
Adit pun menjadi panik melihat bola mata Ara yang sudah berkaca-kaca
"Kamu kenapa? kalau memang kamu ga suka, saya akan cancel barang-barang yang akan di kirim ke rumah kamu" berjongkok di hadapan Ara
"Terima kasih ya pak"
"Terima kasih untuk apa? saya kan sudah bilang ke kamu, kamu ga boleh ucap kata itu ke saya"
"Kata-kata dari bapak, selama ini belum ada orang yang mengucapkan kata-kata seperti itu. Bahkan sebagian orang seperti memandang rendah saya dan anak saya"
Bagaikan mendapatkan tamparan yang sangat keras hati Adit saat mendengar ucapan dari Ara, hatinya benar-benar sakit mendengar itu semua. Bahkan anak dari seorang Raditya Mahardika bisa di pandang rendah oleh orang lain, Adit segera bangkit dan menarik tubuh Ara ke dalam pelukannya
"Mulai sekarang saya janji sama kamu, ga akan ada orang yang bisa menghina kamu dan anak kita"
"Anak kita pak?"
Adit pun langsung tersadar bahwa dia telah mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak boleh dia ucapkan, Adit segera melepaskan pelukannya dan melihat Ara sedang menatap ke arah dirinya dengan serius
"Ampun deh nih mulut kenapa ga bisa di rem sih? aku ga sadar ngomong gitu ngeliat dia yang lagi sedih"
"Ya saya kan mau kejar ibunya kalau ibunya bersedia menerima saya secara otomatis nanti dia anak saya juga" tersenyum
"Terima kasih ya pak, karena saya ga pernah perduli dengan pandangan orang lain terhadap saya. Tapi saya ga bisa terima saat ada orang yang menghina anak saya"
"Anak kita" tersenyum dengan hangat
Ara pun membalas dengan senyuman dan Adit sudah mendekatkan bibirnya ke kening Ara, lalu tiba-tiba suara yang sangat di kenal pun terdengar di antara mereka berdua
"Selamat pagi" dengan suara yang penuh semangat
Adit dan Ara pun secara spontan segera menjauhkan tubuh mereka
"Mama kok ada di sini?"
"Mama mau sarapan sama anak mama sendiri memang nya ada salah ya?" tersenyum
Wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik dan masih tampak muda tersebut berjalan mendekati meja makan, lalu menatap ke arah Ara sambil tersenyum ramah
"Selamat pagi"
"Selamat pagi bu" tersenyum canggung
__ADS_1
"Kamu siapa ya?"
Ara pun segera bangkit dari duduknya dan menundukkan sedikit badannya tanda memberi hormat kepada orang yang ada di hadapannya
"Saya Mutiara bu, asisten pak Adit"
"Asisten? apa dia pikir saya akan percaya? kamu ga tau seberapa sulit kami minta dia untuk dekat sama perempuan"
"Kenalkan saya mama Adit, kamu bisa panggil saya tante Viona"
"Baik bu"
"Ish, supaya lebih akrab kamu bisa panggil saya tante. Tapi kalau kamu merasa enggan kamu bisa panggil saya mama"
Ara sudah terlihat canggung akan sikap dari mamanya Adit, Adit yang menyadari hal tersebut langsung mencoba menengahi dan meminta mamanya untuk ikut sarapan. Sepanjang acara sarapan mereka mamanya Adit terus memandangi Ara sambil tersenyum
"Saya ga perduli siapapun kamu dan apapun status kamu, asal anak saya sudah bersedia membuka hati dia untuk seorang wanita. Saya akan berusaha membuat kamu menjadi menantu keluarga kami, karena anak saya ini payah sudah setua ini masih belum punya istri"
Setelah selesai sarapan mamanya Adit meminta Adit untuk mengikuti dirinya ke ruang kerja Adit, karena dia harus mendapatkan kepastian tentang siapa sebenarnya Ara di mata Adit. Dan mereka pun sudah berada di sana dengan duduk saling berhadapan
"Ayo jawab mama siapa perempuan itu?"
"Apa sih mah? kan tadi dia udah jawab pertanyaan mama"
"Ya aku lagi berusaha untuk dapatkan hatinya dia mah"
"Akh.. Mama senang banget dengar kamu ngomong gitu, mama sampai mengira kalau anak mama ini ga normal"
Adit menatap tajam ke arah mamanya sambil mengerutkan keningnya
"Ups maaf ya sayang, habis kamu selama ini ga pernah dekat dengan perempuan mana pun sih" tersenyum meledek
"Iya maaf"
"Udah ya aku mau ke kantor sudah siang"
"Tunggu" dengan nada serius
Adit yang sudah mau bangkit dari duduknya pun terpaksa mendudukkan kembali tubuhnya, karena dia tau persis sang mama saat sudah berbicara serius tidak dapat lagi di lawan
"Jawab mama dengan jujur siapa sebenarnya perempuan itu?"
__ADS_1
FLASH BACK
Malam itu Adit di panggil untuk pulang ke kediaman orang tuanya, dan ternyata di sana sudah ada seorang gadis yang sangat cantik ikut bergabung makan malam bersama keluarga Mahardika
Mamanya terlihat sangat antusias untuk mendekatkan Adit kepada gadis tersebut, selain memiliki latar belakang yang baik gadis tersebut pun memiliki pekerjaan yang sangat bagus. Mamanya terus saja membanggakan gadis tersebut di hadapan Adit, tetapi Adit tetap tak mengeluarkan reaksi apapun
Gadis tersebut pun akhirnya memutuskan untuk pergi karena merasa tak ada sambutan baik dari Adit, selepas kepergian gadis tersebut mamanya Adit mengeluarkan jurus andalan dengan air matanya di hadapan suaminya
"Coba lihat anak kita ini sayang, aku sudah susah cariin dia gadis baik-baik buat di kenalin ke dia. Masa dia bersikap dingin begitu sayang" berlinangan air mata
"Dit" penuh penekanan sambil memeluk istrinya
"Bukan gitu pah, aku kan udah sering bilang kalau aku ga suka cara begini. Aku bisa cari pasangan untuk hidup aku sendiri"
"Apa kamu pikir kami ga tau? selama ini semua perempuan yang dekat sama kamu itu ga ada yang serius kan. Semua teman mama sudah menggendong cucu sekarang, masa kamu ga bisa ngerti perasaan mama"
"Aku minta maaf ya mah sudah bikin mama sedih tapi aku memang ga bisa mah, karena aku sudah melakukan kesalahan terhadap seseorang"
Dalam sekejap air mata mamanya Adit berhenti mengalir dan kedua orang tua Adit memandang ke arah dia dengan tajam
"Apa maksud kamu Dit?"
"Aku sudah melakukan hal itu pah" menundukkan kepalanya
"Terus kenapa kamu masih diam dan ga bertanggung jawab?!!" menaikkan volume suaranya
Adit pun mulai menceritakan hal yang terjadi antara dirinya dan Ara, dia juga sudah menceritakan sejauh apa upaya dia untuk menemukan Ara
"Terus sampai kapan Dit kamu mau cari dia?"
"Aku juga ga tau pah, tapi aku harus cari dia sampai ketemu. Karena aku harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakuin pah"
Kedua orang tua Adit pun hanya bisa terdiam dan setuju dengan ucapan Adit
FLASH OFF
"Ya mah dia perempuan itu, tapi tolong mama jangan bilang apapun ke dia"
"Kenapa? harusnya lebih mudah kamu dapatkan dia kalau dia tau kamu laki-laki di malam itu"
"Ya kalau mama mau dapat menantu sekaligus cucu, mama harus ikutin apa yang aku bilang"
__ADS_1
"Ini sih namanya aku dapat bonus, bukan cuma akan dapat seorang menantu bahkan aku langsung mendapatkan seorang cucu"
Terlihat senyuman bahagia dari bibir mama Viona