
lanjut kuy
////////
"Aku baik"jawab lyra lalu teringat sesuatu dan ia terkejut lagi lalu melirik Thosikari dan Leda bergantian
"Leda jangan bilang kau"lyra terhenti saat Leda mengangguk
"Jadi apa kau akan tetap diam Thosikari....atau aku harus memanggil mu Adhara"kata Leda membuat Thosikari menunduk menyembunyikan air matanya
"Kau tidak merindukan ku"kata Leda lagi lalu mendekat kearah Thosikari dan berjongkok perpangku pada satu kakinya dan memegang kedua pundak adik perempuannya
"Apa aku jahat sehingga kau marah karna aku terlambat"kata Leda digelengi Thosikari
"Kalau begitu angkat kepalamu dan lihat kakak"kata Leda membuat Thosikari semakin menunduk
"Maaf"kata Thosikari pelan,lalu Leda dengan pelan membawa Thosikari kepelukannya,pecah sudah tangisan yang sedari tadi Thosikari tahan saat kakaknya memeluknya,Lily dan Lyra hanya menatap kakak beradik itu saling melepas rindu,Lily sudah mengetahui hal ini saat Leda menceritakan nya tadi di mobil.
Sedangkan di kamar Tetsuya hanya diam sambil bersandar di balik pintu,ia mendengar semuanya,karna sedari tadi ia menguping,lalu air matanya mengalir dan diusapnya dengan cepat, setelahnya dia keluar membuat mereka menatapnya,Leda tersenyum melihat adik laki lakinya,Tetsuya mendekat ke Leda dan memberikannya pukulan pada wajahnya,walaupun tidak keras tapi cukup membuat mereka terkejut
"Runo"kaget Thosikari,Tetsuya menarik kerah kemeja Leda
"Bastar kemana saja kau dulu,kau tidak tau kakak ku selalu menangis di malam hari,itu karna siapa,bangsat kau memang tidak punya perasaan"teriak Tetsuya sambil menggoncang tubuh Leda tanpa memukulnya lagi membuat Leda tersenyum kecut
"Maaf,maafkan aku yang sudah menjadi kakak yang gagal"kata Leda
"Akhhh"teriak Tetsuya sambil melepaskan pegangan nya pada Leda
"Apa kau tau seberapa kuat kakak agar slalu tersenyum didepan orang lain"kata Tetsuya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya
"Hiks.....akh aku menangis"kata Tetsuya pelan
"Ru...Runo"panggil Thosikari
"Katakan dengan jujur kakak apa dia saudara ku,apa dia kakak ku"tanya Tetsuya,lama Thosikari terdiam lalu ia mengangguk pelan membuat Tetsuya menghela nafasnya kasar,Thosikari yang melihat adiknya langsung membawanya kepelukannya membuat Tetsuya menangis dalam diam di pundak kakaknya
"Kak ini nyata"kata Tetsuya pelan
"Iya"jawab Thosikari sambil melihat kakaknya lalu mengangguk dan Leda tersenyum lalu memeluk kedua adiknya membuat suasana semakin bertambah haru,dimana pleadies saudara bertemu setelah belasan tahun terpisah,Lily dan Lyra hanya menatap mereka dengan haru,setelah beberapa menit mereka melepaskan pelukan nya
"Oh ya aku membuat makan siang untuk semua,ayo kita ke meja makan"ajak Thosikari
"Betul juga aku sudah lapar nih"kata lyra memecahkan suasana agar sedikit rileks,mereka lalu ke meja makan dan makan bersama,sambil menceritakan awal kejadian sampai saat ini
"Aku bersyukur akhirnya Tuhan menjawab doaku,kalian hidup dan kembali"kata Leda setelah selesai makan Lily pamit pulang sehingga hanya mereka berempat sekarang
"Anu....ba...bagaimana kabar ayah dan ibu"tanya Thosikari ragu
"Mereka semua baik baik saja,tapi mereka pasti akan senang jika mereka bertemu dengan kalian"kata Leda membuat Tetsuya terdiam
"Ada apa Runo"tanya Thosikari
"Apa kita memiliki ayah dan ibu"tanya Tetsuya membuat semuannya terdiam
"Tentu saja Runo dan mereka sangat menyayangi kalian,pulanglah agar kalian bisa bertemu kembali"kata Leda memohon
"Tapi"Thosikari
"Apa kau tidak rindu dengan mereka"kata Leda
"Aku rindu,rindu sekali"kata Thosikari sambil memegang kalungnya
"Kalau begitu maukah"kata Leda, Thosikari menatap Tetsuya dan di angguki adiknya
"Baiklah"jawab Thosikari membuat Leda tersenyum senang lalu memeluk kedua adiknya seolah belum puas dan masih tidak menyangka jika hari yang selama ini ia impikan menjadi nyata dimana keluarga nya akan berkumpul kembali
Sorenya mereka berempat langsung menuju negara Eden,Thosikari dan Tetsuya terlihat terpukau dengan jet pribadi yang mereka naiki
"Ini keren sekali"kata Tetsuya
"Iya"jawab Thosikari
"Sebaiknya kalian istirahat saja dulu, perjalanan masih lumayan panjang"kata Leda,diangguki Tetsuya dan Thosikari lalu mereka diantar oleh pelayan disana untuk mengikuti mereka ke tempat istirahat mereka,Tetsuya cukup terpukau dengan kamar di depannya,bagaimana tidak suasananya benar benar sesuai seleranya
sedangkan Thosikari juga mendapatkan kamar yang indah dengan nuansa alam yang membuat hati merasa nyaman,lalu dari belakang muncul Lyra
"Kau senang"tanya lyra diangguki Thosikari
"Setelah belasan tahun akhirnya aku akan bertemu dengan orang tuaku lagi"jawab Thosikari
"Hoammm aku mengantuk"kata lyra lalu menuju kasur dan merebahkan tubuhnya,begitu juga Thosikari dan mereka tertidur
Selang beberapa jam jet pribadi kerajaan pleadies sampai di bandara dan mereka turun dan langsung menuju istana pleadies atau rumah mereka,Tetsuya dan Thosikari benar benar terpukau dengan keindahan dan kemegahan dengan istana di depannya
"Luar biasa"kata Thosikari,walaupun ia tau jika ini rumahnya namun tetap saja ia terkejut karna bagaimana pun juga sudah 14 tahun ia meninggalkan istana,mereka lalu sampai pada gerbang utama dan masuk ke istana,
Leda sengaja menyuruh Tetsuya dan Thosikari jalan agak jauh darinya karna mereka harus membuat kejutan,masuk ke aula besar dimana duduk seorang pria gagah walaupun umurnya sudah tidak lagi muda, disampingnya duduk seorang wanita yang memiliki garis wajah seperti Tetsuya dengan aura keibuannya
"Leda anakku kau kembali"sambut Spica ibu Leda sambil memeluk anaknya
"Kalian sehat kan"tanya Leda
"Kami baik Leda,bagaimana apa kau berhasil menemukan anak Sargas"tanya Aldebaran pleadies ayah Leda pleadies
"Sudah ayah dia sudah kembali ke kediamannya
"Bagus anakku kau semakin hebat,ayah bangga dengan mu"kata Aran sambil mengusap bahu anaknya
"Apa ada yang kau inginkan"tanya Spica
"Sekarang aku hanya menginginkan satu hal ibu"kata Leda
"Oh ya apa itu"tanya Spica
"Kebahagiaan kalian"kata Leda membuat Aldebaran dan Spica bingung
"Kami sudah bahagia"kata Spica berusaha tersenyum
__ADS_1
"Kau pembohong besar ibu"kata Leda membuat mereka terdiam
"Ayah,ibu bukankah beberapa hari lgi adalah ulang tahun pernikahan kalian,aku ingin memberikan kadonya hari ini"kata Leda
"Kenapa tidak saat acara saja"tanya Aran
"Karna kebahagiaan tidak boleh di tunda"kata Leda
"Ayah seandainya keluarga kita lengkap apa kita akan tetap seperti dulu"tanya Leda
"Iya,maaf Leda aku sudah menjadi ayah yang gagal untuk adik adikmu"kata Aran dengan penuh penyesalan
"Kenapa ayah sedih aku tidak bermaksud mengungkapkan hal itu"kata Leda
"Ayah jika ayah dan ibu di suruh membuat permintaan apa permintaan kalian"tanya Leda
"Aku ingin keluarga ku berkumpul seperti biasanya"kata Aran
"Aku menginginkan anakku kembali,walaupun di tukar dengan harta atau nyawa"kata Spica membuat Thosikari yang berada di balik pintu aula menangis sambil menutup mulutnya,Tetsuya yang di sampingnya segera memeluknya menenangkan kakaknya,
Leda yang merasa sudah saatnya menggiring ayah dan ibunya untuk melihat foto keluarga mereka saat masih lengkap dulu yang dipajang di tembok aula
"Apa ayah dan ibu ingin seperti itu"tanya Leda
"Iya ayah ingin sekali menggendong adik adikmu,jika mereka masih hidup mereka pasti sudah menjadi anak yang tampan dan cantik"kata Aran,Thosikari dan Tetsuya mendekat perlahan dan berdiri dibelakang orang tua mereka
"Kalau begitu kenapa tidak kalian bayangkan saja jika mereka sudah dewasa"kata Leda membuat Aldebaran dan Spica menutup matanya,
setelah itu Thosikari dengan tangan bergetar langsung memegang tangan ayahnya yang sudah mulai ada gerutanya dengan menahan tangisnya,sedangkan Tetsuya hanya terdiam namun setelah melihat Leda ia langsung memegang jari kelingking kiri ibunya
"Leda ayah merasakannya"kata Aldebaran tanpa membuka matanya
"Aku merasakannya,Runo dia memegang kelingking ibu seperti dulu"kata Spica
"Akhh kuharap waktu berhenti walaupun sebentar"kata Spica sambil mengelus tangan yang memegang kelingkingnya dengan tangan kanannya,ia berbalik dan membuka matanya dan terkejut melihat Tetsuya
"Sepertinya aku tertidur sehingga bermimpi indah"kata Spica lalu menyentuh wajah Tetsuya
"rasanya seperti nyata"kata Spica
"Jika ini mimpi aku tidak ingin bangun"lanjutnya membuat Aran berbalik dan membuka matanya dan melihat Thosikari memegang tangannya
"Sepertinya aku bermimpi melihat gadis kecilku sudah tumbuh dewasa"kata Aran sambil menitikkan air matanya,lalu Thosikari menghapuskan dengan tangannya
"Terasa nyata"kata Aran
"Ayah"panggil Thosikari
"Bahkan ia memanggil ku dengan lembut seperti dulu,akh aku seperti nya benar benar merindukan suara anakku sampai seperti ini"kata Aran lalu melirik Tetsuya yang sedang berhadapan dengan istrinya
"Bayiku juga sudah besar"kata Aran lalu berjalan kearah Tetsuya
"Bayiku sangat tampan"kata Aran membuat Tetsuya menatapnya dengan ekspresi yang datar
"Aku sudah besar a...ayah"kata Tetsuya
"Huhuhu kalian kenapa jahat sekali,kami ini nyata bukan mimpi"kata Thosikari
"Ayah ibu Adhara rindu kalian"kata Thosikari sambil menangis
"Leda"kata Spica
"Ibu ayah bukankah kalian ingin adik adikku kembali,sekarang mereka sudah ada dihadapan kalian"kata Leda membuat Spica dan Aldebaran tersadar jika ini bukanlah mimpi,lalu dengan cepat mereka membalas pelukan Thosikari,anak perempuan mereka satu satunya yang sudah sangat mereka rindukan dan terjadilah pelukan antara orang tua dengan anaknya
"Kalian kembali,kalian kembali,kalian masih hidup"kata Spica sambil menangis,ia lalu melirik Tetsuya yang terdiam
"Kau pasti Runo"kata Spica sambil memegang pipi anaknya dan memeluknya,Tetsuya yang belum pernah merasakan kehangatan dari seorang ibu semenjak ia kecil merasakan adanya getaran di hatinya seolah cahaya masuk kedalam kegelapan dalam hatinya
"Ibu"kata Tetsuya,Aran mendekati anak bungsunya dan memeluknya juga
"Kalian,kalian benar benar anakku"kata Spica
"Kemarilah"kata Spica kepada Thosikari dan Leda,lalu Spica memeluk ketiga anaknya sedangkan Aldebaran hanya tersenyum senang karna keluarga nya kembali utuh,ternyata ke kukuhannya dalam membentengi hatinya agar slalu berfikir jika anaknya masihlah hidup beneran terjadi
Sedangkan di kediaman Auriga lyra telah sampai di rumahnya setelah di jemput oleh suruhan ayahnya,ia masuk dan menatap rumahnya tempat ia menghabiskan waktu nya sejak kecil
"Sudah satu tahun aku tidak kemari"kata lyra lalu berhenti di tengah ruangan saat melihat pria dewasa sedang berdiri di tangga,pria dewasa yang sangat tampan dengan rambutnya yang tertata rapi ke belakang,dialah Sargas atau ayah dari Lyra,Sargas buru buru turun dan menghampiri anak semata wayangnya dan memeluknya
"Akhirnya gadis kecilku kembali"kata Sargas sedangkan lyra hanya terdiam
"Aku kembali ayah"kata lyra,Sargas membawa anaknya duduk di sofa
"Kenapa kau suka sekali meninggalkan ayah nak"kata Sargas sambil menyentil dahi anaknya
"Kau ini ingin ayahmu menahan rindu berapa lama lagi"lanjutnya
"Maaf ayah,aku hanya tidak mau di jodohkan dengan Leda"kata lyra jujur sambil mengusap dahinya
"Maafkan ayah,ayah memaksamu saat itu,sekarang ayah janji tidak akan melakukannya lagi,Aran juga sudah memaklumi nya"kata Sargas merasa bersalah karna berusaha menjodohkan anaknya dengan pangeran kerajaan pleadies
"Oh ya ayah lupa Karna anak ayah sudah kembali ayah membawa hadiah untuk mu"kata Sargas membuat lyra tertawa
"Seharusnya yang bepergian yang membawa oleh oleh tapi ini malah orang rumahnya"kata lyra
"Tapi jika hadiah itu adalah obat maaf ayah aku menolak"kata lyra karna hampir setiap ayahnya memberi kado pasti obat,walaupun ayahnya bilang itu adalah vitamin tapi tetap saja dia sungkan,menurutnya jika mati ya mati jika masih ada hari esok maka itu adalah keajaiban untuk nya,bisa hidup sampai saat ini saja dia sudah sangat bersyukur,walaupun jika boleh jujur dia sangat takut,takut tidak ada hari esok lagi untuk nya
"Tenang kali ini hadiahnya lain dan ayah yakin sekali jika kau akan suka"kata Sargas lalu memberikan kotak hadiah untuk lyra,lyra mau tak mau membukanya dan isinya membuat ia terkejut bahkan sampai menutup mulutnya,ia mengambil hadiah itu dengan tangan bergetar sambil menahan tangis
"A...ayah i...ini siapa"tanya lyra saat melihat foto tiga orang,ada ayahnya yang sedang merangkul seorang wanita cantik yang sedang menggendong bayi
"Itu ibumu,bukankah selama ini kau ingin melihatnya"kata sargas membuat lyra menatapnya dan memeluknya dan pecah tangisannya
"Akh huhuhu ayah"lyra menangis di pelukan ayahnya,
selama ini ia selalu ingin melihat seperti apa rupa ibu yang sudah melahirkan nya kedunia,karna di dalam rumahnya sama sekali tidak ada foto terpajang tentang ibunya,bahkan ia bertanya kepada semua orang termasuk raja Aldebaran tapi tetap tidak diberitahu,lalu kemana ibu lyra sekarang?
Ibu lyra telah tiada saat lyra berumur satu bulan karna sakit yang sama seperti diderita lyra,yaitu detak jantung yang lemah sehingga paska melahirkan kondisinya semakin memburuk sampai ia akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya,
__ADS_1
Sargas yang saat itu sangat sedih akan kehilangan istrinya menyuruh semuanya melepas foto yang ada istrinya
karna jika tidak maka ia akan mengingat hal itu,bahkan kepada anaknya sendiri ia menyembunyikan nya sampai saat ia melihat kegigihan lyra dalam mencari tau seperti apa ibunya membuatnya menyerah dan memberitahu semuanya.
Apakah lyra tau jika ibunya sudah tiada?
Iya dia sudah tau hanya saja tidak tau seperti apa rupa ibunya sehingga ia selalu mencari tau,dan akhirnya sekarang ia dapat melihat seperti apa rupa ibu yang sudah melahirkannya,ibu yang sudah berkorban bahkan sampai menukarkan nyawanya demi membuat buah hatinya bisa melihat dunia yang fana ini ANJAY KEREN BANGET GWπ
Sedangkan di negara lain tepatnya di negara Zee tinggal,ia sedang mampir ke apartemen Quan dan Ari tinggal, alasannya ia kesana karna racun hitam yang ada ditubuhnya semakin melonjak paskah pertarungannya dengan Huang Zhong di sekolah,saat ini mereka berempat sedang berkumpul di ruangan tempat gym keluarga Lancaster,tunggu kok empat?
Ya Zee,Ari,Quan dan Luyten hewan pendamping Jiali yang sekarang sedang main kerumah Quan,Quan dan Luyten menatap kedua gadis itu dengan perasaan nya masing masing,Quan yang harap harap cemas sedangkan Luyten dengan perasaan gregetan nya namun takut secara bersamaan,karna bagaimanapun ia masih sama seperti dulu masih takut dengan sosok Zee si Dewi kegelapan.
Di tempat Zee dan Ari,Zee berdiri di depan Ari sedangkan Ari ia sedang mengucapkan mantra untuk mengeluarkan kristal merah darah dari dahinya,beruntung bulan darah sudah lewat sehingga kristal yang saat itu sudah ia berikan kepada Zee tumbuh kembali di dahinya,ia mengambil kristal itu dengan tangannya dan melirik Quan,Quan yang sudah pernah melihat cara Ari menggunakan kekuatan kristal darah itu mau gx mau berbalik membuat Luyten bingung
"Hei kenapa kau berbalik"tanya Luyten
"Ikutkan saja ubanan mesum"kata Quan sambil menarik Luyten agar ikut berbalik juga
"Siapa yang kau panggil mesum sialan"kesal Luyten merasa aneh bahkan Zee pun merasa bingung dengan tingkah Quan
"Zee"panggil Ari membuat Zee meliriknya,Ari menarik wajah Zee dan menciumnya tanpa aba aba membuat Zee terkejut,lalu cahaya merah menyelimuti mereka dalam beberapa detik lalu setelahnya menghilang.
Quan dan Luyten lalu berbalik lagi saat cahaya itu menghilang dan melihat Zee sedang terduduk dengan Ari yang berdiri,terlihat wajah terkejut dari Zee sedangkan Ari hanya memalingkan wajahnya,Quan yang ngerti juga kikuk sendiri sedangkan Luyten ia plonga plongo karna gx tau apa apa
"Tu...tuan racun hitammu sudah hilang"kata Quan sambil membantu Zee berdiri,sedangkan Zee hanya diam saja dengan wajah memerah
"Kalian ini kenapa sih"akhirnya kata kata yang sejak tadi ia tahan keluar juga dari mulut Luyten
"Bukan apa apa"kata Quan
"Masa"kata Luyten gx percaya
"Iya Luyten ubanan"kata Quan lalu menyeret Luyten dari ruangan sana meninggalkan Zee dan Ari berdua,setelah menetralkan rasa terkejutnya Zee berdehem
"Ehem apa saat pertama kali juga seperti itu caranya"tanya Zee membuat Ari terkejut namun ia mengganguk membuat Zee geleng geleng kepala
"Siapa saja"kata Zee membuat Ari bingung
"Apanya"tanya Ari
"Yang kau cium"kata Zee membuat Ari terdiam
"Hanya kau"jujur Ari,karna selama hidupnya ia hanya mengikuti arus kehidupan nya tanpa terbebani apa apa,karna selama hidupnya belum terikat dia adalah siluman yang sering berpindah pindah tempat,tapi semenjak ia terikat atau melakukan kontrak darah dengan Zee,maka ia akan slalu bersama tuannya sampai akhir hayat nya
"Hais itu mengejutkan tau"kata Zee kembali normal
"tidak apa apa kan"kata Ari
"Tidak apa apa,setidaknya itu sepadan dengan hasilnya"kata Zee mendekat dan mengusap rambut Ari
"Terima kasih Ari"kata Zee sambil tersenyum di angguki Ari
"Apa semua ras kucing malam akan melakukan hal itu"kata Zee sambil berjalan keluar dari gym pribadi keluarga Lancaster di ikuti Ari di belakangnya
"Sepertinya iya"kata Ari sambil mengingat ingat
"Kenapa sepertinya?"tanya Zee
"Karna aku hanya mengikuti insting kucing ku"kata Ari membuat Zee berbalik
"Kau itu putri dari raja ras kucing malam kan"tanya Zee saat mengingat cerita masa lalu Ari
"Iya,memangnya kenapa"tanya Ari
"Seperti apa orang tuamu"tanya Zee
"Orang tuaku"Ari terdiam karna bingung ingin menjawab apa
"Apa kau menyukai Quan"tanya Zee lagi karna tau kebingungan Ari jadi ia maklumi
"Aku tidak tau artinya menyukai,
love or like aku tidak bisa membedakannya"kata Ari
"Jadi selama ini kau tidak tau arti dari perasaan mu"tanya Zee diangguki Ari
"Itu lebih baik"kata Zee membuat Ari bingung
"Baiklah aku pulang dulu ya"pamit Zee lalu keluar dan pergi dari sana meninggalkan Ari yang sedang berperang dengan fikirannya sendiri
Skip kembali pagi mereka menjalani kegiatan sekolah seperti biasanya,Tetsuya?,dia izin beberapa hari untuk melepas rindu dan sekalian mengikuti acara ultah nikah orang tua nya disana,walaupun masih agak Canggung
Tak terasa akhir pekan pun datang,Zhu dan logan mereka menghabiskan waktu nya dengan kencan seperti biasanya,dan ada tiga pasangan sekaligus,yaitu Jimmy dengan Lily,Joy juga Leozert,begitu juga dengan logan dan Zhu pastinya,dan lokasinya tentu saja wahana bermain,
sedangkan Nian Nian dan Ziya memilih bermain bersama Jiali,dan Ari tanpa Zee,karna Zee memiliki janji bertemu kepada Tama dan teman temannya,Zee segera menuju tempat pertemuan mereka di sebuah villa di dekat pantai milik black.
black adalah seorang mafia yang paling di takuti yang ternyata adalah bawahannya Zee,sebenarnya bukan bawahan sih namun black memilih mengabdikan dirinya untuk Zee karna suatu alasan,Haley pun sama ia memilih setia kepada Zeena karna suatu alasan,dia adalah salah satu ilmuan gila berkedok dokter di suatu rumah sakit yang berbeda dengan Tama,ia selalu menciptakan hal baru yang berguna untuk timnya.
Jadi disinilah mereka dimana Ryuga,Tama,black,dan Haley sedang duduk santai di villa sebelum Zee masuk halaman,mereka mendekat dan Haley langsung memeluk Zeena
"Akhh bos lama tak jumpa"kata Haley
"Lama juga kak Haley bagaimana kabarmu"tanya Zee basa basi
"Kabarku baik Zee"kata Haley lalu mengajak Zee ke tempat duduk,lalu mereka berempat berdiri berbaris,Zee yang mengetahui kebiasaan ini hanya terkekeh kecil,dan duduk di depan mereka,Haley yang melihat bos-nya bersikap biasa saja terlihat senang
"Baiklah aku dulu"kata Haley kepada ketiga temannya
"Ini bos untuk mu"kata Haley sambil menyerahkan paper bag,Zee mengambilnya dan membuka isinya,didalamnya ada sebuah buku cerita kesukaannya
"Terima kasih kak Haley"kata Zee,lalu Tama maju
"Bos ini dariku"kata Tama menyerahkan bungkusan kecil ditangannya
***apa ya hadiah dari Tama π€
seru lanjut
__ADS_1
πππ***