
lanjut kuy
__________&____________
"Dia sudah mati?"tanya logan,di angguki Jimmy yang bersembunyi di belakang logan sambil memegang lengan logan,saat logan mendekati mayat tersebut
"Apa yang coba kau lakukan"tanya Jimmy sambil menahan lengan logan
"Memastikan"kata logan sambil melepaskan pelukan Jimmy di lengannya
"Jangan bodoh"kesal logan lalu mendekat,Jimmy yang bingung memilih mengekor di belakang logan dengan takut takut,logan jongkok di depan mayat tersebut yang sedang menelungkup itu,saat dibaliknya tubuh yang sudah mati itu alangkah terkejutnya logan dan Jimmy berserta Xavier yang mengikuti mereka dari belakang karna penasaran,Jimmy sampai berlari kebelakang Xavier karna takut saat melihat wajah orang yang sudah tiada tersebut,logan kemudian melepaskan jasnya dan menutupi mayat tersebut dan kembali berjalan ke arah Jimmy dan Xavier
"Ini"bingung logan
"Apa kita akan berakhir seperti dia tuan logan"tanya Xavier sedikit takut sedangkan Jimmy yang mendengar penuturan Xavier tidak bisa untuk tidak takut dan gemetar
"Lily"panggil Jimmy pelan sedangkan logan hanya berdecak jengah melihat temannya tersebut
"Aku tidak tau"jawab logan lalu duduk
"Jimmy apa kau melihat siapa yang menculik kita"tanya logan saat sudah duduk
"Amir"jawab Jimmy membuat Xavier dan logan terkejut
"Sungguh"ulang Xavier dan logan bersamaan di angguki Jimmy
"Tapi dia menjadi monster"lanjut Jimmy
"Tuan Xavier bagaimana Amir bisa membawamu kemari"tanya logan
"Saat itu aku sedang berada di kantor sampai seseorang membuka pintu ruangan tanpa mengetuk,saat hendak ku tegur rupanya itu adalah monster dengan delapan tentakel besar dan setelah itu aku seperti melihat ia melempar sesuatu ke arah ku dan semua gelap dan saat aku membuka mata aku sudah berada di sini dan melihat mayat tersebut dan karna aku takut aku pun tidak berani mengecek keadaan"kata Xavier yang tanpa ia sadari jika ia berbicara non formal seperti sebelumnya
"Itu sama persis seperti kami"kata Jimmy
"Terus apa yang akan kita lakukan selanjutnya tidak mungkin kan kita hanya berdiam diri menunggu giliran kita menjadi seperti pria di sana"kata Jimmy sambil menunjuk mayat tersebut
"Kita cari jalan keluarnya"kata logan dan tersadar akan suatu
"Lho pintunya mana"tanya logan bingung
"Itu yang kami maksud mau kabur pun bingung dimana pintunya makanya aku bertanya"kata Jimmy kesal
"Hah ini sepertinya berkaitan dengan sihir"kata logan membuat Jimmy dan Xavier saling menatap,mereka tau apa itu sihir karna keluarga mereka juga punya
"Aku tidak punya sihir"jujur Jimmy frustasi
"Aku pun tidak punya"kata logan
"Aku punya tapi entah kenapa aku tidak bisa menggunakannya"kata Xavier membuat mereka bertiga bingung harus bagaimana.
*_*
Sementara di tengah hutan sesuatu telah terjadi dimana banyak pohon yang tumbang akibat pertarungan dua makhluk berbeda jenis itu,mereka adalah Zee dan Amir yang berubah menjadi Higolos
"Dimana ayahku"tanya Zee dingin
"Tidak akan aku beritahu"kata Amir saat hendak menyerang sebuah panah es menancap di depannya membuat semburat es tajam muncul dari tanah tersebut jika saja Amir tidak mundur sudah dipastikan ia akan tertusuk es tersebut,saat ia melihat kedepan sudah ada sepuluh orang yang berdiri di belakang Zee dengan seragam yang sama seperti Zee gunakan,jangan lupakan topeng yang bertengger di wajah mereka menyulitkan Amir untuk mengetahui siapa mereka
"Zee maaf membuat mu menunggu"kata Nian Nian di angguki Zee,lalu mereka bertukar posisi
"Higolos kami akan melenyapkan mu"kata Nian Nian dengan aura nya yang membuat keadaan menjadi dingin bahkan para anggotanya dapat merasakannya
"dingin"kata Rey dan Ari sambil menggosokkan kedua tangan mereka
"Siapa kalian"tanya Amir
"Kami adalah orang yang akan melenyapkan manusia seperti mu"kata Ari
"Ehh bukan manusia tepatnya sih budak Gisla"kata Ari tajam
"Sialan kau"marah Amir
"Zee,Jia,Tara,Quan,kalian
bersama ku melawan Higolos tersebut dan sisanya mencari dimana Sandera berada"kata Nian Nian
"Baik ketua"jawab mereka,mereka lalu berpencar demi menyulitkan Amir
Jiali mengeluarkan elemen logamnya dan membuat pedang dengan jumlah banyak dan menyerang Higolos dari jarak jauh sama seperti Nian Nian yang menggunakan panah esnya,sedangkan Tara,Quan dan Zee mendekat sambil mengeluarkan pedang di tangan masing-masing,berhubung Zee adalah salah satu orang yang memiliki kelebihan yaitu ambidextrous sehingga ia menggunakan dua pedang pendek yang terbuat dari elemen logam sekaligus,sedangkan Tara ia mengeluarkan pedang yang cantik berwarna unggu dengan di selimuti elemen petir di tangan kanannya,dan Quan mengeluarkan pedang hitam miliknya,dari tempat pegangan hingga mata pedang semua berwarna hitam lalu bersamaan menyerang di mulai dari titik buta sampai titik terang dan menggunakan kerja sama dengan baik.
"""
Tinggalkan pertarungan antara tim secret dan Higolos sekarang kita beralih ke tim secret lainya yang mendapatkan tugas mencari Sandera yang di sekap oleh Higolos untuk diselamatkan,Lian Lian di bantu Sean mencari titik sihir yang pas sehingga dapat menentukan koordinasi yang pas dari pusat sihir tersebut,setelah dirasa benar mereka berenam berdiri bersebalahan lebih tepatnya berlima karna Ari tidak akan melakukan apa apa.
Lian Lian,Rey,dan Soren mengeluarkan elemen petir serta api milik mereka untuk membuat ledakan disana sedangkan Naoya dan Suji mereka ditugaskan membuat Aray saat ledakan itu terjadi untuk melindungi mereka berenam,dan saat ledakan tersebut terjadi Naoya dan Suji mengeluarkan sihir mereka masing-masing dan di kombinasikan sehingga Aray tersebut cukup kuat untuk menahan Ledakan yang tepat berada di depan mereka,saat dirasa aman Aray tersebut runtuh dan terlihatlah sebuah rumah kecil didepan mereka dimana tadi sama sekali gx ada apa apa.
Di dalam rumah penyekapan Jimmy,logan dan Xavier terkejut saat merasakan ledakan besar terjadi bahkan mereka sampai terguncang akibat ledakan tersebut sampai terasa seperti gemba
"Akhh"teriak Jimmy dan Xavier,logan yang tau bahwa teman satunya ini takutnya tingkat akut segera menyeretnya kedalam pelukannya dan menarik Xavier agar mereka semua merendahkan tubuh mereka agar tidak terjadi apa apa,saat dikirannya sudah selesai tembok samping mereka tiba tiba jebol dengan kerasnya membuat mereka terkejut dan segera mundur agar tidak terkena reruntuhan tersebut dan sekilas mereka dapat melihat siluet seseorang didepan mereka namun samar karna debu yang berterbangan.
"-"
Di luar tepat saat rumah itu muncul sekarang giliran Ari yang beraksi,dimana dengan kekuatan nya ia berlari dan menabrakan tubuhnya ke dinding dengan kuat sampai dinding itu jebol.
"Sial kekuatan apa itu"kaget Rey dan Naoya sedangkan Soren hanya membelalakkan matanya karna terkejut sama juga dengan Suji dan Lian Lian
__ADS_1
"Semua...sudah"kata Ari santai,mereka berlima lalu mendekat dan dengan sihir angin miliknya Suji menghilangkan debu debu tersebut hingga terlihatlah dengan jelas apa yang terlihat di dalam sana
Ari bahkan sampai mengucapkan syukur saat ia yang Dengan tidak elitnya menabrak dinding sampai hancur yang untungnya keempat korban tidak ada yang tertindih dinding hasil ulahnya namun apa yang dilihatnya mampu membuat fikiran yang nggak-nggak nya muncul begitu pun dengan kelima temannya,
dimana mereka melihat Xavier yang Dengan erat memegang pundak logan dari belakang sambil menutup matanya,sedangkan logan ia memejamkan matanya sambil memeluk erat Jimmy yang anteng di pelukannya sambil menghadap dadanya,apalagi logan hanya mengenakan kemeja putih sehingga keringat nya membuat kemeja itu sedikit transparan dan terpampang lah dada bidang milik logan yang wawwww.....
"A...."sangking terkejutnya Lian Lian bahkan tidak sadar apa tujuan mereka kesana,saat dirasa aman logan membuka matanya dan melihat keenam gadis sedang menatapnya di antaranya ada yang ia kenal seperti Lian Lian,Ari,Suji,dan siswanya yang sedang melihat mereka bertiga dengan tatapan cengo nya,di rasa aneh logan menatap sekitarnya dan alangkah terkejutnya ia saat menyadari apa yang membuat para gadis itu menatap mereka dengan bodoh
"Akh"teriak logan sadar sambil melepaskan dirinya dan berdiri, membuat Jimmy kaget dan ikut berdiri juga dengan Xavier,lalu Jimmy melirik ke depan dan air matanya turun kembali
"Lian Lian"teriak Jimmy lalu berlari dan memeluk anak pertamanya yang sudah melepas topengnya begitu juga dengan kelima temannya
"Lian"kata Jimmy sedangkan Lian Lian hanya menenangkannya saja dengan di tatap aneh dari kelima temannya yang melihat sikap Jimmy,logan dengan sok coolnya berjalan mendekat dengan diikuti Xavier
"Kalian menyelamatkan kami"kata logan di angguki mereka berenam
"Terima kasih"kata logan sambil menundukkan sedikit tubuhnya
"Sama sama"jawab mereka berenam
"Tuan bagaimana dengan dia"tanya Naoya sambil menunjuk pria yang tak bergerak sedikit pun
"Dia sudah tiada"kata logan membuat keenam gadis tersebut terkejut,Rey dan Soren mendekat dan membuka jas yang menutupi wajah pria tak bernyawa tersebut dan alangkah terkejutnya mereka berdua apalagi Rey saat melihat wajah pria yang tak bernyawa tersebut
"Pak Richard"kaget Soren,ya yang tewas itu adalah Richard Benitez ayah kandung ketua OSIS Mona yang sempat dibencinya,sedangkan Rey ia hanya diam saja melihat ayah dari sahabatnya yang sudah tidak bernyawa tersebut,atas instruksi Lian Lian Rey menggendong tubuh Richard tanpa peduli jika kemejanya menjadi kotor karna darah Richard,lalu mereka keluar dari sana menyusul yang lainnya yang masih dalam tugas mereka.
***
Di sisi lain tempat Higolos dan tim Nian Nian berada,berkat kerja sama yang baik dan instruksi yang tepat dari Nian Nian mereka berhasil memukul mundur Amir sampai Higolos itu kelelahan apalagi tenaganya yang benar benar terkuras akibat serangan bertubi tubi dari tim Nian Nian,dan akibatnya tentakel yang biasanya akan muncul kembali setelah terpotong pun kini tidak ada lagi hanya tersisa satu dan satu tentakel itu pun membeku saat panah es milik Nian Nian mengenainya dan di susul Tara dengan pedang petirnya menebas tentakel terakhir tersebut,kini Jiali dan Zee berlari dan melompat bersamaan lalu menebas dua tangan Amir sekaligus di susul Quan yang melesat menancapkan pedangnya tepat di jantung Higolos sehingga Higolos itu perlahan mati mengenaskan namun sebelum tumbang sempat sempatnya Jiali dengan belati yang ia ambil dari tangan Zee melempar belati tersebut sehingga menebas leher Amir dan kepala itu terputus dan terpisah dari badannya setelah itu dengan telekinesis nya ia mengambil belati tersebut dan memberikannya pada Zee dengan watadosnya
Prok prook prok prook
Suara tepuk tangan terdengar dari belakang Nian Nian dan ternyata itu Lily dengan yang lainnya,Zee,Jiali,Quan,dan Tara lalu mendekat,disana mereka dapat melihat logan,ayah Leon,dan Jimmy yang sedang menahan seseguhannya walaupun susah juga kelima teman mereka dan di antaranya ada Rey yang sedang mengangkat pria di gendongan nya,lalu dengan sigap Tara mendekat dan mengambil alih Ricard dari gendongan Rey
"Semuanya kerja bagus"kata Lily sambil menatap tim secret yang sudah gx ada bagus bagusnya akibat pertarungan tadi,dimana banyak noda darah ataupun debu di seragam mereka apalagi yang habis bertarung dengan Higolos,oh ya di sini tim yang menyerang Higolos masih mengenakan topeng sehingga ketiga pria itu tidak mengetahui nya
"Higolos itu serahkan saja kepada ku kalian bisa kembali pulang dan beristirahat"kata Lily di angguki mereka,mendekat ke arah suaminya
"Jimmy kau ikut pulang bersama anak anak nanti aku nyusul"kata Lily di angguki Jimmy,lalu Lian mendekat memegang tangan ayahnya dan lingkaran sihir muncul di bawah kaki mereka dan mereka menghilang dari sana,logan di tuntun oleh Quan sedangkan Xavier oleh Soren setelahnya mereka menghilang meninggalkan Lily sendirian
"Mirai bantu aku"kata Lily dan saat itu pula seseorang muncul di belakang Lily dengan visual serba putih nya
"Tuan"panggil wanita itu yang di panggil Mirai
"Kumpulan potongan Potongan tubuh Higolos itu karna aku ingin memberi makan tanaman ku"kata Lily santai
"Baik tuan"jawab Mirai lalu dengan sihirnya semua tubuh Higolos bersatu tanpa roh dan lingkaran sihir muncul di bawah tubuh Higolos yang tidak bernyawa tersebut lalu tersedot kedalamnya dan menghilang
"Lumayan gratis"kata Lily lalu menghilang dari sana beserta hewan pendamping nya Mirai si ular putih.
***
sedangkan Mona hanya diam menatap mayat ayahnya dengan datar walaupun seperti itu air matanya tidak bisa berbohong jika ia tidak sedih,walaupun ia membenci ayah kandungnya namun bukan dengan cara ini agar dia memaafkan ayahnya,bohong jika di hati kecilnya tidak ingin memeluk ayah untuk terakhir kalinya namun ia enggan,di sebelah kanannya ada Rey yang menatap sedih ke arah Richard
"Paman kenapa secepat ini"batin Rey
Di hari itu juga negara China di kaget kan dengan tewasnya mantan pemimpin Bz.Business Richard Benitez di usianya yang ke 47 meninggalkan anak dan istrinya,semua turut berdukacita dan mendoakan agar Richard tenang di alam sana.
"""
Di tempat pemakaman Mikasa masih saja menangis walaupun tidak separah tadi sambil menaburkan bunga di atas makam suaminya,setelah itu ia berdiri dan mendekat ke arah Luna dan memberikan keranjang bunga tersebut
"Taburkan lah"kata Mikasa lembut,Luna menerimanya dan menyeret Mona ikut serta,Mona menaburkan bunga di samping ibunya
"Tenang di sana...ayah"batin Mona
"Tenang disana Richard aku sudah memaafkan mu"batin Luna,kerabat luna,kerabat Mikasa dan orang terdekat keluarga Benitez menghadiri acara pemakaman itu begitu juga dengan teman teman Mona yang turut sedih,bahkan ada juga beberapa wartawan yang ikut hadir walaupun tidak banyak untuk menghadiri pemakaman Richard,teman teman Mona melihat Mona yang terlihat datar datar saja tapi mereka tau jika Mona sedang bersedih.
Setelah itu keluarga Benitez kembali ke rumah besar Benitez bahkan Mikasa sampai harus membujuk Luna dan Mona agar tinggal di sana walau hanya semalam,Luna yang sebenarnya tidak begitu menyukai Mikasa karna suatu hal menerima ajakan itu setidaknya hanya semalam dan istri kedua mantan suaminya pasti sedang bersedih juga dan ia juga sedikit....?
Luna dan Mikasa tidur di kamar Mikasa dan Richard,sedangkan Mona tidur di kamar miliknya,ia menatap ruangan itu yang masih terawat bahkan setelah ia pergi dari rumah lima tahun yang lalu,menelusuri kamar itu dengan tatapan sendu.
"Bahkan letak barang masih sama"kata Mona pelan,ia lalu merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya,air matanya berhasil lolos begitu saja saat ia memejamkan matanya
"Benar benar payah"kata Mona,lalu mengambil bantal dan membiarkan bantal itu di dekapan nya untuk meredam tangisannya yang ia pendam sejak tadi,sedangkan Rafael hanya diam di depan kamar adik tirinya sebelum ia pergi dari sana.
"""
Di kamar orang tua Mikasa dan Luna sedang merebahkan tubuhnya di ranjang dan sama sama menatap atap
"Luna"panggil Mikasa
"Hemm"dehem Luna
"Maafkan aku"kata Mikasa pelan namun Luna hanya diam saja
"Aku tau aku salah"lanjutnya
"Tidak seharusnya aku merebut suamimu"kata Mikasa
"Berhenti menyalahkan dirimu"kata Luna tanpa menatap Mikasa
"Aku sudah tau semuanya"kata Luna membuat Mikasa menatapnya dan Luna tau akan itu namun ia enggan membalas tatapan itu
"Tidak semua nya salahmu,Richard salah"kata Luna
__ADS_1
"Dan akupun salah"kata Luna
"A...apakah kau mau memaafkan ku"tanya Mikasa gugup
"Tergantung"kata Luna membuat Mikasa heran
"Kenapa kehidupan kita rumit sekali"kata Mikasa pelan sambil menhela nafas nya namun Luna dapat mendengar nya
"Andai aku tidak di kuasai emosi akankah kejadian kau bercerai dengan Richard tidak akan terjadi"tanya Mikasa
"Tanpa campur tangan mu aku juga akan bercerai dengan nya"kata Luna
"Tapi kenapa"tanya Mikasa
"Kau sungguh bertanya"kata Luna membuat Mikasa terdiam
"Hais kemarilah"kata Luna sambil memiringkan tubuhnya dan menarik Mikasa dalam pelukannya
"Aku memang pernah mencintainya tapi dulu sekarang aku hanya akan fokus pada tujuan ku dan anakku"kata Luna sambil mengusap rambut Mikasa
"La...lalu kau"Mikasa terdiam karna bingung ingin melanjutkan perkataannya atau tidak,Luna hanya mendekati wajahnya dan membisikkan sesuatu yang membuat Mikasa diam
"Tidurlah"kata luna sambil memejamkan matanya,begitu juga Mikasa yang tanpa sadar ikut tertidur karna terlalu asik dengan fikirannya.
Wah sepertinya ada rahasia diantara mereka ;!;
***
Paginya di kediaman Benitez Rafael tersenyum saat Luna dan Mona menerima tawarannya untuk sarapan bersama,Mona duduk di dekat Rafael sedangkan Luna dengan Mikasa,di sela sela makannya Mikasa mengeluarkan dua amplop dan ia letakkan di meja
"Kami tidak kekurangan uang?"ceplos Luna mendapat geblakan kecil dari Mikasa yang membuat Rafael dan Mona terkejut apalagi Mona,ia tau sifat perangai ibunya yang sangat enggang untuk di sentuh apalagi orang yang ia tidak sukai,dan ini...
"Ini bukan uang,ini surat yang di tulis Richard dan itu untuk kalian"kata Mikasa sambil melanjutkan makanannya
"Ohh"Luna lalu mengambil dua amplop tersebut dan meletakkannya di tas dan berdiri
"Mona ayo kita akan terlambat ke sekolah"kata Luna
"Baik Bu"kata Mona sambil berdiri
"Anu...aku bisa mengantar kalian ke sekolah"tawar Rafael dengan gugup,Luna menatap jamnya dan pastinya sedikit susah untuk mencari taksi
"Baiklah"jawab Luna lalu menyeret anaknya,Rafael tersenyum dan berpamitan kepada ibunya sekalian ia juga akan pergi ke kantornya untuk mengurus sesuatu dan meliburkan karyawannya dua hari untuk menghormati ayahnya.
"""
Di jalan Luna menatap kesal ke arah Rafael
"Fael bisakah lebih cepat"pinta Luna
"Tapi Bu"kata Rafael
"Mona"kata Luna,Mona mengangguk dan dalam sekejap ia sudah berada di kursi kemudi sedangkan Rafael di kursi sebelahnya dengan tangannya yang masih bergerak gerak seperti sedang mengontrol kemudi membuat Luna menahan tawanya
"Sekarang"kata Luna,Mona lalu menancapkan gasnya dengan kencang dan melaju di jalanan yang sedikit ramai tersebut,Luna hanya duduk tenang di kursi belakang sedangkan Rafael di buat jantungan oleh adik tirinya karna mengebut,padahal yang tadi aja belum kelar rasa kagetnya
Ckitttt....
Mobil berhasil mengerem dengan sempurna di depan gerbang tensius yang untungnya hanya sedikit murid di sana sehingga memudahkan Mona menguasai jalanan,ia lalu keluar juga Luna
"Terima kasih tumpangan nya"kata Luna lalu pergi di ikuti anaknya meninggalkan Rafael yang sedang memegang dadanya
"Jantungku masih aman"kata Rafael cengo,setelah sadar ia lalu pindah ke kursi kemudi dan melajukan mobilnya pergi dari sana
"""
Di lorong Luna menyerahkan amplop merah ke anaknya
"Ayahmu benar benar kuno gimana gx dikira uang kalo bungkusnya begini"kata Luna sambil terkekeh sedangkan Mona hanya menatap ibunya saja sambil menerima amplop tersebut
"Dia mantan ayah"kata Mona membuat Luna mengelus rambut nya
"Kau sudah dewasa dan cukup tau jika apa yang kau katakan tidak sesuai dengan hatimu"kata Luna lalu pergi ke kantor kepala sekolah,sedangkan Mona ia pergi ke ruang OSIS,di pembelajaran awal sampai istirahat pertama di buat kosong oleh kepala sekolah Luna dan semua murid dan guru tau dan itu adalah hal yang biasa jika memang ada salah satu keluarga murid atau guru tensius yang sedang berduka.
_-_
Di kantor kepala sekolah Luna sedang membaca surat dari Richard dan setitik air matanya mengalir tanpa ia sadari
"Tenang disana Richard"kata Luna lalu menyandarkan tubuhnya di kursi miliknya
"Sebagai bentuk terima kasih ku akan ku turuti permintaan terakhir mu"lanjut Luna
Di ruang OSIS Mona sedang duduk di kursi ketua sedangkan Wulan dan Rey berada si sofa dan hanya memandangi Mona dengan penasaran apa yang sedang dibaca Mona,Mona membaca kertas tersebut tanpa melihat wajah Rey dan Wulan.
kepo sama apa isi kertas tersebut
ikuti kisah selanjutnya oke
jangan lupa tinggalkan jejak like nya biar Thor makin semangat update nya
dan.....
pay.....pay.....
ππππ
__ADS_1