
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Nata.
Saat Ini Nata dan kawan-kawannya sedang berada di kosan Nia.
Mereka ingin ikut membantu mencari solusi untuk masalah Laila dan Irfan.
"Aku sudah lebih baik." Jawab Laila.
Laila duduk di antara Nisa dan Nia yang berusaha untuk selalu menguatkan.
"La, Apa kamu pernah ke tempat kostnya Irfan?" Tanya Nata.
Laila mengangguk.
"Apa kamu mau Irfan tau tentang ini?" Timpal Andi.
"Aku tidak tahu." Jawab Laila sendu.
"Tapi Irfan harus tahu bahwa kamu sedang mengandung anaknya!" Ujar Ucok kesal.
"Bagaimana kalau kita ke tempat kostnya Irfan dan Dodi, semoga saja kita mendapatkan informasi dari sana." Saran Andi.
"Setidaknya, walaupun Irfan tidak mau bertanggung jawab dia dapat beberapa tinjuan dariku." Sambung Andi.
"Kita tidak boleh menggunakan kekerasan, karena itu akan menimbulkan masalah baru." Nata.
"Tapi Andi bener, Nat. Si Irfan emang harus di kasih pelajaran." Ucok semakin menggebu-gebu.
Tapi Nisa menenangkan.
"Jangan begitu Bang"
"Yasudah, kalau begitu kita kesana, kita cari informasi." Nata
"Tapi kalian harus janji jangan sampai ada yang emosi." Ujar Nata Lagi.
"Ok, Kita berangkat sekarang." Andi
Laila dan Nia pun bersiap.
"Laila, kamu harus kuat dengan apapun yang akan terjadi nanti." Nata.
"Iya, Bang." Jawab Laila.
Mereka pun bergegas menuju tempat kostnya Irfan dulu.
Akhirnya mereka pun sampai di sana.
Suasana tidak berbeda jauh dengan suasana di kostan Nia.
Hanya saja, rumah kontrakan ini lebih banyak di huni para kaum laki-laki yang sebagian besar masih lajang.
Mereka memarkirkan motor di depan sebuah kontrakan, karena mereka mendapati Dodi dan teman-temannya sedang asik bermain gitar di teras.
Dodi pun seperti keheranan dengan kedatangan mereka.
Semula Hanya Nata dan Nia yang menghampiri Dodi, dan yang lainnya tetap di motor.
"Hai, Dod. Kita bisa bicara sebentar?" Ujar Nata
Nata sengaja mencoba mengajak Dodi untuk sedikit menjauh dari teman-temannya.
"Ada apa Bang?" Ujar Dodi masih dengan wajah heran.
__ADS_1
"Dod, sekali lagi gue minta tolong beritahu keberadaan Irfan dimana?" Ucap Nata dengan suara sedikit pelan.
Nata sengaja berbicara dengan suara pelan, karena ia sadar kalau apa yang sedang ia bicarakan adalah hal sangat pribadi.
"Gue beneran nggak tau Bang di mana Irfan sekarang." Lagi-lagi Dodi mengelak.
"Tolonglah, Gue tau, Lo pasti tau Irfan dimana Sekarang." Nata
"Tapi Bang, Gue beneran nggak Tau."
Mendengar Obrolan Nata dan Dodi yang semakin alot, Laila pun turun dari motor untuk menghampiri Nata dan Dodi.
"Dod, Gue mohon. Kalau bukan untuk bayi ini. Gue nggak Sudi nyariin laki-laki sialan itu." Ucap Laila sembari memegang perutnya.
Laila sangat terbawa emosi, ia hampir tidak bisa menahan air matanya.
Tapi Nia mengusap lengannya untuk sedikit menguatkan.
Dodi pun hanya diam saat mendengar ucapan Laila.
"Ayolah, Bro. Laki-laki brengsek seperti Irfan itu tidak layak di lindungi." Nata mulai geram.
"Baiklah, Aku akan memberikan alamat Irfan. Tapi Maaf, aku tidak bisa mengantarkan kalian." Ujar Dodi setelah beberapa saat terdiam.
"Ok, tidak jadi masalah." Jawab Nata.
Dodi pun merogoh sakunya.
Ia membuka dompetnya dan mengeluarkan secarik kertas lalu menyerahkannya pada Nata.
"Ini alamatnya, sebenarnya gue juga belum pernah kesana, walaupun Irfan beberapa kali nyuruh gue buat main ke sana." Dodi.
"Ok, Bro. Makasih buat kerjasamanya." Ucap Nata.
Alamat tersebut membawa mereka ke Sebuah perumahan.
Mereka dengan teliti mencari rumah yang ada di alamat.
Hingga akhirnya mereka menemukan rumah Irfan.
Setelah mereka benar-benar yakin kalau itu adalah rumah yang tepat seperti dalam alamat, Mereka pun mengetuk pintu rumah tersebut.
Ternyata Nata dan kawan-kawannya sedang beruntung.
Karena Irfan sendiri yang membukakan pintu.
Irfan terdiam, terlebih ia melihat Laila di antara mereka.
"Lo pasti tau maksud dari kedatangan kami." Andi sudah tidak bisa menahan diri.
"Ada apa? Dari mana kalian tau Alamat ini?" Irfan
"Itu nggak penting. Kita harus bicara sekarang." Jawab Nata.
"Oke, Silahkan masuk." Irfan
Mereka pun memasuki rumah Irfan.
Laila sangat marah saat melihat Irfan, terlebih ia terlihat sangat santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Ingin rasanya Laila memberikan sebuah tamparan keras pada Irfan
Tapi tiba-tiba, istri Irfan pun datang sembari menggendong anak.
__ADS_1
"Siapa Mas?"
"Oh, kalian kan temannya Mas Ifan yang dulu ketemu di pasar malam itu kan?" Ucap istri Irfan lagi.
"Iya, Kak" Jawab Nisa.
"Ayo silahkan duduk, senang sekali di kunjungi seperti ini. Padahal Mas Irfan udah pindah kerja." Ujar istri Irfan sambil menyalami mereka satu persatu.
"I-iya." Nia mencoba menjawab agar tidak terlihat tegang.
"Kalau begitu saya buatkan teh dulu ya." ucap Istri Irfan dengan sangat ramah.
"Tidak usah merepotkan kak, Kami hanya mampir sebentar." Nata
"Tidak apa-apa. Hanya teh saja." Istri Irfan tetap memaksa untuk membuat teh.
"Untuk apa kamu kesini? Kamu kan sudah tahu kalau aku sudah berkeluarga. Jadi anggap saja hubungan kita selesai." Ujar Irfan yang sudah jelas tertuju pada Laila.
Laila tak kuasa lagi membendung air mata yang sejak tadi di tahannya.
Walaupun Irfan berbicara sangat pelan tapi ucapan Irfan begitu melukai hatinya.
Laila menutup mulutnya dengan tangan agar tangisannya tidak terdengar.
Sementara Nata, Andi Akbar dan Ucok berdiri seketika saat mendengar ucapan Irfan.
"Dasar Laki-laki busuk. Bisa-bisanya Lo ngomong gitu setelah ngerusak anak orang." Akbar meraih kerah baju Irfan karena benar-benar emosi dengan sikap Irfan.
Nata mencoba menenangkan Akbar, karena takut membuat keributan.
"Apa maksud Lo? Gue nggak memintanya secara paksa, jadi jangan salahin gue untuk kejadian itu." Irfan melepaskan cengkraman tangan Akbar dari bajunya.
Laila semakin tersudut, Air matanya semakin deras.
Andi pun tidak kalah emosi, Hampir saya kepalan tangannya melayang pada wajah Irfan.
Tapi tiba-tiba Istri Irfan datang.
Laila segera menghapus air matanya, dan yang lain pun mencoba menetralisir keadaan.
"Maaf ya semuanya, ternyata gula di dapur habis. Saya tinggal ke warung sebentar ya." Istri Irfan pun kembali pergi tanpa rasa curiga apapun.
"Mas, Irfan. Aku nggak bakalan sudi mencari-cari kamu seperti ini, kalau bayi ini tidak ada di rahimku." Laila pun sudah tidak sanggup membendung amarahnya.
Irfan diam sejenak.
"Tapi kamu bisa lihat sendiri kalau aku sudah berkeluarga, jadi tidak mungkin aku bertanggung jawab untuk bayi itu." Irfan
Laila menangis tersedu-sedu di pelukan Nia.
"Sebaiknya kamu hilangkan saja bayi itu. Dan Jangan pernah mengganggu hidupku lagi." Sekali lagi Irfan menolak.
"Cukup!! Kamu memang laki-laki brengsek Irfan!." Ujar Akbar.
"Sebaiknya kalian semua pergi." Suruh Irfan.
"Mas, Tolong pikirkan lagi nasib anak ini." Laila memohon.
"Sebaiknya kita pergi. Tidak akan gunanya bicara pada manusia seperti ini." Ujar Nata.
Nia dan Nisa memboyong Laila yang terus menangis untuk keluar dari rumah Irfan.
Dan mereka pun pergi dengan perasaan penuh kemarahan.
__ADS_1