
lanjut kuy
_______&_________
Mona membaca kertas tersebut tanpa melihat wajah Rey dan Wulan yang sudah kusut karna di abaikan,di kertas itu tertulis
`-`Untuk anakku Mona,maafkan ayah
Yang tidak bisa menjadi ayah yang
Baik seperti ayah lainya,ayah tau
Jika ayah sudah gagal untuk
Menjaga keluarga kecil ayah
Saat kau membaca surat ini
Ayah mungkin sudah pergi,tapi
Yang perlu kau tau ayah mencintai
Kalian semua,ayah hanya minta
Jangan membenci Mikasa dan
Fael karna itu adalah salah ayah
Ayah tidak minta maafmu
Walaupun ayah mau tapi ayah
Mohon maafkan mereka dan
Cobalah untuk menerima mereka
`-`Ayah sayang anak ayah.
Selesai membaca itu Mona langsung berdiri dan mengambil korek di lemari dan berjalan ke arah tempat sampah di pojokan,lalu membakar kertas tersebut di dalam tempat sampah itu
"Kekanakan"kata Mona lalu berjalan kembali ke kursinya sambil melepas jas luarnya lalu melonggarkan dasi miliknya yang terasa mencekik,melirik Rey dan Wulan
"Ada apa"tanya Mona
"Kau aman jika ingin menangis"kata Rey sedangkan Wulan hanya diam saja
"Aku tidak menangis"kata Mona
"Tapi matamu merah"kata Rey
"Konyol"kata Mona sambil mengalihkan pandangannya ke arah buku pelajaran,Rey yang kesal segera berdiri dan perlahan mendekat.
"Kau tau Mona kita bertiga sudah bersama sejak kecil jadi tidak akan sulit membedakan mana dirimu yang biasa atau yang sedang bersedih walaupun wajah mu sama saja"kata Rey
"Benar"tambah Wulan sambil mengangguk di tempatnya,berdiri di samping kursi yang di duduki Mona
"Dan air mata tersembunyi mu pun kami tau"kata Rey sambil menunduk,memutar kursi sehingga menghadapnya,menatap lekat wajah Mona
"Walaupun Mata panda mu tersembunyi dengan baik kami dapat melihatnya"kata Rey sambil mengusap mata kanan mona
"Dan alasan yang membuat kami yakin jika ketua bersedih adalah ketua tidak akan pernah keluar dari ruangan OSIS saat bersedih"tambah Wulan di acungi jempol oleh Rey
"Kalian menyebalkan"kata Mona membuat Rey dan Wulan terkekeh
"Terima kasih pujiannya"kata Rey
"Jadi...."Rey membuat Mona menghela nafasnya
"Kalian benar aku sedang bersedih"kata Mona akhirnya mengaku
"Aku memang membenci ayah tapi bukan berarti aku ingin dia mati"kata Mona dan setitik air matanya tiba tiba lolos dari matanya
"Ahaha aku menangis lagi"kata Mona sambil terkekeh sambil mengusap wajah nya namun air matanya malah semakin mengalir
"Memangnya dia tidak pernah berfikir apa"kata Mona disela sela tangisnya
"Apa yang kami inginkan"lanjutnya
"Bisa bisanya saat ia pergi malah meminta sesuatu yang sulit"kata Mona sambil seseguhan,Rey dan Wulan membiarkan Mona menangis sepuasnya
"Memangnya salah jika aku membenci mereka"kata Mona
"Salah enggaknya itu akan terjawab oleh hati kecil ketua sendiri"kata Wulan
"Benar yang di katakan Wulan,jangan sampai nantinya kau menyesal seperti ku"kata Rey sambil mengelap air mata di pipi Mona,Mona menatap Rey dengan dalam mencoba menyelami kehidupan di matanya dan ia hanya melihat penyesalan di mata Rey dan rasa sedih
"Kau"Mona terhenti
"Aku hanya tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali"kata Rey
Wulan paham apa yang di maksud Rey,ini merujuk masa lalu Rey dimana ia sangat menyesali perbuatannya yang menguburnya ke dalam lembah kegelapan,dimana saat ia berusia dua belas tahun ia dengan sadisnya membunuh kakaknya sendiri karna orang tuanya mengatakan jika sang kakak hendak membunuh ayah dan ibunya,dan satu tahun kemudian ia baru tahu bahwa kakaknya ingin membunuh orang tuannya karna mereka berencana menjual kakaknya dan Rey ke tukang penjual organ untuk melunasi hutang judi mereka dan ia semakin menyesal karna selama satu tahun itu ia memupuk rasa benci kepada kakaknya walaupun sudah tiada dan karna emosi ia membunuh ayah dan ibunya yang nyatanya adalah orang tua angkatnya karna ia di ambil dari panti asuhan,namun bukannya puas ia malah semakin di buat linglung karna bingung harus hidup seperti apa setelah ini,
sampai dimana Wulan dan Mona yang memang sudah berteman dengan nya sejak kecil mengajak Rey untuk pergi dari kota itu dan Rey tinggal bersama Mona dan keluarganya saat mereka masih bersama Richard sampai akhirnya orang tua Mona bercerai dan Rey melihat Mona yang membenci ayahnya,karna tidak ingin sahabatnya merasakan apa yang ia rasakan makanya ia slalu mengawasi Mona agar tidak berjalan terlalu jauh seperti dirinya
Mona mengangkat tangannya dan menangkup pipi Rey
"Ada kami ketua"kata Rey
"Kau juga ada kami jadi jangan bersedih"kata Mona,Mona menarik kepala Rey agar lebih dekat,dan saat wajah Rey sudah mendekat ia mencium bibir Rey secara tiba tiba membuat Rey dan Wulan terkejut bukan main,bahkan Wulan sampai melongo melihat kejadian itu,Mona menutup matanya membiarkan semua emosinya meluap,Rey hanya diam karna fikirannya sedang kacau akibat kejadian ini,melepaskan ciumannya Mona menatap Rey dalam,setelah itu ia baru sadar apa yang ia lakukan apalagi saat melihat wajah Wulan yang masih melongo menatap mereka,wajahnya tiba tiba memerah
"Diam dan jangan beritahu siapa siapa"kata Mona sebelum ia berlari dan menutup pintu dengan kencang meninggalkan Wulan dan Rey di ruangan
"R...Rey"panggil Wulan namun saat ia melihat Rey otaknya tidak bisa berfikir apa apa lagi saat melihat wajah Rey yang memerah dengan tangannya yang sedang memegang bibir miliknya jangan lupakan senyuman manis Rey yang jarang ia keluarkan karna ia lebih sering tersenyum konyol dari pada manis
"Apa apaan ini"batin Wulan berteriak
"""
Di kamar mandi Mona sedang menatap cermin di depannya sambil menyentuh bibirnya
"Apa yang kau lakukan Mona"batin Mona saat kejadian tadi terlintas di otaknya
"Bisa bisanya"kata Mona
"Dan Wulan"lanjutnya
"Akhhh"teriaknya di dalam kamar mandi membuat seseorang yang sedang berada di kamar mandi terkejut dengan teriakan tersebut
"Mona"heran Zee,ya itu adalah Zee yang habis menuntaskan panggilan alamnya namun ia malah mendengar Mona berteriak,sambil mencuci tangan nya ia menunggu Mona keluar dari kamar mandi
"Beruntungnya hanya kami berdua"kata Zee,bisa dibayangkan jika kamar mandi sedang ramai akan geger nantinya,Mona keluar dengan wajah yang sedikit kusut,tanpa melihat Zee yang berada di samping berjarak dua wastafel ia mencuci tangan nya dan merapikan penampilan nya
"Bibir Rey lembut juga"kata Mona pelan tanpa sadar membuat Zee yang berada tak jauh darinya terkejut lalu tersenyum kecil,Mona lalu berbalik dan terkejut melihat Zee yang sedang menatapnya
"Zeena"kaget Mona
"Halo ketua Mona"sapa Zee,Mona lalu berjalan bersama Zee
"A...apa kau baru dari kamar mandi"tanya Mona agak gugup
"Sudah lama bahkan sebelum ketua datang"kata Zee santai membuat Mona tak bisa untuk berdiam
"Anu....apa kau"tanya Mona
"Ya aku dengar"kata Zee langsung membuat Mona terdiam
"Zee t...tolong rahasiakan ini dari semuanya"kata Mona jujur membuat Zee terkekeh
"Kenapa"tanya Zee jahil
"Aku malu kau dengar"kata Mona membuat Zee tersenyum jahil
"Baiklah"kata Zee santai
"Hei aku serius"kata Mona kesal
"Aku juga serius"kata Zee
"Ck kau ini"kesal mona,mereka berpisah di lorong dengan Zee yang kembali ke kelas sedangkan Mona masuk ke ruangannya,dengan sok coolnya ia berjalan ke mejanya,dan ruangan itu mendadak sunyi dengan Rey,Mona dan Wulan yang bingung harus melakukan apa
"Ya ampun malunya"batin Mona dan Rey
"Ini momen langka"batin Wulan sambil tersenyum gx jelas
"Wulan kau minta ku hajar"kesal Mona saat melihat wajah Wulan
"Tidak ketua"kata Wulan sambil berusaha menahan tawanya
"Ini rahasia di antara kita berempat saja"kata Mona
"Berempat?"heran Rey dan Wulan
"Hemm"dehem Mona sambil fokus ke laptopnya,Rey yang haus segera mengambil dua kaleng cola dan memberikannya satu ke Wulan
"Tapi aku dukung kalau ketua dan Rey bersama"kata Wulan tiba tiba
Brussss.....
Semburan cantik di lemparkan oleh Rey dari mulutnya akibat terkejut mendengar celotehan Wulan
"Wulan"kaget Mona dan Rey
"Apa"kata Wulan cengo
"Bagaimana jika kalian jadian"asal Wulan mendapatkan lemparan pulpen dari Mona di keningnya
Tukkk....
__ADS_1
"Aduhh"keluh Wulan sambil mengusap dahinya
"Boleh juga"dua kata dari Rey cukup membuat Wulan dan Mona terdiam menatapnya dengan tatapan tidak percaya,Rey berdiri dan berlari ke arah Mona
"Mona ayo jadian"kata Rey santai sambil menggenggam tangan Mona
"Kau gila"kata Mona di gelengi Rey
"Aku tidak gila"kata Rey
"Mona jadilah pacarku"lanjutnya lagi
"Enyah sialan"kesal Mona membuat Rey dan Wulan tertawa
"Kami bercanda ketua"kata Rey di sela sela tawanya
"Aku lapar aku pergi dulu ada yang mau menitip makanan"tawar Rey
"Belikan saja kroket kentang"kata Wulan
"Samakan"kata Mona,lalu Rey pergi dari sana,berjalan sendiri di lorong kelas Rey tersenyum kecil
"Aku tau ini salah tapi hati ini tidak bisa berbohong jika aku menyukai Mona"batin Rey
"Ciuman itu benar benar berarti untuk ku"batinnya lagi
***
Di kelas Ziya,Ari dan Nian Nian sedang sedang berdebat tentang siapa yang paling tampan di kelas
"Lihatlah bahkan dengan pakaian nya yang terlihat cupu juga ghai tetap keren"kata Nian Nian
"Apaan Quan lebih tampan lihat apalagi setelah ia memotong rambut panjang nya yang bagai duta shampoo itu"kata Ari
"Bagiku Tetsu yang terbaik"kata Ziya
"Karna kau pacarnya"kata Ari dan Nian Nian bareng,karna kelas kosong jadi sebagian ada yang kekantin atau pun sekedar nongkrong di perpus dan di kelas
"Ayo kita tanya yang lain agar adil"usul Ari
"Baik"jawab Nian Nian dan Ziya
"Mereka ini kenapa sih"kata jiali sambil menopang dagunya
"Entah suka suka mereka aja"jawab Zee
"Jia Zee siapa yang paling tampan di geng Quan"tanya Nian Nian
"Semua"jawab keduanya
"Yang benar"kata Ari
"Iya"jawabnya lagi
"Kalian serius lah sedikit ini mencangkup rekor tertampan di kelas 2A sebelum nantinya kita akan naik kelas"kata Nian Nian
"Ujian saja belum"kata jiali
"Ya kan bentar lagi"kata Ari
"Tara"jawab Jiali dan Zee bertepatan dengan geng Quan yang masuk
"Kayaknya ada yang bilang nama Tara tadi"heran Quan membuat teman temannya menatapnya bingung
"Gx ada tuh"jawab Nian Nian dan Ari bareng lalu duduk di kursi belakang
"Yang bener"bisik Ari dan Nian Nian
"Iya"jawab Jiali dan Zee,lalu mereka saling tatap dalam artian yang sulit lalu memutuskan nya
"Hais"keluh Ari lalu duduk di kursinya
"Aku bosan"kata Ari
"Bagaimana jika kita makan"kata Nian Nian
"Makan Mulu gemuk nanti"kata Ari
"Kalau begitu kita main truth or dare saja yang lagi trend itu bagaimana"tawar Ziya
"Baik"jawab mereka berempat,mereka menyusun kursi dan duduk melingkar dengan satu botol di meja sebagai alat permainan,di kelas hanya mereka berlima karna yang lain sudah pada pergi
"Baik siap semua"tanya Ari
"Siap"jawab mereka berempat,botol di putar oleh Ari dan...
"Nian Nian truth or dare"tanya Ari
"Truth"jawab Nian Nian
"Ghai"jawab Nian Nian langsung
"Ahh cieeee suittt suitt"kata Ari tanpa bersiul hanya mulutnya saja yang berbunyi
"Lanjut"kata Ziya lalu memutar botolnya
"Nian Nian lagi ahahah"tawa Ari
"Truth or dare"tanya Ziya dan Jiali
"Truth"kata Nian Nian
"Apakah kau sudah pernah berciuman"tanya Ari membuat mereka berempat menatapnya kaget
"What"kaget Jiali dan Ziya
"Ayo jawab"desak Ari
"Su....sudah"gugup Nian Nian dengan wajah memerah
"Ahahhahah"tawa Ari terdengar
"Wajahmu jelek nian"kata Ari asal ceplos
"Diam sekarang giliran ku"kata Nian Nian kesal sambil memutar botolnya dan berhenti ke arahnya lagi
"Dam*it"teriak Nian Nian kesal membuat teman temannya tertawa
"Truth or dare"tanya Ziya
"Truth"jawab Nian Nian
"Siapa terakhir kali laki laki tampan yang kau temui"tanya Jiali
"Quan yang sekarang"kata Nian Nian
"Apalagi saat rambutnya panjang"tambahnya dengan senyum genitnya di angguki Ari dan langsung menampar pelan wajah Nian Nian
"Mukamu jelek"kata Ari membuat Nian Nian kesal
"tidak bisakah kau melihat teman sendiri senang sebentar"kata Nian Nian membuat Ari tertawa,lalu Ziya memutar botolnya dan Zee kena
"Zee truth or dare"tanya Ari
"Truth"jawab Zee
"Apa kau juga sudah pernah berciuman"tanya Nian Nian di angguki Zee
"Sudah"jawab Zee santai membuat mereka terdiam
"Baik lanjut"kata Zee sambil memutar botolnya
"Ari truth or dare"tanya Zee
"Dare"jawab Ari
"Ungkapkan perasaan mu pada seseorang yang kau sukai"kata Nian Nian
"Hei bagaimana jika aku belum menyukai seseorang"tanya Ari jujur
"Kalau begitu coba tunjuk di antara kami berempat"kata Nian Nian penuh rahasia membuat Ari bingung dan menunjuk Ziya
"Bagus tunggu sebentar"kata Nian Nian sambil mengeluarkan Snack roti panjang kecil dari tasnya
"Ini dia"kata Nian Nian lalu menyuruh Ari dan Ziya duduk berhadapan,Ziya mengigit ujung poky tersebut
"Ini...."Zee dan Jiali sudah bisa menebak apa isi fikiran Nian Nian berbeda dengan Ari yang bingung
"Ari mulai dari ujung sini(menunjuk poky yang tidak di gigit)makan sampai habis dan Ziya jangan sampai melepasnya sampai itu terputus atau termakan habis"kata Nian Nian
"Kenapa harus aku"tanya Ziya heran
"Kau yang di tujuk"santai Nian Nian
"Hahh"bingung Ari
"Sudahlah ayo mulai"kata Nian Nian,Ari pun mengiyakan dan mulai berdiri perlahan dan menunduk mengigit ujung roti panjang kecil tersebut dan mulai memakannya perlahan sampai wajahnya dekat sekali dengan Ziya karna rotinya yang sudah semakin pendek
"Ini...."batin Ari tersadar lalu tanpa ia sadari ia menarik rotinya dengan berdiri cepat
"Heii nian apa maksudnya ini"tanya Ari agak sedikit kesal yang mana malah membuat Nian Nian tertawa puas
"Ahahah bukankah sensasinya mendebarkan"puas Nian Nian karna berhasil membalas
"Ck kau ini"kesal Ari,memutar botolnya dan berhenti di arah Nian Nian
"Truth or dare"kata jiali,Ziya dan Zee
__ADS_1
"Dare"jawab Nian Nian
"Lakukan dengan Ari"kata jiali dan Ziya membuat Nian Nian melongo
"Apanya"heran Ari
"Poky sensasi"jawab Ziya dan Jiali sambil terkekeh membuat Ari menatapnya aneh
"Aku lagi"batin Ari
"Ari"panggil Nian Nian lalu berdiri dan mendekat ke arah Ari sambil membawa satu poky
"Ayo kita lakukan"kata Nian Nian
"apa...Itu"Ari hanya menatap teman temannya
"Baiklah demi misi"kata Ari lalu ia mengigit ujung roti kecil itu
"Mulai"teriak Ziya dan Jiali,
Nian Nian mengigit roti itu dan semakin dekat dengan wajah Ari dengan rotinya yang hanya beberapa senti saja dan...
Kecupan sekilas itu terjadi karna Nian Nian memakan ujung terakhir roti tersebut dan bibirnya sekilas mengenai bibir Ari,bahkan ia sampai memerah namun lain dengan Ari yang otaknya rada rada itu,bahkan ia malah dengan senang berjingkrak karna misinya selesai,teman temannya hanya diam saja karna mereka menyaksikan itu sendiri
"Mau lanjut"tanya Ziya
"Lanjut"kata Ari semangat
"Hei"kesal Nian Nian
"Aku setuju ayo kita lanjutkan"kata Zee dan....
"Heii ajak kami"teriak Wulan dari luar dibelakangnya ada Noriko,Rey,Mona
"Kalian sejak kapan disana"tanya Ari
"sejak tadi"jawab Noriko
"Kalian lihat misiku"tanya Nian Nian
"Tidak apa misimu"tanya Wulan yang sekarang sedang duduk lesehan di belakang
"Hei agar semakin seru di bawah sini agar pas"kata Wulan di angguki mereka dan ikut duduk di lantai
"Yap aku akan mulai"kata Wulan lalu memutar botolnya dan mereka bermain dengan canda tawa apalagi melihat Nian Nian yang selalu saja terkena botolnya
"Truth Or Dare"teriak Nian Nian puas saat akhirnya botol itu menunjuk Jiali yang sejak tadi menahan tawanya
"Dare"jawab Jiali
"Tunggu sebentar aku harus membuat tantangan yang sulit"kata Nian Nian sambil berfikir
"Sambil menunggu Nian Nian selesai ayo kita lanjutkan"kata Noriko dan botol itu mengenai Zee
"Truth...."Noriko
"Dare"jawab Zee
"Aku tau"teriak Nian Nian tiba tiba
"Hei kalian bermain tanpa ku"kata Nian Nian saat tersadar
"Ahahah maaf jadi apa tantangan untuk Jiali"tanya Ziya
"Siapa yang kena terakhir kali"tanya Nian Nian
"Zee"jawab mereka
"Truth or dare"tanya Nian Nian
"Dare"jawab mereka
"Nahh untuk kalian berdua besok kalian harus menyamar menjadi murid laki laki tampan sampai pulang sekolah seharian penuh"kata Nian Nian membuat mereka melongo
"What"kaget mereka
"Kenapa gx sanggup"tantang Nian Nian dengan wajah menyebalkan
"Wajahmu jelek nian sudah kubilang bukan"kata Ari membuat Nian Nian membekap mulutnya dari belakang sehingga terkesan seperti memeluk
"Kau diam saja cantik nanti jodohmu yang jelek mampus"kata Nian Nian
"Enak saja"kata Ari menarik tangan Nian Nian sambil memandang Nian Nian
Ckrekk
Noriko memfoto mereka berdua yang sedang berpose ala ala pasangan itu walaupun tidak pada adanya
"Wawww"batin Noriko
"Baiklah kami terima"jawab Zee dan Jiali
"Baiklah kami tunggu besok"kata Mona,Rey dan Wulan
"Butuh bantuan gx"tanya Rey
"Tidak apa"jawab Jiali,lalu semakin lama kelas semakin ramai karna mereka bosan di luar atau karna panas.
Pembelajaran setelah istirahat pertama berlangsung dengan baik dan lancar membuat pak Raymond seakan berada di atas awan,damainya,
realitanya di bangku belakang,Zee sedang mensecroll sosial media milik sekolah dan melihat forum sekolah yang kebanyakan tentang murid murid idaman ataupun apa yang berkaitan dengan sekolah,ia dibuat tersenyum kecil saat membaca salah satu forum sekolah bertulisan pangeran berkuda yang misterius berasal dari mana?
"Sepertinya ini menarik"batin Zee,ia tidak menyangka jika penyamarannya di drama yang ia mainkan bersama Suji membuat nya menjadi idola,ini sudah beberapa bulan yang lalu tapi seakan mereka tidak lelah mencarinya bahkan mereka sampai mencari di kelas 1A milik Suji dan kelas 1B milik Denso si pemeran utama pria yang tidak memainkan perannya tersebut karna menghilang entah kemana,penggemar yang di dominan kakak kelas itu benar benar mencari sampai sampai memasang di forum sekolah.
Di sebelahnya Jiali sedang berfikir
"Aku tidak bisa menggunakan sihir penyamaran dalam waktu lama seperti Zee"batin Jiali sambil melirik Zee yang fokus dengan hpnya
"Make up?"lanjutnya
"Hanya itu yang bisa aku lakukan"batin Jiali,lalu membuka hpnya dan mencari tutorial make up tranformasi.
Pak Raymond menatap bangku belakang tepatnya di dua anak yang sedang menunduk itu ia mengira jika mereka tertidur dan hanya menghela nafasnya
"Aku berani bertaruh jika mereka berdua akan menempati posisi atas saat ujian walaupun sering bolos jam pelajaran"batin pak Raymond lalu ia melanjutkan pekerjaannya.
***
Pulang sekolah Jiali dan Zee pergi ke unit khusus seragam tensius dan membeli seragam siswa,setelah itu baru mereka pulang,Zee mampir ke rumah Jiali
"Jadi bagaimana sihirmu"tanya Zee
"Lebih baik dan karna adalah Luyten juga"kata jiali sambil meminum cola miliknya
"Kau apa yang meningkat dari sihirmu"tanya Jiali
"Sihir regenerasi dan aura"jawab Zee
"Wahh itu keren sekali"kata jiali
"Hemm,oh ya lalu bagaimana sihir bulanmu apa keistimewaan nya"tanya Zee
"Emm Luyten bilang keistimewaan terdapat pada aura dan tingkat sihir,dan juga itu memudahkan pengguna menggunakan sihir yang berbeda sekaligus sama seperti mu hanya saja kau melakukannya tanpa bantuan sihir bulan iya kan"kata jiali di akhiri dengan pertanyaan
"Benar aku tidak menggunakan sihir bulan karna itu bukan keahlian ku"jujur Zee,Jiali beranjak dan pergi kebawah,lima menit kemudian dia muncul dengan cemilan ditangannya
"Kira kira sosok seperti apa yang harus aku gambar di wajahku ini ya"tanya Jiali sambil menyerahkan satu cemilannya ke Zee
"Maksudmu kau akan menggunakan make up kenapa tidak dengan sihir"tanya Zee
"Karna kemampuan sihir penyamar milikku tidak selama milikmu"kata Jiali
"Benar juga"kata Zee
"Kalau begitu gunakan saja kekuatan Luyten"kata Zee santai
"Memangnya bisa"tanya Jiali
"Entahlah aku hanya asal bicara"kata Zee sambil memakan cemilan tersebut
"Oh ya jika kau memutuskan untuk menggunakan make up"kata Zee lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak kecil dan menyerahkannya kepada Jiali
"Ini alat pengubah suara yang aku dapatkan dari ZL tempo lalu gunakan saja ini"kata Zee
"Oh ya bolehkah"kata jiali
"Hemm asalkan pandai pandai saja kau memakainya"kata Zee
"Tunggu pengubah suara kan menggunakan mikrofon lah masa iya aku seharian bicara pakai mikrofon"kata jiali baru sadar
"Kalau begitu"Zee membuka kotak itu dan menggores sedikit jarinya lalu meneteskan satu tetes darah ke dalam kotak dan alat itu berubah menjadi pil
"Makan ini saat esok sihir ini akan bekerja dari dari dalam"kata Zee membuat Jiali menatapnya horor
"kau menyuruhku memakan mikrofon kecil ini"kata jiali
sorry lama up butuh ide dan sinyal yang kuat
moga episode ini bisa mengobati rasa kangen kalian pada episode sebelumnya
oke pay pay
tinggalkan komentar dan jejak like
see you next time π
πππ
__ADS_1