Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Mimpi Buruk


__ADS_3

Adit dan Ara sudah berada di tempat parkir walaupun dengan kepala yang masih terasa berat Adit tetap memperlakukan Ara seperti biasanya. Adit membukakan pintu mobil sebelah kiri untuk Ara


"Aku aja yang bawa mobilnya"


"Aku aja aku bisa kok"


"Aku belum nikah kak, aku juga punya Daffa yang masih kecil. Jadi aku ga mau naik mobil yang bawa masih dalam keadaan mabuk"


"Aku juga kan belum nikah dan Daffa juga anak aku loh"


"Ya udah kalau kamu ga mau kasih kunci mobilnya, biar aku pulang naik taksi aja"


"Oke, kamu yang bawa mobilnya"


Ara segera merampas kunci mobil dari tangan Adit dan Adit pun hanya bisa pasrah duduk di bangku sebelah, dan Ara pun mulai melajukan mobil tersebut


"Apartemen kamu di mana kak?" melirik sekilas ke arah Adit


Ara melihat Adit bersandar di bangku dengan mata yang tertutup, Adit sudah tak bisa menahan rasa mabuk yang sedang dia rasakan


"Udah begitu masih aja mau bawa mobil"


"Kak" sambil menggoyangkan lengan Adit


Mendengar suara Ara Adit pun memaksa kedua bola matanya agar terbuka


"Hem..."


"Apartemen kamu di mana?"


"Masa apartemen calon suami sendiri ga tau sih"


Saat itu perasaan Ara langsung bercampur aduk antara jengkel dan bahagia bercampur menjadi satu


"Kak...."


"Kamu bawa mobilnya ke rumah Vira aja, nanti aku gampang"


Adit pun kembali memejamkan kedua bola matanya, Ara yang sudah tak bisa lagi menahan rasa jengkel langsung menepikan mobil tersebut


"Kak bangun!!"


Adit pun langsung membuka matanya


"Ya udah kamu turun aja, nanti aku pulang kalau sudah lebih enak"


"Kamu mau suruh aku turun di pinggir jalan?"


Adit pun mengerutkan keningnya dan mencoba melihat ke sekeliling dan ternyata mereka masih berada di tepi jalan


"Terus kenapa berhenti?"

__ADS_1


"Kamu jawab dulu di mana apartemen kamu?"


Adit pun akhirnya membenarkan posisi duduknya untuk mendapatkan sedikit kesadarannya


"Kamu mau apa?"


"Aku mau antar kamu pulang"


"Kamu mau bikin aku jadi laki-laki yang ga bertanggung jawab?"


"Ya aku ga mungkin biarin kamu pulang sendiri dalam keadaan begini kak"


"Ya udah sekarang kamu yang pilih, kamu ikut aku pulang ke apartemen aku apa kita ke rumah Vira duluan?"


"Akh!! ini sih aku kejebak sendiri, pilih yang mana juga tetap aja aku yang terpojok"


"Pengawal kamu pada kemana?"


"Aku selalu minta mereka bubar saat kumpul sama anak-anak"


"Kalau aku pulang duluan aku jahat banget dong, tapi kalau aku ke apartemen kak Adit dia lagi mabuk gini. Gimana kalau kak Adit berbuat yang aneh-aneh? tapi mungkin ini saatnya aku liat seberapa besar dia menghargai aku"


"Apartemen kamu di mana?"


Adit melepaskan senyuman tipis dan mulai menyebutkan alamat apartemennya, dan Ara pun mulai melajukan mobil tersebut ke alamat yang di sebutkan oleh Adit membelah jalanan ibu kota yang telah sepi. Dan tak berapa lama kemudian mereka pun sudah tiba di tempat parkir apartemen Adit


Ara membantu memapah tubuh Adit menuju ke apartemennya, dan saat sudah berada di dalam tiba-tiba saja Adit memeluk tubuh Ara dengan sangat erat. Rasa takut pun langsung menghampiri hati Ara pada saat itu juga


Ara menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Adit


"Aku takut Ara" lirih


"Takut apa? apa yang buat kak Adit bisa seperti ini?"


"Aku takut kamu pergi dan menghilang dari aku"


"Ini udah ga benar, tingkah laku kak Adit benar-benar udah terlalu aneh"


"Kamu harus janji satu hal sama aku, apapun yang terjadi jangan pernah pergi dan menghilang. Kalau kamu marah sama aku kamu boleh pukul aku atau menghindar, tapi tolong jangan pernah menghilang dari pandangan aku"


"Sebenarnya kamu ada salah apa sama aku kak?"


Adit mulai melepaskan pelukannya dan menatap Ara sambil tersenyum, dia pun mencium ujung kepala Ara dengan lembut


"Sudah malam kamu istirahat ya, kamu bisa tidur di kamar sebelah"


"Kenapa kak Adit menghindar dari pertanyaan aku?"


Adit langsung masuk ke dalam kamarnya karena dia merasa masih belum saatnya dia mengungkapkan semuanya, Adit sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan langsung mengirimkan pesan kepada Arman agar dia menyiapkan pakaian ganti untuk Ara


Tak butuh waktu yang lama Adit sudah tertidur dengan pulas, sedangkan Ara masih terus memikirkan sikap dan semua ucapan Adit. Dan tanpa dia sadari dia pun mulai menuju ke alam mimpi

__ADS_1


Ara bermimpi tentang kejadian pada malam itu seolah dia sedang berada di sana, semua perbuatan mereka pada malam itu terlihat dengan sangat jelas di mata Ara. Ara pun terus berusaha melihat wajah pria pada malam itu, dan entah mengapa secara perlahan Ara pun mulai melihat wajah pria itu


"Kak..."


Ara berusaha memanggil Adit dengan suara yang parau


"Kamu ngapain kak? jangan kak.. Aku mohon berhenti kak.."


Ara pun mulai mentesakan air matanya dan berusaha berteriak sekuat tenaga meminta Adit untuk berhenti melakukan itu semua, tetapi Adit tak menghiraukan ucapan Ara dan terus melakukan hal tersebut


"Aku benci kamu kak..."


Berulang kali Ara mengucapkan kata-kata yang sangat menakutkan bagi seorang Raditya Mahardika, sedangkan di dunia nyata saat itu Ara sudah mulai gelisah dan mengeluarkan suara pelan mengatakan semua yang dia ucapkan di alam mimpi. Adit pun berusaha membangunkan Ara dari mimpi buruknya


"Ara bangun..."


"Akh!!"


Ara berteriak dan terbangun dalam posisi terduduk karena meronta, air mata Ara pun ternyata sudah mengalir di alam nyata. Dengan nafas yang masih memburu Ara mencoba mengatur nafasnya terlebih dahulu


"Kamu mimpi buruk?" khawatir


Ara pun menghapus air matanya yang masih tersisa dan menatap Adit dengan tatapan mata yang aneh


"Kenapa di mimpi aku laki-laki itu kak Adit ya? kalau memang benar dia laki-laki itu aku harus gimana?"


"Kenapa?"


"Aku mimpi tentang malam itu kak"


"Ternyata semua ucapan Ara tadi untuk aku ya, jadi seandainya nanti dia tau tentang semua itu dia akan benci sama aku"


Adit berusaha keras untuk menutupi apa yang sedang dia rasakan, lalu dia pun tersenyum dengan hangat dan memegang ujung kepala Ara dengan lembut


"Itu cuma mimpi kok, kamu mandi dulu ya udah pagi nih"


"Jam berapa sekarang kak?"


"Udah jam tujuh lewat"


"Astaga, kenapa ga bangunin aku dari tadi kak?"


Ara pun segera bangkit dari tempat tidur dan keluar dari dalam kamar, sedangkan Adit hanya mengekor dari belakang


"Aku mandi di rumah aja kak, aku ga bawa salinan"


"Kita langsung ke kantor aja, itu baju ganti kamu ada di atas meja"


"Ga mungkin kamu laki-laki di malam itu kan kak? karena di saat kamu mabuk berat pun kamu masih memikirkan aku lebih dulu, iya itu pasti cuma mimpi aja"


Ara hanya mencoba mengabaikan mimpi buruk yang baru saja dia alami, dia mencoba meyakinkan hatinya bahwa Adit adalah pria yang baik

__ADS_1


__ADS_2