Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Penipu Kecil


__ADS_3

Hari bahagia yang di nantikan oleh Adit dan Ara pun tiba, sebuah gedung terbaik di kota itu sudah di sulap sedemikian rupa untuk menjadi tempat perayaan bagi mereka berdua. Dan Daffa bisa ada di sana dengan bangga tanpa rasa malu sedikit pun karena seluruh dunia sudah mengetahui bahwa dia adalah cucu pertama keluarga Mahardika


Walaupun seluruh dunia tau bagaimana cara Daffa terlahir ke dunia ini tetapi sudah pasti tidak ada satu pun orang yang akan berani berbicara buruk tentang dirinya, Ara tampil bak seorang putri kerajaan yang cantik menawan di balut dengan gaun pengantin berwarna putih yang sangat anggun dan mewah


Adit benar-benar merasa tak rela bila kecantikan sang istri harus di lihat oleh semua mata yang hadir di sana, tetapi apa daya dia pun harus menahan diri untuk acara tersebut. Gedung tersebut di penuhi oleh para undangan dari kalangan orang-orang penting di kota itu, bahkan keluarga Sanjaya tampak seperti sebuah keluaran kecil di antara para undangan yang hadir di sana


Dan sudah pasti keluarga besar Vira hadir di sana bersama mamanya yang sudah mulai membaik dengan bantuan dari Adit, air mata haru jatuh ke pipi wanita itu saat dia mengucapkan selamat kepada Ara


"Selamat ya sayang, sekarang kamu harus jalani hidup kamu dengan bahagia" tersenyum dengan tulus walaupun air matanya tetap mengalir


"Terima kasih ya tante, tante itu orang yang paling berjasa di dalam hidup aku" berkaca-kaca


"Kamu ngomong apa sih sayang? tante benar-benar tulus sayang sama kamu"


Ara pun memeluk tubuh mamanya Vira


"Tante titip Ara ya, tolong jaga dia dengan baik dia perempuan yang kuat dari luar. Tapi hatinya terlalu rapuh"


"Ya tante Adit pasti jaga Ara dan Daffa dengan baik, terima kasih karena dulu tante sudah gantiin posisi Adit untuk jaga mereka"


"Sama-sama"


Satu persatu anggota keluarga Vira mengucapkan kata selamat atas pernikahan mereka berdua, dan di sana Vira hadir di dampingi oleh kekasih hatinya yang telah lama menjalin hubungan. Ketiga sahabat Adit pun hadir di sana walaupun saat itu Remon hanya datang seorang diri tanpa di dampingi oleh istrinya


Setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai mereka mendudukkan tubuhnya di meja yang telah di sediakan untuk mereka, dan sudah pasti segala gelak tawa hadir di antara mereka yang ada di sana seperti biasanya saat mereka berkumpul. Dan saat itu meja keluarga Vira bersebelahan dengan meja mereka, Vira terus menatap ke arah pelaminan di mana Ara dan Adit berada dengan wajah yang sulit di artikan


"Kamu kenapa?" berbisik


"Mereka itu kenal dekat belum lama sayang, tapi Adit sudah berani untuk bawa Ara ke pelaminan. Sedangkan kita?"


"Ya ampun kamu harus sabar dong kan kita sudah bahas ini beulang kali"


"Tapi kita jalani hubungan kita udah lama sayang, dan umur aku juga udah ga muda lagi"


"Tapi kamu tetap perempuan tercantik yang aku kenal, kamu tenang aja ya kalau aku sudah mapan aku pasti akan langsung melamar kamu"


"Bukan sekali dua kali kak kamu pakai alasan yang sama, aku sampai mulai berpikir apa mungkin kamu sebenarnya ga ada niat sedikit pun untuk serius sama aku?"


Remon yang mendengar semua rayuan dari kekasih Vira hanya memberikan senyuman mengejek


"Lu kenapa?"


"Gw lagi mikir aja mungkin selama ini itu yang kita lakuin ke istri kita, bohong ke pasangan kita sendiri" dengan suara pelan


"Sejak kapan lu perduli sama urusan orang lain Mon?"


"Dari dulu" dengan santai

__ADS_1


"Lagian kenapa lu harus usil sama meja sebelah sih, pasti meja sebelah orang yang penting juga buat Adit atau Ara"


"Karena cowok itu penipu kecil"


Brian pun menatap Remon dengan serius sambil mengerutkan keningnya


"Cowok itu hampir tiap malam ada di tempat gw dan hampir tiap malam dia ganti pasangan, sama kayak kita" berbisik


Remon pun tertawa lepas dan Brian pun ikut tertawa, sedangkan di meja sebelah Vira yang mendengar semua ucapan mereka menatap tajam ke arah Remon


"Ish.. Gw kira cuma istrinya Adit perempuan yang galak, ternyata masih ada juga perempuan lain kayak istrinya Adit"


saat mereka sudah puas berada di sana mereka pun berpamitan untuk kembali kepada pasangan pengantin baru yang tak lain adalah Adit dan Daffa. Saat mereka akan keluar dari gedung tersebut tiba-tiba saja Remon menarik tangan Brian


"Kenapa?"


"Gw mau ngomong sama lu sebentar"


"Kamu ke mobil duluan ya sayang" tersenyum mengahap istrinya


Dengan patuh istri Brian mengikuti keinginan suaminya dan meninggalkan kedua orang tersebut


"Kenapa?"


"Gw cuma mau kasih sedikit nasihat buat lu, mulai sekarang berhenti main-main dan hargai istri lu yang baik itu"


"Jangan sampai nanti istri lu menyerah kayak istri gw"


"Maksud lu?"


"Ya, istri gw lagi gugat cerai dan sekarang dia udah balik ke rumah orang tuanya"


Brian pun tertawa dengan lepas melihat Remon berbicara layaknya orang baik-baik


"Terserah lu yang penting gw udah kasih tau, waktu mereka dekat kita kayak ga penting adanya mereka. Tapi sekarang gw ngerasa rumah gw benar-benar sepi"


"Ya lu tinggal kasih jurus andalan lu kayak biasa" tersenyum


"Ga bisa hatinya udah berhasil di rebut orang lain"


"Terus apa rencana lu?"


"Ga ada"


"Sakit lu ya Mon?"


Remon pun tertawa lepas dan meninggalkan sahabatnya begitu saja, Brian yang baru saja masuk ke dalam mobilnya langsung teringat akan ucapan Remon dia pun menatap serius ke arah istrinya

__ADS_1


"Kenapa kak?"


"Kamu ga lagi merencanakan sesuatu kan?"


"Merencanakan apa ya kak?" mengerutkan keningnya


"Apa aja"


"Aku ga ngerti maksud kamu kak"


"Yah misalnya menggugat cerai"


Lian istri dari Brian pun tersenyum tipis


"Apa karena istrinya kak Remon lagi menggugat cerai?"


"Kamu tau masalah itu?" dengan serius


"Ya aku pasti tau lah kak" dengan santai


"Kenapa kamu ga bilang sama aku?"


"Buat apa kak? itu kan urusan rumah tangga mereka"


"Terus kamu sendiri gimana?"


Brian melontarkan pertanyaan itu tetapi jauh di dalam lubuk hatinya terselip perasaan takut


"Apa kamu mau aku juga lakuin hal yang sama dengan istrinya kak Remon?"


"Maksud kamu?" menatap tajam


"Aku cuma tanya mau nya kamu aja kak"


"Ya ga lah, aku ga mau kita cerai. Gimana nasib anak-anak kalau orang tua mereka sampai cerai?"


"Kalau gitu aku ga akan menggugat cerai kak" dengan yakin


"Em.. Itu kamu serius kan?"


"Pulang yuk kak kasian anak-anak di rumah" tersenyum dengan tulus


"Iya..."


Brian pun mulai melajukan mobilnya dan Lian menatap ke arah suaminya sambil tersenyum tipis


"Aku tau kak semua perbuatan kamu di luar sana, aku tetap di samping kamu bukan karena alasan anak kak tapi karena kamu. Kamu orang yang bersedia genggam tangan aku dengan erat saat semua mengabaikan aku, apa mungkin aku tinggalkan orang sebaik kamu? aku cuma berharap suatu saat nanti kamu akan berubah"

__ADS_1


__ADS_2