
Sedangkan di tempat yang berbeda Nana baru bisa menceritakan tentang percakapan dirinya dengan Dion kepada mamanya, karena saat kejadian itu terjadi mama dan papanya sedang berada di luar kota dan dia tak berani mengatakan hal tersebut melalui telepon
"Kamu serius sayang?" dengan wajah yang tegang
"Kak Dion sendiri yang bilang sama aku mah, kata dia sekarang kak Ara udah balik ke kota ini. Gimana ini mah? kak Dion bilang dia mau cari tau orang yang udah jebak kak Ara malam itu"
"Kamu tenang dulu sayang, kalau kita bisa singkirkan dia satu kali bukan hal yang sulit untuk singkirkan dia ke dua kalinya"
"Tapi aku takut karena ini kak Dion makin menjauh mah, apalagi sampai detik ini kak Dion masih belum kasih aku kejelasan apapun"
"Apa yang kamu takuti?"
Nana dan mama Tania secara bersamaan langsung menoleh ke arah suara tersebut berasal, dan suara tersebut adalah suara sang kepala keluarga. Papa Surya sedang menatap mereka berdua dengan penuh tanda tanya
"Sejak kapan papa ada di sana? aduh papa dengar semua omongan aku sama mama ga ya?"
"Kamu takut apa Nana?" melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka berdua
Mama Tania langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri suaminya
"Kamu salah dengar kali pah, Nana tadi bilang kalau dia mimpi Dion membatalkan pertunangan mereka karena sampai saat ini Dion masih belum ada kejelasan sama sekali"
"Apa iya aku salah dengar?"
Hati kecil papa Surya benar-benar tak ingin percaya dengan penjelasan dari istrinya, tetapi dia lebih memilih untuk diam dan akan mencari tau sendiri
"Ya udah kamu ga usah takut nanti secepatnya papa akan temui Dion dia ga bisa berbuat semaunya, sudah terlalu lama dia menunda pernikahan kalian"
"Aduh kalau papa sampai ketemu sama kak Dion pasti urusannya akan lebih panjang lagi dong"
"Ga usah pah biar aku aja yang ajak kak Dion bicara, kalau papa yang bicara sama dia nanti terkesan kita menekan kak Dion"
"Sikap Nana semakin membuat aku curiga, sebaiknya aku temui Dion tanpa mereka sepengetahuan mereka berdua. Aku harus tau apa yang sebenarnya sudah terjadi?"
__ADS_1
Papa Surya pun menunjukkan sikap setuju agar anak dan istrinya menjadi tenang, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya semakin menaruh rasa curiga terhadap mereka berdua. Dia sangat yakin ada sesuatu yang telah di sembunyikan
Saat pagi menyapa seluruh orang kediaman keluarga Mahardika sudah di buat sibuk oleh sang nyonya besar, nyonya besar rumah itu ingin menyambut kedatangan cucunya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan sang tuan besar hanya bisa tersenyum melihat sang istri yang bersikap seperti itu
Di tempat yang berbeda Adit baru saja tiba di kediaman keluarga besar Vira, Adit pun sudah duduk di ruang tamu dan berhadapan dengan seluruh anggota keluarga tersebut. Dan saat itu Ara serta Daffa sedang bersiap
"Kenapa aku ngerasa kayak lagi di sidang sama keluarga besar ya?"
"Maaf pak Adit sebelumnya, tapi saya harus tanya sesuatu yang sangat serius"
"Silahkan" dengan tenang
"Apa pak Adit serius untuk mendekati Ara? karena bagaimana pun juga kami sudah menganggap Ara dan anaknya bagian dari keluarga kami sendiri"
Adit pun menunjukkan senyuman tipis mendengar ucapan dari Gilang
"Terima kasih atas kebaikan kalian selama ini, terima kasih sudah menggantikan posisi saya untuk menjaga mereka"
"Karena kami tau status pak Adit makanya kami sedikit khawatir, apa pak Adit dan keluarga pak Adit ga akan keberatan dengan status Ara?"
"Saya dan keluarga saya ga akan pernah keberatan dengan status Ara, saya merasa bersyukur karena dia mau menerima saya"
Gilang pun membuang napasnya dengan kasar
"Kalau gitu saya titip Ara dan anaknya pak mereka sudah terlalu banyak menderita, Ara mungkin terlihat kuat tapi saya yakin hati dia pasti rapuh"
"Saya mengerti, saya janji saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga mereka dan membahagiakan mereka berdua"
Ara ternyata mendengar semua ucapan Adit hatinya benar-benar merasa tersentuh mendengar itu semua, seperti ada sebuah hembusan angin segar meniup hatinya yang telah lama mati
"Terima kasih kak, kakak ga tau seberapa hebatnya arti ucapan kakak barusan"
Dan sudah pasti mereka memulai acara jalan mereka dengan mendatangi tempat peristirahatan terakhir mama kandung Ara, mereka bertiga mulai memasuki area pemakaman tersebut dengan posisi Daffa terus menggandeng tangan Ara. Seolah dia ingin menunjukkan kepada Adit bahwa dia tak suka Adit berada di dekat mamanya, dan kini mereka pun sudah berada tepat di hadapan makam mamanya Ara
__ADS_1
"Mah aku datang sama cucu mama"
Cukup lama berada di sana menunggu Ara melepaskan rasa rindu terhadap tempat itu, sedangkan Adit langsung berbicara di dalam hatinya sambil menghadap ke arah makam tersebut
"Bu perkenalkan Raditya Mahardika, saya adalah orang yang bertanggung jawab atas semua kesedihan anak ibu selama ini. Tapi saya janji saya akan menebus segala kesedihan yang sudah dia lalui bu, tolong restui jalan kami bu"
Setelah puas berada di tempat itu mereka pun mulai meninggalkan area pemakaman tersebut, dan Adit hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menahan diri melihat tingkah anaknya yang selalu menjauhkan dirinya dari Ara
Mereka pun pergi ke taman bermain paling terkenal di kota itu, dan saat mereka sedang beristirahat Adit mengirimkan pesan agar Ara meninggalkan mereka berdua. Adit ingin mendekatkan diri dengan buah hatinya
"Kamu ga suka sama om ya?"
Daffa melirik sekilas dengan tatapan mata yang malas
"Kenapa? padahal om sayang banget sama kamu. Om sayang sama kamu seperti darah daging om sendiri"
Daffa pun mulai menatap ke arah Adit
"Aku udah punya papi kok"
"Itu kan papi, tapi kamu ga punya papa kan?" tersenyum
"Aku ga butuh papa, buat aku ada mama aja udah cukup kok" menatap tajam
"Tapi apa kamu ga mau kayak anak lain yang punya keluarga utuh? kan kamu juga harus pikirin mama kamu. Mama kamu juga pasti butuh seseorang buat melindungi dia"
"Fafa kan udah bersikap dewasa supaya Fafa bisa lindungi mama"
"Jadi ini ya alasan kamu ga bersikap seperti anak lainnya"
"Gimana kalau kita bikin kesepakatan?" tersenyum dengan hangat
Daffa pun menatap Adit dengan seksama seperti layaknya dua orang dewasa yang sedang berbicara dengan serius
__ADS_1