Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Kehamilan Kedua


__ADS_3

Di tempat yang jauh di sana tiba-tiba saja acara liburan keluarga kecil Ara harus segera di hentikan, karena tiba-tiba saja Ara merasa mual setelah mereka makan siang. Wajah Ara pun terlihat sangat pucat dan sudah pasti membuat Adit dan Daffa menjadi khawatir


Adit langsung memerintahkan anak buahnya membawa mereka ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan terhadap Ara, selama perjalanan Adit tak mau melepaskan tangannya dari pinggang Ara sedangkan Daffa selalu menggenggam tangan mamanya


"Sabar ya sayang kita sebentar lagi kita sampai rumah sakit"


"Aku ga apa kok sayang" memaksakan diri untuk tersenyum


"Kamu jangan bilang kalau kamu baik-baik aja, muka kamu pucat banget"


"Kalau aku ga salah hitung berarti harusnya sih bener"


"Tapi aku ga sakit sayang"


"Mama nurut aja yang papa bilang, Fafa ga mau mama sakit"


Ara pun menoleh ke arah buah hatinya yang sedang memasang wajah bersedih, jarang sekali dia bisa melihat buah hatinya menunjukkan ekspresi wajah seperti itu


"Tapi mama memang ga sakit kok sayang, jangan sedih gitu dong mukanya"


Daffa pun langsung memeluk tubuh Ara dengan erat, bagaimana pun juga dia hanyalah seorang anak kecil yang sedang cemas melihat keadaan mamanya. Sedangkan Ara benar-benar bahagia karena merasa di cintai oleh orang-orang di sekitarnya


"Kalau aku ga salah sih mungkin aja sekarang aku lagi hamil sayang" berbisik kepada Adit


"Aku ga perduli dengan apapun, aku cuma mau kamu sehat"


"Ternyata suami aku yang terkenal sebagai orang yang perfect ini memang jadi lola juga kalau lagi panik ya"


Ara pun hanya bisa tersenyum ke arah Adit karena dia yakin apa yang Adit ucapkan hanya karena dia merasa khawatir, tanpa menyadari apa yang baru saja Ara ucapkan

__ADS_1


"Kamu bilang apa sayang barusan?"


Adit seperti mendapatkan kembali kesadarannya dan benar-benar baru mengerti arah ucapan Ara


"Kamu bilang mungkin aja kamu" Adit menggerakkan tangannya di atas perutnya membentuk setengah lingkaran


Ara pun hanya menjawab dengan senyuman dan anggukkan kepalanya, Adit pun langsung memeluk tubuh Ara dengan erat lalu menghujani ujung kepala Ara dengan ciuman


"Kenapa papa keliatan seneng sih? mama kan lagi sakit"


Daffa memasang wajah kesal karena Adit tersenyum bahagia di saat keadaan mamanya sedang seperti itu


"Karena kata mama mungkin aja sebentar lagi kamu bakal punya adik sayang"


Daffa pun langsung memasang wajah datar tanpa mengeluarkan suara apapun


"Kok kamu kayak ga senang sayang gitu sayang?"


Ara mencoba untuk mengerti perasaan buah hatinya, bagaimana pun juga Daffa baru bisa merasakan sebuah keluarga yang utuh dan dia tetaplah hanya seorang anak kecil yang bisa merasakan takut akan kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Ara pun langsung menggenggam tangan Daffa


"Sampai kapan pun yang namanya rasa sayang orang tua sama anaknya ga akan pernah berubah sayang" tersenyum dengan hangat


"Ya mau sampai kapan juga kamu itu jagoan nya papa, kamu yang harus jaga adik dan mama kamu kalau papa lagi ga ada. Jadi ga mungkin kalau papa ga sayang lagi sama kamu?"


"Bener ya mama sama papa tetap harus sayang sama Fafa"


Secara serentak Adit dan Ara menjawab dengan anggukkan kepalanya


"Tapi kamu juga harus janji sama papa kalau kamu harus jadi kakak yang baik buat adik kamu"

__ADS_1


"Fafa janji pah"


Tak berselang lama mereka pun sudah tiba di rumah sakit, dan sudah pasti Ara langsung mendapatkan pelayanan terbaik di tempat itu. Senyuman bahagia pun langsung menghiasi bibir Adit dan Ara saat sang dokter menyatakan benar adanya bahwa kini Ara sedang mengandung


Kabar bahagia tersebut di sambut baik oleh papa Surya dan kedua orang tua Adit, setelah memikirkan matang-matang akhirnya mereka pun sepakat untuk mengakhiri liburan mereka. Mereka pun segera kembali ke kota asal mereka karena keadaan Ara yang sedang kurang baik


Di saat semua orang berbahagia mendengar kabar bahagia dari Ara, lain hal dengan mama Tania yang semakin merasa terpukul melihat keadaan Nana yang semakin frustasi mendengar kabar tersebut. Mama Tania bahkan harus membawa Nana ke salah satu villa mereka agar papa Surya tak merasa curiga akan sikap Nana yang semakin bertingkah aneh


"Aku ga mau mah aku ga bisa terima keadaan ini, kak Ara ga boleh dapatkan semua kebahagiaan itu mah!!" berteriak sambil menangis dengan hebatnya


"Kamu sabar ya sayang, mama janji mama pasti akan memecah belah keluarga Ara" memeluk erat tubuh Nana


"Mama janji sama aku ya mah"


"Mama janji sama kamu sayang, kalau kamu menderita maka Ara juga harus menderita" semakin mengeratkan pelukannya


"Aku akan lakukan apapun untuk anak aku, bahkan jika aku harus mengulang masa lalu aku yang kelam"


Mama Tania pun akhirnya kembali ke kediamannya untuk menghindari kecurigaan suaminya, dia meninggalkan Nana di villa itu dengan beberapa orang pelayan yang harus selalu mengawasi Nana. Dia hanya tak ingin bila anaknya akan melakukan hal yang di luar batas seperti sebelumnya


Di sepanjang perjalanan mama Tania terus memikirkan tentang bagaimana cara melenyapkan kebahagiaan Ara untuk selamanya


"Aku ga mungkin gunakan cara yang sama untuk melenyapkan Ara seperti cara yang aku gunakan dengan perempuan itu, aku harus pikirin semuanya secara teliti karena aku yakin Adit pasti akan semakin menjaga Ara dengan ketat. Apalagi saat ini Ara sedang mengandung anak mereka"


"Tapi cara apapun akan lakukan untuk melenyapkan Ara, dan aku akan buat hidup dia benar-benar menderita sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya. Dia harus merasakan sakit yang Nana rasakan"


Semenjak kehamilan keduanya ini Ara selalu mendapatkan limpahan kasih sayang serta perhatian dari semua orang yang ada di sekitarnya, bahkan mamanya Adit pun hampir setiap hari menyempatkan diri untuk datang ke kediaman mereka untuk membawa berbagai keperluan bagi Ara. Hingga terkadang Ara merasa sampai tak enak hati dengan semua kebaikan mamanya Adit


Selain perhatian dan kasih sayang dari mama nya Adit Ara juga bersyukur karena mama Tania sering menemui dirinya, walaupun tujuan utama dari mama Tania adalah mencari celah dan cara untuk melenyapkan Ara dengan cara yang paling menyakitkan

__ADS_1


Kehamilan kedua Ara ini benar-benar dia rasakan berbeda jauh dengan saat dia mengandung Daffa, Ara benar-benar merasa bersyukur dengan semua yang dia dapatkan pada saat ini. Dia merasa hidupnya benar-benar sempurna, tanpa menyadari bahwa sebuah bahaya sedang mengintai dirinya. Dan sebuah rahasia besar di dalam hidupnya akan segera terungkap


__ADS_2