Macaroon

Macaroon
58. Calon bini idaman


__ADS_3

"Hari Minggu nanti Aku sama Emak mau ke rumah Nia buat ngebahas tentang pernikahan kami, Ada yang mau ikut?" Ucap Nata saat mereka sedang di pabrik.


"Asyik, Gaspol nih ceritanya." Sahut Laila.


"Iya dong La. Semakin cepat semakin baik kan?." Jawab Nata.


"Iya, Dong. Aku ikut senang kalau kalian menikah secepatnya." Jawab Laila lagi.


"Tapi kayaknya kita nggak bisa ikut deh. kasihan Laila kalau bolak balik, Takut kecapean." Kata Akbar.


"Maaf ya Nia, Aku tidak bisa ikut. Tapi kalau pas nikahan kalian Aku usahakan untuk hadir." Sambung Laila.


"Ia, La. Tidak apa-apa. Yang penting kamu sama bayi kamu sehat-sehat." Jawab Nia yang pengertian.


"Cok lu ikut nggak?" Tanya Nata.


"Boleh lah. daripada Gue di kostan kaya lap dapur kagak kepake." Jawab Ucok.


"Di, Lu ikut juga?" Tanya Ucok pada Andi.


"Gue kayaknya nggak bisa ikut deh. soalnya hari Minggu Gue udah ada janji." Jawab Andi.


"Lagak lu, Di. Kaya orang sibuk aja. Pasti punya mangsa baru." Kata Ucok


"Ah, Lu Di. Giliran belum dapet aja di kejar setengah mati. Giliran udah dapet sebulan putus." Sindir Nata.


"Kayanya Buat kali ini Gue serius Bang. Soalnya hati gue kaya udah mantep sama yang ini." Jawab Andi dengan perasaan yakin.


"Hebat banget tuh cewe. Bisa naklukin hati buaya rawa kaya Elu." Ledek Nata.


"Seriusan Lu Di. Sama cewek yang waktu itu?" Kata Ucok.


Andi pun mengangguk.


"Keren bang Andi. Kenalin sama kita-kita dong!."Sahut Laila.


"Iya, Bang. Kenalin sama kita. Kita kan juga mau tahu." Sambung Nia.


"Iya, Nanti di kenalin." Jawab Andi.


Jam pulang....


"Maaf ya kamu jadi nunggu lama." Ucap Andi saat ia menghampiri Yunita yang menunggunya di depan pabrik.


"Iya, Tidak apa-apa." Jawab Yunita yang langsung naik di motor Andi.


"Kira-kira motorku kapan selesainya? Aku kan tidak enak kalau menumpang terus." Ujar Yunita.


"Tapi aku tidak keberatan kalaupun kamu menumpang selamanya." Jawab Andi menggoda


"Kalau kamu mau kita kesana sekarang." Sambung Andi.


"Boleh. Siapa tahu sudah selesai." Yunita


"Ok, Kita kesana sekarang."


Mereka pun mampir ke bengkel untuk melihat apakah motor Yunita sudah selesai di perbaiki.


"Gimana Bro, Motor Bini gue udah selesai?" Tanya Andi pada temannya yang memiliki bengkel.


"Eh, Elu Di. Seriusan itu Bini Lu?" Jawab temannya.

__ADS_1


" Belum sih. Tapi ucapan adalah do'a, Jadi siapa tahu jadi kenyataan." Jawab Andi sambil tertawa kecil.


"Jangan Mau Neng, Sama biaya Rawa kaya dia" Ledek teman Andi.


"Sembarangan Aja lu, Sekarang udah tobat Gue. Mana motornya, Udah selesai belum?" Andi


"Motornya belum selesai, Gue lagi nunggu onderdilnya masih belum datang, Kebetulan stok di bengkel lagi kosong." Jawab teman Andi.


"Terus kapan selesainya?" Tanya Andi lagi.


"Kira-kira Dua atau tiga hari lagi." Jawab teman Andi.


"Hari Minggu gue kesini?" Tanya Andi.


"Kalau bisa jangan Minggu. Hari Minggu gue mau tutup dulu mau ada acara keluarga soalnya." Jawab teman Andi.


"Kalau begitu hari Senin sepulang dari pabrik gue kesini." Andi.


"Ok, Siap." Jawab teman Andi."


Andi dan Yunita pun meninggalkan bengkel, dan segera melanjutkan perjalanan untuk pulang.


"Gimana kabar Yuno, Apa dia sudah benar-benar sehat?" Tanya Andi saat dalam perjalanan.


"Alhamdulillah, Uno udah sehat." Jawab Yunita.


"Syukurlah! Hari Sabtu nanti kita pergi ke mall. Soalnya aku sudah janji pada Yuno untuk mengajaknya ke mall dan beli mainan." Kata Andi lagi.


"Tidak usah repot-repot beliin mainan segala." Jawab Yunita.


"Nggak apa-apa. Ini adalah janji antar laki-laki." Jawab Andi.


"Aku heran kenapa Yuno cepat sekali akrab dengan kamu. Padahal sebelumnya Yuno tidak pernah mau di gendong siapapun selain aku dan bibi." Ucap Yunita


"Bukannya Kata teman kamu, Kamu itu buaya rawa?" Kata Yunita sambil tertawa.


"Mereka mah jangan di dengar. Biasalah bercandaan anak laki." Jawab Andi


"Iya, Iya Aku paham." Yunita.


Yuno dan bibi sudah menunggu di teras saat Yunita dan Andi sampai di rumah.


"Oom..!" Yuno berlari kecil menghampiri Andi yang baru sampai.


Andi pun langsung memeluk Yuno yang bersemangat menghampirinya


"Loh. kok Om yang dipeluk? Mama sedih nih." Ucap Yunita bergurau, Seolah-olah cemburu melihat Yuno lebih bersemangat bertemu dengan Andi.


"Mama jangan marah. Uno cuma kangen sama Om." Yuno langsung beralih pada Yunita.


"Uno kangen ya sama Om. kalau begitu Om temani Uno main sekarang." Ajak Andi.


Andi kembali menarik perhatian Yuno.


"Yeayyyy.. Om mau main sama Uno." Yuno kembali berhambur pada Andi.


Yunita pun hanya menggeleng kepala, melihat tingkah anaknya yang lebih bersemangat untuk bermain dengan Andi.


"Neng, Kalau begitu Bibi pamit pulang dulu ya! Uno sudah bibi suapi kok." Ucap Bibi pengasuh Yuno.


"Iya, Bi. Terimakasih ya!" Jawab Yunita.

__ADS_1


Setelah Bibi pergi, Yunita pun menyusul Yuno dan Andi yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah.


Yunita tidak mendapati Yuno dan Andi saat di ruang tamu, dan pergi ke kamar Yuno untuk memastikan kalau mereka ada di sana.


Ternyata benar saja. Yuno dan Andi ada di kamar Yuno.


Yunita melihat Yuno begitu bersemangat menunjukkan koleksi mainannya pada Andi.


Yunita yang tidak ingin mengganggu kesenangan Yuno, Lebih memilih untuk mandi.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Yunita kembali menengok ke kamar Yuno.


Ternyata Yuno dan Andi masih asyik bermain.


Yunita pun pergi ke dapur dan melihat lemari es untuk melihat apakah Bibi sudah membeli sayuran di Abang sayur yang suka berkeliling setiap pagi.


Yunita Melihat Ayam yang sudah di ungkep dan beberapa jenis sayuran sudah tersedia di lemari es, dan segera mengeksekusinya untuk di jadikan menu makan malam.


Yunita sangat beruntung mendapatkan seorang pengasuh seperti Bibi.


Selain baik dan telaten dalam mengurus Yuno Bibi pun sangat pengertian.


Bibi seperti selayaknya seorang ibu untuk Yunita.


Walaupun beberapa kali di larang untuk menyiapkan makan malam, Bibi masih sering memasak untuk makan malam Yunita.


Katanya Yuno Anak yang baik dan tidak rewel, kecuali kalau sedang sakit, jadi bisa leluasa memasak saat sore.


Setiap hari Yunita memberikan uang untuk membeli lauk pauk dan sayuran untuk bibi dan Yuno. Bahkan tidak jarang Yunita menyuruh Bibi untuk membawa pulang makanannya.


Menu ayam goreng dan sup ayam kini sudah tersedia di meja makan.


Yunita pun kembali ke kamar Yuno untuk memanggil mereka agar berhenti bermain.


"Uno, Mainnya sudah dulu ya! Soalnya Omnya mau makan dulu." Ucap Yunita saat menghampiri Yuno.


"Iya, Mama." Jawab Yuno menurut.


"Aku sudah masak, Sebaiknya kamu makan dulu." ucap Yunita pada Andi.


"Kamu masak buat aku? Seriusan? Senangnya, di masakin sama calon istri Soleha." Ucap Andi yang mengikuti Yunita berjalan ke dapur.


Yunita tidak menggubris perkataan Andi.


Ia terus menyiapkan piring dan minum untuk Andi.


"Kita makan sama-sama ya!" Ucap Andi pada Yuno.


Sebenarnya ucapannya tertuju pada Yunita, Tapi Andi tidak langsung mengajak Yunita, melainkan melalui Yuno.


"Tapi Uno Sudah makan Om, Tadi di suapi sama Bibi."


"Tidak apa-apa. Makan sendirian itu nggak enak, Jadi Uno temani Om makan ya!" Ucap Andi tapi matanya melihat Yunita.


"Uno nggak mau Om. Biar Mama saja yang temani Om makan." Ujar Yuno membuat Andi senyum kegirangan.


"Nggak Uno, Biar Om makan sendiri saja. Mama kan harus temani Uno." Jawab Yunita menolak.


"Jangan Mam, Kasihan Om kalau makan sendirian." Yuno malah membela Andi.


"Mama sama Om makan saja. Biar Uno temenin di sini." Ucap Yuno lagi.

__ADS_1


Yunita hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan mengalah karena saat ini anaknya lebih pro pada laki-laki yang belum lama mereka kenal.


__ADS_2