
Akan menjadi rutinitas setiap harinya Adit mengantarkan Ara pulang ke kediamannya, dan hari itu sebelum Ara turun dari dalam mobil tangan nya segera di genggam
"Kenapa kak?"
"Besok kan hari libur, boleh ga aku ajak kamu dan Daffa jalan?"
"Apa kak Adit yakin? gimana kalau ada orang yang kenal sama kakak lihat kita lagi jalan bertiga? pasti dia pikir kakak punya hubungan gelap sama aku sampai punya anak" tertawa ringan
"Bagus dong" dengan entengnya
Ara pun menatap Adit dengan tatapan mata yang aneh
"Kalau kamu sudah siap buat jadi istri aku berarti kan Daffa juga akan jadi anak aku, lebih bagus kalau dari awal orang-orang akan pikir Daffa itu anak kandung aku"
"Maaf ya kak" lirih
"Kenapa kamu minta maaf?" mengerutkan keningnya
"Karena masa lalu aku dan sekarang ada Daffa kak Adit harus selalu terbebani"
Adit langsung menarik Ara jatuh ke dalam pelukannya
"Kamu dan Daffa ga punya salah apa-apa, yang harus kamu salahkan laki-laki malam itu dan orang yang membuat kalian menderita selama ini"
Adit mulai melepaskan pelukannya dan menatap Ara dengan serius
"Boleh ya? sekalian aku harus mulai belajar untuk dekat dengan Daffa" tersenyum
Ara pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya
"Ya udah istirahat ya, besok aku jemput kalian"
Ara pun turun dari dalam mobil Adit dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediaman Vira, sedangkan Adit terus menatap punggung Ara hingga dia menghilang dari balik pintu
"Aku akan persiapkan semua yang terbaik untuk kamu dan anak kita"
Adit pun segera menghubungi seseorang setelah melihat sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya
"Halo"
"Selamat malam pak Adit"
"Malam, bagaimana hasilnya?"
"Kami sudah mengumpulkan semua rekaman cctv yang berada di aula hotel dan tempat lainnya, walaupun tidak terlalu jelas tapi sepertinya kami sudah bisa membuat kesimpulan"
"Jelasin" mengeraskan rahangnya
Orang tersebut pun menjelaskan bahwa ada kemungkinan Ara di berikan obat saat di meja mereka, karena dari rekaman cctv terlihat Ara tampak bugar saat tiba di sana dan Ara keluar dari sana hingga di papah oleh ibu tirinya
Orang tersebut juga mengatakan bahwa ibu tirinya Ara sempat memberikan Ara pada seseorang yang dulu pernah di cari oleh Adit, hal tersebut meyakinkan Adit bahwa ibu tiri Ara terlibat pada kejadian malam itu. Semua gerak gerik Nana pada malam itu ikut di awasi, Adit pun yakin bahwa Nana ikut terlibat kasus penjebakan Ara pada malam itu
Tidak ada satu pun video yang mengarah kepada sang kepala kepala keluarga ikut terlibat, tetapi dari penjelasan orang tersebut bahwa sepertinya sang kepala keluarga terlihat tidak khawatir sama sekali. Hal tersebut membuat Adit menjadikan dia salah satu orang yang harus bertanggung jawab atas penderitaan Ara
"Saya akan balas kalian semua!!"
Adit langsung melajukan mobilnya kembali ke apartemennya dan sudah pasti sesampainya di sana dia segera membersihkan diri lalu menghubungi Ara
__ADS_1
"Ya kak"
"Lagi apa?"
"Baru aja nemenin Fafa tidur kak"
"Anak kita udah tidur ya?"
"Baru aja tidur kak"
"Terus kamu terima telpon di mana? kamu bilang dia kalau bangun susah untuk tidur lagi"
"Aku di luar kok kak" tersenyum
"Syukur deh, kamu udah bilang ke dia belum kalau besok aku mau ajak kalian jalan?"
"Udah kak"
"Terus gimana?"
"Apanya kak?"
"Gimana dia mau ga?"
"Ya awalnya dia nolak kak"
"Kenapa?" dengan nada suara yang lemas
"Aku juga kurang tau kak, tapi kayaknya dia kurang suka sama kak Adit"
"Apa kamu tau alasannya dia ga suka sama aku?"
Ara pun tertawa ringan
"Kata dia kamu orang aneh kak"
"Aku?"
"Ya, katanya kalian pernah ketemu di bandara. Dan kak Adit liatin dia kayak orang aneh"
"Astaga"
Ara pun tertawa
"Ya namanya juga anak kecil kak"
"Berarti aku harus berhasil rebut hati dia dong ya, terus gimana cara kamu bujuk dia?"
"Aku terpaksa bohong kak"
"Bohong apa?"
"Aku bilang mamanya kak Adit juga mau ketemu sama dia"
"Terus dia setuju kamu bilang mama mau ketemu sama dia?"
"Ya kak" tersenyum
__ADS_1
"Astaga masa dia setuju di bilang mama mau ketemu sama dia, giliran di bilang jalan sama aku dia ga mau"
"Ya udah kalau gitu nanti aku bilang sama mama"
"Ga perlu kak, jangan ngerepotin mamanya kak Adit"
"Ga lah pasti mama juga senang kalau dia datang"
"Ya udah kalau ga ngerepotin kak"
"Ya udah kamu istirahat ya"
"Ya kak, em...."
Ara tampak ragu untuk melanjutkan ucapan yang sudah ada di ujung lidahnya
"Kamu mau ngomong apa?"
"Ga jadi deh kak"
"Bilang aja"
"Apa malam ini kak Adit mau keluar sama teman-teman kakak itu?"
Adit pun tak bisa menahan tawanya
"Bukan di jawab kok malah ketawa sih?"
"Ya udah kak ga usah di jawab, udah dulu ya aku mau istirahat"
"Ga boleh dong, kan aku belum jawab"
"Ga usah nanti kak Adit ketawa lagi"
"Ya maaf, aku cuma senang aja kamu mulai perhatiin kehidupan aku. Aku juga mau langsung istirahat kok besok kan kita mau jalan, lagi juga buat apa aku kumpul lagi sama mereka? aku kan udah punya tujuan hidup"
"Apa aku bisa percaya semua ucapan laki-laki ini? bukannya orang yang sudah terbiasa lakukan itu susah untuk berhenti ya"
"Kenapa? kamu ga percaya ya?"
"Bukannya ga mau percaya kak, tapi apa bisa orang meninggalkan kebiasaan yang sering dia lakukan begitu aja?"
"Aku ga tau kalau orang lain tapi aku bukan mereka, bagi aku kamu dan Daffa yang terpenting di dalam hidup aku"
"Makasih ya kak"
"Ya udah kita istirahat ya, besok pagi aku jemput kalian. Sebelum jalan kita ziarah ke makam mama kamu dulu"
"Ya kak"
"Selamat beristirahat orang terpenting di dalam hidup aku"
"Malam kak" tersipu
Malam itu kata-kata Adit terus terngiang di dalam hati dan pikiran Ara, Ara benar-benar merasa bahwa kehidupan yang dia jalani ke depannya akan berubah. Karena kini ada seseorang yang bersedia menjadi penerang di jalan hidupnya
Sedangkan di tempat yang berbeda Adit segera menghubungi mamanya untuk memberitahukan bahwa besok Ara dan Daffa akan datang ke sana, sudah pasti mamanya pun sangat antusias menyambut kabar tersebut. Mamanya Adit langsung memberikan perintah untuk menyiapkan segalanya dengan sangat baik, dia juga memerintahkan orangnya untuk menyiapkan beberapa barang untuk hadiah Ara dan cucunya
__ADS_1