Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Menempati Hati Kamu


__ADS_3

"Kalian berdua benar-benar keterlaluan, yang satu sudah punya suami yang sempurna yang satu lagi masih aja memberikan senyuman seperti itu. Aku akan balas kalian berdua" melemparkan ponselnya ke sembarang arah


Ternyata orang yang memberikan foto kepada Adit adalah orang suruh Nana, selain memberikan foto tersebut kepada Adit orang itu juga mengirimkan kepada Nana. Nana segera bangkit dan berganti pakaian lalu pergi dari kediaman keluarga Sanjaya


Sedangkan di tempat yang berbeda Dion baru saja tiba di depan kantor milik Caca, dia pun memarkirkan mobilnya lali menatap serius ke arah Caca


"Kenapa kak?"


"Ingat semua omongan aku tadi"


"Ya kak" memutar bola matanya


Dion langsung memegang kedua pipi Caca


"Di omongin kok gitu?"


"Apa sih kak?"


"Jangan pernah menghindar lagi dari aku, setiap ada kesempatan kita harus ketemu dengan cara itu kita bisa saling suka"


"Kamu aja kak, aku ga perlu lakuin itu" menepis tangan Dion


"Kenapa?" menatap tajam


"Ya kamu aja yang harus tumbuhkan rasa suka ke aku, kalau aku sih..."


"Kenapa?" tersenyum


Caca baru menyadari kata-kata yang hampir terlepas dari bibirnya


"Kok diam?"


"Ya aku kan perempuan aku ga perlu lakuin itu" menaikkan sedikit volume suaranya dengan wajah yang tersipu


"Apa kamu udah suka sama aku duluan? apa itu alasan kamu ga menolak aku malam itu?"


Dion meletakkan tangannya di ujung kepala Caca dengan lembut


"Ya udah biar rasa suka aku semakin besar sama kamu, jadi setiap ada kesempatan kita harus saling ketemu ya"


Caca hanya bisa terdiam dengan wajah yang entah sudah semerah apa pada saat itu, Dion pun mencium ujung kepala Caca dengan lembut lalu menatap dia dengan senyuman terbaik yang dia punya


"Terima kasih"


"Buat apa kak?"


"Terima kasih karena kamu perempuan malam itu dan terima kasih karena kamu udah kasih aku kesempatan"


"Aku ga ada bilang kalau aku kasih kamu kesempatan loh kak" mengerutkan keningnya


Dion pun hanya terdiam sambil tersenyum


"Dengan kamu ga menolak semua perlakuan aku aja itu udah menunjukkan semuanya, dan bibir kamu mungkin bisa bilang begitu tapi mata kamu ga akan bisa bohong"


"Ya udah kamu masuk dulu, aku juga mau balik ke kantor"

__ADS_1


"Dari tadi juga aku mau masuk, kak Dion aja yang ajak aku ngomong terus" memasang wajah cemberut


Entah mengapa Dion menjadi tak kuat melihat sikap Caca yang sangat menggemaskan, dan dia pun langsung menarik kembali tangan Caca lalu mencium kening Caca


"Jangan marah-marah nanti cantik kamu hilang" tersenyum


"Akh bisa gila aku lama-lama aku kalau begini"


"Aku turun ya kak"


"Nanti pulang kantor aku jemput ya"


Caca pun membuang nafasnya dengan kasar


"Terserah kak Dion aja"


Caca mulai menurunkan kakinya dan tiba-tiba saja Dion menurunkan kaca jendela mobilnya


"Selamat bekerja pacar aku" tersenyum


Caca benar-benar tak bisa berkata-kata di buat oleh Dion, serangan bertubi-tubi yang Dion berikan benar-benar membuat detak jantung nya terus saja berdetak dengan sangat cepat. Tanpa menjawab apapun Caca langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung tersebut, sedangkan Dion hanya bisa tersenyum sambil terus menatap ke arah punggung Caca


"Aku ga sangka aku bisa ngerasain perasaan kayak gini ke perempuan lain, aku kira hati aku selamanya akan terpaku ke Ara seorang"


Dion pun kembali ke kantornya dan kini di dalam hatinya sedang tumbuh sebuah perasaan yang dulu hanya untuk Ara seorang, sedangkan Ara yang baru saja tiba di kediamannya sedikit terkejut karena Nana sudah berada di sana tanpa mengabari dirinya terlebih dahulu


"Kok ga bilang kalau mau datang?"


"Ya kak kebetulan tadi lagi di jalan, ya jadi aku sekalian mampir aja"


"Baru sampai kak" tersenyum


"Aku ke kamar dulu ya sebentar"


"Ya kak"


Ara pun meninggalkan Nana seorang diri di ruang tamu, dia segera masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian rumah. Lalu kembali ke ruang tamu untuk menemani Nana, sedangkan Daffa begitu melihat Ara sudah kembali memilih untuk keluar dari kamarnya dan menemani Ara bertemu Nana


Nana terus berada di sana hingga Adit kembali dari kantor dan dia pun selalu menampilkan senyuman terbaik yang dia miliki di hadapan Adit, Adit benar-benar sudah merasa curiga akan tingkah laku Nana sedangkan Ara benar-benar tidak menyadari niat terselubung dari Nana. Sedangkan di tempat yang berbeda Dion sedang membawa Caca ke sebuah rumah makan yang cukup ternama untuk makan malam bersama


"Kamu mau pesan apa?"


"Apa aja kak"


"Gimana kalau kamu pesan aku aja?" tersenyum


"Apaan sih? aku ga pernah sangka kalau kak Dion ternyata sikapnya agak ke kanak-kanakan"


Mereka pun menghabiskan makan malam mereka dengan di hiasi beberapa kali Caca menjadi tersipu karena ulah Dion, Dion benar-benar berubah menjadi sosok yang berbeda dengan dia yang biasanya


"Ayo aku antar pulang" mulai bangkit dari duduknya


Dan tiba-tiba saja ponsel Dion pun berdering


"Tumben dia telpon aku"

__ADS_1


"Ya"


"Lagi di mana kak?"


"Lagi makan malam, kenapa Vir?"


"Waktu acara pernikahan Ara kamu duduk di meja sebelah sama siapa ya kak?"


"Yang mana? kan ada dua orang teman aku di sana"


"Yang datang sendiri ga sama perempuan"


"Ngapain dia tanya Remon?"


"Remon"


"Boleh aku minta nomor telpon dia kak?"


"Vira mau ngapain tanya nomor telpon Remon? gimana juga Vira anak baik aku ga mungkin biarin dia dekat sama Remon"


"Kamu ada perlu apa sama dia? lebih baik kamu ga usah berurusan sama orang kayak gitu Vir"


"Waktu itu aku dengar sepintas dia ngomongin tunangan aku kak, jadi aku mau tanya tentang dia"


"Kasian juga sih, kalau aku langsung bilang pasti Vira ga akan percaya lebih baik dia lihat sendiri"


"Oke, aku kirim nomor Remon ke kamu ya"


"Makasih ya kak"


"Oke"


Saat Dion memutuskan sambungan teleponnya dia pun baru menyadari bahwa saat itu Caca sedang menatap serius ke arah dirinya, Caca seolah sedang menunggu Dion menjelaskan siapa yang baru saja menghubungi dirinya


"Vira sayang" tersenyum dengan hangat


"Perempuan ya?"


"Iya" dengan santai


Caca pun hanya menatap malas ke arah Dion dan langsung bangkit dari duduknya lalu mulai melangkahkan kakinya, Dion pun segera ikut bangkit dan menyusul Caca lalu menggenggam tangan Caca


"Jangan cemburu sayang dia itu sahabat nya Ara"


Caca langsung menatap tajam ke arah Dion sambil mengerutkan keningnya


"Aku ga cemburu"


"Padahal aku berharap kamu cemburu ke aku, itu artinya aku udah ada di hati kamu"


Caca berusaha sekuat tenaga menunjukkan senyuman di bibirnya


"Kamu ga usah punya pikiran yang aneh-aneh ya, aku yang sekarang cuma dekat sama kamu seorang" berbisik


"Apa aku boleh berpikir kalau sekarang aku sudah mulai menempati hati kamu kak?" tersenyum

__ADS_1


__ADS_2