
Adit yang baru saja keluar dari tempat itu langsung menarik kerah pakaian pemimpin dari para pengawal pribadi nya
"Apa kalian pikir tugas kalian hanya melindungi saya? perempuan itu lebih penting dari nyawa saya sendiri"
"Maaf pak"
"Kenapa kalian diam aja lihat dia di permalukan?"
Adit sudah mengepalkan tangannya dan akan memberikan hadiah sebuah bogem mentah kepada orang tersebut, tetapi tiba-tiba saja mata Adit tertuju kepada Ara yang sedang menatap ke arah dirinya dan menunjukkan wajah takut
"Aku gagal lagi melindungi kamu"
"Mulai sekarang di mata kalian posisi dia harus lebih penting dari saya" dengan tegas
"Baik pak"
Secara perlahan Adit mulai melepaskan kerah pakaian orang tersebut dan melangkahkan kakinya ke arah Ara, sedangkan Ara masih terdiam membeku karena rasa takut yang sedang dia rasakan. Tiba-tiba saja Adit memeluk tubuh Ara dengan erat
"Maaf.. Aku benar-benar laki-laki yang ga berguna"
Ara bisa merasakan tubuh Adit mulai bergetar seperti sedang menahan tangisan, Ara pun mencoba mengumpulkan keberanian dan mulai membuka suara
"Kak..."
Adit tetap terdiam dan terus memeluk tubuh Ara
"Aku ga apa kok kak"
"Maaf..."
Hanya itu kata yang dapat keluar dari bibir Adit dan terdengar dengan jelas bahwa saat itu Adit benar-benar sedang menahan air matanya, dalam sekejap seluruh rasa takut yang Ara rasakan pun menghilang begitu saja. Ara pun mulai membalas pelukan dari Adit
"Aku ga apa kok, makasih ya kak"
Adit hanya terdiam dan mengeratkan pelukannya
"Kita balik ke kantor yuk kak"
Adit pun melepaskan pelukannya dan membukakan pintu mobil untuk Ara, dan dia pun mulai mengendarai mobilnya ke arah kantor tanpa banyak bicara. Di sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan di antara mereka berdua, Adit hanya menjawab seperlunya saat Ara bertanya sesuatu. Tetapi Ara dapat melihat wajah Adit di liputi kesedihan
"Makasih ya kak, aku benar-benar ga menyangka kalau aku sepenting itu di mata kak Adit. Padahal kenangan pertama kita kurang baik, aku cuma anggap kamu sebagai orang mesum" tersenyum tipis
Akhirnya Adit dan Ara pun tiba di kantor mereka, Adit langsung memarkirkan mobilnya di tempat khusus untuk dirinya. Adit pun membuang napasnya dengan kasar dan menatap sayu ke arah Ara
"Apa kamu ga mau balas dia?"
Ara hanya menjawab dengan senyuman dan gelengan kepalanya
"Kalau kamu ga sanggup balas dia, biar aku yang balas dia" menggenggam dengan erat kemudi stir mobilnya
__ADS_1
Ara pun tersenyum lalu meletakkan tangannya di atas tangan Adit
"Ga perlu kak"
"Tapi dia kan udah menghina kamu"
"Karena dia adik aku kak" tersenyum
"Aku harus marah atau malah harus bersyukur dengan sifat kamu Ara, kenapa kamu selalu gunakan alasan itu?"
FLASH BACK
Setelah menerima laporan dari orang yang di minta untuk mencari tau tentang kebenaran pada malam itu, Adit pun segera kembali ke apartemennya dan di sepanjang perjalanan dia sudah mulai memikirkan cara terbaik membalas keluarga Sanjaya
Setelah tiba di apartemennya Adit segera pergi ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri lalu dia pun mulai menghubungi Ara
"Halo kak"
"Daffa sudah tidur?"
"Sudah kak"
Adit mengajak Ara berbincang ini dan itu seperti biasanya, tetapi sekali ini dia ingin memastikan sesuatu sebelum bertindak
"Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"
"Ya kak"
"Ya, kenapa kak?"
"Seandainya aku bisa temukan bukti tentang orang yang menjebak kamu malam itu, apa yang akan kamu lakukan?"
"Ga ada kak" dengan entengnya
"Kenapa?" mengerutkan keningnya
"Aku bingung cara bilang nya kak"
"Apa kamu belum bisa percaya sama aku ya?"
"Bukan gitu kak" menjawab dengan cepat
"Terus kenapa kamu ga mau bilang?"
"Karena aku yakin orang yang terlibat pasti orang terdekat aku kak, aku ga mau menyakiti mereka dengan alasan apapun" dengan yakin
"Ga bisa atau ga mau?"
"Bukan ga bisa kak, tapi aku ga mau" dengan yakin
__ADS_1
"Apa kamu ga merasa sakit hati?"
"Bohong kak kalau aku bilang aku ga sedih atau ga merasa sakit hati, tapi kan sekarang aku baik-baik aja. Karena kejadian itu aku sekarang punya Daffa, dan sekarang ada kamu yang bisa terima aku apa adanya. Jadi buat apa kak?"
"Buat balas orang yang sudah bikin kamu begitu dong"
Ara pun membuang napasnya dengan kasar
"Karena kalau aku sakiti mereka, sama aja aku sakiti diri aku sendiri kak"
"Untung aja aku belum ambil tindakan apapun, kalau aku ambil tindakan dan dia tau bisa-bisa aku kehilangan dia untuk selamanya"
"Kenapa kak Adit tiba-tiba bahas masalah itu kak?"
"Tadinya aku berniat cari tau, ya itu juga kalau kamu mau tau"
"Ga perlu kak, aku sekarang sudah punya kehidupan aku sendiri"
Adit pun langsung mengurungkan niatnya untuk membalas Nana dan mamanya di bagian pertama rencananya
FLASH OFF
Adit pun langsung menarik tubuh Ara jatuh ke dalam pelukannya
"Mungkin aku harus bersyukur dengan sikap kamu yang seperti ini, dengan begini kalau kamu sudah sah menjadi milik aku. Kamu ga akan tinggalkan aku saat tau tentang malam itu"
"Ayo turun" tersenyum
Ara pun membalas dengan senyuman karena melihat suasana hati Adit yang sudah membaik, baru saja mereka melangkahkan kakinya di lobi seorang pria paruh baya sudah berdiri tak jauh dari tempat mereka berada
Ara langsung menghentikan langkah kakinya dan seakan seluruh kekuatan yang dia punya menghilang dari tubuhnya, Adit pun menyadari keanehan yang di tunjukkan akan sikap Ara pada saat itu. Adit langsung menatap ke arah mata Ara tertuju
"Harus berapa banyak lagi kejutan yang datang hari ini?"
Pria tersebut yang tak lain adalah tuan Surya Sanjaya langsung melangkahkan kakinya ke arah Ara, wajah tua papa Surya melukiskan kesedihan dan penyesalan yang teramat dalam
"Apa kabar Ara?"
"Kalau kamu ga mau bertemu dia, saya bisa minta orang mengusir dia dari sini" berbisik
Ara hanya terdiam membisu, melihat Ara yang seperti itu pun Adit langsung menggerakkan tangannya seperti memberikan sebuah kode kepada seseorang. Dan tiba-tiba saja Ara memegang lengan baju Adit dengan sangat erat
"Dia papa saya, tolong jangan usir dia dari sini" lirih
Beberapa orang yang sudah bergegas akan mendekat langsung berhenti begitu melihat tanda dari Adit
"Bisa papa bicara berdua sama kamu sebentar?"
Ara pun terdiam sambil menganggukkan kepalanya
__ADS_1
"Gimana aku bisa balas mereka? kalau kamu lemah di hadapan mereka"
Adit segera memerintahkan orang untuk menyiapkan ruang meeting, semua itu agar Ara dapat berbicara dengan papanya tanpa harus hilang dari pengawasan dirinya