
"Bagaimana? Apa sekarang kamu sudah siap untuk membawa hubungan kita ke pernikahan?" Tanya Nata Saat mereka menikmati malam Minggu di luar. Tepatnya di sebuah cafe.
Nia diam, Ia tidak tahu Harus menjawab apa. Satu sisi ia sangat menginginkan untuk hidup bersama Nata, Tapi di satu sisi ia masih merasa takut.
"Tapi Aku takut, Kalau nanti cinta Abang berubah.." Jawab Nia
"Abang tahu, Kalau semuanya tidak mudah untuk kamu. Abang pun tidak bisa berjanji apa-apa Tapi Abang akan berusaha dan berjuang untuk selalu membuat kamu bahagia." Jawab Nata sambil menggenggam tangan Nia.
Nata tidak tahu, Harus dengan cara apa lagi untuk menyakinkan Nia atas ketulusan cintanya.
"Kalau kamu sudah siap, Abang akan segera mengurus persiapan pernikahan kita." Ucap Nata lagi.
Nia menghembuskan nafas panjang Dan menjawab "Baiklah, Aku sudah siap."
"Kamu serius?" Nata masih tidak yakin dengan jawaban Nia.
"Iya, Bang."Jawab Nia
Nata langsung refleks memeluk Nia di hadapan banyak orang.
"Lepas Bang! Jangan gini ah!" Ujar Nia saat Para pengunjung cafe memperhatikan mereka.
"Iya, Maaf. Abang refleks." Jawab Nata dengan perasaan bahagia.
Nia pun kembali melanjutkan makannya sambil tertunduk karena Malu.
"Neng, Emak pasti sangat senang dengan berita ini." Ucap Nata.
"Abang sama Emak akan menemui ibu kamu secepatnya, Dan setelah itu akan segera mengurus semuanya." Sambung Nata.
"Iya, Bang." Jawab Nia.
Nata dan Nia pun Menikmati malam Minggu dengan perasaan suka cita.
Di tempat lain....
Berbeda dengan Nata dan Nia yang merasa bahagia di malam ini.
Ucok malah sedang tertunduk lesu dan bersedih karena Bisa memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
Ucok Tidak pernah menyangka malam ini hubungannya dengan Nisa akan kandas.
"Maafkan Aku ya Bang." Ujar Nisa yang berkali-kali meminta maaf.
"Iya, Tapi kenapa? Setidaknya kamu kasih penjelasan kenapa kamu mutusin aku. Selama ini hubungan kita kan baik-baik saja." Ucok benar-benar kalut.
__ADS_1
"Maaf, Bang. Aku benar-benar tidak bisa menjelaskan semuanya." Jawab Nisa yang berusaha tegar.
"Kalau seandainya ada sesuatu yang salah sama aku, kamu bisa bilang. Biar aku perbaiki." Kata Ucok
"Tidak Bang. Semuanya baik-baik saja, Hanya saja Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan kita." Jawab Nisa.
"Kalau begitu Aku pamit dulu, Sekali lagi Aku minta maaf." Ujar Nisa lagi.
Nia pun beranjak dari kursinya dan hendak pergi.
"Biar aku antar pulang." ujar Ucok menghentikan Nisa.
"Nggak apa-apa Bang. Biar Aku pulang sendiri saja." Nisa menolak.
"Ini sudah malam. Biar Aku antar saja." Ucok memaksa.
Nisa pun menerima tawaran Ucok untuk di antar pulang.
Ucok yang biasanya sangat humoris, kini menjadi diam seribu bahasa.
Bahkan sepanjang jalan mengantarkan Nisa mereka hanya saling diam.
Ucok berusaha fokus mengemudikan motornya walaupun hatinya sangat kalut saat ini.
"Terimakasih karena sudah mengantar. Sekali lagi Aku minta maaf." Ucap Nisa saat Ucok sudah mengantarkan ke depan kostnya.
Karena tidak tahu mau kemana, Ucok pun menyisikan motornya dan menelpon Andi.
"Di mana lu?" Kata Ucok tanpa basa-basi.
"Di kostan. Ada apa?" Jawab Andi
"Gue ke tempat lu sekarang." Jawab Ucok dan langsung mematikan panggilannya.
"Kenapa tuh anak? Biasanya kalau malam Minggu nggak pernah tuh Inget sama gue." Gerutu Andi saat Ucok mematikan panggilannya
Tak berapa lama Ucok sudah sampai di kostan Andi.
Ucok langsung masuk dengan wajah di tekuk.
"Kenapa lu? Muka udah kaya baju nggak di setrika gitu?" Ujar Andi Saat Ucok datang tapi tidak bicara apa-apa.
Ucok hanya diam tidak menjawab Andi.
"Lu Kenapa?" Tanya Andi lagi, sambil melempar kulit kacang pada Ucok.
__ADS_1
"Gue lagi galau!." Jawab Ucok yang merampas bungkus kacang di tangan Andi.
Malam ini Andi sedang malas pergi.
Ia lebih memilih bermain PlayStation di kostannya.
"Galau kenapa lu?" Andi masih bingung dengan temannya itu.
"Gue di putusin sama Nisa." Jawab Ucok dengan perasaan ngenes
Andi langsung terbahak-bahak saat mendengar ucapan Ucok.
"Seriusan Lu?" Tanya Andi sambil tetap tertawa.
"Sialan lu, Temen lagi sedih malah di ketawain." Jawab Ucok yang membalas melemparkan kulit kacang pada Andi.
"Ya lucu aja. Tapi ngomong-ngomong kenapa lu tiba-tiba di putusin?"Kata Andi.
"Nggak tahu!" Jawab Ucok singkat.
"Mungkin Nisa udah Sadar kali kalau di luar sana masih banyak cowok yang lebih ganteng." Kata Andi meledek Ucok.
"Kurang ajar lu, Temen lagi sedih malah di ledekin." Karena kesal Ucok langsung menggulat Andi.
Bukannya berhenti Andi malah terus meledek Ucok.
Mereka pun bergulat seperti anak kecil berebut mainan.
"Kalau boleh, Malam ini gue mau nginep di sini." Ucap Ucok yang melepaskan gulatannya pada Andi.
"Yaelah, Biasanya juga lu nggak pernah ijin kalo nginep di sini." Jawab Andi sambil mengibaskan tangannya yang agak sakit karena dapat kuncian dari Ucok.
"Eh. Elu seriusan di putusin sama Nisa?." Andi kembali mengkonfirmasi.
"Elu pikir gue Bercanda!" Jawab Ucok dengan suara ngegas.
"Tapi Alasannya apa? Dia pasti punya alasan dong kenapa dia mutusin elu." Tanya Andi lagi.
"Justru itu. Bahkan dia nggak ngasih tau Gue apa alasannya." Jawab Ucok.
"Lah, Kok bisa gitu!" Kata Andi
"Mana gue tahu." Jawab Ucok kesal.
"Yaudah, Jangan di pikirin. Mendingan kita tanding." Ucap Andi yang mengajak Ucok bermain PlayStation.
__ADS_1
Bersambung......