Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Parfum Yang Sama


__ADS_3

Hari itu Nana benar-benar mendatangi rumah mewah yang telah di siapkan Adit untuk Ara dan buah hatinya, entah mengapa hati Nana semakin terbakar oleh perasaan cemburu saat melihat keadaan Ara yang terlihat sangat sempurna di matanya


"Kamu bahkan dapat semua yang terbaik kak, kenapa kamu selalu mendapatkan yang lebih baik dari aku? aku ga akan biarin ini semua, maaf kak aku akan rampas semua yang sudah menjadi milik kamu"


Nana mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah tersebut, Ara yang melihat Nana sudah tiba pun menyambut hangat kehadiran Nana di sana. Ara pun langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Nana


"Udah sampai ya? ga susah kan cari alamatnya"


"Ya kak" tersenyum


"Ayo masuk dulu biar aku panggilin Daffa dia ada di kamarnya"


"Ya kak, aku juga hadiah buat ponakan aku" mengangkat sebuah paper bag


Ara membawa Nana ke ruang tamu dan mempersilahkan Nana untuk duduk, Nana pun mendudukkan tubuhnya di atas sofa sedangkan Ara langsung menuju ke arah kamar Daffa


"Sekarang kamu sok baik banget kak, kalau kamu memang punya niat baik harusnya kamu ga pernah kembali ke kota ini. Sekarang karena kamu pulang ke kota ini aku harus menjadi janda tak lama setelah menikah"


Ara pun masuk ke dalam kamar Daffa dan menghampiri anaknya yang sedang membaca buku


"Lagi apa sayang?"


"Aku lagi belajar mah kan sebentar lagi aku udah mau sekolah" tersenyum


"Pintar banget sih anak mama" mengelus rambut Daffa


"Ya mah, aku mau jadi anak pintar biar nanti kalau aku udah besar aku bisa jadi orang hebat kayak papa"


Ara pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah buah hatinya


"Keluar sebentar yuk sayang, ada tante Nana mau ketemu sama kamu. Dia juga bawa hadiah buat kamu"


"Tante Nana berarti orang yang waktu itu dong, aku malas sebenernya ketemu dia. Dia kan udah bikin mama nangis waktu itu"


"Kenapa sih sayang? kok mukanya begitu"

__ADS_1


"Aku di sini aja ya mah"


"Jangan gitu dong sayang, tante Nana itu adik mama kamu loh"


Ara pun mengeluarkan seribu jurus untuk membujuk Daffa dan dengan berat hati akhirnya Daffa pun mengikuti keinginan mamanya, semua itu dia lakukan agar Nana tak menyakiti mamanya lagi. Daffa terus mendampingi mamanya tanpa banyak bicara kepada Nana, sedangkan Ara berusaha mengerti perasaan anaknya


Lain hal di tempat yang berbeda ada Dion yang baru saja melakukan pertemuan dengan seseorang di sebuah restoran yang cukup ternama, saat dia akan keluar dari tempat itu dia pun berpapasan dengan Marisa yang baru saja tiba di tempat itu. Dion menghentikan langkah kakinya saat Viona sudah melewati dirinya


"Wangi parfum ini kenapa familiar ya? gw pernah cium wangi parfum ini di mana ya?"


"Tunggu"


Tanpa sadar Dion langsung memanggil Marisa yang bersikap seolah tak mengenal Dion, dan Marisa pun menghentikan langkah kakinya lalu memutar tubuhnya tepat ke arah Dion


"Kamu ada perlu sama saya?" dengan wajah datar dan nada suara yang dingin


"Kamu penghuni apartemen sebelah kan?"


Marisa hanya terdiam sambil mengerutkan keningnya


"Masa iya cewe ini lupa sama gw? bisa juga sih dia kan waktu itu mabuk berat"


Dion yang merasa Marisa tak mengingat kejadian saat dia dalam keadaan mabuk langsung memutar otaknya agar dirinya tak terlihat aneh


"Ingat kejadian di mall waktu itu?"


"Oh.. Kamu laki-laki waktu itu ya?" menatap tajam


"Ya" tersenyum


"Lalu ada urusan apa dengan saya? kamu ga terima karena sikap saya waktu itu?"


"Bukan, saya cuma mau bilang terima kasih karena waktu itu kamu sudah bantu Ara"


"Ya karena saya memang harus menjaga kak Ara sebisa mungkin"

__ADS_1


"Bukan masalah besar, apa ada masalah lain?"


Dion dapat merasakan bahwa sikap Marisa kurang bersahabat kepada dirinya


"Ga ada kok saya cuma mau bilang itu aja"


"Oke"


"Oh ya kalau boleh tau kamu pakai parfum apa ya?"


"Parfum?" mengerutkan keningnya


"Ya, saya seperti pernah mencium wangi parfum kamu. Makanya saya penasaran kamu pakai parfum apa?"


"Astaga jadi kak Dion ingat wangi parfum aku di malam itu, gimana juga parfum ini parfum yang selalu aku pakai dan ga mungkin banyak orang yang pakai. Gimana kalau kak Dion jadi curiga? tenang ca kamu harus tenang, kamu cukup pergi dari sini aja"


Marisa pun melepaskan senyuman mengejek dan langsung meninggalkan Dion begitu saja, sedangkan Dion merasa sesuatu yang aneh sedang bergejolak di dalam dadanya


"Kenapa dia? gw cuma tanya parfum dia keluaran apa? kenapa harus bersikap begitu. Dasar perempuan aneh"


Marisa terus melangkahkan kakinya dengan pasti tanpa menoleh sedikit pun ke arah Dion, setelah tiba di tempat duduknya Viona teringat kembali akan wajah Dion


"Maaf kak aku harus bersikap seperti itu, aku ga mau kamu merasa bersalah kalau tau tentang malam itu. Gimana juga malam itu aku yang menolak sama sekali, jadi semua itu bukan kesalahan kamu kak"


Sedangkan di rumah mewah yang di sediakan Adit untuk Ara masih ada Nana yang terus berdiam diri di sana, dia berusaha sekuat tenaga tampak baik di hadapan Ara dan Daffa. Ara benar-benar bersyukur bila Nana sudah bisa menerima dirinya sebagai kakaknya, tetapi lain hal dengan Daffa entah mengapa anak kecil itu seperti bisa merasakan bahwa Nana tidak tulus dengan semua yang dia lakukan


Saat Adit menghubungi untuk bertanya apakah mereka sudah makan siang, Daffa pun melaporkan kepada papanya bahwa Nana berada di rumah mereka. Mendengar hal tersebut Adit pun merasa sedikit tidak tenang, dia pun langsung memerintahkan kepala pelayan di rumah mewah tersebut untuk selalu memperhatikan gerak gerik Nana. Walaupun tanpa Adit melakukan itu Nana tidak akan berbuat yang aneh-aneh di rumah mewah tersebut, karena tujuan utama dia hadir di sana adalah untuk merebut semua yang sudah menjadi milik Ara


Sedangkan Dion yang baru saja kembali ke kantornya kembali teringat akan Marisa, dan akhirnya dia pun menyadari bahwa parfum yang Marisa gunakan sama dengan parfum wanita pada malam itu


"Ya aku yakin itu parfum yang sama dengan perempuan itu, tapi apa mungkin itu dia? sikap dia terlalu dingin kalau benar perempuan di malam itu dia"


"Siapapun perempuan di malam itu apa alasan dia pergi setelah kami melakukan itu? sedangkan perempuan normal pasti akan minta pertanggung jawaban"


Dion benar-benar merasakan ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, dia masih ingat dengan jelas sikap Marisa saat berada di mall dan membantu Ara. Saat itu senyuman Viona terlihat sangat tulus

__ADS_1


__ADS_2