Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Berusaha Sekuat Tenaga


__ADS_3

Acara yang di adakah oleh Adit dan Ara di katakan sebagai acara pernikahan termewah di kota itu dan acara tersebut berjalan dengan sangat lancar, setelah acara tersebut berakhir Adit pun langsung membawa istri dan anaknya ke rumah yang telah dia sediakan untuk mereka berdua


Daffa yang sudah lelah dengan rangkaian acara pernikahan kedua orang tuanya sudah tertidur dengan pulas saat tiba di rumah mewah tersebut, Adit pun dengan sangat hati-hati membawa Daffa ke dalam kamarnya dan membaringkan Daffa dengan sangat pelan agar dia tidak terbangun


"Tidur yang nyenyak ya nak, mulai sekarang papa akan selalu ada di samping kamu selamanya. Papa akan berusaha sebaik mungkin membayar waktu kita yang sudah terbuang"


Adit pun mencium kening Daffa dengan sangat lembut setelah merapikan selimut Daffa dia pun keluar dari kamar Daffa, Adit melangkahkan kakinya menuju ke kamar utama di mana sang istri sudah menunggu dirinya. Entah mengapa saat itu detak jantung Adit berdetak dengan sangat cepat, Adit bahkan sempat berhenti saat akan membuka pintu untuk mengatur nafasnya sejenak


"Ya ampun apa-apaan sih ini semua? kenapa rasanya lebih menegangkan dari pada memperebutkan sebuah proyek besar? ayo Adit kamu kamu harus tenang jangan buat istri kamu menunggu lama"


Setelah mengumpulkan semua keberanian yang dia punya Adit pun mulai membuka pintu kamarnya dan mengunci pintu tersebut, ternyata saat itu Ara sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Adit pun mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang dan kini pikirannya sudah terbang ke mana-mana


"Ya ampun nanti gw harus gimana? gw belum pernah sekali pun lakuin itu secara sadar waktu itu kan karena ulah Remon, masa gw harus minta Remon kasih gw obat yang waktu itu supaya Ara ga kecewa sama gw"


Pikiran Adit pun sudah traveling ke mana-mana tanpa dia sadari ternyata Ara sudah keluar dari dalam kamar mandi dan sudah berada tak jauh dari dirinya


"Kamu ga mandi kak?"


Adit yang terkejut tiba-tiba saja langsung bangkit dari duduknya


"Aku pasti berusaha sekuat tenaga!!" dengan suara yang sedikit keras


Ara hanya bisa membulatkan ke dua bola matanya dengan sempurna mendengar ucapan Adit, sedangkan Adit yang sudah tersadar pun menjadi malu bukan main


"Aku bilang kamu ga mandi ga kak?"


Ara berusaha menahan tawanya melihat sikap Adit yang sedang malu


"Oh ya itu, aku mandi dulu"


Tanpa menunda waktu Adit pun segera melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi


"Yang bersih ya kak, aku tunggu di sini dengan sekuat tenaga"


Ara pun tak bisa lagi menahan tawanya dia pun tertawa dengan lepas, sedangkan Adit hanya melirik malas ke arah Ara dan segera melarikan diri ke dalam kamar mandi. Selama di dalam kamar mandi Adit terus saja teringat akan kebodohan yang baru saja dia lakukan


"Ya ampun Dit lu itu seorang Raditya Mahardika, bahkan hampir semua orang akan malas berhadapan sama lu. Ternyata lu di permalukan sama kebodohan lu sendiri di depan istri lu"

__ADS_1


Cukup lama Adit berada di dalam sana sambil terus mengumpat dirinya sendiri, setelah merasa cukup Adit pun keluar dari dalam kamar mandi dan mengenakan pakaian rumah yang biasa dia pakai. Dia mulai melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Ara, dan saat itu Adit melihat Ara sudah memejamkan kedua bola matanya


"Habis meledek sekarang malah tidur, pasti kamu capek ya seharian ini. Selamat istirahat istri aku"


Adit pun mencium dengan lembut kening Ara lalu mulai merebahkan tubuhnya dengan benar di samping Ara, baru saja Adit akan memejamkan kedua bola matanya tiba-tiba saja Ara pun berbisik di telinga Adit


"Kamu mau tidur ya kak? katanya mau berusaha sekuat tenaga"


Sontak saja Adit langsung membuka kembali ke dua bola matanya dan langsung menatap ke arah Ara


"Aku kira kamu udah tidur"


Ara pun hanya menjawab dengan senyuman hangat


"Aku sebenernya aku..."


"Kenapa kak?"


Adit pun memutar tubuhnya menghadap ke arah Ara dengan wajah tegang


"Terima kasih ya kak" tersenyum


"Aku benar-benar takut kalau akhirnya aku ga tau apa yang kamu mau"


Ara pun membuang nafasnya dengan kasar dan memeluk tubuh laki-laki yang kini telah sah menjadi suaminya tersebut, Ara pun mengangkat wajahnya agar ke dua mata mereka saling bertemu


"Aku juga sama kak, tapi sekarang aku udah sah jadi istri kamu. Jadi kita bisa lakukan itu secara perlahan" tersenyum


Senyuman dan pelukan Ara membuat Adit mempunyai keberanian untuk memulai itu semua, Adit pun mulai mencium bibir Ara dengan lembut. Ciuman semakin lama menjadi semakin panas dan akhirnya Adit pun berhasil melakukan tugasnya sebagai seorang suami, Adit menarik tubuh polos istrinya ke dalam pelukannya lalu mencium ujung kepala Ara


"Terima kasih"


Ara hanya bisa tersenyum sambil membenamkan wajahnya ke dada bidang Adit


"Aku ga pernah sangka kalau laki-laki di malam itu sekarang sudah menjadi suami aku yang sah"


Sedangkan di tempat yang berbeda ada Remon dan Dion yang sedang menghabiskan malam mereka dengan minum minuman keras seperti biasanya, tetapi ada hal yang sedikit berbeda terjadi pada malam itu. Karena malam itu Remon tak tertarik untuk memanggil seorang wanita menemani dirinya seperti biasanya

__ADS_1


"Tumben lu ga panggil cewek?"


"Ga buat malam ini"


"Remon keliatan agak aneh, tapi ya udah lah kalau dia mau pasti dia akan cerita"


Tiba-tiba saja mata Remon tertuju kepada seorang pria muda yang cukup tampan dan pria tersebut adalah Dirga, pria yang di ajak Vira sebagai pasangannya saat menghadiri pernikahan Adit dan Dion. Saat itu Dirga terlihat sedang bermesraan dengan seorang wanita


"Di sini aja lu bergaya sok oke giliran di depan cewek lu berlagak sok manis, gimana ya perasaan cewek galak itu kalau liat dia di sini?"


"Woi.."


Remon pun tersenyum sambil menatap ke arah Dion


"Liat apa sih lu?"


"Dion kan tadi sempat tegur cewek galak itu berarti dia kenal dong"


"Yang tadi duduk di meja samping kita siapa?"


"Keluarga Vira, orang yang urus Ara selama dia keluar dari rumah papanya"


"Akh ga mungkin juga gw ikut campur urusan pribadi orang lain, biar aja toh juga cewek itu ga ada hubungan apapun sama gw"


"Kenapa lu tanya?"


"Itu" menunjuk ke arah Dirga


"Itu kan..."


"Cowok yang tadi di sana"


"Ya ampun Vira itu anak baik, kenapa bisa berhubungan sama cowok kayak dia?"


Remon paham betul apa yang ada di dalam pikiran Dion saat itu dia pun langsung menepuk pundak Dion


"Jangan terlalu ikut campur urusan orang lain, kalau lu bilang ke perempuan itu pun belum tentu dia percaya"

__ADS_1


__ADS_2