
Sepanjang perjalanan Laila terus menangis, membuat yang lain memutuskan untuk berhenti sejenak.
"Sebaiknya kita mampir di warung makan itu." Saran Nata.
Setelah semuanya setuju Mereka pun memarkirkan kendaraan.
Karena ini sudah lewat jam makan siang, warung pun sedang sepi pengunjung.
Mereka sengaja memilih tempat di pojok agar lebih leluasa mengobrol.
"Sebaiknya kita pesan dulu." Nia.
Mereka pun memesan makanan dan minuman.
"La, sebaiknya kamu makan dulu ya!" Ucap Nia saat makan yang mereka pesan sudah tersedia di meja..
"Aku tidak lapar, Nia." Jawab Laila
"Benar apa kata Nia. Kamu makan dulu, setelah itu kita cari solusi lagi." Nata ikut membujuk.
"Bagaimana aku bisa makan, sementara anak yang aku kandung ini akan lahir dengan status yang tidak jelas. Ia akan menjadi bahan hinaan orang karena lahir karena kesalahanku."
Wajah Laila benar-benar sembab. Karena sejak tadi air matanya tak berhenti mengalir.
Semua merasa tidak tega melihat Laila
"Kamu yang sabar ya La." Ucap Nisa sembari mengusap bahu Laila.
__ADS_1
Nisa pun tidak bisa berkata apa-apa, karena ini memang posisi yang tidak mudah.
"Kamu tenang aja La, kita akan besarkan bayi ini sama-sama. Kami akan selalu berusaha membantu." Sambung Nia.
"Tapi aku sangat sedih Nia, karena bayi ini akan lahir tanpa seorang Ayah, bagaimana aku akan menjelaskan pada orangtuaku nanti." Laila.
"Itu, tidak akan terjadi." Ucap Akbar membuat semua beralih menatapnya.
"Ya, Itu tidak akan terjadi. Karena aku bersedia untuk menjadi ayah dari bayi itu." Ucap Akbar mengulangi ucapannya.
Semua cukup terkejut dengan ucapan Akbar.
"Lu jangan Bercanda Bar, suasana lagi genting gini lu malah bercanda." Ucok pun memarahi Akbar.
"Gue nggak bercanda, Gue serius!" Akbar kembali menekankan
"Nggak La, Aku serius mau menikahi kamu."
"Jangan, Bang. Bang Akbar jangan mengorbankan hidup bang Akbar buat nolong aku." Laila.
"Iya, Bar. Lu jangan Main-main." Nata
"Gue nggak Main-main Nat. Gue Serius mau nikahin Laila, dan menyayangi anak yang ada di dalam perutnya dengan sepenuh hati" Akbar kembali meyakinkan semuanya.
"Sebaiknya kita pulang. Kita Bicarakan lagi soal ini besok. Kamu juga harus pikirkan lagi niat baik kamu buat nikahin Laila." Nata.
Mereka pun meninggalkan rumah makan.
__ADS_1
Kali ini Laila ikut bersama Akbar, karena Andi harus segera pergi karena ada keperluan.
dan Ucok pergi ke lain arah karena harus mengantar Nisa ke suatu tempat.
Tinggal Akbar dan Nata yang mengantarkan Nia dan Laila ke tempat kost mereka.
"La, Aku serius mau nikahin kamu, Aku mau ketemu keluarga kamu untuk melamar kamu." Akbar kembali mengungkapkan niat baiknya saat dalam perjalanan.
"Bang Akbar mau nikahin aku karena kasihan?" Laila
"Nggak, Juga." Jawab Akbar singkat.
"Aku nggak tahu, mau Jawab apa Bang." Laila.
"Yasudah, kita bicarakan lagi Nanti." Akbar
"Ya." Laila.
Mereka pun sampai di tempat kost Nia dan Laila.
"Kalian jaga diri baik-baik." Ucap Nata pada Nia dan Laila sebelum pergi.
"Iya, Bang." Jawab Nia
"La, tolong pertimbangan ucapan aku tadi." Kata Akbar.
Dan di jawab anggukan kepala oleh Laila.
__ADS_1
Nia dan Laila pun memasuki rumah setelah Nata Dan Akbar menghilang dari pandangan mereka....