Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Memperjelas Yang Ada


__ADS_3

Ara hanya membuang napasnya dengan kasar melihat sikap Adit yang terlihat aneh bagi dirinya, dia pun memilih untuk mengabaikan Adit dan membuka pintu belakang mobil Adit


"Biar aku aja yang gendong Daffa"


"Ga perlu pak, biar saya.."


Adit tak mau menunggu persetujuan dari Ara terlebih dahulu dia langsung mengangkat tubuh Daffa dengan sangat hati-hati agar anak tersebut tidak terbangun dari tidurnya


"Ayo jalan, tunjukkan di mana kamar kalian" dengan suara pelan


Ara pun mulai masuk ke dalam kediaman Vira dan menunjukkan di mana letak kamar mereka, semua orang yang ada di dalam rumah hanya bisa terkejut melihat seorang Raditya Mahardika menggendong Daffa. Adit meletakkan tubuh Daffa di atas tempat tidur secara perlahan dan menyelimuti tubuh Daffa


"Tidur dengan tenang ya sayang, papa janji papa akan berusaha memenangkan hati mama kamu. Papa yakin suatu saat nanti kita akan berkumpul bersama sebagai keluarga yang utuh"


"Terima kasih pak"


Adit hanya membalas dengan senyuman dan tiba-tiba ke dua bola mata Adit tertuju kepada beberapa kotak dan paper bag yang masih tersusun rapi dan terlihat belum di buka


"Kenapa masih di sana? kenapa ga kamu susun di lemari? itu semua pakaian dan sepatu untuk kamu dan anak kamu"


"Sebaiknya kita bicara di luar pak, Fafa kalau sudah terbangun akan susah buat tidur lagi"


Adit pun mengikuti keinginan Ara dan kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil Adit, mereka berdua memang berencana untuk memperjelas semua yang ada di antara mereka berdua


"Saya berencana mengembalikan itu semua ke bapak"


Ara mengambil inisiatif untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu


"Kenapa?"


"Saya rasa ga perlu bapak memberikan itu semua ke saya dan anak saya" dengan tegas


"Alasannya?" menatap dengan serius


"Karena saya ga mau seperti perempuan yang bodoh dan ga punya harga diri pak, yang tersisa di diri saya saat ini hanya harga diri"


"Saya minta maaf kalau perbuatan saya menginjak harga diri kamu, saya cuma mau kalian berdua mendapatkan yang terbaik"

__ADS_1


"Saya masih bisa bertanggung jawab dengan semua keperluan anak saya pak, jadi ga perlu merepotkan bapak"


"Anak kita"


"Kenapa bapak selalu bilang Daffa anak kita? Daffa itu anak saya!! bapak juga tau kenapa Daffa bisa ada di dunia ini kan!!" Ara mulai menaikkan volume suaranya dan berkaca-kaca


Entah dari mana datangnya keberanian Ara pada saat itu, yang pasti Ara hanya ingin meluapkan segala sesak yang sedang dia rasakan di dalam hatinya


"Saya tau karena saya laki-laki di malam itu"


"Apa masalahnya? saya memang anggap Daffa seperti anak saya sendiri"


"Bapak ga bisa berbuat sesuka hati bapak ke saya!! bapak ucapkan kata-kata indah lalu bapak melakukan hal yang berbeda di depan saya, saya juga punya perasaan pak"


"Apa karena perempuan yang tadi ada di kantor? kamu pikir semua ucapan saya ke kamu bohong"


"Apa bapak masih berharap saya bisa percaya percaya semua ucapan bapak?" menatap tajam


"Kamu harus percaya dengan semua ucapan yang pernah saya katakan"


Cukup lama juga mereka berdua hanya saling terdiam dan menatap jauh ke arah depan, dan Adit pun menyadari kesalahan yang telah dia perbuat


"Saya minta maaf untuk kejadian tadi siang, saya sengaja lakukan itu cuma mau tau perasaan kamu ke saya. Saya benar-benar ga ada tujuan lain"


Ara pun membuang napasnya dengan kasar dan menatap jauh ke arah depan


"Saya cuma takut pak, saya takut untuk menaruh harapan yang terlalu tinggi kepada seseorang. Karena saya ga mau merasakan kecewa untuk kedua kalinya"


"Bodoh banget sih lu Dit, lu pikir dia minta lu menjauh karena dia ga ada perasaan sama lu. Lu lupa kalau dia sudah terlalu banyak menderita, dia cuma takut untuk mulai membuka hatinya dan merasakan luka yang sama"


"Saya juga yakin dengan keadaan saya saat ini, orang seperti pak Adit dan keluarga pak Adit akan sulit untuk menerima saya dan Daffa" lirih sambil menundukkan kepalanya


Ingin sekali rasanya Adit berteriak di hadapan Ara untuk memberitahukan semua kebenarannya, tetapi dia yakin bila dia melakukan hal tersebut Ara akan langsung menjauh dari dirinya. Akhirnya Adit pun memegangi pipi Ara agar kedua mata mereka dapat saling bertemu


"Saya mungkin ga akan pernah tau sesakit apa perasaan kamu dulu? saya juga ga tau sesulit apa perjalanan hidup kamu selama ini? yang saya tau saya Adit buka Dion, saya ga akan pernah meninggalkan kamu dan Daffa dengan alasan apapun" penuh keyakinan


"Apa boleh sekali lagi aku menaruh harapan kepada seseorang? apa boleh saya menyenderkan kepala saya di bahu seseorang?"

__ADS_1


Air mata Ara terjatuh dengan sendirinya, entah mengapa hatinya benar-benar merasa tersentuh dengan kata-kata penuh keyakinan yang Adit ucapkan. Dan melihat Ara yang mulai meneteskan air mata Adit langsung menarik wajah Ara jatuh ke dalam pelukannya


"Tolong kasih saya kesempatan untuk buktikan semua ucapan saya, saya janji saya akan jadi pelindung bagi kamu dan anak kita selamanya" dengan lembut


Ara pun menangis di dalam pelukan hangat seorang Raditya Mahardika, sedangkan Adit tak melepaskan pelukannya sama sekali hingga Ara mulai terlihat tenang


"Satu kali aku ijinkan kamu menangis, tapi tolong jangan pernah menangis lagi di kemudian hari. Karena aku ga akan bisa ijinkan hal itu terjadi lagi"


Saat Ara mulai tenang Adit pun melepaskan pelukannya dan memberikan Ara air mineral yang berada di dalam mobilnya


"Minum dulu"


Ara mengambil botol minuman tersebut dan mulai meminum minuman tersebut, Ara juga berusaha napasnya agar lebih tenang


"Maaf pak"


Adit meletakkan tangannya dengan lembut di ujung kepala Ara


"Saya yang harusnya ucapkan kata itu, karena saya yang salah sama kamu"


Ara hanya bisa menundukkan kepalanya sambil tersipu


"Apa mulai sekarang saya boleh berpikir kalau kamu sudah menerima saya?"


"Tapi apa saya ga akan menimbulkan masalah untuk bapak?"


"Masalah apa?" mengerutkan keningnya


"Masa lalu saya dan Daffa"


"Saya ga mau perduli dengan pandangan orang lain"


"Tapi apa keluarga bapak bisa terima Daffa?"


"Apa kamu ga lihat kalau mama saya lebih perhatian ke Daffa dari pada saya yang anak kandung dia?" tersenyum


"Lagi pula kamu harus ingat satu hal, saya sudah anggap Daffa seperti anak saya sendiri dan sampai kapan pun Daffa akan selalu menjadi anak saya. Jadi saya ga mau perduli dengan pandangan orang lain, saya cuma mau perduli dengan perasaan kalian berdua" penuh keyakinan

__ADS_1


__ADS_2