Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Sepenuh Hati


__ADS_3

Adit pun langsung terduduk lemas dengan air mata yang terus mengalir dari mata tegas sang penguasa gedung tersebut, melihat keadaan Adit yang sudah seperti itu membuat Ara mulai melangkahkan kakinya ke arah Adit. Ara pun berjongkok tepat di hadapan Adit


"Apa sekarang masih mau pergi dan menghilang kak?"


Tanpa banyak bicara Adit langsung menarik tubuh Ara jatuh ke dalam pelukannya dan memeluk tubuh Ara dengan sangat erat, Ara dapat merasakan tubuh Adit yang bergetar dengan hebatnya dan dia pun dapat merasakan bahwa saat itu Adit sedang menangis karena pundak nya mulai terasa basah


"Gimana aku bisa menolak permintaan kamu yang seperti itu Ara?"


"Aku benar-benar minta maaf sama kamu Ara" dengan suara pelan


Ara pun tersenyum di dalam pelukan Adit dan dia pun mulai membalas pelukan dari Adit


"Kamu itu laki-laki bodoh kak"


Adit pun mulai melepaskan pelukannya sambil menganggukkan kepalanya


"Ya aku memang laki-laki bodoh"


"Apa kamu kira tadi aku mau lompat?"


Adit hanya bisa terdiam sambil menatap jauh ke dalam mata Ara


"Aku cuma berusaha meyakinkan hati aku kak, dan sekarang aku sudah yakin kalau aku benar-benar ada di hati kamu"


"Maaf.. Aku benar-benar minta maaf sama kamu aku ga ada niat sedikit pun untuk bohong ke kamu, aku cuma takut kamu pergi dan menghilang dari aku"


Ara langsung memeluk tubuh Adit dengan erat membuat Adit benar-benar terkejut karena itu adalah pertama kalinya Ara memeluk dirinya terlebih dahulu


"Terima kasih kak aku benar-benar bersyukur karena laki-laki di malam itu adalah kamu, dan sekarang aku benar-benar yakin kamu adalah laki-laki yang baik"


Seharian penuh Adit tak mau mengizinkan Ara keluar dari ruangannya, dia hanya tak ingin merasakan perasaan takut seperti yang tadi sempat dia rasakan. Adit menyadari bahwa Ara benar-benar sudah berhasil menaklukkan hatinya


Saat pulang kantor Adit membawa Ara ke suatu tempat dan tak butuh waktu lama mereka pun sudah tiba di sebuah rumah sangat mewah, Adit segera membukakan pintu mobil untuk Ara


"Ayo"

__ADS_1


Ara pun mengikuti langkah kaki Adit masuk ke dalam rumah tersebut, saat Ara masuk ke dalam rumah mewah itu semuanya masih terlihat kosong karena belum terisi barang apapun


"Ini rumah siapa kak?"


Adit menggengam tangan Ara sambil menatap ke arah Ara


"Kamu suka ga?"


Ara pun hanya bisa terdiam sambil mengerutkan keningnya


"Kenapa?"


"Kamu aneh kak, kenapa tanya ke aku?"


Adit pun tersenyum dengan hangat


"Aku siapin rumah ini untuk keluarga kita nantinya, kalau nanti kita udah nikah aku ga mungkin ajak kamu dan Daffa tinggal di apartemen. Kalau rumah aku jaraknya lumayan jauh ke kantor"


"Tapi apartemen kamu cukup kok kak untuk kita bertiga" dengan polosnya


"Bahkan kamu sudah memikirkan sampai sejauh ini kak"


"Makasih ya kak"


Adit meletakkan tangannya di ujung kepala Ara


"Aku ga mau dengar kata itu dari kamu, karena aku yang harusnya ucapkan itu berulang kali. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan"


Adit sudah membulatkan tekadnya untuk segera menjadikan Ara istrinya yang sah baik di mata hukum maupun agama, Adit ingin memperkenalkan Ara ke seluruh dunia bahwa Ara hanya milik dirinya seorang. Untuk itu semua Adit mempersiapkan sebuah konferensi pers


Sudah pasti pada awalnya Ara menolak keras kemauan Adit tetapi dia pun tak bisa berbuat banyak, karena suatu saat nanti semua orang pun pasti akan mengetahui tentang hubungan mereka berdua dan Daffa. Adit juga meyakinkan Ara bahwa semuanya akan baik-baik saja


Acara tersebut di hadiri oleh banyak para wartawan karena bagaimana pun keluarga Mahardika adalah pengusaha nomor satu di kota itu, semua sudah berkumpul di tempatnya masing-masing. Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan oleh para wartawan, hingga tiba-tiba ada seseorang yang mengajukan pertanyaan yang membuat semua orang menjadi membisu


"Apakah benar bila calon istri pak Raditya adalah seorang ibu tunggal?"

__ADS_1


Serasa jantung Ara akan berhenti berdetak pada saat itu, dia benar-benar tak bisa berkata apapun hanya bisa menundukkan kepalanya


"Ini adalah hal yang paling aku takuti, aku takut kalau sampai ada orang yang akan menyerang Daffa"


Adit pun sadar akan sikap Ara yang berubah total, dia pun mulai menggerakkan tangannya ke bawah meja dan mencari di mana tangan Ara berada. Dia pun menggengam tangan Ara, Ara menatap ke arah Adit dan dia pun melihat Adit yang sedang tersenyum dengan hangat. Seolah dia mengatakan untuk tidak perlu takut karena dia ada di sana


"Perempuan di sebelah saya memang seorang ibu tunggal, tapi kalian semua harus tau kalau anak itu adalah anak pertama dari Raditya Mahardika" sambil terus menatap ke arah Ara


"Maksud pak Adit apa anak itu anak kandung bapak?"


Adit kembali menghadap ke arah para wartawan dengan sangat tenang sambil tersenyum


"Ya dulu karena kebodohan saya akhirnya saya kehilangan seorang bidadari, saat bidadari itu pergi baru saya tersadar kalau saya ga akan bisa hidup dengan baik tanpa dia" penuh keyakinan


Ara pun terus menatap ke arah Adit sambil berkaca-kaca


"Dan sekarang saya berhasil menemukan bidadari itu lagi, apa mungkin saya akan lepaskan tangan bidadari itu? apalagi kesalahan saya di masa lalu sudah menghadirkan seorang anak yang sangat tampan di antara kami berdua"


Pernyataan dari Adit membuat semua para wartawan menjadi riuh, semua langsung saling mengaitkan tentang perubahan sikap Adit yang berubah total dengan tak pernah lagi terdengar berhubungan dengan wanita manapun. Mereka semua berpikir bahwa Ara adalah wanita yang berhasil menaklukkan hati Adit sedari dulu


"Baik satu pertanyaan terakhir"


Sang pembawa acara sudah menentukan untuk memberikan pertanyaan terakhir kepada Adit dan Ara


"Apa pak Adit akan menikahi ibu Ara karena cinta atau hanya karena ada anak antara kalian?"


Adit pun menatap Ara sambil tersenyum, lalu kembali mengarahkan wajahnya ke arah para wartawan


"Saya mencintai Mutiara Sanjaya dengan sepenuh hati, dan masalah anak kami itu bonus yang tak terduga dari kesalahan saya di masa lalu" dengan penuh keyakinan


Semua orang menjadi haru mendengar pengakuan dari seorang Raditya Mahardika tentang perasaannya, lain hal dengan Nana dia yang melihat acara tersebut menjadi marah bukan main. Dia pun mulai melemparkan semua barang yang tampak oleh pandangan nya


"Akh!!"


"Kenapa? kenapa kak Ara selalu dapat semua yang lebih baik dari aku? dia bisa pamer ke seluruh dunia kalau laki-laki itu mencintai dia, sedangkan aku kak Dion bahkan sudah ga mau menerima telepon dari aku"

__ADS_1


__ADS_2