
lanjut
____________&_&___________
***
Ia mengingat dimana semua awal mula bencana ini terjadi,saat itu Arthur dan teman temannya atau antek antek OSIS pergi dari Houdryen,mengikuti Arthur untuk absen dalam perlombaan tiga sekolah,beberapa hari kemudian datang seorang pria muda ke markas mereka dan berbicara secara empat mata dengan ketua mereka,saat kembali mereka melihat sesuatu yang berubah dari Arthur dan tidak melihat pria muda itu,Arthur mendekat kearah antek antek nya
"Lucas,Mike,Nelson,Gufeng,Mingxi,
Guo nan kalian akan setia kepadaku"kata Arthur yang lebih ke sebuah pernyataan dari pada pertanyaan,menatap keenamnya
"Lucas"panggil Arthur
Lucas mendekat
"Kalian ingin sihir yang kuat bukan"kata Arthur di angguki kelimanya
Arthur meletakkan lima botol porselen kecil di meja
"Ambil itu dan minumlah"kata Arthur
"Dengan demikian kalian akan memiliki kekuatan yang sangat besar"kata Arthur
kelimanya tanpa ragu mengambil botol tersebut dan meminum isinya,lucas dan Arthur hanya melihat
Beberapa saat kemudian kelimanya berteriak keras dan perlahan tubuhnya membengkak dan berubah menjadi monster bertentakel dengan kepala manusia,Lucas yang melihat itu langsung terduduk ketakutan sambil melirik Arthur yang tersenyum menyeramkan baginya
"Ketua kau benar aku merasakan energi yang kuat di dalam diriku"kata Nelson
Karna mental mereka kuat sehingga benih Gisla itu tidak memakan jiwa mereka
"Hancurkan Houdryen dan isinya"perintah Arthur membuat Lucas terkejut.
Kelima Higolos itu pergi berniat menghancurkan Houdryen tapi apa hasilnya?
Mereka kalah setelah mendapatkan perlawanan dari ketiga kubu yang bekerja sama,dan semuanya tewas mengenaskan,diantara kelimanya hanya Mike dan Nelson yang memiliki kewarasan sedangkan tiga sisanya jiwanya sudah dimakan oleh induk Gisla sehingga mereka memang sudah mati sejak awal.
***
Kembali ke masa sekarang Lucas menatap botol di tangannya dan memandang punggung seseorang yang sedang menghadap ke jendela
"Maaf Arthur"batin Lucas
Di detik berikutnya pintu ruangan yang ditempati mereka di hancurkan dengan keras
Brakkk......
Setelahnya muncul lima orang dari luar ruangan
"Kau berkhianat Lucas"kata Arthur sambil berbalik dan tersenyum
"Selamat datang semua tidak kusangka kalian sendiri yang mendatangi ku"kata Arthur sambil menatap kelima orang didepannya
***
Kita kembali ke beberapa waktu saat semuanya istirahat setelah bertarung dengan Higolos,didalam ruang kepala sekolah Houdryen Morges dikejutkan oleh kedatangan Lucas wakil ketua OSIS serta teman terdekat anaknya Arthur
"Selamat malam paman"sapa Lucas
"Malam duduklah"kata Morges
Lucas duduk didepan Morges
"Ada yang ingin saya sampaikan kepada anda paman"kata Lucas
"Kebetulan ada yang ingin saya tanyakan juga kepadamu"kata Morges
"Jadi...."Morges menatap tajam Lucas
"Benar paman itu ulah Arthur"jujur Lucas membuat Morges menghela nafasnya berat
"Kenapa?"tanya Morges dengan raut wajah sedih,kecewa,dan menyesal
"Saya kurang tahu alasannya apa yang tapi dia berniat menghancurkan Houdryen dan seisinya"kata Lucas
"Apa sebegitu dendamnya dia padaku"kata Morges entah berbicara dengan siapa
"Lucas apa yang selama ini paman lakukan salah"kata Morges sambil mengusap wajahnya kasar
"Maaf paman aku tidak bisa mengubah sikap Arthur"kata Lucas merasa bersalah
Dulu ia pernah berjanji jika ia akan membuat Arthur dan Morges berbaikan karna ia juga sedih melihat keluarga mereka terpecah belah,ia ingin mengungkapkan terima kasih nya melalui hal itu,dia dibesarkan oleh keluarga Vinsen sebelumnya karna ia dibuang oleh orang tuanya sejak bayi,oleh karena itu ia tidak suka melihat keluarga penyelamat nya terpisah,tapi sekarang ia menyesal karna ia gagal,tidak hanya membuat mereka semakin terpisah justru lebih dari itu,Arthur yang hatinya sudah tidak tertolong ingin melenyapkan ayahnya sendiri.
"Itu bukan salah mu"kata Morges
"Bisakah kau memberi tahu ku dimana Arthur sekarang?"tanya Morges
Lucas awalnya diam namun setelah ia yakin ia menganggukkan kepalanya dan memberitahu semua yang ia tau tanpa ia tutupi,anggap saja ia berkhianat tapi itu adalah pilihannya,ia bahkan sangat yakin bahwa setelah ini Arthur pasti akan sangat membencinya dan akan membunuhnya,tapi ia tak apa,baginya nyawanya sepadan untuk menukar kebaikan keluarga Vinsen.
Itulah mengapa sekarang Morges berada disana,tempat persembunyian Arthur,bersama Zack,Luna,Lily dan Zhu mereka akan menangkap Arthur atas kesalahannya
*"*
Kembali ke masa sekarang tepatnya di sebuah ruangan,Arthur menatap ayahnya dengan senyuman namun itu bukanlah senyuman ramah dan senyuman yang dikenalnya membuat Morges sedih
"Apakah disebelah mu adalah kepala sekolah Cyrand pak Zack"kata Arthur sambil melirik sebelah kanan Morges,ia lalu menatap belakang kedua pria dewasa itu
"Aku sepertinya mengenal salah satu dari kalian"kata Arthur
"Itu aku"kata Luna
"Malaikat maut mu"lanjutnya membuat Arthur terdiam lalu tertawa keras
"Hahahaha malaikat maut...kau....ahahahah"tawa Arthur
"Kau yang akan mati...kalian yang akan mati...kalian semua"teriak Arthur
Ia melemparkan bola sihir kearah Morges dan lainya dengan kekuatan besar
Bummmm......
ledakan besar terjadi membuat rumah itu hancur seketika
"Uhuk...uhuk...uhuk"batuk Morges
"Matilah"teriak Arthur sambil menendang Zack dan Morges di susul serangan sihir petir untuk Luna,Lily dan zhu
Menghindari serangan Arthur ketiga wanita itu segera membentuk Aray untuk melindungi mereka
Arthur mundur beberapa langkah lalu mengeluarkan lingkaran sihir di tanah dan munculnya dua Higolos tipe normal dan membantunya menyerang
"Xuyu,Yuxiao!!!!"kaget Lucas saat melihat dua Higolos tersebut
"Arthur kau gila"teriak Lucas
Xuyu dan Yuxiao adalah dua gadis yang mengangumi Arthur dan merupakan fans beratnya namun tidak ia sangka Arthur dengan tidak berperasaan menjadikannta makhluk Higolos,dan sepertinya jiwa mereka termakan oleh induk Gisla dilihat dari cara bertarung mereka yang brutal.
Arthur mengabaikan teriakan Lucas dan lanjut menyerang Morges, mengeluarkan pedang miliknya
__ADS_1
"Matilah dan temani ibu"kata Arthur disela sela pertarungan
"Arthur kau salah paham dengarkan penjelasan ayah"kata Morges sambil menghalau serangan Arthur yang brutal namun tepat
"Tidak ada yang harus aku dengarkan"kata Arthur
Srekkk.....
Lengan bagian atas Morges terkena serangan dari pedang Arthur,darah mengalir menodai kemeja putih yang Morges kenakan
"Arthur"kata Morges berusaha menenangkan anaknya yang gila,namun Arthur tetap menyerang tanpa jeda
Dua Higolos itu menyerang Zhu,Lily,Luna dan Zack masing masing satu Higolos,Zhu dengan Lily dengan cepat membunuh salah satu Higolos tersebut,sedangkan Luna dan Zack membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menewaskan Higolos bagian mereka bahkan Zhu dan Lily mulai membantu mereka.
Kembali ke pertarungan antara ayah dan anak yang sangat sengit,Morges mau tidak mau harus ikut menyerang daripada hanya menahan yang ada lukanya akan semakin parah,terlihat ia berhasil memukul mundur Arthur dengan tendangan keras tepat di dadanya
"Dam***it"kesal Arthur
Melepaskan bola sihir petir disusul dirinya yang mendekat dan menghajar ayahnya tanpa ragu
Bummm....srak...dukkk.....brak....๐
Serangan bertubi-tubi membuat Morges terpental jauh dan menabrak sebuah tembok hingga hancur
"Uhuk...akhh"Morges berusaha berdiri namun kakinya ternyata terluka parah
"Sial ini sepertinya patah"batin Morges sambil menahan sakit
Menatap ke depan dan terlihat pasrah saat melihat Arthur mendekat dengan pedang di tangannya,ia menatap langit dan tersenyum pahit mengingat pesan terakhir istri pertamanya yang sangat ia cintai.
FLASHBACK ON MASA MORGES
Saat itu Morges memiliki istri bernama Reva dan dari pernikahannya mereka di karuniai dua orang anak,kakak laki-laki dan adik perempuan yang berbeda 2 tahun,sudah lama Reva memiliki penyakit mematikan yang sulit untuk di sembuhkan,hanya dia dan suaminya yang mengetahuinya,Morges sedih saat melihat belahan jiwanya seriap hari melawan rasa sakit yang teramat,
Sampai suatu ketika Reva masuk kerumah sakit karna pingsan setelah ia kelelahan,di dalam ruangan Reva sedang menenangkan suaminya agar tidak menangis
"Jangan menangis hubby"kata Reva pelan
"Maaf...maafkan aku sayang"kata Morges sambil memegang tangan pucat istrinya
"Nanti anak anak melihat mu kau tidak malu"kata Reva
Morges pelan pelan memeluk Reva memeluknya dalam dekapan erat dan hangat,ia sedih saat dokter berkata bahwa hidup istrinya tidak akan lama lagi,Reva yang sudah tidak kuat lagi ia akhirnya menangis di pelukan sang suami
"Hubby hiks apakah aku salah jika aku ingin menjadi istri dan ibu yang baik,aku tidak ingin sakit aku ingin terlihat sehat dan kuat didepan anak anak apakah aku salah,aku ingin seperti ibu lainnya yang menyiapkan sarapan dan keperluan keluarga...hubby aku takut"kata Reva disela sela tangisnya sedangkan Morges mengusap punggung sang istri namun air mata nya tetap saja tidak mau berhenti mengalir
"Apakah aku sekarat?"pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Reva namun tidak dijawab oleh Morges membuat Reva menangis semakin nyesek,
apakah ini akhir darinya,apakah ia akan tiada,ya cukup dimengerti apalagi dia itu berpenyakitan dan pastinya ia tidak akan merepotkan orang lain jika ia tiada tapi kenapa rasanya sesak sekali saat mengetahui ajalnya sudah tidak lama
"Sayang"panggil Reva namun Morges hanya diam saja
Reva mengangkat wajahnya dan mengusap pipi suaminya dengan sayang
"Aku ingin mengatakan sesuatu"kata Reva
"Maukah kau mengabulkan permintaan terakhir ku"kata Reva dengan sendu
Apakah Reva sedih?
Tentu saja sedih,ia sedih karna ia akan meninggalkan suami dan kedua anaknya,ia masih ingin merawat keluarga kecilnya,makan,tidur bersama anak anak dan suaminya tapi takdir berkata lain.
"Sayang"panggil Reva lagi
"Tetaplah kuat untuk anak anak"kata Reva
"Maaf aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mu"kata Reva di gelengi Morges
"Kau tau aku memiliki adik dan ia juga merupakan keluarga ku satu satunya kan"kata Reva
Morges tau itu dia adalah adik iparnya Sofia atau yang sekarang telah menjadi istri keduanya,ibu dari Erson
"Tolong menikah lah dengan dia"kata Reva membuat Morges terkejut
"Kau gila aku mencintaimu bukan dia aku tidak akan menikahi siapa pun selain kamu"tegas Morges
"Sayang dengarkan dulu"kata Reva
"Aku hanya ingin saat aku pergi nanti akan ada yang mengurus kamu dan anak anak"kata Reva
"Kau tidak akan kemana mana,kau akan sembuh"kata Morges digelengi Reva
"Sayang kumohon adikku hanya tinggal berdua dengan anaknya setelah suaminya pergi,kuharap dengan menikah dengan mu dia akan senang setidaknya ada yang memimpin nya dalam keluarga dan anak anak akan memiliki ibu baru"kata Reva
"Bisakah tidak membicarakan hal ini kau akan sembuh sayang kau akan sembuh"kata Morges entah meyakinkan istrinya atau dirinya sendiri sambil membawa Reva kepelukannya
"Aku juga berharap seperti itu Morges"batin Reva
"Fikirkan tentang anak anak sayang apa kata mereka jika kau berkata seperti itu"kata Morges membuat Reva terdiam.
Dan setelah dua hari di rawat di rumah sakit keadaan Reva tidaklah menunjukkan tanda tanda sembuh justru sebaliknya.
Di ruang rawat
"Sa...sayang"gagap Reva,Morges memeluknya erat-erat namun tidak sampai menyakiti nya
"Ma....maukah kau...menikahi adikku"bisik Reva dengan terputus putus,Morges hanya diam kemudian mengangguk sambil menahan Isak tangisnya membuat Reva tersenyum kecil namun Morges tidak dapat melihatnya
"Lindungi anak anak....ku yakin kau kuat"kata Reva
"Jadilah ayah yang baik aku titip anak anak"kata Reva disela sela nafasnya yang mulai memberat
"Aku mencintaimu"kata Reva pelan
Titttttt.**...........
Monitor kehidupan menunjukkan garis lurus tanpa terputus dengan suaranya yang menemani sunyinya ruangan itu,lalu terdengar Isak tangis yang lama kelamaan menjadi tangisan yang menyayat hati
"Hiks....sayang"kata Morges sambil menangis
"Sayang kumohon jangan tinggalkan aku"kata Morges
"Huhuhuhu"tangisan Morges pecah sambil tetap memeluk tubuh dingin istrinya yang telah tiada
Lalu terdengar suara pintu di buka dan terlihatlah dua anak kecil berumur sepuluh tahun dan delapan tahun
"Ayah...ibu"panggil si gadis kecil sambil mendekat,melihat ayahnya menangis sambil memeluk ibunya
"Ayah nangis?"kata sang gadis kecil
Gadis kecil itu mendekat dan memegang tangan ibunya
"Ayah kok tangan ibu dingin?"tanya sang gadis
"Kakak atur kehangatan ruang biar mama gx kedinginan"perintah sang adik pada kakaknya dibelakang
"Ehhh?"bingung sang adik karna melihat kakaknya diam diam menangis
"Kenapa kakak ikut menangis"bingung sang adik
__ADS_1
Morges menatap kedua anaknya dan berusaha tegar
"Arthur,Ica"panggil Morges pada dua anaknya,Veronica atau Ica itu menengok ke ayahnya
Morges meletakkan tubuh istrinya diranjang sehingga Ica dapat melihat wajah pucat ibunya,Arthur mendekat dan menatap wajah ibunya yang sudah tiada,ia tau saat melihat wajah ayahnya hanya saja dia diam
"Ibu pasti sembuh kan"kata Ica sambil mengusap air matanya,Morges tak kuasa menahan air matanya dan memeluk kedua anaknya
"Uhuhu maafkan ayah nak maafkan ayah"kata Morges membuat Veronica bingung
"Ayah kenapa sih?"tanya Ica
"Ibu bangun lihat ayah jadi cengeng"kata Ica yang belum tau jika ibunya tidaklah tidur melainkan sudah tiada
"Ibuuuu"kata Ica sambil menggoyangkan tangannya
"Ica hentikan ibu sudah tenang"kata Arthur membuat Ica menatapnya
"Apa maksud kakak?"tanya Ica
"Dia sudah menjadi bintang Ica ibu menjadi bintang terang"kata Arthur sambil berusaha untuk tersenyum
Ica terdiam kemudian menatap ibunya dan air matanya kembali keluar namun kali ini lebih deras
"I...ibu"panggil Ica sambil menggelengkan kepalanya
"Ibu...bangun Bu....bangun jangan tinggalkan Ica"teriak Ica sambil menggoyangkan tubuh ibunya
"Mama"teriak Ica,Morges kemudian mengangkat tubuh anaknya
"Tidak ibu...bangun jangan tinggalkan Ica jangan tinggalkan Ica"teriak Ica sambil berusaha melepaskan diri dari gendongan sang ayah
"Ayah katakan pada ibu untuk bangun"kata Ica disela sela tangisnya, Arthur mendekati ibunya dan memeluk tangannya
"Kenapa Bu"batin Arthur
Ia sedih ditinggal ibunya dan sedih melihat adiknya
Pemakaman Reva dilakukan setelahnya,meninggalkan banyak duka mendalam bagi orang terkasih terutama suami dan anaknya
"Kakak kau jahat kenapa kau pergi secepat ini"kata Sofia menangis di sebelah makam Reva,disebelahnya berdiri anak laki laki berusia sembilan tahun dia adalah Erson Wiel.
Dan seminggu setelah kematian Reva Morges menikahi adik dari istrinya Sofia sesuai dengan permintaan terakhir istrinya Reva,entah apa yang dia katakan pada Sofia sehingga adik ipar nya akhirnya mau bersamanya,hal itu membuat Arthur kecil merasa marah dan mulai membenci ayahnya karna baginya ayahnya adalah pria brengsek yang menyakiti ibu,lima tahun setelahnya Arthur mengirimkan Veronica keluar negeri untuk belajar disana sedangkan ia akan membuat kerajaannya sendiri untuk meruntuhkan kekuasaan sang ayah di sekolah Houdryen,ambisius nya yang tercipta sejak kecil membuat nya sudah untuk berubah bahkan hingga empat tahun lamanya dan hari ini telah tiba hari dimana dia akan membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri.
FLASHBACK END
***
Mendekati sang ayah dengan pedang di tangannya,dengan langkah mantap Arthur terlihat tidak ada beban sama sekali,setelah berjarak beberapa langkah ia berhenti
"Ucapan selamat tinggal pada dunia....ayah"kata Arthur sambil mengangkat pedangnya hendak menusuk sang ayah namun sesuatu yang tidak terpikirkan terjadi dalam sekejap.
Srekk....jlebb...akhhh...
Bukan hanya Arthur yang terkejut namun Morges juga terkejut,ia menegang kemudian air matanya lolos begitu saja
"Tidak...tidak"kata Morges pelan
Tepat sebelum Arthur menusukkan pedangnya ke tubuh Morges seseorang berlari dengan kencang dan memeluk Morges dari depan dan menjadikan dirinya sebagai tameng yang mengakibatkan seseorang yang memeluk itu yang terkena tususkan pedang Arthur
"Syu...syukurlah aku tidak terlambat"kata seseorang itu pelan
"Maafin kakak ya ayah"bisiknya lagi sebelum akhirnya dia pingsan karna tidak tahan dengan rasa sakit itu
"Ica"teriak Morges berusaha membangunkan anak perempuannya.
Ya dia adalah Veronica atau anak perempuannya,kenapa dia ada disini?bukankah dia berada diluar negeri dan seharusnya dia berada di rumah atau asrama jika memang ia kembali bukan.
Sama seperti Morges Arthur juga terkejut bahkan perlahan ia melangkah mundur dengan tangan bergetar
"Ti...tidak mungkin"kata Arthur pelan,ini tidak seperti yang ia rencanakan,kenapa adiknya bisa muncul disaat saat terakhir,dia ingin membunuh Morges bukan adiknya,ia menyayangi adiknya melebihi dirinya sendiri tapi lihat apa yang terjadi adik yang ia sayangi justru ia buat terluka dengan tangannya sendiri.
Karna bingung harus bagaimana ia langsung berlari kabur tanpa melihat kebelakang lagi menuju hutan.
Ditempat Morges
"Luna Tolong saya"teriak Morges
Sambil berusaha menghalau darah yang terus keluar dari tusukan pedang di tubuh anaknya,Luna yang mendengar namanya disebut melirik dan menyuruh Lily mendekat
"Lily kau bantu Morges"kata Luna
"Oke urus sisanya"kata Lily lalu melesat kearah Morges
"Lily tolong anakku selamatkan dia"pinta Morges sambil menangis
"Akan ku usahakan...kau diam cengeng"kata Lily,ia melihat luka itu beruntung lukanya tidaklah terlalu dalam dan tidak berada di titik fatal sehingga nyawanya masih bisa diselamatkan
"Sparet Murs Yudon"bisik Lily dan dari tangannya muncul kabut biru gelap dan mulai meresap ketubuh Veronica,perlahan ia menarik pedang yang menancap di tubuh Veronica dan mulai mengobatinya,teman temannya mulai mendekat karna bagian mereka sudah selesai.
Setelah beberapa menit
"Aku tidak menyembuhkannya hanya menghambat darah yang keluar untuk lebih pasti berikan kepada yang ahli"kata Lily
"Terima kasih Lily"kata Morges tulus
"Sama sama"kata Lily
"Beruntung saat aku terluka waktu itu aku sempat bertanya pada Zeena tentang mantra penyerap"batin Lily saat mengingat masa lalunya yang setelah tertusuk pedang diselamatkan oleh Zeena tapi ya itu imbalannya tidak main main,jadi budak cuyyy.
"Masa lalu sialan"batin Lily sambil tersenyum samar,tapi mantra kali ini sedikit berbeda karna dia tidak membuat Veronica menjadi budaknya,emangnya ada budak punya budak? Gx kan
"'_"'
Lalu hewan pendamping Lily bagaimana?
Kalo hewan pendamping kan emang udah dari orok mereka punya dan hewan pendamping bukanlah budak melainkan teman yang hidup dan terbuat dari separuh kekuatan mereka.
Tapi kenapa para hewan pendamping bisa hidup sebelum tuannya belum terlahir?
Ya Karna mereka hidup dari esensi langit yang membawa kekuatan tuan mereka yang masih terkunci dan akan lepas saat tuan mereka lahir kedunia,dan para hewan pendamping yang tuannya sudah lahir mereka akan menjadi tameng tuannya.
Lalu saat tuan mereka belum lahir apa yang dilakukan para hewan pendamping yang sudah hidup lebih dulu?
Yang mereka lakukan adalah menunggu dan menguatkan diri mereka agar pantas berada di samping sang tuan.
________________
Oke sekian๐
Kalo ada yang bingung tanya saja di komen insyaallah saya jawab
Oke segitu dulu ya
Lanjut episode selanjutnya
Pay...pay...
๐๐๐
__ADS_1
Cream of the crop