Macaroon

Macaroon
35. Berita bahagia.


__ADS_3

Seperti biasa Nata dan kawan-kawannya makan bersama di kantin atau di warung langganan mereka.


"Neng, Sambalnya jangan terlalu banyak." Ucap Nata, Saat melihat Nia menuangkan banyak sambal kedalam sotonya.


"Iya, Bang. ini cuma sedikit." Jawab Nia.


Yang lain pun mulai menikmati soto khas Lamongan tersebut.


"Teman-teman, Hari Minggu nanti aku akan pergi ke kampung Laila untuk mempertemukan keluarga kami. Dan sekaligus lamaran." Ujar Akbar Di saat yang lain sedang menikmati makanan mereka.


Seperti dugaan Akbar dan Laila teman-temannya akan memberikan reaksi yang tidak biasa.


Bahkan Andi sampai tersedak karena terkejut.


"Kalian serius?" Tanya Nata.


"Iya." Laila pun menjawab


"Laila, kamu merahasiakan ini dari Aku?" Nia pun terkejut.


"Maaf, Aku sama bang Akbar sengaja mau buat kejutan untuk kalian." Laila.


"Kalian serius?" Ucok masih sedikit tidak yakin.


"Iya, hari Minggu nanti aku dan keluargaku akan datang ke Bogor. Apa kalian akan ikut?" Akbar mengajak serta mereka semua.


"Eh, seru juga tuh. kita konvoi pake motor." Sambar Andi sang petualang cinta.


"Iya, seru juga. Gue mau sekalian kenalan sama calon mertua juga. Rumah kamu sama Laila Deket kan Neng?" Timpal Nata.


"Kenapa Abang jadi ikut-ikutan mau kenalan sama calon mertua." Nia


"Yaelah, Neng. Kenalan doang mah nggak apa-apa kali. Siapa tau nanti di suruh buat cepat-cepat nikah." Ucap Nata sambil tertawa.

__ADS_1


"Loe udah ngebet nikah juga ternyata bang?" Goda Akbar


"Ya, iyalah. Tapi sayang, calon permaisuri gue belum siap buat di pinang." Ucap Nata menyindir Nia


Nia pun memberikan cubitan pada lengan Nata.


"Jadi deal kalian ikut ke Bogor?" Akbar memastikan.


"Kita berangkat pagi-pagi sekali supaya bisa lebih lama di sana." Saran Nata.


"Ok, Aku akan segera mengabari Nisa supaya dia ikut juga" Ucok.


"Kalau begitu, Aku dan Laila Akan pulang duluan Sabtu pagi." Ujar Nia.


"Terus Abang sendirian dong Neng?" Nata sedikit kecewa.


"Iya,Bang. Nanti pas pulangnya Aku baru ikut Abang." Kata Nia.


"Yasudah kalau begitu, berangkatnya biar Abang di temenin angin dulu." Ucap Nata sembari menyandar di pundak Nia.


"Nggak apa-apa Neng, biar mereka pada iri sama kita." Jawab Nata sambil terus bersandar di pundak Nia.


"Yang mau nikah siapa. Yang udah nggak kuat siapa?" Ledek Ucok yang mendapat tertawaan dari yang lain.


Mereka pun menyelesaikan makan siang dan kembali ke pabrik.


Akbar, Laila dan yang lainnya berjalan di depan sementara Nata dan Nia berjalan paling belakang.


"Neng, kita cepat-cepat nikah yuk!" Ucap Nata tiba-tiba


"Abang ini kenapa sih! Tiba-tiba jadi ngebet nikah gitu." Jawab Nia.


"Abisnya kamu gemesin Neng, Bikin Abang pengen cepat-cepat lempar kamu."

__ADS_1


"Kenapa aku mau di lempar?" Jawab Nia dengan polosnya, karena ia benar-benar tidak mengerti.


"Abang udah nggak sabar mau lempar kamu ke tempat tidur." Jawab Nata sambil tersenyum.


"Dih, dasar mesum!" Balas Nia,


Nia pun berlari kecil meninggalkan Nata di belakangnya.


Membuat Nata semakin merasa gemas dan sayang pada gadisnya itu.


_____________


Jumat sore, setelah pulang dari pabrik Nia dan Laila memutuskan untuk pergi berbelanja.


Mereka berniat membelikan oleh-oleh untuk keluarga mereka.


"La, Aku ikut bahagia dengan rencana pernikahan kamu sama Bang Akbar." Ucap Nia saat menyusuri toko.


"Iya, Aku nggak nyangka kalau aku akan sampai di titik ini. Padahal Aku sempat berpikir hidupku sudah selesai pada saat itu." Jawab Laila.


Nia mampir di sebuah toko jam tangan.


Ia membeli tiga buah jam tangan untuk adik-adiknya.


Sekali lagi Nia ingin mengukir senyuman di wajah adik-adiknya.


Sementara Laila membeli pakaian untuk adik dan ibunya.


Berbeda dengan Nia yang memiliki tiga orang adik, Laila hanya memiliki satu adik laki-laki yang baru beranjak remaja.


Setelah merasa cukup membeli beberapa oleh-oleh, Nia dan Laila pun segera pulang.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, mereka membereskan barang belanjaannya tadi.

__ADS_1


Mereka menyusunnya di tas masing-masing.


Untuk seorang anak rantau, memberikan oleh-oleh saat pulang kampung Itu memiliki kebahagiaan tersendiri.


__ADS_2