
Dion pun mengantarkan Caca sampai di depan pintu apartemennya
"Ya udah masuk istirahat"
"Apa kamu mau keluar malam ini kak?"
Dion pun menggelengkan kepalanya dan Caca hanya terdiam sambil menatap ke arah Dion seolah dia mengatakan bahwa dia tidak percaya, Dion paham betul apa yang ada di dalam pikiran Caca pada saat itu. Dia pun mulai meletakkan tangannya di ujung kepala Caca sambil tersenyum
"Aku mau belajar untuk jadi calon suami yang baik"
"Apaan sih kak Dion kok jadi jawabannya begitu?" tersipu
"Kalau aku kirim pesan di balas ya, satu lagi nanti pagi jangan kabur lagi aku siapin sarapan untuk kamu" tersenyum
Caca tak bisa lagi mengendalikan detak jantung nya yang berdetak sangat cepat
"Aku masuk ya kak"
"Oke"
Tiba-tiba saja Dion menarik kepala Caca dan mencium ujung kepala Caca dengan sangat lembut, sesampainya di dalam kamarnya Dion pun mengirimkan sebuah pesan kepada Caca
"Aku benar-benar berharap secepatnya bisa mencintai kamu sepenuhnya, aku harus jujur sama kamu kalau saat ini aku mulai merasa nyaman di dekat kamu. Tapi aku belum mau menikahi kamu sebelum aku yakin hati aku sepenuhnya cuma milik kamu, supaya aku bisa membahagiakan kamu seutuhnya"
"Aku akan tunggu saat hati kamu sudah sepenuhnya milik aku kak, seperti hati aku saat ini"
Dion pun tersenyum tipis
"Ternyata benar ya? kamu ga menolak aku malam itu karena kamu memang suka sama aku, aku janji aku akan menebus semua kesalahan yang sudah aku perbuat ke kamu"
"Selamat istirahat calon istri aku"
"Akh!! aku harus jawab apa sekarang?"
Caca menjadi heboh sendiri di dalam kamarnya, suara teriakan nya saat mungkin akan terdengar oleh Dion bila apartemen mereka adalah sebuah perumahan biasa
"Selamat istirahat kak"
Detik demi detik pun terus berlalu dan Vira pun sudah berada di depan bar milik Remon, dia pun mulai menghubungi Remon
"Aku sudah di depan"
"Oke tunggu sebentar"
Tak butuh waktu yang lama Remon pun sudah keluar dari tempat itu, dan Vira pun segera menghampiri Remon
"Dia udah datang?"
__ADS_1
Remon hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya, sebenarnya Remon benar-benar tak tega melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Vira pada saat itu. Tetapi mau bagaimana lagi karena Vira berhasil membuat dia mengalah
"Sekarang aja kamu udah mau nangis begitu, gimana kalau nanti kamu liat kelakuan dia di dalam? semoga aja kamu ga buat keributan yang berlebihan di dalam"
FLASH BACK
Vira yang baru saja mendapatkan nomor telepon Remon segera menghubungi Remon pada saat itu juga
"Halo"
"Halo maaf ini Remon ya?"
"Ya siapa nih?"
"Aku Vira"
"Vira?" Remon berusaha keras untuk mengingat nama tersebut
"Ya kita pernah ketemu di acara pernikahan Ara dan Adit"
"Yang mana ya?"
"Yang duduk di sebelah meja kalian"
"Oh cewek yang galak itu ya?" tertawa lepas
"Sial nih orang sempat-sempatnya ngeledekin dulu, kalau aja aku ga buruh bantuan dia. Sabar Vira kamu lagi butuh bantuan dia"
"Lu dapat nomor gw dari mana?"
"Aku minta sama kak Dion"
"Terus mau ngapain lu telpon gw?"
"Waktu itu aku sempat dengar kamu ngomongin tentang tunangan aku"
"Terus? kan waktu itu lu marah waktu denger gw ngomong gitu, sekarang lu mau apa?"
"Tolong kasih tau aku waktu dia ada di sana, aku harus yakin sebelum mengambil keputusan"
"Malas banget gw ngurusin hal kayak gini, lagian kan gw bisa rugi kalau dia sampai datang dan bikin ribut di tempat gw"
"Sorry gw ga bisa" dengan entengnya
"Kenapa sih? apa salahnya kamu bantu aku kasih tau kalau dia ada di sana"
"Karena ga ada untungnya buat gw, udah dulu ya gw lagi ada kerjaan nih"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Vira Remon sudah memutuskan sambungan teleponnya
"Akh!! sombong banget sih cowok ini"
Vira pun kembali memutar otaknya dan setelah cukup lama akhirnya dia pun segera menghubungi Ara
"Ya Vir"
"Ara tolong bantu aku" lirih
"Kamu kenapa?" panik dan mendudukkan tubuhnya
Adit yang sudah merebahkan tubuhnya di samping Ara pun langsung menatap serius ke arah istrinya
"Tolong minta bantuan sama suami kamu supaya teman dia mau bantu aku"
"Maksud kamu siapa?"
"Remon"
"Vir jangan berhubungan sama dia Vir"
"Kenapa kak Dion sama Ara sama-sama minta aku ga berhubungan sama dia sih? memang siapa yang mau jalin hubungan sama laki-laki kayak gitu?"
Vira pun membuang nafasnya dengan kasar dan mulai menceritakan tujuan dia yang sebenarnya, Adit yang sudah mulai mendudukkan tubuhnya langsung bertanya kepada Ara ada masalah apa?
Ara menceritakan apa yang baru saja dia dengar dari Vira, dengan sebuah panggilan telepon dari Adit membuat Remon tak bisa menolak permintaan Vira. Adit juga berpesan untuk menjaga Vira dengan baik selama di sana, karena bagaimana pun juga keluarga besar Vira adalah orang yang sangat berjasa di mata Adit
FLASH OFF
"Ayo masuk"
Remon segera menangkap lengan Vira membuat Vira yang sudah melangkahkan kakinya berhenti dan menoleh ke arah Remon
"Ini tempat usaha gw, walaupun Adit yang kasih perintah buat jaga lu selama di sini. Gw juga ga mau lu buat keributan yang berlebihan" dengan tegas
"Apa bagi kalian para laki-laki perasaan kami ini ga berarti? bahkan kamu masih bisa bahas tentang aku yang buat keributan"
Remon benar-benar tak bisa berkata-kata lagi karena kedua bola mata Vira benar-benar sudah siap untuk menjatuhkan air matanya
"Ya udah terserah kamu mau lakuin apapun di dalam nanti, aku bisa jamin ga akan ada yang menghentikan kamu"
Ternyata sedari awal Remon sudah memberikan perintah kepada para keamanan di tempat itu, dia memerintahkan untuk tidak ikut campur bila nanti ada seorang wanita yang datang bersama dirinya membuat keributan
"Ayo masuk"
Remon melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat itu terlebih dahulu dan Vira pun mengekor dari belakang, saat sudah berada di belakang meja Dirga Remon pun menghentikan langkah kakinya dan mulai mengarahkan jarinya ke arah Dirga. Dalam sekejap air mata Vira mengalir tanpa harus menunggu perintah terlebih dahulu, karena saat itu Dirga terlihat sedang mencium bibir seorang gadis muda yang cukup cantik
__ADS_1
"Tega kamu kak, tega banget kamu sama aku kak. Kurang apa aku selama ini sama kamu kak? aku sudah banyak berkorban untuk kamu kak"
Dengan tubuh yang bergetar hebat Vira mulai melangkahkan kakinya dan Vira pun menempatkan tubuhnya tepat di hadapan meja Dirga, sedangkan Dirga saat itu masih saja asik bersama wanita muda itu walaupun Vira sudah berada tepat di hadapannya