Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Rencana Besar


__ADS_3

Mamanya Adit mulai mengajak Ara dan Daffa berkeliling meninggalkan wanita aneh tersebut setelah mengucapkan terima kasih, sedangkan sang wanita aneh hanya bisa memandang mereka hingga menghilang


"Ternyata kamu punya hubungan dengan keluarga Mahardika ya, aku harap mereka bisa melindungi kamu dengan baik. Jika mereka tidak bisa menjaga kamu dengan baik saya yang akan menjaga kamu sebagai balasan hutang budi saya"


Sang nyonya besar keluarga Mahardika berusaha melepaskan segala rasa amarahnya di hadapan Ara dan Daffa, dia hanya tak mau waktu yang dia dapatkan dengan cara bersitegang dengan Adit akan terbuang sia-sia


Seharian penuh sang nyonya besar memanjakan Ara dan Daffa hingga Ara merasa tak enak hati, tetapi apa daya mamanya Adit selalu berhasil membuat Ara menerima semua yang dia berikan


Dan di tempat yang berbeda Dion sudah berada di kediaman keluarga Sanjaya, dia berada di mobil yang sama dengan Nana sedangkan mamanya menggunakan mobil yang di bawa oleh supir


"Kamu ga mau mampir dulu kak?"


"Ga usah"


"Kalau gitu aku turun dulu ya kak"


"Tunggu..."


Dion menatap tajam ke arah Nana, dalam sekejap rasa takut langsung menghampiri hatinya. Karena dia tau dengan pasti apa yang akan Dion bicarakan


"Ada apa ya kak?"


"Apa benar yang perempuan tadi katakan?"


"Kan kak Dion jadi marah"


"Kak aku ini calon istri kamu, masa kamu lebih percaya sama orang lain yang kita kenal?"


"Calon istri kamu bilang, saya bersedia menikahi kamu karena ucapan Ara tapi ini balasan yang kamu berikan ke mereka. Seandainya Ara bersedia menerima aku kembali, aku akan anggap anak dia seperti anak aku sendiri"


"Kak..."


"Sebaiknya kamu turun aku masih ada urusan"


Dengan berat hati Nana pun terpaksa turun dari mobil Dion sedangkan Dion segera mengendarai mobilnya pergi dari sana, di tempat yang berbeda setelah puas memanjakan Ara dan Daffa sang nyonya besar mengantarkan mereka kembali ke kediaman keluarga Vira


"Kita pulang ke rumah sekarang bu?"


"Iya"


Sang nyonya besar langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Adit


"Ya mah"


"Kalau kamu ga bisa jaga Ara dan cucu mama dengan baik lebih baik ga usah berencana menikahi Ara" dengan tegas


"Kenapa lagi sih? hari ini aku terpaksa ngalah supaya mama bisa jalan sama mereka. Kenapa sekarang malah marah?"


"Ada apa sih mah?"


"Apa Daffa anak kandung kamu?"

__ADS_1


"Aku kan udah cerita ke mama"


"Apa berarti dia memiliki darah keluarga Mahardika?"


"Ya pasti dong mah, dia anak aku. Sebenarnya ada apa sih mah?"


"Apa kamu tau kalau anak kamu baru saja di permalukan oleh seseorang? dan kamu tau apa yang orang itu bilang?"


"Apa mah?" dengan nada dingin


"Dia bilang kalau Daffa anak haram"


"Keterlaluan!! Daffa cuma anak kecil yang ga tau apa-apa"


"Apa sekarang kamu akan diam aja?"


"Ga mah"


"Kalau kamu ga melakukan sesuatu, mama akan minta papa kamu yang membalas mereka"


"Ga perlu mah, aku pasti akan buat perhitungan"


Adit sedang memikirkan cara terbaik untuk membalas perbuatan orang yang telah menyakiti hati anaknya, dan tiba-tiba saja ponselnya pun berdering ternyata panggilan tersebut berasal dari Dion


"Halo"


"Lu di mana Dit? bisa kita ketemu?"


"Oke gw ke sana sekarang"


Dian pun menceritakan kejadian yang telah menimpa Ara dan Daffa, walaupun tanpa Dion bercerita Adit sudah mengetahui hal tersebut. Dan mereka pun akhirnya membuat kesepakatan di antara mereka berdua


Setelah Dion pergi Adit pun segera meninggalkan apartemennya dan menuju ke kediaman keluarga Vira, Adit menawarkan untuk mengajak Ara dan Daffa ke sebuah taman tak jauh dari sana


Ketika mereka tiba di taman tersebut Adit meminta Ara untuk membelikan minuman bagi mereka semua, Adit hanya butuh waktu sejenak berdua dengan Daffa


"Apa kamu sedih?"


Daffa menjawab dengan menggelengkan kepalanya


"Bagus" Adit meletakkan tangannya di ujung kepala Daffa


"Kamu ga boleh terpengaruh dengan omongan siapapun, karena kamu anak saya"


"Aku tau" dengan entengnya


Jawaban dari Daffa sempat membuat Adit sedikit terkejut, karena dia pikir kalau Daffa benar-benar mengetahui itu semua


"Aku bilang ke mereka aku bukan anak haram, karena aku punya papa namanya papa Adit"


"Kamu bilang saya apa?"

__ADS_1


Daffa seperti langsung tersadar dengan ucapannya


"Om"


"Akh tadi kamu bilang hal yang beda loh"


"Ya maaf aku bilang ke mereka kalau om itu papa aku, kan om juga mau menikah sama mama jadi sebentar lagi kan om juga jadi papa aku" cemberut


"Tapi kamu memang anak saya"


"Mulai sekarang kamu harus belajar panggil saya papa dan bilang ke semua orang kalau kamu itu anak saya" tersenyum


"Tapi om..."


"Apa kamu ga mau jadi saya?"


"Bukan itu om..."


"Berarti ga ada masalah dong?"


"Tapi kan Fafa bukan anak kandung om" menundukkan kepalanya


"Mulai sekarang kamu akan jadi anak pertama saya dan sampai kapan pun juga akan selalu begitu"


"Jadi aku boleh bilang ke orang-orang kalau aku juga punya papa"


"Saya akan marah kalau kamu ga lakuin itu"


Ara yang berada tak jauh dari mereka hanya bisa terdiam dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Seandainya aja kamu laki-laki di malam itu kak pasti kehidupan kami akan jadi lebih baik, kami ga perlu di pandang sebelah mata oleh orang lain"


Ara pun mencoba menguatkan hatinya dan mulai melangkahkan kakinya ke arah mereka berdua


"Minuman datang" tersenyum hangat


Daffa pun asik bermain di taman itu sedangkan Adit dan Ara duduk di salah satu bangku sambil terus memperhatikan Daffa dari kejauhan


"Terima kasih ya kak, ucapan kakak ke Daffa tadi pasti berarti buat dia" tersenyum getir


"Setelah Dion dan adik kamu menikah, kita juga nyusul ya"


Blush wajah Ara pun menjadi merah bak kepiting rebus


"Aku mau perkenalkan kalian berdua dengan bangga ke seluruh dunia, aku ga mau Daffa mengalami hal seperti tadi lagi"


Ara pun menjawab dengan anggukkan kepalanya dan Adit pun tersenyum puas


"Sebentar lagi, sebentar lagi aku bisa cerita semuanya ke kamu. Aku ga akan biarkan ada seorang pun menghina kamu dan Daffa"


Hari demi hari terus berlalu dan rencana besar yang telah Adit siapkan untuk membalas keluarga Sanjaya sudah tersusun dengan rapi, karena sekali ini Adit akan tetap membalas walau Ara tak akan menyetujui bila dia mengetahui hal tersebut. Tetapi Adit sudah mempunyai alasan yang tepat untuk lari dari masalah yang akan dia buat

__ADS_1


__ADS_2