
Dion kembali melanjutkan malam panjang tersebut tetapi ada satu hal yang terus mengganjal di dalam pikirannya, entah mengapa ekspresi Nana benar-benar membuat dia menaruh rasa curiga terhadap Nana
"Kalau cuma sebatas takut aku kembali ke Ara, apa harus sekaget itu? aku benar-benar ngerasa ada yang Nana sembunyikan"
Seribu pertanyaan dan rasa curiga terus mengganggu pikiran Dion, dia tak dapat lagi menikmati acara malam itu dan memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Dion yang baru tiba di apartemennya di kejutkan oleh seorang wanita yang tertidur di depan pintu apartemennya dengan terduduk dan beralaskan tangannya
"Hei bangun, jangan tidur di depan apartemen orang lain"
Wanita tersebut terbangun dari tidurnya dan menipis tangan Dion yang menggoyangkan tubuhnya
"Berisik!! aku masih ngantuk"
"Astaga perempuan ini minum berapa banyak? bau alkohol nya menyengat" menutup hidungnya
"Ya kalau kamu ngantuk tidur di tempat kamu jangan di depan pintu orang lain"
"Ini apartemen aku kok!! tapi dari tadi aku masukkan pin nya salah terus" menatap tajam dengan mata yang sudah merah
"Mungkin perempuan ini tinggal di sini juga, karena mabuk jadi salah kamar"
"Apartemen kamu nomor berapa?"
"889, kenapa kamu mau mencuri ya?"
"Kalau aku ladenin perempuan ini sama aja gila nya"
Dion pun membuang napasnya dengan kasar
"Ini nomor 888, apartemen kamu ada di sebelah" penuh penekanan sambil menunjuk nomor yang tertera di pintu
Gadis itu tampak menyipitkan matanya untuk melihat lebih fokus ke nomor yang tertera di pintu, dia pun mulai bangkit dari duduknya
"Kenapa kamu ga bilang dari tadi sih?" menatap tajam
Gadis tersebut pun mulai melangkahkan kakinya dengan goyah ke apartemen yang berada di sebelah dan mulai memasukkan kode pin, lalu pintu apartemen tersebut pun terbuka
"Heh...!!"
Dion yang sudah akan membuka pintu apartemennya kembali menoleh ke gadis tersebut
"Jangan coba-coba mencuri di apartemen aku ya!!"
Tanpa rasa bersalah sama sekali gadis tersebut masuk ke dalam apartemennya, sedangkan Dion hanya bisa terdiam sambil mengerutkan keningnya
"Ampun deh ada ya cewek model kayak gitu, semoga aja di kemudian hari aku ga akan pernah ketemu lagi sama cewek itu"
Dion pun masuk ke dalam apartemennya dan membersihkan diri, setelah itu dia mulai berbaring di atas tempat tidurnya sambil menatap foto Ara yang terpasang di dinding
"Mungkin aku memang ga pantas untuk kamu Ara tapi aku janji aku akan selalu ada untuk kamu, kamu tenang aja ya sampai kapan pun aku akan selalu cari tau tentang kebenaran di malam itu"
Dion terus mengingat kembali semua kenangan indah yang pernah terjadi antara dirinya dan Ara hingga tanpa sadar dia pun mulai terlelap ke alam mimpi
Pagi yang indah menyapa semua kehidupan di muka bumi dan Ara pun melakukan rutinitas seperti biasanya, Ara dan Arman sudah tiba di kantor sedangkan sang bos besar belum berada di sana. Tak berapa lama akhirnya sang bos besar pun tiba, saat melihat Ara dari kejauhan suasana hati Adit langsung berbunga-bunga hingga dia mengembangkan senyuman di bibirnya
"Selamat pagi Arman" tersenyum
__ADS_1
"Selamat pagi pak"
Adit langsing menghadap ke arah Ara sambil tersenyum
"Pagi..."
"Pagi pak"
"Ara tolong siapkan sarapan untuk saya ya, saya belum sarapan pagi ini"
"Baik pak"
Ara pun langsung menjalankan perintah Adit, sedangkan Adit langsung masuk ke dalam ruangannya. Dan tersisa Arman seorang diri yang tampak bingung melihat sikap Adit hari itu
"Kayaknya kalau pak Adit lagi dapat proyek besar sekali pun suasana hati dia ga pernah sebaik ini"
Adit sudah duduk di bangku kebesarannya dan mulai memeriksa beberapa pekerjaan yang sudah menanti
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk"
Ara pun masuk dengan membawakan menu sarapan pagi, lalu meletakkan itu semua di atas meja
"Kamu sudah sarapan?"
"Sudah pak"
"Kalau gitu temenin saya sarapan ya"
"Berani banget Arman kasih dia tugas, apa Arman ga tau kalau dia ini calon nyonya dari bos nya sendiri"
"Duduk"
"Tapi pak.."
"Duduk aja"
Dengan berat hati Ara pun mengikuti perintah yang di berikan Adit, Adit langsung meraih gagang telpon dan menghubungi telpon yang berada di meja kerja Arman
"Ya pak"
"Ara lagi dapat tugas khusus dari saya, kamu bisa kan selesaikan tugas dia"
"Baik pak"
Adit pun langsung memutuskan sambungan teleponnya dan Ara hanya bisa mengerutkan keningnya melihat itu semua
"Udah selesai, kamu bisa temenin saya sarapan kan?"
Selesai sarapan Ara pun merapikan semua kembali ke ruang pantry, dan Adit pun kembali menghubungi Arman
"Ya pak"
"Kamu masih sayang sama pekerjaan kamu ga?"
__ADS_1
"Maaf pak, maksud bapak bagaimana ya?"
"Kalau kamu masih menginginkan pekerjaan kamu, jangan pernah lagi berani kasih tugas ke Ara" dengan tegas
"Astaga apa ini contoh orang yang terlambat jatuh cinta? kenapa ga sekalian aja bapak suruh dia di dalam ruangan bapak seharian penuh"
"Baik pak saya mengerti"
Ara yang tak tau apapun langsung kembali ke meja kerjanya, dan baru saja dia akan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda Arman langsung menghampiri dirinya
"Ara mana laporan bulanan yang pernah saya kasih ke kamu?"
"Maaf pak belum selesai saya kerjakan, saya kerjakan sekarang pak"
"Setau aku kan pak Arman sendiri yang bilang kalau tugas itu bisa di kerjakan hari minggu, kenapa sekarang tiba-tiba dia minta laporan itu"
"Oh ga apa kok, ada yang masih harus di revisi sebelum di rapikan. Jadi biar saya yang kerjakan" tersenyum
"Sebentar pak"
"Akh jadi harus bohong kan, benar-benar orang kalau terlambat jatuh cinta jadi bucin ga jelas. Masa ga bisa bedakan antara perasaan dan pekerjaan"
Ara masih merapikan laporan tersebut yang baru dia kerjakan sebagian lalu tiba-tiba saja ponsel Arman pun berdering, dan Arman pun melihat ponselnya dan ternyata panggilan tersebut berasal dari Adit
"Apa lagi sekarang?"
Arman pun menjawab panggilan telpon dari Adit
"Ya pak"
"Ngapain kamu di meja dia?"
"Saya lagi minta laporan bulanan yang pernah saya minta Ara untuk kerjakan pak"
Ara pun langsung menatap serius ke arah Arman
"Astaga jadi posisi aku yang serba salah"
"Ada yang harus di revisi sebelum di rapikan pak, jadi saya pikir biar saya yang kerjakan"
"Oke, tapi kamu juga di larang senyum ke Ara dengan jarak sedekat itu"
"Baik pak"
Adit pun langsung memutuskan sambungan teleponnya, sedangkan Ara masih menatap serius ke arah Arman
"Mana Ara?" menyodorkan tangannya
"Apa ada masalah pak?"
"Ga kok, saya cuma harus revisi dulu dan takut kamu membuat kesalahan jadi biar saya yang sekalian kerjakan"
Setelah menerima semua data-data dari Ara Arman langsung kembali ke meja kerjanya, dan baru saja mendudukkan dirinya sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Arman dari Adit
"Bulan ini kamu bisa ambil bonus kamu dua kali lipat"
__ADS_1
"Ini sih namanya amazing, Ara kamu benar-benar dewi keberuntungan buat aku" tersenyum puas