Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Cara Tersendiri


__ADS_3

Saat pulang kantor sudah pasti Adit akan mengantarkan Ara kembali ke kediaman keluarga Vira, saat Ara sudah akan turun Adit segera memegang tangan Ara


"Kenapa kak?"


"Sebentar"


Adit langsung mengeluarkan dompet dari saku celana dan mengambil salah satu kartu yang dia miliki


"Kamu pegang ini ya"


"Apa karena tadi papa kembalikan kartu atm aku?" menatap tajam


"Aku kasih ini bukan karena tadi papa kamu kasih kamu kartu, tapi memang dari kemarin aku lupa mau kasih ini ke kamu" meletakkan kartu tersebut di atas telapak tangan Ara


"Ya aku buat apa kak?"


"Terserah kamu mau pakai kartu itu untuk apa, yang pasti kamu sekarang udah resmi jadi milik aku. Jadi aku harus mulai belajar bertanggung jawab sama kamu"


"Kalau aku tolak pasti urusannya jadi panjang, ya udah aku terima aja lah. Yang penting aku ga gunakan kartu itu ke depannya"


"Mana dompet kamu?"


"Mau apa kak?"


"Mau taruh kartu itu" dengan entengnya


Tak mau memperpanjang perdebatan Ara pun mengeluarkan dompet nya dari dalam tas, dan dengan cepat Adit meraih dompet Ara. Adit meletakkan kartu yang dia berikan ke dalam dompet Ara dan mengambil semua kartu yang berada di sana


"Loh kak, kenapa kartu aku kakak keluarin?"


"Yang ada di dalam kartu ini uang kamu, dan yang ada di kartu itu uang kita. Jadi kamu cuma boleh pakai uang kita untuk semua kebutuhan kamu dan Daffa"


"Kak..." Ara menunjukkan wajah keberatan atas sikap Adit


"Tolong kasih aku kesempatan untuk mulai bertanggung jawab sama kalian" memasang wajah memelas


"Kamu ga boleh gini kak, ada saatnya nanti kamu harus bertanggung jawab. Tapi yang pasti itu bukan sekarang" dengan tegas


Adit pun menunjukkan wajah kekecewaan dan mulai menundukkan kepalanya


"Apa kamu berencana pergi dari aku?"

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih kak?" mengerutkan keningnya


"Apa salahnya aku mulai belajar dari sekarang? kalau kamu mau aku bersedia nikahi kamu secepatnya. Tapi aku yakin kamu belum siap dan aku ga akan paksa kamu, tapi kenapa itu juga kamu tolak?"


"Karena aku ga mau terkesan seperti cewe matre yang memanfaatkan pasangannya!!"


Adit menatap ke arah Ara dengan tatapan bersedih


"Seandainya aku kasih semua yang aku punya ke kamu pun belum tentu bisa membayar rasa sakit yang selama ini kamu rasakan"


"Oke aku terima, ga usah liatin aku begitu"


"Sebenarnya kamu kenapa sih kak? hubungan kita belum berlangsung lama, tapi aku sering ngerasa kamu seperti merasa bersalah sama aku"


"Ya udah kamu istirahat ya"


"Aku duluan ya kak" tersenyum


Adit pun membalas dengan senyuman, saat Ara sudah berada di luar mobil Adit dan hendak menutup pintu mobil


"Maaf ya" dengan suara yang pelan tetapi tetap terdengar oleh Ara


Adit hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, Adit pun terus menatap punggung Ara hingga dia menghilang dari balik pintu


"Maaf karena aku ga bisa menahan diri malam itu, maaf karena aku ga bisa lebih cepat menemukan kamu. Maaf karena sampai saat ini aku belum bisa jujur sama kamu"


Ara yang baru saja tiba di kediaman keluarga Vira pun langsung membersihkan dirinya, seperti biasa dia akan menjenguk mamanya Vira terlebih dahulu. Lalu dia mencari Gilang dan menyampaikan ucapan Adit untuk membantu mamanya Vira


Sudah pasti niat baik Adit di terima oleh seluruh anggota keluarga itu, karena keluarga Adit terkenal memiliki rumah sakit terbesar di kota itu dengan segala fasilitas terbaik. Rumah sakit tersebut hanya bisa di datangi oleh orang-orang hebat di kota itu


Setelah makan malam Ara pun mulai masuk ke dalam kamarnya dan bermain bersama buah hatinya, setelah merasa lelah Ara pun mulai mengajak buah hatinya untuk beristirahat. Dan semua tindakan Adit serta ucapan yang dia lontarkan terus terbayang di dalam benak Ara


"Aku ga salah dengar kok, tadi kak Adit minta maaf ke aku walaupun dengan suara yang kecil. Hari ini kak Adit benar-benar aneh"


Rasa cemas yang bersarang di dalam hati Adit membuat dia memutuskan untuk berkumpul bersama teman-temannya, dan pada malam itu Dion tak dapat ikut bergabung karena ada sebuah pekerjaan yang harus dia selesaikan


Adit mulai melalui malam itu seperti biasanya tanpa ada seorang wanita pun menemani dirinya, Remon dan Brian hanya bisa saling lirik melihat sikap Adit, Adit terlihat sangat muram dia pun terus meminum minuman yang berada di dalam gelasnya tanpa henti


"Kenapa dia?"


"Kalau lu aja yang lebih dekat sama dia ga tau apalagi gw Mon"

__ADS_1


Tak butuh waktu yang lama Adit pun sudah terlihat mulai mabuk, Remon yang tega pun akhirnya mulai mendekati Adit dan mendudukkan dirinya tepat di samping Adit


"Lu kenapa?"


Adit hanya melepaskan senyuman tipis


"Udah lama lu ga mau ikut nongkrong, sekali datang kok muka lu gitu ga enak banget buat di liat"


Adit tetap setia dengan diam dan menenggak kembali minuman nya


"Apa karena perempuan itu?"


"Gw takut Mon"


"Gila.. Sejak kapan seorang Adit bisa ngerasa takut?" tertawa lepas


Adit pun melepaskan tatapan membunuhnya dan dalam sekejap suara tawa Remon pun langsung terhenti


"Maaf... Lu bilang ke gw, apa yang bikin lu takut?"


"Gw takut dia pergi tinggalin gw Mon, bodoh banget gw ya"


"Ya tinggal lu nikahi aja dia bos kelar masalah lu"


Adit terus bercerita tentang semua perasaan takut yang sedang dia rasakan, sedangkan Remon hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Karena selama mereka kenal belum pernah Adit terlihat seperti itu


Dan di tempat yang berbeda ada Ara yang merasa sedikit kehilangan karena malam itu Adit sama sekali tak menghubungi dirinya


"Kok ga kasih kabar udah sampai apartemennya sih, atau jangan-jangan kak Adit kena masalah. Bikin khawatir aja"


Ara sudah mencoba mengirimkan Adit sebuah pesan tetapi pesan tersebut tak mendapatkan balasan sama sekali, karena Adit sudah mulai tak sadarkan diri. Melihat waktu yang sudah tengah malam Ara pun membulatkan tekadnya dan menghubungi ponsel Adit


"Mon handphone Adit tuh"


Brian menunjukkan kepada Remon bahwa ponsel Adit berdering, Remon pun mencoba melirik nama orang yang menghubungi Adit. Dan di sana nama Ara tertulis sebagai tujuan hidup


"Najis gw sama lu Dit, ga pernah pacaran sekali dekat sama perempuan gitu amat. Gw yakin lu bakal lebih galau dari Dion kalau sampai dia pergi tinggalin lu"


Tiba-tiba saja Remon mengeluarkan senyuman jahat, dia pun mulai mengambil ponsel Adit dan mencari tempat yang tidak terlalu bising


"Jangan marah ya Dit, gw cuma mau bantu lu dengan cara gw sendiri"

__ADS_1


__ADS_2