
Sebuah pesan sudah masuk ke dalam ponsel Ara tentang informasi Marisa atau biasa di sapa Caca sama seperti yang di terima oleh Adit, Ara terus memperhatikan foto Caca dengan seksama. Dia benar-benar tak bisa pungkuri bahwa hati kecilnya mengatakan dia pernah melihat Caca sebelum kejadian di mall
"Aku yakin aku pernah ketemu dia sebelumnya tapi di mana ya? sikap dia mall juga keliatan banget kalau dia peduli sama aku"
Setelah bekerja keras akhirnya Ara pun dapat mengingat siapakah Marisa yang sebenarnya
"Ya ampun, iya bener ini anak itu kan?"
Ara pun segera meraih ponselnya dan menghubungi suaminya
"Ya sayang"
"Boleh aku minta tolong sesuatu sama kamu kak"
"Boleh dong, kamu mau apa sayang?"
"Tolong cari nomor Marisa"
"Kamu mau ngapain sayang? aku benar-benar ga ada hubungan apapun sama dia sayang" panik
Ara pun tertawa lepas mendengar suara Adit yang mulai panik
"Aku cuma mau ketemu sama dia, aku kenal sama dia sayang"
"Kamu bilang apa barusan?"
"Aku mau ketemu sama dia"
"Bukan sayang, setelah itu tadi kamu ngomong apa?"
"Apa kak?"
Ara pun tersenyum tipis karena dia paham betul dengan arah tujuan ucapan Adit
"Ya udah kalau ga ingat, nanti aku minta Arman cari nomor dia sayang" dengan suara lemas
"Terima kasih sayang" dengan manja
"Akh!! kamu ngerjain aku ya?"
"Ga kok sayang" tertawa
"Kamu ga tau seberapa seneng nya aku sekarang, ini pertama kali kamu panggil aku sayang"
"Maaf ya padahal aku udah jadi istri kamu, tapi baru sekarang aku panggil kamu begitu"
__ADS_1
"Ga kok sayang ga apa, aku cuma seneng karena berarti aku udah sepenuhnya ada di hati kamu. Aku minta Arman untuk cari nomor dia dan kirim ke kamu ya"
"Makasih ya suami aku tersayang, aku cinta kamu"
"Akh!! kamu kalau kasih kejutan jangan sekaligus dong sayang. Kamu ga tau aku hampir jatuh gara-gara kamu"
Ara pun tertawa lepas mendengar hal itu, hatinya benar-benar bahagia karena suaminya sangat mencintai dirinya. Setelah Ara mendapatkan nomor telepon Marisa dia pun segera menghubungi Marisa dan mereka berjanji untuk bertemu di suatu tempat
Ara pun meminta izin kepada Adit untuk bertemu dengan Marisa dan sudah pasti Adit akan memberikan apapun yang Ara inginkan, dan Ara pun pergi ke sana tanpa membawa Daffa. Kini mereka pun sudah duduk saling berhadapan di suatu Cafe
"Gimana kabar kamu sama mama kamu?"
"Aku baik kak, mama sudah meninggal kak"
"Maaf, aku turut berduka ya. Apa karena waktu itu?"
"Ga kak mama meninggal karena sakit"
"Aku minta maaf ya waktu itu aku ga langsung mengenali kamu, aku ga sangka bakal ketemu sama kamu lagi" tersenyum
"Aku kan memang selalu cari sela untuk selalu berpapasan sama kamu kak"
"Ga masalah kak, waktu yang aku habiskan sama mama aku anggap sebagai anugerah. Setelah mama meninggal aku cari kakak ke kota ini tapi aku ga bisa temui kakak"
"Oh itu aku..."
"Ga apa kak aku tau kok" tersenyum ramah
Mereka terus berbincang ini dan itu bahkan saat itu Caca juga menjelaskan alasan dia langsung menghilang pada saat itu, di karena kan keadaan mamanya yang memburuk dan harus segera di larikan ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan. Dia juga menjelaskan siapakah orang-orang yang ingin menghabisi nyawa dirinya dan mamanya pada saat itu, Ara hanya terkejut sambil terus mendengarkan cerita Marisa
Hal yang tidak terduga pun terjadi di saat mereka sedang asik berbincang, karena tiba-tiba saja Dion berada di antara mereka
"Boleh gabung ga?" menatap ke arah arah Ara dan Caca secara bergantian sambil tersenyum
"Kok ada di sini kak?"
"Ya aku abis ketemu orang tadi dari jauh kebetulan liat kalian"
"Gabung aja kak, kamu tau ga ingat dia ga kak?" menunjuk ke arah Caca
Tanpa rasa malu sama sekali Dion meletakkan tangannya di ujung kepala Marisa sambil tersenyum hangat, dan Marisa pun langsung memberikan kode agar Ara tidak mengatakan tentang dirinya
"Marisa Kharisma Putri" dengan lembut
Caca pun langsung tersipu malu sedangkan Ara hanya bisa terdiam melihat sikap Dion yang seperti itu
__ADS_1
"Kak Dion selalu bersikap begitu ke aku dulu, apa kak Caca udah berhasil masuk ke hati kak Dion?"
Dion pun mendudukkan dirinya tepat di samping Caca, tetapi Caca yang merasa canggung saat bertemu Dion pun segera bangkit dari duduknya. Dengan cepat Dion langsung memegang tangan Caca
"Mau ke mana? aku udah bilang jangan bersikap begini kalau kita ketemu" menatap dengan serius
"Aku mau ke kamar kecil kak"
"Kamu harus balik lagi ke sini" dengan tegas
"Iya kak"
Caca pun segera melarikan diri dari sana karena dia harus mengatur detak jantung nya yang berdetak sangat cepat saat Dion berada di sampingnya
"Tadi kamu bilang apa Ara? apa kita kenal dia?"
"Berarti kak Dion ga ingat ya? pantas aja tadi langsung main mata"
"Itu loh kak waktu kejadian aku ketemu Nana sama mama di mall"
"Iya itu dia"
Ara dan Dion berbincang seadanya tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua, lalu tiba-tiba saja orang tersebut mengambil foto mereka berdua secara diam-diam. Sedangkan di dalam kamar Caca terus berusaha mengatur nafasnya agar detak jantung nya bisa dia kendalikan
"Bisa gila aku kalau begini terus, kenapa harus ketemu sama kak Dion di sini sih? aku udah sengaja keluar dari apartemen pas pagi buta supaya ga berpapasan sama kak Dion"
Ternyata foto yang Ara dan Dion yang di ambil secara diam-diam di kirimkan ke Adit, Adit yang menerima foto tersebut bukannya marah karena rasa cemburu tetapi dia merasa marah karena sudah mulai ada orang yang berniat untuk menghancurkan rumah tangga yang baru dia bina. Adit pun langsung menghubungi Ara
"Ya sayang"
"Ada Dion ya di sana?"
"Kok kamu tau sayang? apa pengawal kamu laporan ke kamu?"
"Sebaiknya aku tanya dulu kepastian nya, aku ga mau Ara jadi marah karena aku tuduh dia yang aneh-aneh"
"Ya sayang, Marisa kemana?"
"Lagi ke kamar mandi sayang"
"Apa aku perlu ke sana? supaya ada teman kamu"
"Ga perlu sayang, sebentar lagi aku udah mau pulang kok"
"Oh.. Ya udah hati-hati nanti pulangnya ya sayang"
__ADS_1
"Ya"
Adit pun segera memerintahkan para pengawal yang mengikuti Ara untuk mencari tau tentang orang yang mengirimkan gambar Ara dan Dion kepada dirinya, tetapi ternyata orang tersebut sudah tak berada di sana. Dan saat memeriksa rekaman cctv hanya terlihat bahwa itu adalah seorang pria dan wajah orang tersebut terlihat tidak terlalu jelas