
Ara tak bisa memberikan jawaban apapun kepada Adit dia hanya berkata biar waktu yang akan menentukan, Adit pun mengerti bahwa Ara masih berusaha melindungi hatinya dari rasa sakit yang pernah dia rasakan. Adit berjanji kepada Ara bahwa dia akan membuktikan segala ucapannya terhadap Ara
Saat Ara masuk ke dalam rumah semua orang sudah menanti dirinya di ruang tamu, tatapan mata mereka seolah sudah mengatakan bahwa mereka butuh penjelasan dari Ara dan dia pun terpaksa duduk di antara mereka semua
"Ara maaf kami cuma butuh penjelasan dari kamu"
"Aku ngerti kok kak, pasti kalian semua khawatir sama aku"
"Kak Gilang senang kalau kamu bisa ngerti maksud kami semua, jadi sebenarnya kamu ada hubungan apa sama pak Adit?"
"Sampai saat ini aku belum kasih jawaban apapun sama pak Adit kak, aku masih takut"
"Apa pak Adit tau kalau Daffa anak kamu?"
"Ya kak, pak Adit bahkan sudah tau semua masa lalu aku"
"Kamu yang cerita sendiri ke dia?"
Ara pun menggelengkan kepalanya
"Pak Adit berteman dengan kak Dion kak"
Baik Gilang, Merry ataupun Vira saling bertatapan satu sama lain. Mereka seolah berkata hal yang sama, mereka bahagia bila Ara sudah berani untuk melangkah maju tetapi mereka juga merasa khawatir dengan status sosial seorang Raditya Mahardika. Apalagi rumor yang beredar Adit adalah sosok pria yang selalu berganti pasangan dengan mudahnya
"Apa kamu tau siapa pak Adit?"
Ara pun hanya bisa terdiam karena dia sendiri belum mengetahui sepenuhnya tentang Adit
"Maksud kak Gilang gini loh, pak Adit itu orang yang berbeda sama kita. Apalagi pak Adit itu terkenal banget suka ganti pasangan, kita cuma takut kamu jadi salah satu korban dia"
"Aku ngerti kak, aku pasti akan jaga diri dengan baik"
Merry mencoba menjadi penengah karena ucapan suaminya yang terlalu keras, dan dia pun tak tega karena melihat wajah Ara yang mulai tampak kecewa
"Ya kita semua perduli sama kamu, kita cuma ga mau kamu di sakiti orang lain"
"Makasih ya kak, kalau gitu aku ke kamar dulu ya kak"
Ara pun pergi meninggalkan mereka semua dan kembali ke dalam kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di samping buah hatinya lalu memeluk tubuh Daffa dan berusaha mencari ketenangan di sana. Sedangkan di ruang tamu sudah pasti Merry dan Vira menatap tajam ke arah Gilang
"Kamu kenapa ngomong gitu sih kak?"
"Kenapa? aku cuma bilang kenyataannya sama Ara. Aku ga mau pak Adit mengambil kesempatan dari masa lalu Ara"
__ADS_1
"Tapi ga usah sekeras itu juga kak, apa kak Gilang ga lihat tadi ekspresi Ara jadi begitu?"
"Apa kamu mau lihat sahabat kamu kayak dulu lagi?"
"Terserah kak Gilang ajalah, yang pasti aku sih ngerasa rumor yang beredar ga seperti kenyataan yang ada"
"Kenapa kamu bisa bilang gitu?"
"Coba aja kak Gilang pikir kalau memang pak Adit itu orangnya kayak rumor yang beredar, apa mungkin Ara yang dalam keadaan mabuk bisa pulang dengan selamat?"
Entah mengapa ucapan dari Vira membuat Gilang dan Merry kembali ragu akan rumor tentang Adit selama ini
"Yang bikin aku khawatir itu cuma satu kak, apa mungkin keluarga terhormat seperti mereka bisa menerima kehadiran Daffa?"
Sedangkan Adit yang baru saja tiba di apartemennya langsung mengirimkan sebuah pesan kepada Ara
"Kamu sudah tidur?"
"Apa mungkin pak Adit cuma pura-pura untuk mengambil kesempatan sama aku?"
"Belum pak"
"Besok siang kita makan siang bareng ya, banyak tentang saya yang harus kamu tau dari awal. Saya ga mau kamu jadi salah paham saat tau tentang itu"
"Baik pak"
"Oke, selamat istirahat"
"Terima kasih pak"
Ara pun kembali memeluk buah hatinya hingga tanpa sadar dia pun mulai terlelap ke alam mimpi, sedangkan di tempat yang berbeda ada Dion dan yang lainnya berkumpul di tempat biasa. Tiba-tiba saja ada seorang gadis yang berdiri di hadapan mereka dan menatap tajam ke arah Dion
Gadis tersebut adalah Nana dia mulai tak tahan akan sikap Dion yang semakin dingin terhadap dirinya, semenjak pertemuan Dion dan Ara Dion benar-benar mengabaikan semua panggilan telpon dan pesan dari Nana
"Gw keluar sebentar ya"
"Buset tunangan Dion garang amat ya? pantes aja walaupun udah punya tunangan dia susah move on dari cewek itu"
Dion membawa Nana keluar dari tempat itu karena dia tak ingin perdebatan mereka di saksikan oleh teman-temannya
"Kenapa kamu ke sini?"
"Harusnya aku yang tanya ke kak Dion, kenapa sekarang kak Dion berubah sama aku?"
__ADS_1
"Tolong Nana sekarang aku lagi butuh waktu untuk tenang"
"Kenapa? masih ingat sama kak Ara atau masih berharap kak Ara akan pulang lagi?"
Dion pun melepaskan senyuman sinis
"Sampai kapan pun aku ga akan pernah bisa lupain Ara, dan siapa bilang Ara belum pulang dia udah pulang ke kota ini kok"
Serasa jantung Nana akan terlepas dari tempatnya mendengar Dion berkata seperti itu
"Kak Ara udah ada di kota ini lagi? apa kak Dion sekarang berubah karena kak Ara udah pulang?"
"Apa maksud kakak? apa kak Dion udah ketemu kak Ara?
"Aku udah ketemu sama dia" dengan entengnya
"Apa kak Dion menghindar dari aku juga karena itu?" dengan suara yang bergetar
"Aku udah bilang sekarang aku butuh waktu untuk tenang, karena aku baru sadar sebesar apa kesalahan yang udah aku buat sama dia"
"Apa maksud kak Dion? apa kak Dion juga udah tau tentang kejadian malam itu? atau jangan-jangan malah sekarang kak Dion lagi cari tau orang yang menjebak kak Ara?"
"Kak Dion salah apa? kan kak Ara yang berkhianat sama kak Dion"
Nana hanya berusaha mencari tau jalan pikirin Dion saat itu
"Kesalahan terbesar aku adalah ga mau dengar penjelasan dia saat itu, makanya sekarang aku cuma bisa menebus kesalahan dengan mencari tau siapa orang yang membuat Ara begitu pada malam itu?" dingin
Dalam sekejap ekspresi wajah Nana pun berubah menjadi pucat
"Sial..!! Berarti kak Ara udah cerita semuanya ke kak Dion, tenang Nana ga ada satu pun orang yang tau kecuali kamu dan mama. Mama ga mungkin bongkar rahasia kita malam itu"
"Kenapa muka kamu jadi begitu?" menatap tajam
"Ga kak, aku cuma khawatir apa artinya kak Dion akan kembali ke kak Ara?"
"Kamu tenang aja aku ga akan kembali ke Ara, karena sekarang aku merasa ga pantas untuk dia"
"Gitu ya kak" tersenyum canggung
"Sekarang lebih baik kamu pulang, ga baik perempuan keluar malam"
"Ya udah kak aku pulang dulu ya, kakak juga jangan terlalu mabuk"
__ADS_1
Dion hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya, sedangkan Nana langsung pergi meninggalkan Dion yang terus menatap Nana dengan perasaan curiga