Macaroon

Macaroon
33. Sebuah kenyataan


__ADS_3

Akbar memarkirkan motornya di halaman rumah Irfan.


Hari sudah mulai gelap, suasana pun terlihat sepi.


Akbar menemani Laila untuk menemui istri Irfan.


Ada perasaan ragu saat Laila hendak mengetuk pintu.


Walau bagaimanapun apa yang akan ia lakukan akan menyakiti hati seorang wanita.


Tok.. Tok...


Laila mengetuk pintu.


Laila dan Akbar menunggu sejenak sampai sang pemilik rumah membukakan pintu.


"Selamat sore kak." Ucap Laila dan Akbar pada Ayu istrinya Irfan.


"Selamat sore. Silahkan masuk." Jawab Ayu dengan ciri khasnya yang ramah.


"Maaf, Kak kalau kedatangan kami mengganggu." Kata Akbar setelah di persilahkan untuk duduk.


"Tidak apa-apa. Tapi Mas Irfan belum pulang." jawab Ayu


"Tidak apa-apa." Jawab Laila.


"Kalau begitu saya buatkan teh ya, tapi kalian jangan pergi seperti kemarin." Ucap Ayu.


"Tidak usah repot-repot kak, lagi pula Kaka sedang menggendong jadi akan repot untuk melakukan sesuatu." Laila.


"Tidak apa-apa. Hanya membuat teh sebentar." Ayu memaksa untuk tetap membuat teh untuk Akbar dan Laila.


Melihat sikap Ayu yang sangat baik Laila semakin benci dengan Irfan.


Bagaimana bisa ia berselingkuh sementara Istrinya begitu baik hati.

__ADS_1


Ayu pun datang dengan nampan berisi Dua cangkir teh.


"Silahkan! Maaf hanya teh saja." Ayu


"Tidak apa-apa kak." Laila.


Laila menatap anak lelaki dalam pangkuan Ayu, Wajahnya tampan tapi ia terlihat tidak aktif seperti anak-anak pada umumnya.


"Anak ganteng siapa namanya?" Laila mengelus pipi Anak Irfan.


"Nama saya Vano Tante." Ayu menjawab dengan suara dibuat seperti anak-anak.


"Oh, Namanya Vano. memangnya Vano umur berapa?" Laila kembali bertanya.


"Umur lima tahun Tante." Ayu pun kembali menjawab.


Laila sedikit heran. Seharusnya Anak usia lima tahun, Sudah pandai menjawab pertanyaan orang lain.


Ayu pun sepertinya memahami rasa heran dalam hati Laila.


Laila hanya diam, hatinya Serasa sesak, Ia hanya bisa menyaksikan seorang perempuan hebat yang sedang berjuang.


"Alasan saya pindah tinggal di Jakarta pun agar bisa dengan mudah membawa Vano ke dokter spesialis." Ayu menyambung pembicaraannya.


Dada Laila menjadi semakin sesak, Pikiran dan hatinya seorang beradu agrumen.


Bagaimana bisa ia tega menghancurkan hati perempuan yang ada di hadapannya ini, Sementara ia pun sedang berjuang untuk buah hatinya.


Laila membayangkan betapa akan hancurnya hidup Ayu ketika Ia mengatakan segalanya.


Anak laki-laki itu butuh keluarga yang utuh untuk menemaninya.


"La." Akbar menegur saat melihat Laila melamun.


Laila pun tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Silahkan di minum, Maaf saya jadi curhat begini." Ujar Ayu merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa kak. Mungkin Tuhan Tahu kalau kak Ayu adalah orang yang hebat sehingga ia menitipkan Anak yang istimewa seperti Vano." Laila mencoba menguatkan.


"Saya tidak akan sekuat ini tanpa bantuan Mas Irfan, Dialah Suport sistem dalam hidup saya. Saya bersyukur Tuhan memberikan suami yang luar biasa dalam hidup saya." Ujar Ayu.


Seperti ada yang tergores di dalam dada Laila saat mendengar ucapan dari Istri Irfan.


"Yang Tabah ya kak. Kak Ayu dan Mas Irfan adalah orang tua hebat." Laila.


Ayu pun menanggapinya dengan senyuman.


"Mungkin jalanannya macet jadi mas Irfan agak terlambat. Biasanya jam segini dia sudah di rumah." Ayu


"Tidak apa-apa kak, Kami mampir kemari tidak berniat untuk bertemu Mas Irfan. Kami hanya sedang kebetulan lewat jalan ini, dan mampir kemari. Sekalian mau bilang Maaf karena kemarin pulang tanpa pamit pada kak Ayu."


"Kalau begitu Kami pamit saja, karena takut pulang terlalu malam." Laila pun berpamitan.


Laila memutuskan untuk mengurungkan segala niatnya.


"Kenapa terburu-buru sekali, sebentar lagi Mas Irfan juga pulang." Ayu


"Tidak apa-apa kak Ayu, Kami mau pulang saja. Saya senang bisa mengenal kak Ayu." Ucap Laila.


"Iya, saya juga senang, kalau teman-teman mas Irfan ada yang mau berkunjung ke rumah kecil kami." Ayu.


"Kalau begitu kami pamit." Akbar pun berpamitan dan keluar.


Ayu pun mengantar sampai teras.


"Kalian pasangan serasi. Perempuannya cantik, dan laki-lakinya ganteng." Ucap Ayu saat Akbar dan Laila sedang menggunakan sepatu mereka.


"Terimakasih, kak. Doakan saja agar kami segera menikah." Akbar pun menjawab.


Sementara Laila melihat Akbar lewat ujung matanya.

__ADS_1


"Tentu saja. Jangan lupa undang kami kalau kalian menikah" Ucap Ayu sebelum Akbar dan Laila pergi.


__ADS_2