
Satu bulan setelah acara tour, hubungan pertemanan Nia dan Nata semakin membaik.
Mereka sering makan siang bersama.
Walau sebenarnya Nata dan teman-temannya lah yang menghampiri Nia yang sedang makan.
Sementara Laila semakin tidak bisa di pisahkan dari Irfan.
"Tumben Emak udah masak jam segini?" Tanya Nata saat hendak mandi di jam lima pagi.
"Iya, Emak lagi bikin rendang." Jawab Emak Sambil terus memasak.
"Memangnya ada acara apa? kok tumbenan."
"Emak, Bikin rendang khusus buat calon mantu Emak." Jawab emak semangat.
"Siapa?"
"Ya pacar kamu lah!"
"Nia, Maksudnya?"
"Memang pacar kamu siapa?"
"Iya Mak, Iya." Jawab Nata tidak ingin berdebat.
Mak Leha memberikan dua buah kotak makan pada Nata,
"Ini buat Nia, yang satunya buat kamu." Ujar Mak Leha, saat sebelum Nata berangkat ke pabrik.
Setelah sampai di pabrik, Nata tidak seperti biasanya yang ikut berkumpul dengan teman-temannya.
Nata menunggu Nia, Karena hari ini ia mempunyai tugas dari sang Emak.
Yaitu memberikan bekal makan siang yang khusus di buatkan untuk Nia.
"Bang, Nata. Tumben pagi-pagi udah di sini?" Tanya Laila yang baru datang bersama Nia.
__ADS_1
"Aku ada perlu sama Nia" Jawab Nata.
Nia menunjukkan wajah penuh tanya pada Laila.
Laila pun hanya menaikan kedua bahunya karena tidak tahu hal apa yang akan di bicarakan oleh Nata.
"Nia ikut ke ruanganku sebentar ya!" Ajak Nata tanpa basa basi.
Nia pun mengikuti Nata ke ruangannya.
"Ada apa?" Tanya Nia, saat sampai di ruang kerja Nata.
Nata mengambil sebuah kotak makanan dari tasnya.
"Ini ada titipan makanan dari Emak." Ujar Nata menyerahkan bungkusan di tangannya.
"Setiap hari Emak nanyain kamu, kenapa kamu nggak ke rumah lagi? Nia, Emakku bersikukuh mau kamu jadi menantunya. Tapi aku bisa jawab apa? sementara kamu saja menolak perasaanku." Sambung Nata.
Nia masih setia diam membisu, Perasaannya saat ini benar-benar tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Tapi, Bang!" Nia Mencoba membuka suara.
"Aku, mohon. Berikanlah aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusanku."
"Maaf Bang, aku tidak bisa." Ujar Nia yang berjalan meninggalkan ruangan Nata.
Nia berhenti Saat hendak membuka pintu dan kembali menoleh pada Nata.
"Tolong sampaikan terimakasih dan Salamku sama Ibu"
Nia pun kini sudah benar-benar pergi dari ruangan tersebut.
Nia meninggalkan ruang kerja Nata dengan sedikit melamun,, karena hatinya bergemuruh tidak karuan.
"Ada apa? apa ada masalah?" Ucap Laila, mengejutkan Nia yang sedikit melamun.
"Kamu ngagetin aku aja, Nggak ada apa-apa. Bang Nata cuma ngasih ini." Jawab Nia menunjukkan Kotak makan yang di berikan Nata.
__ADS_1
"Bang Nata bawain kamu bekal?" Tanya Laila.
"Katanya dari ibunya." Jawab Nia.
"Sepertinya, Bang Nata serius sama kamu. Sebaiknya kamu pertimbangkan Nia, jangan langsung mengambil keputusan menolaknya." Kata Laila.
Nia dan Laila pun kembali memasuki pabrik Karena Sebentar lagi sudah jam masuk kerja.
Malam hari....
Malam ini, Nata pulang sedikit larut. Karena setelah pulang dari pabrik ia mampir ke kostan Ucok, untuk berkumpul dan sekedar mengobrol dengan teman-temannya.
Seperti biasa nata memarkirkan motornya di garasi kecil yang ada dirumahnya.
"Emak, belum tidur?" Tanya Nata yang mendapati sang Emak masih duduk di hadapan televisi di ruang tengah.
"Belum, Tong. Nggak tau kenapa Emak nggak bisa tidur."
"Emak, sebaiknya tidur. Ini sudah jam sebelas." Suruh Nata mematikan televisi yang sebenarnya tidak di tonton.
"Yasudah Emak mau tidur, Kamu mandi. Kalau mau makan ambil sendiri ya di dapur." Jawab Emak tidak bersemangat.
"Iya, Mak. Emak cepat tidur, Nanti sakit!" Ucap Nata mengantarkan Mak Leha ke kamarnya.
Nata duduk sejenak di kursi.
Ia sangat bingung dengan apa yang harus Ia lakukan.
Lagi-lagi Nia menolaknya.
Sementara Mak Leha semakin berharap Nata segera menikah dengan Nia.
Terbersit sedikit penyesalan di hati Nata, karena membohongi Sang Emak.
Setidaknya kalau dulu ia tidak berbohong, dan mengenalkan Nia sebagai pacarnya. Mungkin Mak Leha tidak akan se-berharap ini.
Bersambung....
__ADS_1