Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Luka Yang Dalam


__ADS_3

Ara merasa bingung karena Adit dan mamanya berada cukup lama di dalam ruang kerja Adit, karena mamanya Adit terus mendesak Adit agar mencoba untuk memberitahukan kebenaran tentang malam itu. Hingga akhirnya Adit pun mengatakan apa yang pernah Ara ucapkan


Penjelasan dari Adit membuat mamanya terpaksa mengalah, tetapi dia juga meminta secepat mungkin Adit mempertemukan dirinya dengan cucu pertama keluarga Mahardika. Dan Adit pun terpaksa menyetujui syarat yang di ajukan oleh mamanya, dan mereka pun segera keluar dari ruangan tersebut


"Aduh maaf kamu menunggu lama ya" tersenyum ramah


"Enggak bu"


"Kok masih panggil saya ibu sih?" memasang wajah bersedih


"Maaf bu karena saya rasa kurang sopan kalau saya memanggil orang tua dari atasan saya dengan panggilan tante" tersenyum canggung


"Tapi tante selama ini ga pernah punya anak perempuan, boleh kan kalau tante ingin lebih dekat sama kamu?"


"Aduh gimana ini? kalau aku jawab iya nanti terdengar kurang sopan, tapi kalau aku tolak takutnya mamanya pak Adit jadi tersinggung"


"Kamu keberatan ya? apa karena tante sudah tua jadi kamu ga mau lebih dekat sama tante?"


Mamanya Adit mengeluarkan jurus andalan yang selalu dia gunakan untuk suami dan anaknya selama ini, dan sudah pasti seorang Ara pun menjadi tak berdaya di buat oleh mamanya Adit


"Ga gitu kok bu, saya senang bisa kenal sama ibu"


"Kamu ga bohong?"


"Ga bu"


"Kalau gitu kamu pilih aja mau panggil tante atau mama?"


Ara mencoba meminta bantuan dengan melirik ke arah Adit, tetapi Adit menjawab dengan mengangkat bahu seolah dia mengatakan dia tak dapat berbuat apapun. Karena dia ingin mulai membawa Ara secara perlahan masuk ke dalam kehidupannya


"Gimana kalau saya panggil tante aja"


"Boleh kok sayang" tersenyum


"Wih.. Ga salah nih? cepat sekali ekspresi wajah mamanya pak Adit berubah. Kenapa aku ngerasa kayak ada yang salah ya?"


Adit pun tersenyum puas melihat mamanya berhasil menaklukkan Ara


"Udah dulu ya mah, kita udah kesiangan nih"


"Oke, kalian hati-hati di jalan ya. Oh ya siapa tadi nama kamu sayang?"

__ADS_1


"Mutiara tante, tante bisa panggil aku Ara"


"Kapan-kapan kamu main ke rumah tante ya"


"Iya tante nanti kalau ada waktu aku mampir ke rumah tante" tersenyum


"Kamu harus janji ya sayang"


"Dan saya harap saat itu kamu bisa mempertemukan saya dengan cucu pertama saya"


Di sepanjang perjalanan ke arah kantor Ara terlihat banyak terdiam dan sesekali menghela napas, Adit pun akhirnya tersadar akan sikap Ara yang menjadi lebih pendiam bahkan terkesan memasang wajah sedikit bersedih


"Kamu kenapa?"


"Saya ga apa kok pak" tersenyum


Adit langsung menepikan mobilnya dan menatap serius ke arah Ara


"Kenapa dari tadi kamu diam terus? apa kamu merasa terbebani karena kenal mama aku?"


"Bukan begitu pak" menjawab dengan cepat


"Jangan bilang kalau saat ini kamu lagi mikirin Dion"


"Saya hanya terkadang merasa iri melihat orang tua yang sangat perhatian ke anaknya pak" tersenyum getir


"Dari data yang di kumpulkan Arman mama dia meninggal saat melahirkan Ara, tapi kan dia masih punya papa. Apa papanya selama ini ga perhatian ke dia?"


"Kalau begitu mulai sekarang kamu bisa anggap mama aku sebagai mama kamu juga" tersenyum hangat


"Tapi pak"


"Aku ga mau dengar ada hal yang membuat kamu iri dengan orang lain, karena mulai sekarang kamu harus dapat semua yang terbaik"


"Kita sudah ga di bawah pengaruh alkohol, apa sebaiknya saat ini aku perjelas semuanya ke pak Adit ya?"


"Tolong pak jangan selalu menggunakan kata-kata manis ke saya"


Tiba-tiba saja Ara mulai menggunakan bahasa yang lebih formal terhadap Adit dan Adit mulai menunjukkan rasa kurang suka


"Kenapa?" mengerutkan keningnya

__ADS_1


"Karena saya pernah menaruh harapan yang tinggi kepada seseorang, dan apa yang saya dapat? hanya luka yang dalam. Saat ini saya ga boleh merasakan hal seperti itu lagi, karena ada Daffa yang masih membutuhkan saya"


"Karena saya merasa belakang ini sikap bapak ke saya sedikit berlebihan, saya rasa kemarin karena kita sama-sama di bawah pengaruh alkohol saja. Tapi sekarang kita dalam keadaan sadar pak"


"Yang minum alkohol kemarin itu kamu, saya sama sekali ga menyentuh alkohol. Saya ada di sana cuma untuk bawa kamu pergi"


"Jadi maksud kamu?" memasang wajah serius


"Kita sudah sama-sama dewasa pak, saya rasa hal yang terjadi kemarin bukan hal yang luar biasa. Jadi sebaiknya kita mulai bersikap profesional pak"


"Bagi kamu mencium bibir laki-laki lain itu hal yang wajar ya? sampai saat ini cuma kamu yang pernah menyentuh bibir saya. Dan cuma kamu yang pernah menghabiskan malam dengan saya"


"Oke kalau kamu begitu"


Tanpa banyak bicara Adit langsung melanjutkan perjalanan ke arah kantor dengan diam seribu bahasa


"Mungkin ini yang terbaik, setelah melihat semuanya ga mungkin orang seperti pak Adit bisa berdampingan dengan aku yang seperti ini. Ga mungkin keluarga pak Adit bisa terima Daffa di antara mereka"


Sepanjang hari Adit terus berusaha menghindari Ara dan saat terpaksa harus berhadapan Adit berusaha menahan diri, jauh di dalam lubuk hati Adit sudah berteriak untuk menarik Ara jatuh ke dalam pelukannya dan tak akan melepaskan untuk selamanya. Tetapi kata-kata Ara terus terngiang di telinganya, sikap Adit benar-benar berubah menjadi sosok yang dingin terhadap Ara


Seharian penuh Adit tak bisa konsentrasi dalam bekerja karena seluruh pikirannya hanya di penuhi oleh kata-kata dari Ara


"Dia bilang hal biasa!! dia pikir aku ini laki-laki kurang kerjaan apa? yang harus datang ke tempat itu cuma untuk bawa dia pergi dari sana, mana harus lewat pintu belakang supaya Dion ga lihat. Benar-benar ga punya perasaan"


"Apa iya dia ga punya perasaan sedikit pun ke aku? dengan semua yang sudah aku tunjukkan ke dia apa hati dia ga tersentuh sama sekali? apa aku paksa aja dia untuk langsung jadi istri aku ya? tapi kalau nanti malah menjauh aku lagi yang susah"


Adit pun mulai merasa frustasi akan ucapan Ara dan tiba-tuba saja suara ponselnya menyadarkan dirinya dari lamunan nya


"Ngapain sih nih orang? atau aku gunakan aja perempuan ini untuk memastikan hati Ara ke aku, kalau dia menaruh perasaan ke aku walaupun cuma sedikit aku pasti akan perjuangankan kamu mati-matian"


"Halo..."


"Kak Adit, lagi di mana kak?"


"Lagi di kantor kenapa Del?"


"Ada galeri lukisan teman aku yang baru buka kak, temenin aku ke sana ya"


"Oke kamu ke sini aja, nanti kita jalan bareng ke sana"


"Oke kak, aku jalan ke kantor Adit sekarang ya"

__ADS_1


__ADS_2