
Adit sudah menyiapkan minuman pereda rasa mabuk dan memberikan minum tersebut ke Ara
"Gimana sudah lebih enak?"
"Makasih ya pak"
"Lain kali jangan pernah sentuh alkohol, kamu punya kebiasaan jelek saat mabuk. Gimana kalau sampai ada yang berniat jahat sama kamu?"
"Tapi bapak kok bisa ada di sana?"
"Masa saya harus bilang kalau saya lacak ponsel kamu"
"Saya tadi beberapa kali hubungi kamu tapi kamu ga angkat, saya ke sana mau kumpul sama teman-teman. Tau nya saya lihat kamu sudah tidur di meja bar"
"Apa bapak ada perlu sama saya?"
"Aduh alasan apa ya? ga boleh kasih dia alasan yang akan bikin dia curiga"
"Pak.. " Ara melambaikan tangannya di hadapan Adit
"Ya"
"Kenapa bapak hubungi saya?"
"Kata Arman kamu izin pulang karena ga enak badan, jadi saya mau tanya keadaan kamu aja"
"Maaf ya pak tadi saya berbohong sama pak Arman, saya lagi butuh waktu untuk menenangkan diri"
"Kamu tau kan saya berteman sama Dion, jadi kurang lebih saya sudah tau cerita tentang kalian berdua"
"Kak Dion cerita ya ke bapak?"
Adit menjawab dengan anggukkan kepalanya
"Sebenarnya saya penasaran tentang satu hal"
"Apa pak?"
"Dion bilang setelah kejadian itu kamu pergi menghilang tanpa ada kabar, terus kenapa kamu ga minta laki-laki itu untuk tanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan ke kamu?"
Ara tampak terdiam cukup lama seperti sedang memikirkan sesuatu, sedangkan Adit benar-benar penasaran dengan alasan Ara meninggalkan dia begitu saja setelah kejadian itu. Tetapi melihat Ara yang terdiam cukup lama membuat Adit tak ingin memaksa
"Tapi kalau kamu ga mau jawab ga masalah kok"
"Karena dia ga berbuat salah pak"
"Gimana kamu bisa bilang dia ga salah? karena dia kamu pasti sudah mengalami banyak masalah!!" menaikkan volume suaranya
Ara menatap ke arah Adit sambil tersenyum
"Karena saya yakin kejadian malam itu ga seratus persen kesalahan laki-laki itu pak, saya yakin malam itu ada yang berniat jahat sama saya. Jadi ga mungkin saya limpahkan semua kesalahan sama laki-laki itu"
__ADS_1
"Kamu salah Ara malam itu saya juga salah, seandainya saya ga di bawah pengaruh obat saya pasti bisa menahan diri"
"Lagi pula saya ga tau harus bersedih atau bersyukur karena kejadian itu pak, karena kejadian itu sekarang saya punya malaikat kecil yang selalu jadi penguat hati saya pak" tersenyum
"Seandainya kamu ketemu laki-laki itu, apa yang akan kamu lakukan?"
"Saya akan minta dia untuk menjauh dari hidup saya selamanya pak" dengan penuh keyakinan
"Karena saya takut dia akan memisahkan saya sama Daffa, seandainya Daffa harus pergi dari sisi saya. Apa saya masih kuat menjalani hidup saya?"
Adit seperti sulit untuk menelan saliva nya sendiri mendengar kata-kata dari Ara, walaupun ucapan Ara memiliki tujuan yang berbeda
"Sekarang sudah lewat tengah malam, apa ga masalah kalau saya antar kamu pulang dengan keadaan begini?"
"Tolong antar saya ke penginapan aja pak"
Adit langsung menatap serius ke arah Ara
"Ada apa ya pak?"
"Masa kamu perempuan mau nginap di hotel? mana sendirian lagi"
"Saya ga enak mau pulang ke rumah pak, sekarang sudah malam banget"
"Ya udah kamu pulang ke rumah saya"
Adit langsung melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Ara terlebih dahulu
"Kenapa?" menoleh sekilas
"Ya karena saya perempuan dan bapak laki-laki, ga boleh perempuan dan laki-laki hanya berduaan di satu tempat"
Adit hanya terdiam sambil mengerutkan keningnya dan terus melajukan mobilnya ke suatu tempat, ternyata Adit membawa Ara ke sebuah rumah yang sangat mewah. Rumah itu adalah kediaman Adit tetapi Adit lebih suka menempati apartemennya karena lebih dekat dengan kantornya
Begitu melihat mobil Adit di depan gerbang para penjaga langsung membukakan gerbang, dan Adit pun melajukan mobilnya langsung ke arah tempat parkir mobil. Adit sudah mulai turun dari mobil sedangkan Ara masih diam membeku
"Ngapain sih aku di bawa ke sini? pak Adit kan orangnya mesum, jangan-jangan dia mau berbuat mesum sama aku"
Adit membukakan pintu mobil di bagian Ara duduk
"Ayo turun"
"Kenapa bapak ga antar saya ke penginapan aja?"
"Ga boleh, kamu perempuan jadi saya ga akan biarin kamu tidur di penginapan sendirian"
"Terus kenapa bapak bawa saya ke sini?"
"Kamu bilang perempuan sama laki-laki ga boleh berduaan di satu tempat, makanya saya bawa kamu ke rumah saya bukan ke apartemen saya. Di sini kan ada banyak orang"
"Tapi kan pak..."
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kamu punya pikiran saya mau berbuat yang aneh-aneh ke kamu"
Ara pun hanya bisa membalas dengan senyuman canggung karena ucapan Adit benar adanya, Adit pun tersenyum lalu meletakkan tangannya di atas kepala Ara dengan lembut
"Buang jauh pikiran jelek kamu tentang saya, karena saya akan melakukan semua yang terbaik untuk kamu" dengan lembut
"Ini semua pasti pengaruh alkohol, ga mungkin kan pak Adit benar-benar suka sama aku. Akh!! lagian kenapa tadi aku kelewat batas sih? atau pak Adit cuma merasa kasihan sama aku karena dia tau tentang cerita hidup aku"
"Ayo turun, kalau kamu masih ga percaya nanti saya minta si mbak temenin kamu di dalam kamar. Jadi saya ga mungkin bisa berbuat yang aneh-aneh sama kamu"
Ara pun menuruti ucapan Adit dan keluar dari dalam mobil, dan sudah pasti para penjaga yang berdiri tak jauh dari tempat mereka hanya bisa saling lirik. Bagaimana tidak karena ini pertama kalinya seorang Raditya Mahardika membawa seorang wanita ke rumah mewah tersebut
Kepala pelayan di tempat itu dan beberapa para pelayan yang lainnya sudah menunggu Adit di depan pintu utama rumah mewah tersebut, Ara yang terbilang dari golongan berada pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat mewah nya rumah dan pelayanan di tempat itu
"Selamat malam pak"
"Siapkan kamar tamu dan satu orang untuk menemani dia tidur"
"Baik pak"
Ara yang mendengar ucapan Adit pun langsung menarik tangan Adit
"Kenapa?"
"Ga usah ngerepotin orang lain pak, saya tidur sendiri aja" berbisik
Adit pun hanya bisa tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Ara
"Siapkan kamar aja, dia mau tidur sendiri aja katanya"
"Baik pak"
Tak lama kemudian kamar untuk Ara pun sudah di siapkan, Adit mengantarkan Ara ke kamar di mana dia akan beristirahat
"Udah malam sebaiknya kamu langsung tidur, kunci aja pintu kamarnya biar kamu merasa aman"
"Terima kasih ya pak"
"Kamu ga boleh bilang terima kasih ke saya"
Ara pun hanya bisa terdiam sambil mengerutkan keningnya
"Karena saya sudah bilang saya akan lakukan yang terbaik untuk kamu"
"Kenapa bapak baik sama saya?"
"Masa kamu masih belum sadar? mulai sekarang saya lagi mengejar kamu" dengan lembut sambil tersenyum
Ara pun hanya terdiam sambil merona dan Adit pun mencium kening Ara dengan lembut
"Selamat malam selamat beristirahat" tersenyum
__ADS_1