Macaroon

Macaroon
49. Gadis Billiard


__ADS_3

Kini Akbar dan Laila sudah bisa istirahat setelah acara resepsi pernikahan mereka.


Laila pun sudah berganti pakaian dengan menggunakan pakaian rumah.


Ada rasa canggung antara Akbar dan Laila.


Bagaimanapun ini kali pertama untuk mereka berada dalam satu kamar dan ranjang yang sama.


"Sebaiknya kamu segera istirahat, Acara hari ini pasti sangat melelahkan. Terlebih untuk kehamilan kamu." Ucap Akbar Saat melihat Laila belum tidur.


"Iya, Bang." Jawab Laila tanpa membantah.


Akbar pun ikut berbaring di sisi Laila.


"Aku tidak akan meminta hak-ku sampai bayi ini lahir nanti." Ujar Akbar sembari mengelus perut Laila.


"Setelah kamu melahirkan nanti, Baru kita melakukan hubungan layaknya suami-istri."Sambung Akbar sambil memeluk Laila.


Laila pura-pura memejamkan mata, Tapi ia tidak bisa benar-benar tertidur.


Ia berfikir, Apakah Akbar menikahinya hanya dasar rasa kasihan?


Laila memandangi wajah Akbar yang terlelap.


Laila merasa kasihan pada laki-laki yang memeluknya saat ini.


Lelaki malang ini harus rela tenggelam demi menyelamatkan Laila dari jurang penderitaan karena kesalahan yang dilakukannya.


"Bang Akbar, Aku berjanji untuk berusaha menjadi istri terbaik untukmu. Aku akan membalas semuanya dengan cinta yang luar biasa." Ucap Laila sembari mengusap rambut Akbar.


Laila pun akhirnya ikut terpejam dalam dekapan Akbar.

__ADS_1


___________


Setelah Akbar menikah dan pindah. Andi hanya tinggal sendiri di tempat kostnya.


Karena merasa bosan berada sendirian di kostan, Andi segera bersiap dan menjemput temannya untuk pergi ke tempat Billiard.


Sejak di ajak oleh temannya yang bernama Bagus beberapa waktu lalu, Andi merasa ketagihan untuk datang lagi ke tempat tersebut karena ia merasa menemukan suasana baru.


Belakangan ini moodnya sedang berubah. Andi sedang merasa bosan dengan kebiasaan berganti-ganti pacar.


Andi sedang ingin menyendiri dan menikmati hobi barunya ini tanpa sepengetahuan teman-temannya di pabrik.


Andi pun kini sampai di tempat Billiard bersama temannya itu.


"Ada yang bisa saya bantu?" Ucap seorang wanita yang menghampiri Andi dan temannya. Dari pakaiannya Andi Sudah tahu kalau perempuan itu pekerja di sini.


Wanita Tersebut adalah seorang penyusun bola, Ia mengenakan seragam berwarna merah muda dan rok di atas lutut.


"Tentu saja." Jawab perempuan cantik tersebut.


Perempuan berpakaian ketat itupun menyusun bola hingga berbentuk segitiga dan bermain bersama mereka.


Andi melihat perempuan tersebut begitu mahir dalam bermain billiard.


"Ngomong-ngomong siapa namamu? Mungkin sewaktu-waktu kita bertemu di luar, nanti aku bingung memanggilmu apa." Ujar Bagus sambil bermain.


Untuk perempuan sekelas Yunita Ia sudah sangat faham modus-modus seperti ini.


"Namaku Yunita. Kau bisa memanggilku Nita." Jawab perempuan itu.


"Namaku Bagus. Dan ini temanku Andi." Bagus memperkenalkan dirinya dan Andi.

__ADS_1


"Oke!" Jawab Nita


Mereka pun bermain dalam satu meja.


Andi lebih banyak diam, tidak seperti Bagus yang sudah lihai bermain kata-kata.


Hingga tidak terasa ini sudah tengah malam.


"Aku rasa untuk hari ini sudah cukup, Karena Aku harus menemani Tamu yang lain." Ujar Yunita.


"Baiklah!. Terimakasih sudah menemaniku, Semoga nanti saat aku datang lagi kau bisa menemaniku lagi." Ucap Bagus.


"Aku tidak bisa menjanjikan itu." Jawab Yunita sembari membereskan bola-bola bekas permainan mereka.


"Ini untukmu. Mungkin ini tidak banyak." Andi memberikan dua lembar Uang kertas sebagai uang tip.


"Terimakasih." Yunita menerima uang tip dari Andi.


Di tempat seperti ini memberikan uang tip memang hal yang lumrah.


"Cantik, Berikan nomor ponselmu. Supaya kita bisa lanjut di luar." Ujar Bagus sembari menyolek bahu Yunita.


"Maaf, Aku tidak bisa." Yunita menolak dan pergi meninggalkan Bagus dan Andi.


Andi menatap Yunita sesaat, Ada rasa ketertarikan dalam hatinya.


Tapi Andi tidak terlalu memikirkannya, Karena Andi tau betul kalau dirinya memang cepat sekali tertarik tapi cepat juga untuk bosan.


"Kenapa Lu ngeliatin dia kaya gitu?" Ucap Bagus saat melihat Andi menatap Yunita.


"Oh, Nggak apa-apa." Jawab Andi.

__ADS_1


"Jangan bilang lu suka sama dia. Sebaiknya Lu jangan coba-coba, karena Perempuan seperti dia hanya menerima laki-laki berdompet tebal seperti mereka." Ucap Andi menunjuk Para Akong yang sedang bermain di sana.


__ADS_2