
"Ngomong-ngomong Akbar minta kamu buat pertimbangan apa?" Tanya Nia saat mengingat ucapan Akbar sebelum pulang tadi siang.
Laila merapikan bantal lalu membaringkan tubuhnya.
"Tentang keseriusan dia buat nikahin aku." Ucap Laila.
"Lalu, Kamu mau jawab apa?" Tanya Nia.
"Aku belum tahu. Rasanya akan tidak adil kalau dia menikahi aku di saat seperti ini." Ucap Laila sambil menatap langit-langit kamar.
"Tapi sepertinya Akbar serius dan tulus mau nikahin kamu La. Mungkin inilah cara Tuhan menolong kamu. Tuhan mengirim Akbar untuk menyelamatkan hidup kamu." Nia
"Walaupun benar seperti itu, Aku akan merasa bersalah nantinya." Laila.
"Bersalah kenapa?" Nia.
"Karena aku seperti menjerumuskan Akbar dalam masalahku." Laila.
"Tapi kamu juga harus memikirkan Bayi kamu. Bukankah dia butuh Sosok seorang Ayah untuk status sosialnya nanti, Biarkan Akbar menolong kamu sekarang. Walaupun alasan Akbar menikahi kamu hanya atas dasar rasa iba." Nia.
Laila terdiam. Apa yang di katakan Nia memang ada benarnya.
"Kalau begitu Aku tidur duluan ya." Ucap Nia.
Nia membiarkan Laila untuk berpikir.
Sementara Laila tidur membelakangi Nia.
Laila mempertimbangkan segalanya.
Hingga akhirnya ia memiliki sebuah keputusan.
Pagi hari.....
Seperti biasanya Nia dan Laila berjalan kaki menuju pabrik.
Nia dan Laila langsung menghampiri Nata dan kawan-kawannya saat sampai di pabrik.
"Kamu sudah sarapan Neng?" Tanya Nata.
"Sudah." Jawab Nia mengangguk
Sejak tadi Akbar terus memperhatikan Laila hingga tanpa sengaja pandangan mereka bertemu.
Karena merasa malu Laila mengalihkan pandangan.
"La, Pulang nanti aku antar ya!" Kata Akbar.
"Cie.. Cie... Gaspol Bar?" Ledek yang lainnya.
"Nggak usah Bang. Aku bareng Nia aja." Laila menolak.
"Nggak apa-apa La. Biar Nia sama Aku." Nata pun menimpali.
__ADS_1
"Heuumm... Yasudah kalau begitu." Laila pun setuju
"Kamu mau La?" Akbar
"Iya." Laila
"Aku masuk duluan ya!" Laila pun pergi meninggalkan yang lain.
"Kasihan ya, Si Laila. Gara-gara kemakan rayuan si Irfan hidupnya jadi berantakan." Ujar Ucok.
"Iya." Andi.
"Eh, Bar. ngomong-ngomong Lu seriusan mau nikahin Laila?" Ujar Ucok lagi.
"Ya, serius. Itupun kalau Laila mau." Akbar
Bel pabrik pun sudah berbunyi, yang menandakan mereka harus mulai bekerja.
Sore hari.....
Akbar menunggu Laila dan sudah siap dengan motornya.
Hingga Laila pun keluar bersama Nia.
"Kalian sebaiknya duluan aja. Aku nunggu bang Nata selesai Meeting sebentar lagi" Nia
"Nggak apa-apa biar kita nunggu bang Nata keluar aja." Laila.
"Jangan. Kalian duluan aja, Soalnya Aku sama bang Nata mau pergi dulu." Nia sengaja bicara seperti itu, Agar Laila bisa pergi bersama Akbar.
"Kamu yakin?" Laila
"Ya. Kamu duluan aja." Nia.
"Kalau begitu Aku duluan." Pamit Laila.
"Ok. Hati-hati ya" Ucap Nia saat Akbar dan Laila hendak pergi.
"La, Kalau kita makan sebentar mau tidak?" Ajak Akbar saat dalam perjalanan.
"Tapi, Bang." Laila
"Ayolah La. Lagian Nia juga nggak langsung pulang. Dia kan bilang mau pergi dulu sama Nata"
"Yasudah kalau begitu." Laila kembali setuju.
"Kamu Mau makan apa?" Tanya Akbar
"Apa saja bang" Jawab Laila
"Nasi Padang mau?" Akbar kembali bertanya
"Boleh." Laila.
__ADS_1
Mereka pun mampir di sebuah rumah makan Padang dan memesan.
"Makan yang banyak La. Kalau mau nambah juga boleh, Jangan sungkan-sungkan." Kata Akbar di sela makan.
"Nggak Bang, ini sudah cukup." Jawab Laila.
Laila lebih banyak diam saat makan.
Ia memikirkan rencananya untuk datang kembali ke rumah Irfan.
Ia berencana untuk memaksa Irfan agar menikahinya, walaupun harus dengan cara menghancurkan rumah tangganya.
Ya, Laila berniat untuk memberitahu Istri Irfan tentang hubungan terlarang mereka.
"Kenapa La? Kenapa diam saja?" Akbar menegur Laila yang sedikit melamun.
"Hah, Ng-Nga apa-apa" Jawab Laila
"Kalau ada masalah ngomong aja." Akbar
"Aku..." Ucap Laila ragu-ragu
"Kenapa La? Kalau kamu butuh sesuatu ngomong aja." Akbar
"Bang Akbar mau tidak Nganterin aku." Laila
"Boleh, Mau kemana?" Akbar
"Kerumahnya Irfan." Ujar Laila dengan suara pelan
Akbar langsung menghentikan makannya saat Mendengar nama Irfan di sebut
"Kamu mau ngapain kesana?" Akbar
"Aku mau memberi tahu istrinya tentang hubungan kami, dan bayi ini." Ucap Laila lagi.
"Walaupun nanti keluarga mereka akan berantakan?" Akbar
Laila menarik nafas dalam-dalam.
"Setidaknya istrinya Irfan harus tahu tentang kelakuan suaminya itu." Laila
"Kamu yakin?" Akbar
Laila menjawab dengan anggukan
"Yasudah kalau itu mau kamu. Aku akan antar." Akbar.
"Terimakasih ya Bang. Aku melakukan ini, karena Aku tidak mau menjerumuskan Bang Akbar kedalam masalah ini."
"Sebenarnya kamu tidak perlu berpikir seperti itu. Mungkin sudah takdir dari Tuhan untuk mempersatukan kita dengan cara seperti ini." Akbar.
" Sebaiknya Kita pergi sekarang sebelum terlalu larut." Laila.
__ADS_1
"Ok Baiklah." Akbar.
Laila pun langsung pergi menuju rumah Irfan.