aku baru menyadari kalau sejak melakukan hubungan terlarang itu aku tidak mendapatkan tamu bulanan ku.
Aku mencoba mengelak, tidak mungkin aku hamil karena hanya melakukannya sekali itu saja.
Tapi semakin hari Aku semakin khawatir dan takut kalau aku benar-benar hamil. Hingga suatu sore saat pulang dari pabrik aku mampir ke apotek untuk membeli tes kehamilan.
Aku tidak langsung menggunakan alat itu, karena aku benar-benar takut kalau apa yang aku takutkan akan terjadi.
Bagaimana aku akan menjalani hidup dengan seorang anak, bahkan aku saja belum menikah.
Bagaimana dengan orang tuaku! keluargaku!
Rasanya aku tidak siap saat harus melihat mereka di cemooh karena perbuatanku.
Hingga tiga hari setelah aku membeli alat itu, aku pun memutuskan untuk menggunakannya.
Kebetulan siang itu Nia sedang pergi keluar.
Sebelum menggunakannya Aku membaca Bagaimana cara menggunakannya dan bagaimana cara mengetahui hasilnya.
Bagai di sambar petir di siang hari.
Lutut-ku seketika lemas saat mendapati tanda plus di alat tersebut.
Bagaimana ini?
Apa yang harus aku lakukan?
Mungkin Pertanyaan itulah yang berputar-putar di kepalaku.
Sempat aku berpikir untuk menggugurkan kandunganku, Tapi Aku terlalu jahat kalau sampai melakukan itu.
__ADS_1
Aku yang melakukan kesalahan, kenapa harus bayi ini yang aku habisi. Seperti itulah hati nurani ku berbicara.
Hingga akhirnya pemikiran bodoh itupun datang.
Aku berpikir.
Kalau aku tiada, aku tidak akan menyakiti siapapun.
Baik bayi ini, maupun keluargaku tidak akan mendapatkan cemoohan.
Pikiranku sangat kalut.
Mental-ku benar-benar down.
Di bohongi Irfan saja sudah membuatku setengah gila, di tambah lagi ini.
Tanpa berfikir panjang aku keluar dari kamar mandi dan segera mencari sesuatu.
Hingga akhirnya aku mengambil sebuah pisau dan menggores tanganku tanpa berfikir lagi.
Dan setelah itu kepalaku menjadi sangat sakit, dan pandanganku pun memudar.
Tapi ternyata aku masih hidup.
Aku di temani seorang dokter dan suster yang sedang membungkus pergelangan tanganku.
Aku benar-benar tidak bisa berpikir apa-apa saat itu.
Hingga akhirnya Nia datang menghampiri.
Aku tidak lagi dapat menahan tangisanku, dan tidak dapat lagi menyembunyikan rahasia besar tentang hubungan terlarang ku dengan Irfan.
Aku menceritakan segalanya pada Nia sahabatku, Nia mencoba menyemangati dan menenangkan-ku.
Nia terus meyakinkan Aku kalau akan ada solusi untuk ini.
________________
Di tempat lain.....
__ADS_1
Setelah jam kerja selesai, Nia, Nata, Ucok Andi dan Akbar Duduk di halaman depan pabrik.
Suasana pabrik mulai sepi, karena sebagian besar karyawan sudah pulang.
Mereka berlima duduk dengan saling terdiam karena sedang memikirkan solusi untuk masalah Laila.
"Apa yang harus kita lakukan?" Nia membuka suara.
"Bagaimana pun Irfan harus tahu kalau Laila sedang mengandung anaknya." Sambung Ucok.
"Tapi Irfan punya istri Cok. Tidak mungkin Irfan meninggalkan anak istrinya untuk Laila."
"Dan sekarang ada masalah lain" Ucap Nata
"Masalah apa?" Nia
"Tadi Abang mencoba untuk menemuinya untuk membicarakan ini, tapi ternyata sudah dua Minggu dia keluar dari pabrik ini."
"Astaga!!" Sambung Ucok sangat kesal.
"Apa kamu sudah mencoba menanyakan pada teman-teman Irfan, tentang keberadaannya Sekarang." Ujar Akbar.
"Sudah, Aku sudah menanyai Dodi teman satu kost Irfan. Dodi bilang Irfan sudah tidak lagi satu kost dengannya, dan Dia pun tidak tahu Irfan pindah kemana?" Jelas Nata.
Nia pun merasa sedih mendengar ucapan Nata.
"Irfan sepertinya sudah pemain, dan biasa melakukan ini." Timpal Andi yang ikut emosi.
"Bagaimana ini? Laila pasti akan sangat sedih kalau mengetahui ini." Nia menjadi sangat cemas.
"Sebaiknya kita pulang. Nanti kita bicarakan lagi." Nata menyodorkan helm.
Dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
sementara Nata Mengantarkan Nia ke tempat kostnya.
"Neng, Kamu Jangan bicara apa-apa dulu sama Laila." Pesan Nata saat Laila turun dari motornya.
"Iya, Bang. Kamu hati-hati ya." Jawab Nia.
__ADS_1