Macaroon

Macaroon
53. Perhatian untuk bumil


__ADS_3

Kehamilan Laila sudah memasuki bulan ke lima, Tapi Laila bersyukur ia tidak mengalami ngidam yang parah jadi ia Masih tetap bekerja.


"Kamu yakin mau tetap bekerja?" Tanya Akbar pada Laila.


"Iya, Bang. Aku masih kuat kok buat kerja." Jawab Laila.


"Kalau kamu merasa sudah capek, atau sudah kesulitan sebaiknya kamu berhenti saja. Kamu tenang saja, Penghasilanku Cukup untuk kita bertiga nanti. Bahkan aku sudah menabung untuk mengumpulkan modal usaha." Kata Akbar.


"Iya, Bang. Kalau Aku merasa sudah tidak sanggup aku akan berhenti bekerja." Jawab Laila sambil membersihkan tempat tidur sebelum mereka beristirahat.


Laila pun merebahkan tubuhnya di kasur dan scroll Instagram.


Sementara Akbar sedang pergi mandi.


"Wahh, seperti ini enak. Aku jadi kepingin." Ujar Laila saat melihat sebuah postingan makanan.


"Apa? Kamu mau apa?" Jawab Akbar saat baru selesai mandi.


"Ini, Aku lihat instastory temanku yang sedang makan martabak toppingnya sampai tumpah ruah begitu." Laila menunjukkan ponselnya pada Akbar.


"Kamu mau? Kalau kamu mau aku akan belikan." Jawab Akbar


"Mau sih, Tapi nggak usah, Belinya nanti saja kalau kita lagi di luar." Laila menolak, karena takut merepotkan Akbar.


"Kenapa harus nanti, Kamu kan maunya sekarang!" Jawab Akbar


"Kamu kan baru pulang, pasti capek." Laila berusaha menahan keinginannya.


"Nggak apa-apa, Aku belikan Sekarang." Akbar langsung memakai pakaian karena hendak pergi.


"Nggak usah Bang. Nanti aja." cegah Laila saat Akbar sudah berdandan rapi.


"Sudah, Tidak apa-apa. Aku pergi dulu." Ucap Akbar


"Bang Akbar!" Laila kembali memanggil saat Akbar hendak keluar rumah.


"Apa?" Jawab Akbar sambil menoleh.


"Aku ikut." Ucap Laila


"Nggak usah. ini sudah malam, kamu tunggu saja di rumah." Kata Akbar.

__ADS_1


"Tapi Aku mau ikut." Laila memelas.


"Yasudah Ayo." Akbar pun membolehkan Laila untuk ikut.


Akbar dan Laila pun pergi untuk membeli makanan yang di inginkan Laila.


"Bang Akbar berhenti deh." Laila tiba-tiba meminta Akbar menghentikan motornya.


"Ada apa?" Jawab Akbar saat dia sudah menepi.


"Bang Lihat deh, cafenya rame banget. pasti makanannya enak. Kita kesana yuk!" Ajak Laila.


"Kamu yakin? Katanya tadi mau martabak Bangka." Jawab Akbar


"Martabaknya kita batalin aja ya!" Laila


"Kamu yakin?" Tanya Akbar lagi.


Laila pun mengangguk semangat.


"Yasudah kalau begitu." Akbar pun menuruti keinginan Laila untuk singgah di cafe tersebut.


Laila dan Akbar pun singgah dan makan di tempat tersebut.



(Visual Laila & Akbar)


"Makasih ya Bang." Ucap Laila saat mereka sudah kembali di kostan.


"Makasih buat apa?" Jawab Akbar sembari menggantung jaketnya.


"Buat jalan-jalan Sama makan malamnya." Jawab Laila.


"Oh, Iya, Sama-sama." Jawab Akbar.


"Kalau kamu sedang ingin sesuatu, Bilang saja. Nanti Aku belikan" Ucap Akbar lagi.


"Iya, Bang." Jawab Laila.


Laila kembali berbaring. Perutnya terasa begah, karena tadi makan cukup banyak.

__ADS_1


"Anak Mama pasti senang ya, Sampai bergerak-gerak begini." Ujar Laila sambil mengusap bayinya yang sedang bergerak-gerak dalam perutnya.


Akbar ikut berbaring di sisi Laila dan mengelus perut Laila, Karena ingin ikut merasakan pergerakan bayi dalam perut Laila.


Laila bahagia sekaligus terharu karena Akbar juga menyayangi calon bayinya.


"Bang Akbar, Aku boleh bertanya sesuatu?" Ucap Laila.


"Bertanya apa?" Jawab Akbar yang masih mengusap perut Laila.


"Apa Bang Akbar menikahi Aku hanya karena rasa kasihan?" Akhirnya Laila berani mengungkapkan perasaan yang mengganjal di hatinya selama ini.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Akbar balik bertanya.


"Ya, Untuk seorang laki-laki pada umumnya, Menikahi perempuan yang sudah dihamili pria lain adalah hal yang mustahil. Terlebih kita tidak pernah terikat hubungan apapun sebelumnya." Ucap Laila.


"Aku hanya masih tidak percaya, kalau di dunia ini ada manusia yang berhati malaikat seperti kamu. Kamu menolong Aku dan bayiku dari kehancuran, dan dari buruknya pandangan masyarakat." Kata Laila lagi sambil sedikit menahan air mata.


Akbar menghembuskan nafas panjang dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Kau tahu? Saat Aku melihat apa yang terjadi padamu, Aku seperti melihat ibuku yang sedang mengandung Akbar kecil." Ujar Akbar seolah sedang menerawang jauh ke masa lalu.


"Maksudnya?" Laila tidak faham.


"Nenekku pernah bercerita. Dulu ibuku menjalin hubungan dengan laki-laki berkebangsaan Turkey yang sedang berbisnis di Indonesia." Ucap Akbar


Sementara Laila hanya diam menunggu cerita selanjutnya.


"Mereka berpacaran dan akhirnya Menikah siri, Sebenarnya ibuku pernah meminta untuk menikah resmi. Tapi Ayahku bilang mengurus data dan surat nikah antara dua negara cukup sulit. Ibuku pun setuju untuk menikah siri, dan akan mengurus surat nikah mereka nanti."


"Hingga Urusan kerja Ayahku di Indonesia pun sudah selesai, Dan dia harus segera kembali ke Turkey."


"Dengan Berat hati, Ibuku merelakan kepulangan ayahku ke Turkey. Sebelum pergi Ayahku bilang, Kalau dia akan mengurus semua keperluan untuk membuat surat nikah dan akan segera kembali ke Indonesia."


"Tapi setelah sudah berada di negaranya, Ayahku melupakan Ibuku. Dia tidak pernah memberikan kabar, bahkan ibuku kesulitan saat ingin memberi tahu kalau ibuku sedang mengandung anaknya. Hingga akhirnya Aku lahir tanpa Ayahku tahu kalau dia memiliki seorang putra."


"Cinta Ibuku begitu dalam terhadap ayahku, hingga ia tidak bisa menerima kenyataan kalau ayahku membuangnya begitu saja. Disaat aku Masih bayi, Ibuku mengalami goncangan mental yang luar biasa hingga akhirnya ia mengakhiri hidupnya saat usiaku satu tahun." Akbar tidak mampu lagi membendung kepedihannya saat ia harus kembali menceritakan kisah hidupnya yang ia rahasiakan dari semua orang, bahkan teman-temannya.


Laila langsung memeluk Akbar saat melihat Akbar tidak dapat lagi membendung Air matanya.


"Sudah cukup. Jangan di lanjutkan. Aku minta maaf, karena Aku kamu jadi bersedih begini." Ucap Laila sambil memeluk Akbar.

__ADS_1


"Saat melihat Andi menyia-nyiakan kamu dan tidak mengakui Anaknya, Aku merasa sangat marah. Hingga aku merasa aku harus menyelamatkan anak ini, Agar tidak mengalami nasib seperti Aku." Lanjut Akbar sembari membalas pelukan Laila.


__ADS_2